
...****************...
Bangsal 5 Ruang VIP
Xi Yuan terus menggenggam tangan Ming Ke sambil tidak berhenti mengucapkan banyak kalimat.
"Kau tahu, mulai hari itu aku mencari mu. Tapi, itu juga karena ibu mu, jika tidak demi keselamatan mu, aku sudah lama menceraikannya lalu menikah dengan mu. Keke, kini semua masalah telah selesai, hanya tinggal menemukan Richard dan juga... Juga membuat mu yakin bahwa aku hanya ingin melindungi mu," rintih nya tanpa air mata.
"Xi Yi benar, aku belum bisa jadi ayah baik untuk mereka, bahkan suami yang baik untuk mu. Keke, maaf," Yuan menenggelamkan wajahnya diantara tangan Ming Ke.
"Aku juga salah, karena sempat percaya kau benar-benar sudah tiada kala itu. Bahkan demi melepaskan kerinduan ku aku, aku berhubungan dengannya. Melakukannya berkali-kali, aku salah, aku salah... Itu, itu semua karena ingin membalaskan sakit hati ku pada mereka yang membuat mu hilang dari kehidupan ku," ujarnya mulai meneteskan air mata.
"Keke, maaf. Aku baru tahu kau masih ada, hidup dan sehat, setelah mengkhianati mu. Maaf, maaf," rintih nya.
Xi Yuan merasakan rambutnya di elus seseorang langsung mendongakkan wajahnya.
"Mi-Ming Ke! Ka-kau sadar?! Kau sudah sadar?!" Xi Yuan segera menghapus air matanya yang masih menitik.
Yuan mendudukkan Ming Ke dari tidurnya, dan langsung mendekap erat badan lemah Ming Ke. "Ming Keke, Keke, aku-aku merindukan mu," ujarnya.
"Kau ingat aku? Ingat? Aku Xi Yuan, Xi Yuan. Ayah dari anak-anak!" sebutnya tanpa merasakan luka jahit kembali terbuka.
"Aku ingat," jawab nya perlahan.
"Syukurlah, syukurlah." Yuan kembali memeluk Ming Ke, tapi kali ini darah yang keluar tidak dapat di tutupi lagi.
"Tuan, aku. Bisakah kau menyandarkan ku,"
"Baiklah, baiklah," menyandarkan Ming Ke ke tempat tidurnya.
"Wajah mu... Pucat," ujar nya.
"Ah tidak, mungkin hanya kurang minum saja," jawab Xi Yuan mulai merasakan perih pada bekas jahitan.
Xi Yuan meninggikan selimut untuk Ming Ke.
"Ming Ke kenapa baju mu penuh darah!" ujar Xi Yuan panik.
Ming Ke melihat baju nya, "tidak, aku tidak apa-apa," memeriksa bagian dalam baju nya. "Ini, mungkinkahhh," Ming Ke menatap jas dan juga kemeja hitam yang dikenakan Xi Yuan.
Keke meletakkan tangannya pada bagian perut Xi Yuan. "Tuan, kau yang berarah! Apa kau terluka?! Baju mu berdarah, wajah mu juga pucat!" pekik Ming Ke.
Pintu bangsal terbuka, mereka sudah kembali dari pusat perbelanjaan.
"Ming Ke, kau sudah sadar!" ujar Chu Xia.
"Cepat panggil dokter, Tuan Yu mengeluarkan banyak darah!"
"Apa?! Xi Yuan bukannya aku sudah memperingati mu untuk tidak banyak bergerak!" bentak Rey.
"Obati aku disini..."
Saat itu juga Xi Yuan pingsan.
__ADS_1
Bo berlari keluar memanggil dokter. Rey membaringkan Xi Yuan di atas sofa, membuka sepatu dan juga jas nya.
Perawat dan Dokter datang dengan membawa tambahan tempat tidur pasien.
"Ayo angkat dia, pindahkan ke sini," ujar Dokter.
Bo dan Rey menggotong badan Xi Yuan keatas tempat tidur.
Dokter mulai melakukan tugasnya. Membuka baju Xi Yuan. "Jahitan terbuka! Suster siapkan alat-alat nya segera,"
"Jahitan apa? Kenapa bisa?" tanya Ming Ke panik.
"Ming Ke, kau tenanglah, kau juga baru saja sadar. Jangan memaksakan diri lagi," ujar Chu Xia mengelus bahu Ming Ke.
"Ibu, apa dia memelukmu?" tanya Xi Yi.
Ming Ke menganggukkan kepalanya.
"Heuh... Dasar ceroboh," gumam nya.
Setelah beberapa saat.
"Pendarahan tidak bisa berhenti, ada pembuluh darah yang putus. Aku sudah menanganinya, tunggu sampai 10 menit. Jika darah tidak berhenti juga, Tuan harus di operasi untuk menghindari terjadinya komplikasi pada organ tubuh nya," jelas Dokter setelah selesai dengan jarum-jarum di tangannya.
"Kami akan terus memantaunya," jawab Rey.
Dokter dan kedua suster keluar dari bangsal Ming Ke.
Bo menepuk punggung Rey, yang tengah membereskan beberapa barang, "Rey, sebaiknya kau ceritakan pada mereka," Bo mengarahkan matanya kepada dia anak kecil dan juga dua wanita dewasa di belakangnya.
"Tanyakan saja," tukasnya mendekati tempat Ming Ke.
"Dia-"
"Penyerangan malam tadi, membuatnya terluka. Peluru masuk kedalam tubuhnya lebih kurang 4 sampai 5 jam. Meski berhasil keluar tapi senjat@ yang mereka gunakan bukan senjat@ biasa, apalagi pihak lawan adalah tentara bayaran yang terkuat di Kota. Mereka mengincar jantung Tuan, untung nya Tuan berhasil menghindar, tapi peluru itu juga tidak dapat dielakkan lagi, hingga masuk kedalam perutnya," ungkap Rey.
"Sudah tahu terluka, kenapa harus nekat kembali," kesal Ming Ke khawatir.
"Dia mendapat kabar kau sudah siuman, dia langsung terburu-buru memesan penerbangan. Brian dan aku sudah berusaha untuk mencegahnya, tapi dia tetap bersikeras kembali untuk melihat mu,"
Ming Ke tidak melepaskan pandangannya kepada Xi Yuan. "Sekhawatir itukah kau pada ku, Xi Yuan? Ah iya Brian!" batinnya.
"Tuan, kau mengenal Brian? Dimana dia? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja setelah kecelakaan kapal?"
"Dia mengkhawatirkan Brian? Sementara Xi Yuan sangat mengkhawatirkan Nya tanpa memikirkan keselamatan sendiri. Bahkan di depan Xi Yuan yang masih terluka dia berani bertanya keadaan orang lain? Wahhh... wanita nya Xi Yuan ini sedikit nakal ternyata," batin Rey terkejut.
"Brian Wilson, dia baik-baik saja,"
"Ohh... Syukurlah, aku harus menemuinya ketika sembuh nanti," ucap Ming Ke.
"Tuan, cepatlah bangun. Atau kau akan kehilangan wanita nakal ini lagi," batin Rey bangkit dari duduk nya.
Bo Gum mengejutkan Chu Dia dari tatapannya pada Rey. "Sudah, sudah. Karena Ming Ke sudah sadarkan diri, lebih baik kau membuatkan makan untuknya,"
__ADS_1
Terkejut, menghentakkan kaki nya ke lantai, "A! Ihhh kau ini, mengejutkan saja, Heng..." berbalik badan, menginjak kaki Bo Gum.
Chu Xia pergi mencari air panas untuk membuat bubur. Sementara anak-anak yang masih duduk diantara Ming Ke dan juga Xi Yuan menatap iba kepada kedua orang tua nya.
Keke melihat sekilas kepada Xi Yi yang hanya memfokuskan diri untuknya saja, "Yi, sayang. Kenapa kau tidak melihat ke sana?"
"Orang yang pantas mendapatkan kehangatan ku hanya kau dan juga adik," jawabnya sambil terus menggenggam tangan Keke.
"Tapi, dia..."
"Ming Ke, aku sudah dewasa. Tolong jangan tipu aku lagi untuk menganggap orang lain sebagai ayah baptis ku,"
"Dia bukan-"
"Sudahlah, jika kau bicara lagi aku akan mengabaikan mu juga, Bu,"
"Huh... Sudahlah, kau memang keras kepala sepertinya," jawab Ming Ke.
15 menit berlalu, Xi Yuan sudah sadarkan diri.
"Shh..." Xi Yuan mencoba bangkit.
"Ah, Tuan. Hati-hati," Rey membantu nya untuk duduk.
"Ming Ke," Yuan memaksakan diri mendekati Ming Ke.
"Stop! Jika kau mendekat, aku pastikan, aku akan menghilang dari hidup mu Xi Yuan,"
Ming Ke berkata demikian agar Yuan tetap berada di tempat nya, demi menjaga luka jahit.
Dia berhenti dan duduk kembali di tempat tidurnya, "Xi Yuan? Sepertinya kau melupakan kesepakatan kita," ujar Xi Yuan tersenyum tipis.
Ming Ke hanya diam tidak menjawab.
"Jangan menjebak ibuku lagi," tukas Xi Yi tiba-tiba menyambar tangan Yuan yang hendak menggenggam tangan Ming Ke.
"Xi Yi, kau juga mau mengingkari kesepakatan?"
"Tidak,"
"Chk... Sifat mu sama sepertinya," menatap kedua orang itu.
"Xi Yi, dimana Wei-Wei?" Mengalihkan pembicaraan.
"Wei-Wei sudah tidur, Bu. Mungkin dia lelah habis berkeliling tadi,"
Chu Xia masuk ke dalam bangsal. "Ming Ke, ayo makan. Aku sudah membuatkan bubur untuk mu,"
"Chu Xia, sudah menyusahkan mu akhir-akhir ini," menerima semangkuk bubur.
"Tidak-tidak. Kau sudah seperti kakak bagiku," tersenyum manis.
...----------------...
__ADS_1
...Qarry_Adz...
...Jangan membandingkan anak mu dengan anak orang lain, karena Tuhan tahu apa yang terbaik untuk anak mu...