
...****************...
Kota A
Malam Hari
Rumah Utama Keluarga Ming Lan
"Nenek mau kemana?" melihat nenek sudah bersiap dengan koper nya.
"Mau urus bisnis"
Memeluk nenek, "jangan lama-lama ya"
"Tidak akan paling lama 1 minggu, dahh"
Ikut melambaikan tangan.
Tingg
📥 "Aku pulang lebih awal, bersiaplah untuk melayani"
"Baik, aku akan bersiap, tapi kali ini aku tidak akan meminum obat sial@n itu," gumamnya
Rumah Utama Xi Yuan
"Ai Ki!"
"Shh ngapain teriak, aku denger"
"Bereskan ini," Menyerahkan dokumen yang berserak seperti biasanya.
Selesai mandi
"Ai Kiiii!"
"Apa sayang, bisa gak gausah teriak-teriak aku denger kok"
"Yaudah makanya cepet! lambat banget sih"
"Mm iya-iya," membuka baju nya sendiri.
"Kamu mau apa?!"
"Tapi ngelayanin kamu,"
"Ch.. Murahan, Aku cuma minta layanan pijat! dasar tidak berguna,"
"Kamu bilang layanin jadi aku udah siap-siap untuk tempur,"
"Gak, lagi males"
Sambil memijat, "tapi udah lama,"
"Udah ngecas diluar, udahlah jangan nanyak muluk cepetan pijat yang bener!"
"Mm iya-iya,"
Yuan sudah mulai terbiasa dengan Kiki meski masih sering mengenang Ming Ke tapi karena sudah tiada mau dibilang apa jugak gak bisa lagi, dengan terpaksa pulang ke rumah sesekali untuk ngenang Ming Ke melalui wajah Ai Ki kembarannya.
"Yuu," ngintip Yu. "Ch, sudah tidur" berhenti memijat. "Hoamm... aku juga sudah ngantuk" tidur di samping Xi Yuan.
Melihat jam, "kenapa masih pukul segini," ucapnya tidak sabar menantikan pagi.
"Ini jugak, ngapa mesti tidur disini sih," menendang tubuh Ai Ki hingga tersungkur.
"Ch sudah jatuh masih aja tidur, dasar!"
Menghisap rokøk, bersujud menatap wajah Ai Ki, menghembuskan asapnya, "Ming Ke, sudah 2 tahun lebih semenjak kehilanganmu, aku hanya bisa menatap wajah wanita busuk ini demi melepaskan kerinduan ku,"
Xi Yuan mengangkat kembali tubuh Kiki naik ke atas ranjang, "tadi dia bilang sudah bersiap kan, baiklah adik kecil ku pun mendadak ingin olahraga, salahkan dirimu sendiri berani tidur di ranjang ku,"
Yuan memulai haha hihi nya dan membuat Kiki terbangun, "Tuan Yu apa yang kau lakukan,"
"Layani cepat!"
Ai Ki pun melayani suami nya hingga fajar.
Xi Yuan bersiap-siap. Kiki memasangkan dasi nya.
"Tuan Yu,"
"Mm"
"Kapan kita akan punya keturunan,"
"Tunggu aku siap"
"Ini sudah 5 tahun 3 bulan semenjak hari pernikahan"
__ADS_1
"Teruss"
"Aku juga mau punya anak seperti yang lainnya"
"Aku tidak, tidak usah menghayal kan yang bukan-bukan, minggir" menghempas tangan Ai Ki dan berlalu.
"Hmph kau kira aku akan terus mengikuti mu, mulai sekarang aku tidak akan meminum obat itu lagi, jika terus meminumnya kapan aku akan menguasi mu sepenuhnya," gumam Ai Ki di sela-sela kepergian Yu.
Kiki mandi lalu sarapan sambil menonton televisi.
#KABAR TERKINI
Pesawat YZ jatuh di gunung XX pukul 07 tadi malam, sampai saat ini pencarian terus dilakukan, berikut nama-nama korban yang sudah ditemukan meninggal dunia.
Kiki terus membaca nama-nama itu, "Ai Shu? Nenek? Apa nenek naik pesawat ini?!"
Langsung menelpon ibu nya, "ibuuu kau sudah lihat berita!"
"Su... Sudah Ki, Hikss..."
"Itu nenek?"
"Iya nak, nenek mu ada didalam pesawat itu, dan tanda pengenal itu juga miliknya, Hiks.. Hiks.."
"HUAAAA... Nenek, nenek kuu Huaaa..."
Mereka terus menangis mendengar kabar tersebut.
Kota C
Pagi Hari di Hari yang sama
Hari ini Vivian akan mengunjungi alamat yang tertera dikertas itu.
Sekolah
Vivian berbincang dengan guru TK. "Terimakasih, Bu"
Menghampiri anak nya, "Yi, Wei nanti kalau ibu belum datang menjemput kalian, tinggal lah dulu di rumah ibu ini ya," menunjukkan guru tersebut
"Mommy tidak akan lama kan?"
"Tidak sayang..."
"Baiklah Bu"
Vivian meninggalkan anaknya. Dari yang Vivian dengar alamat 09 ini tempatnya sangat jauh. Maka dari itu dia menggunakan taksi untuk pergi ke sana.
Dalam mobil
"Tidak, aku hanya mencari pekerjaan dan kebetulan disana ada"
"Kau orang baru ya"
"Emm"
"Aku hanya memperingatkan mu untuk berhati-hati di kota ini, kota ini memang terlihat tenang, aman, dan nyaman, tapi malah sebaliknya"
"Terimakasih, aku akan berhati-hati"
Vivian turun tepat di depan gerbang rumah itu.
"Ini gerbang rumah atau penjara? Apa aku salah rumah," melihat alamat nya dengan jelas.
"Tidak, ini memang benar rumah nya, tinggi sekali, bagaimana cara ku untuk masuk," gumamnya. Vivian mencoba mengetuk gerbang besi itu tapi tidak ada respon.
Ada mobil yang akan masuk, pintu pun terbuka secara otomatis.
"Huhh akhirnya terbuka juga, tangan ku hampir saja berdarah," mengelus punggung tangannya.
Chiitt
"Astaga!" Vivian berjingkrak terkejut.
Mobil berhenti karena Vivian menghalangi jalannya.
"Ada apa"
"Ada seseorang di depan Tuan"
"Lewati saja"
Mereka melewati Vivian dari samping.
"Huhh, hampir saja" gumamnya menatap mobil itu.
Tak lama berjalan baru lah terlihat rumah megah nan mewah bagaikan istana itu. "Wahhh besar sekali... Apa ini benar-benar rumah?, kenapa besar begini,"
Vivian terus berjalan sambil terus mengagumi suasana disana.
__ADS_1
Melihat pelayan membersihkan taman, "permisi dimana aku bisa menemui tuan dari rumah ini?"
"Ada perlu apa"
"Aku pekerjaan baru disini"
Pelayan itu mengantarnya menemui Tuan rumah.
Dalam rumah, vivian terus melihat kesana-sini.
"Hentikan! Kau ingin mencurinya!" cetus pelayan.
"Ahh tidak, tidak, aku hanya mengagumi aja," meletakkan kembali vas kecil itu.
"Tuan, dia mencari mu,"
"Apa"
"Iihh galak bener, belum juga aku ngomong apa-apa" batinnya.
"Tuan aku dengar kau sedang mencari pekerja baru, dan aku ingin mendaftarkan diri"
"Kau diterima"
"Benarkah?" tatap Vivian berwajah Wink.
"Mudah sekali," batinnya.
"Keluar kau," mengusir Vivian dari ruang kerjanya.
"Mm baik Tuan"
Vivian melangkah keluar, berjalan menunduk. Dia berpapasan dengan seorang pria.
"Ternyata kau disini, aku mencari mu di atas," Pria itu melewati Vivian.
Vivian seperti kenal dengan suaranya, begitupun pria itu, seperti kenal dengan aroma parfum nya.
Mereka sama-sama berbalik badan.
"Vivian!"
"Brian!"
"Sedang apa kau dirumah ku,"
"Ini rumah mu? Aku sedang mendaftarkan diri bekerja disini"
Hentak meja, "Mengobrol di luar saja! jangan mengganggu ku"
"Tunggu aku di luar," perintah nya. "Dimana dokumen perusahaan yang kemarin" berjalan menghampiri.
Sementara itu Vivian menunggu Brian di luar rumah sambil berbincang dengan pekerja kebun.
"Ayo, aku akan memberi mu tumpangan," ajak Brian.
Dalam mobil.
Dreettt
"Siapa sih mengganggu saja" batinnya.
"Tuan susah perintah mu, pesawat sudah jatuh di gunung XX"
"Mm" Brian mematikan ponsel nya.
Mereka telah sampai di Taman kanak-kanak.
Menunduk ke kaca jendela mobil, "Terimakasih atas tumpangannya"
"Oh iya, kapan aku bisa mulai kerja"
"Besok, kau tunggu saja di halte bus, mereka akan menjemput mu,"
Vivian mengangguk, lanjut pulang ke rumah membawa anak-anaknya.
"Mom, dimana nenek, kenapa tidak pulang lagi?"
"Nenek masih bekerja sayang, besok juga kembali, tidurlah ini sudah malam, kau akan terlambat ke sekolah besok"
Sudah 2 malam nenek tidak pulang ke rumah, juga tidak ada kabar hari ini.
Seminggu berlalu.
Sampai sekarang nenek belum juga pulang ataupun memberikan kabar nya.
Seperti biasa setelah mengantar kedua anaknya, Vivian ke Mall guna berbelanja kebutuhan dapur sebelum berangkat kerja.
Menatap dengan serius, "bukannya itu Lao X pacarnya Chu?" gumam Vivian. Menatap pria yang sedang bersamaan dengan seorang wanita di toko perhiasan.
__ADS_1
"Lao X!" teriaknya.
Mendengar suara teriakan Vivian, Lao X segera membawa gadis itu pergi dari sana.