
...****************...
Bo memperhatikan setiap senyuman yang terukir di wajah Chu Xia, membuat dirinya salah tingkah sendiri.
"Hei! Kenapa kau tersenyum seperti orang gila," ujar Rey menyadarkan Bo Gum.
"Aghh... Kau ini," menepis tangan Rey dari dahi nya.
Rey mengikuti tatapan Bo Gum, "Kau menatap nya?"
"Sehh... Makan saja keripik mu," menyumbat kan segenggam keripik ke mulut Rey.
"Ahh... Kau menyukai nya 'kan?"
Bo Gum roll eyes meletakkan bìr kaleng yang sedaritadi di pegang nya saja. "Tuan Yuan, belum makan." ucapnya meninggalkan Rey.
Chu Xia melihat Rey tengah duduk menikmati cemilan nya, sambil terus memainkan laptop nya. "Ming Ke, nikmati bubur mu perlahan-lahan ya, aku akan mengambil beberapa cemilan untuk ku,"
"Ang," jawab Ming Ke.
"Xi Yi, kau juga mau?"
"Tidak Bibi, aku sudah kenyang,"
"Owhh, oke..."
Chu Xia mendekati Rey. "Tuan, bolehkah aku memilikinya," mengambil sebungkus snack dari atas meja.
"Ah, tentu," ucap Rey. Melihat sekilas lalu kembali fokus kepada laptop nya.
"Tuan, apa yang kau lakukan?" menatap layar laptop.
"Pekerjaan,"
Chu Xia duduk di samping Rey. "Eih, sepertinya aku pernah melihat laptop dengan gambaran seperti ini, tapi dimana ya..." mencoba mengingat lagi.
Rey menatap Chu Xia. Begitupun Chu Xia yang melihat tatapan seram dari Rey.
"Ah, maaf tuan, aku tidak bermaksud duduk disisi mu. Maaf," Chu Xia menundukkan badan lalu meninggalkan Rey.
"Chu Xiaaaa, kau ini terlalu ceroboh! Bagaimana bisa kau duduk di samping nya! Tapi, tatapan tadi, meskipun seram namun sangat mesra, aaaa...." Chu Xia tersenyum-senyum sendiri dan hampir melanggar Bo Gum.
"Hei, Yakk! Perhatikan langkah mu, bagaimana jika bubur panas ini tumpah ke badan mu,"
"Hei! Kau yang seharusnya berhati-hati dengan bubur itu, kenapa kau malah menyalahkan aku!"
"Shh.... Dasar wanita gila," ucap Bo meninggalkan Chu Xia.
"Siapa yang kau bilang gila! Apa kau tidak lihat aku se cantik ini!" ujarnya membangkang.
"Bibi Chu, kau membangunkan ku," ucap Ming Wei keluar dari kamar nya.
"Agh, sayang. Kau bangun, maafkan Bibi sudah mengganggu tidur mu...."
"Bibi, lain kali suaranya lebih halus dikit ya, biar tidak mengganggu orang tidur lagi," tukas Bo Gum meledek Chu Xia.
"Hisss...!!" Chu Xia mengepalkan tangannya pada Bo.
"Sayang, kau mau makan?" tanya Ming Ke.
"Tidak mommy," berjalan mendekati Keke. Memutar badannya dari kursi tanpa sandaran di tengah antara Xi Yuan dan juga Ming Ke. "Ayah, kapan kita pulang? Wei-Wei bosan di sini,"
"Dokter bilang, ibumu sudah bisa kembali besok pagi. Jadi kita akan kembali besok,"
"Benarkah? Yeayy.... Akhirnya kita pulang," Ming Wei mengangkat kedua tangannya gembira.
"Iya sayang, kita akan kembali besok. Tapi ayah mu tidak,"
"Kenapa tidak?" jawab Wei-Wei dan Xi Yuan bersamaan.
__ADS_1
"Karena ayah masih sakit, bagaimana? Wei-Wei ingin kembali bersama ibu, atau tetap disini merawat ayah mu?"
"Emm, Wei-Wei..." bingung menentukan pilihannya.
"Tidak! Kita semua akan kembali besok pagi," jawab Xi Yuan.
"Kau..." menatap Xi Yuan. "Heh... Sudahlah Ming Ke, dia memang keras kepala," ujarnya pelan menghembuskan napas.
Malam Hari
Semua orang sudah tidur. Chu Xia dan anak-anak berada di dalam kamar, sedangkan Xi Yuan dan Ming Ke tidur pada tempat mereka masing-masing. Hanya Rey dan BO yang masih terjaga sambil menatap laptop mereka.
"Sampai saat ini, Richard belum juga di temukan,"
"Xi Yuan yang malang. Meski sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Tapi, setelah menemukannya, dia belum juga bisa menangkapnya,"
Suara gemuruh dari perut Rey.
"Bo, kau lapar?"
"Bo, buatkan makan malam untuk ku," ujar Bo seolah tahu yang di pikirkan Rey.
"Ehehe... Bo Gum, kau yang terbaik," mengacungkan jempol nya.
"Tidak, aku juga lapar. Kau buat sendiri mie mu," ujar Bo meninggalkan Rey.
Ri Rey mengikuti Bo Gum keluar bangsal.
Buzz
Buzz
Ponsel Xi Yuan bergetar. Dirinya pun terbangun melihat panggilan masuk dari luar Kota.
Xi Yuan bergerak perlahan tidak ingin membangunkan Ming Ke. Dia keluar dari bangsal agar tidak mengganggu istirahat semuanya.
"Yuan, mengenai Giok. Aku baru ingat, di sana ada ukiran, tapi aku juga tidak tahu apa artinya,"
"Ukiran? Coba sebutkan ciri-ciri nya,"
"Gelang itu seperti gelang tangan pada umumnya, berwarna hijau pekat, ukiran nya juga timbul,"
"Huruf apa yang dapat kau baca di sana?"
"Aku cuma tahu huruf awal nya saja, sepertinya itu M dan I,"
"Giok Ming ke? Jangan-jangan itu milik Keke yang hilang," batin Xi Yuan.
"Jadi bagaimana? Kalian sudah menemukannya?"
"Setelah kami telusuri awak yang menyelamatkan kita kemarin itu, bukan berasal dari Kota ini,"
"Jadi maksudmu, mereka dari luar Kota?"
"Benar,"
Di saat Xi Yuan melakukan panggilan dengan Brian di luar ruangan, seorang suster masuk ke dalam bangsal.
Dia terus mendorong gerobak obat di depan nya, dan berhenti tepat di tempat Ming Ke tidur.
Suster berkata dengan dirinya sendiri, "Kakak, kau sudah menghancurkan hidupku. Membunuh kakek, ayah, nenek, dan sekarang ibu ku juga menghilang setelah mencari keberadaan mu di luar sana. Kau membunuh semua keluarga ku, kau pembunuh,"
"Sekarang kau akan tahu apa itu artinya kehilangan seseorang yang kau sayangi," mengambil obat yang sudah dipersiapkan nya, menyalin ke dalam jarum suntik, lalu melepaskan cairan kuning tersebut di infus Ming Ke.
"Maafkan Bibi, ya calon keponakan. Bibi hanya mau dia mendapatkan imbalan nya," menarik kembali suntik yang sudah kosong.
Suster segera keluar dari dalam bangsal, dan kembali bergumam. "Ming Ke, ini belum seberapa. Suami ku tega mencampakkan istrinya ke seekor bajing@n hanya demi memilih mu,"
Dalam ingatan nya.
__ADS_1
"Kau berani membunuh anak kita! Dan kau berkata pernikahan itu untuk menguasai harta nya Xi Yuan. Tapi siapa sangka kau malah ingin mencampakkan ku! Kau ingin merampas semua harta ku lalu membuang ku! Ai Ki aku sudah cukup dengan mu! Aku bercerai hanya untuk mu, tapi kau malah mengkhianati cinta ku!!"
Plak
Bugh
Bamm
Tersenyum smrik. "Pukulan demi pukulan sudah ku dapatkan, kau tidak akan pernah tahu sakit nya. Kali ini, aku tidak akan membiarkan mu bahagia Keke!" tekatnya.
"Baiklah kabari aku secepatnya," Xi Yuan memutar badannya setelah mengakhiri panggilan.
Menatap pintu bangsal yang terbuka, "kenapa terbuka? Apa aku lupa menutupnya," batin Xi Yuan masuk dan menutup pintu bangsal.
"Xi Yuan" // "Darimana saja kau?" tanya Bo dan Rey.
"Kenapa tidak menutup pintu," berjalan kembali ke tempat tidurnya.
"Loh, bukannya aku sudah menyuruhmu untuk menutup pintu,"
"Rey, kau berjalan dengan tangan kosong. Sementara aku menggenggam dua mangkuk mi, pakai apa aku harus menutupnya?"
"Kau kan punya kaki,"
"Kau tidak masuk akal," tukas Bo pada Rey
"Kecilkan suara kalian."
Xi Yuan mengecup kening Ming Ke sebelum kembali tidur.
"Bo, kenapa pedas sekali..."
"Aku menambahkan cabai untuk mu," tersenyum jahil.
"Bo Gumm..."
"Ups, maaf stok mi juga sudah habis."
Mereka makan sambil bercanda, sesekali kembali melihat laptop.
Pagi Hari.
Chu Xia dan anak-anak membantu Ming Ke membereskan baju-baju nya, dan juga semua barang yang ada di sana.
"Tuan, apa kau benar-benar ingin kembali bersama kami?" tanya Bo.
"Kau tidak ingin aku kembali ke rumah ku?"
"Bukan, bukan... Tapi luka mu..."
"Rey, sepertinya Bo agak santai beberapa hari ini sehingga dapat mengurusi urusan ku. Beri dia tugas,"
"Siap, Tuan,"
"Tuan, Yu... Ku mohon jangan, tugas dari perusahaan mu saja sudah menumpuk di atas meja ku,"
"Kau tahu capek, tapi masih mencari pekerjaan lain," usil Rey.
"Sudahlah, nampaknya setelah beberapa bulan aku bukan lagi saudara kalian," mencoba bersedih.
"Sudahlah kau tidak cocok dengan drama sedih itu,"
Mereka kembali meringkasi barang-barang.
...----------------...
...Qarry_Adz...
...Jika hidupmu kurang Rezeki, Kesehatan juga kurang Bahagia. Maka perbanyak lah Beribadah dan Berdo'a. Bukan memperbanyak keluhan pada Tetangga...
__ADS_1