Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Jahitan Luka


__ADS_3

...****************...


Brian berdiri di pinggir kamar, menatap ke halaman bawah tempat mereka memarkirkan mobil sebelumnya, melalui dinding kaca.


"Benar, itu pasti mereka. Mereka sengaja membantu kita untuk mendapatkan kembali Giok itu!" ujar Brian mengepalkan tangannya ke dinding kaca.


Pyarr


"Mereka bahkan pergi setelah mengantar kita kembali ke markas!" Brian mencampakkan vas bunga yang terletak di samping nya.


Kota A


"Tuan, misi selesai. Target sudah aman, barang juga aman."


Dengan suara samaran, "bagus, segera kembali. Amankan barang ku dengan baik,"


"Baik, Tuanku,"


Rumah Sakit


Pagi hari di hari yang sama


Ming Wei dan Xi Yi tengah duduk diantara Ming Ke.


"Kakak, kapan mommy akan bangun?"


"Kita tunggu saja, ya..."


"Hmm... Mommy Wei-Wei rindu suara saat kau membacakan dongeng untukku. Kapan mommy bangun... Mommy sudah tidur panjang, apa mommy tidak bosan?" Ming Wei meletakkan tangan Keke ke puncak kepala nya, juga berkali-kali mencium punggung tangan ibunya.


Perlahan tangan Ming Ke mulai bergerak satu persatu.


"Hah! Kakak, mommy, mommy bergerak, lihat!" pekik nya.


"Benar! Wei-Wei, panggil paman Bo," ujar Xi Yi


Ming Wei berlari menuju kamar tunggu. "Paman! Paman! Paman, Bo!" teriaknya.


Bo Gum yang masih menyelimuti Chu Xia, "sttt...." mengacungkan jari telunjuk nya ke bibir, membuat Ming Wei menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Berjalan mendekat, "pamannn..." dengan suara pelan.


"Ayo keluar," Bo Gum membawa Ming Wei keluar dari kamar.


"Paman, apa yang kau lakukan? Kenapa kau terus menatap Bibi Chu kami?"


"Wei-Wei paman hanya ingin menyelimutinya, dia sudah menjaga ibu mu malam ini,"


"Ooh..."


"Kau tadi berteriak begitu kencang, ada apa?"


"Oh iya! Paman ibu sudah bangun," Ming Wei menarik tangan Bo Gum.


Sementara itu di tempat tidur.


"Ibu, kau ingat aku?" tanya Xi Yi.


Keke mengangguk, "Yi-Yi, putra kecil ku," sebut Ming Ke mengelus kepala juga wajah Xi Yi.


"Ahh, Ibuu..." Xi Yi menitikkan air matanya.


Bo melihat Ming Ke sudah bangun dari tempat tidur nya. "Nona Ming Ke," ujar Bo Gum, lalu berlari keluar memanggil dokter.


Ming Ke sudah sadarkan diri, begitupun dengan ingatannya tentang anak-anak.


"Mommy..." teriak Wei-Wei menghampiri Keke.


"Ming Wei ku," rintih nya meneteskan air mata.


"Mommy... Kau sudah bangun! Wei-Wei rindu..." menghamburkan pelukan nya.


"Wei-Wei, jangan menekan nya. Ibu sedang sakit," ujar Xi Yi.


Ming Wei duduk di samping ibu nya. "Mommy sudah tidak sakit 'kan? Apa dedek bayi juga sudah sembuh?"


"Sayang, kau tahu darimana?" Keke heran, karena sebelumnya Ming Ke juga tidak memberitahu siapapun.


"Dokter disini!" pekik Bo Gum.


Dokter langsung melakukan pemeriksaan terhadap Keke.


Selang beberapa waktu.

__ADS_1


"Tuan, Nona memang sudah sadarkan diri, juga beberapa ingatannya sudah pulih. Apakah aku boleh menyuntikkan obat terakhir untuknya agar ingatannya kembali pulih semua?"


"Ini..." Bo melihat ke arah Ming Ke yang tengah berbincang dengan anak-anak. "Aku akan menelpon Tuan Yuan dulu, kita akan berbicara nanti,"


"Baiklah,"


Dokter pergi meninggalkan bangsal Ming Ke.


"Nona, bagaimana? Apa yang kau rasakan?"


"Aku merasa sedikit pegal-pegal saja, mungkin karena sudah tidur lama, seperti yang diucapkan Wei-Wei kecil," menatap tersenyum kepada wanita kecil di hadapannya.


"Baiklah. Aku akan keluar sebentar. Xi Yi, panggil aku jika ada sesuatu. Ingat, jangan bangun kan Bibi Chu dahulu, dia sudah sangat lelah.." ucap Bo Gum sebelum meninggalkan bangsal.


"Chu Xia?" tanya Ming Ke penasaran.


"Iya mom, Bibi Chu Xia sudah menjaga mu malam ini,"


"Gadis baik itu," gumam Keke.


Diluar bangsal.


Bo Gum menghubungi seseorang di Kota C.


"Tuan, kabar baik!"


"Apa?"


"Nona Ming Ke sudah sadarkan diri"


"Kau tidak bercanda?" bangun dari tempat tidurnya.


"Benar, tapi... Kau harus dengarkan aku dulu"


Xi Yuan tidak jadi mematikan panggilan nya.


"Saat ini kondisi tubuh Nona sangat stabil, sebelum kondisi nya kembali menurun, dokter menyarankan untuk menggunakan obat penawarnya lagi. Agar Nona dapat mengingat kembali semuanya,"


"Tapi, aku belum menemuinya," batin Xi Yuan. "Sudahlah, jika begitu, jangan tunda lagi,"


"Baik Yu," Bo Gum memutuskan panggilannya.


Dokter kembali masuk ke dalam bangsal Ming Ke.


"Lakukan saja, Dok," ujar Ming Ke.


Ming Wei di samping Xi Yi. "Kakak, apa ibu akan kembali tidur?"


"Sepertinya begitu," membalas pelukan adik nya.


Dari dalam kamar.


"Tunggu!!"


"Chu Xia, kau sudah bangun?" tukas Bo.


"Tuan Bo, jika aku tidak bangun. Apa kau berencana untuk menyembunyikan kepulihan saudara ku?" ujarnya menepis badan Bo Gum.


"Ming Ke ku, sayang... Bwaaa...." memeluk nya.


"Sudahlah Chu, aku akan melakukan pengobatan lagi agar benar-benar pulih."


"Tidak boleh! Aku masih merindukanmu," terus memeluknya.


"Nona, jangan menghambat pekerjaan kami," ucap Dokter.


"Apa kau tahu bagaimana rasanya tidak bertemu saudara mu setelah beberapa bulan!" pekik nya terhadap dokter.


"Chu Xia, sudah ya... jangan buat keributan lagi," Bo Gum membawa tubuh Chu Xia menjauh dari Ming Ke.


"Tuan Bo! Lepaskan aku! Aku masih ingin memeluknya! Ming Keee...." teriak Chu Xia.


Bo Gum mengurung nya kembali di dalam kamar.


"Nona, mari kita lanjutkan,"


"Em.."


Sebelum itu, Dokter harus membuat Ming Ke kembali tertidur, baru dapat mengobatinya.


Kota C


Diluar Markas

__ADS_1


"Xi Yuan, kenapa kau keluar?" tanya Rey.


"Aku harus kembali ke Kota A sekarang juga," mengambil kunci mobil.


"Tidak bisa! Luka mu baru saja di jahit, dan itu bisa membahayakan organ dalam mu," ucap Rey mencoba mencegahnya.


"Ming Ke sudah sadarkan diri, aku harus menemuinya," jawab Xi Yuan membuka pintu mobil.


Brian menutup kembali pintu tersebut.


"Yuan, aku tahu kau khawatir. Tapi kesehatanmu lebih penting, bagaimana jika jahitan basah itu terbuka?"


"Kalian tidak berhak menghentikan ku," jawab Yuan menatap tajam keduanya.


"Huh.. Baiklah, baiklah. Aku tahu pria akan gila untuk cinta nya. Rey, kau antarkan dia kembali, pastikan keselamatan nya. Urusan disini biar aku yang akan menanganinya,"


"Baiklah,"


Rey dan Xi Yuan melaju meninggalkan markas Brian menuju Bandara.


Sore Hari di Kota A


Rumah Sakit


Rey dan Xi Yuan masuk ke dalam bangsal.


"Bo, bagaimana?" tanya Yuan.


"Pelan-pelan, Yu," peringatan Rey.


Bo berdiri dari sofa. "Tuan, kau kembali?"


Xi Yuan menghampiri Ming Ke.


"Nona sudah dalam pengobatan, kita hanya perlu menunggu nya sadar saja,"


"Baguslah," Yuan menggenggam tangan Keke. "Kalian sudah makan?"


"Makan siang sudah,"


"Bo pergilah dengan Rey, cari beberapa cemilan untuk anak-anak. Bawa juga mereka bersama."


Xi Yuan ingin sendiri di ruang itu, maka memberikan perintah agar mereka keluar dari sana.


Bo membuka kamar, memanggil anak-anak, "Xi Yi, Ming Wei. Ayo, paman akan membawa kalian membeli cemilan untuk ibu,"


"Cemilan? Ikuttt...." jawab Wei-Wei.


Mereka keluar dari kamar.


"Ah, ayah kembali!" Ming Wei berlari memeluk Xi Yuan.


Bugh..


"Agh.." Xi Yuan menahan sakit di perutnya.


Rey yang panik melihat hal itu, "Nona kecil, jangan melemparkan tubuh mu di perut Tuan ku,"


Xi Yuan menghentikan tangan Rey yang berusaha menjauhkan Ming Wei dari badannya. "Tidak apa,"


"Paman, siapa kau?" tanya Wei-Wei.


"Kau tak ingat? Aku juga membawa mu keluar dari rumah penjahat itu,"


"Ooh..." Ming Wei melihat Xi Yuan terus memegang perut nya.


"Apa ayah lapar? Kami mau keluar, aku membelikan bakso untuk ayah nanti,"


"Tidak sayang, kau beli saja semua makanan untuk mu,"


"Sudah-sudah ayo pergi," sahut Bo Gum.


Mereka bergerak pergi. Namun Xi Yi yang paling terakhir.


"Jangan banyak bergerak, pelurū bersarang begitu lama. Apa kau berencana mati?" ujar Xi Yi meninggalkan Xi Yuan.


"Dia tahu?" batin Yuan menatap kepergian putra nya.


...----------------...


...Qarry_Adz...


...Dalam sebuah hubungan tidak akan lari dari Pertikaian...

__ADS_1


...So... Hadapi bersama tanpa harus Melepaskan...


__ADS_2