Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Emas dan Berlian


__ADS_3

...****************...


Kamar


"Xi Yi,"


"Jelaskan," ucap Ming Ke dan Chu Xia melipat tangannya dihadapan Yi-Yi.


"Tidak ada penjelasan," jawab nya datar.


"Kenapa tidak?" tanya Ming Ke.


"Itu kau, 'kan?" Chu Xia juga menginterogasi nya.


"Benar,"


"Jika benar, maka jelaskan. Kenapa kau berbuat usil pada orang tua?"


"Di perjanjian yang kalah, harus menerima hukuman yaitu menuruti perintah pemenangnya, bukan?"


Ming Ke mengingat kembali perjanjian permainan, "Kau benar juga," gumamnya.


"Tidak, tidak. Ming Ke, apa kau tidak sadar dia sedang menipu mu juga?" menyadarkan Keke. Kembali menatap Xi Yi. "Yang menang itu aku, Chu Xia dan juga ibu mu, Ming Ke. Bukan kau, Xi Yi, kau paham?"


Xi Yi masih tetap keras kepala, "Tapi aku wasit, Bibi"


"Huh... Sudah, sudah. Xi Yi, besok harus minta maaf pada Tuan Yu. Mengerti,"


Menundukkan kepala nya, "Baik Ibu,"


Di luar kamar


Bel pintu berbunyi


"Bo, lihat siapa di sana,"


Bo berjalan membuka pintu, "terimakasih," kembali menutup pintu.


"Siapa?" tanya Yu.


Mendekati Xi Yuan di depan televisi. "Kurir paket"


"Darimana, untuk siapa?" memutar badannya.


Membaca kotak paket, "Tidak nama pengirim. Ini untuk Ming Ke,"


"Kenapa misterius sekali," Xi Yuan menggapai kotak tersebut.


Yuan baru saja akan membuka kotak, suara anak laki-laki muncul secara tiba-tiba.


"Paket untuk ibu, kenapa kau yang mengambil alih?"


"Astaga! Xi Yi, sejak kapan kau disini," tanya Bo Gum kaget.


Ming Ke keluar dengan gelas bekas susu Ming Wei di tangannya.


"Kalian ada apa?"


"Ibu, paket untuk mu" ujar Xi Yi.


Ming Ke meletakkan gelas tersebut, lalu mengambil alih kotak kecil dari tangan Xi Yuan.


"Dari siapa?" melihat resi pengiriman. "Kenapa tidak ada nama pengirim," gumamnya membuka kertas pembungkus.


"Gelang ku!!" ungkap Ming Ke kaget melihat isi paket tersebut.


Semua mata tertuju pada gelang Giok hijau di tangan Ming Ke.


"Oh astaga... Aku sudah lama mencarinya," memakai gelang tersebut. "waktu itu, gelang ini ku simpan di rumah almarhum nenek Chu. Tapi Brian berkata tidak menemukannya,"


"Kapan kau menghubungi Brian? Kenapa aku tidak tahu?"


"Sebelum ingatan ku benar-benar pulih, ada satu hari aku mengingat gelang ini, aku juga melihat bayangan Brian saat terdampar di pulau waktu itu,"

__ADS_1


"Jadi, kau meminta bantuannya tanpa sepengetahuan ku?"


"Em.." menganggukkan kepalanya.


"Tidak benar. Setelah ini, kau dilarang untuk meminta bantuan pria lain lagi selain aku," tegas Xi Yuan.


"Kau? Chk, bahkan menemukan seorang wanita saja masih perlu bantuan ku, bagaimana bisa kau membantu ibu ku mencari benda sekecil ini,"


Xi Yuan menarik napas nya dalam-dalam. Bo menarik tangan Xi Yuan. "Sabar Yu, sabar..." kode dari Bo untuk Yuan.


"Hepp.... Huhhh.... Sudahlah, kalian segera istirahat, ini sudah larut," Xi Yuan memalingkan badannya.


Ming Ke dan Xi Yi melangkah masuk kamar. Tapi Yuan kembali memanggilnya.


"Keke, tunggu!"


Mereka berhenti, "ada apa?"


"Bolehkah aku menggambarnya sebentar?"


Ming Ke melepas kembali gelang nya. Setelah menyalin satu foto, Yuan mengembalikan gelang tersebut.


Kamar Yuan.


Yuan menghubungi seseorang.


"Yu, kenapa kau memfoto gelang nya?"


Panggilan terhubung.


Mengabaikan pertanyaan Bo Gum. "Brian, periksa gambar yang baru saja ku kirim,"


Selang beberapa menit, "Ah! darimana ku mendapatkan foto itu?" terkejut.


"Apa itu gelang yang kau maksud?"


"Benar itu gelangnya, dimana kau menemukannya?"


"Terimakasih," Yuan memutuskan panggilan mereka.


"Gelang ini hilang setelah pertempuran melawan tentara bayaran yang berada dibawah kendali Richard di Kota C beberapa waktu lalu,"


"Hah! Jadi ini gelang milik Keke?" terkejut, "Yu, kita harus mencari tahu siapa pengirimnya. Jika itu anak buah Richard-"


"Berarti dia tahu kita berada di sini," lanjut Xi Yuan memotong omongan Bo Gum.


"Bo, tingkatkan keamanan apartemen. Sebelum pemeriksaan selesai jangan biarkan orang asing keluar masuk ke lantai ini,"


"Segera dilaksanakan,"


"Richard, jangan sampai kau melukai orang-orang ku lagi," batin Xi Yuan mengeratkan genggaman tangannya.


Kamar anak-anak.


"Tuan, paket sudah dikirim,"


Dengan suara samaran. "Barang sudah di tangan, kerja bagus."


"Besok 50 ton emas murni akan dikirim ke perusahan Xi Group melalui jalur bawah tanah sesuai perintah mu,"


"Em, lakukan pekerjaan kalian dengan baik, hasil 20 ton untuk ku sisa nya bonus untuk kalian semua,"


"Apa! Tuan, kau tidak bercanda?! 30 ton untuk bonus? Untuk kami?"


"Kalian tidak mau? Aku bisa menyumbangkan itu ke sekolah anak luar biasa,"


"Tidak, tidak. Kami mana mungkin menolak rezeki. Terimakasih Tuan, terimakasih,"


Panggilan tertutup.


"Ugh... Setelah bekerja keras, akhirnya aku dapat mengumpulkan uang untuk membiayai kehidupan kami kedepannya." gumamnya.


Membaringkan badannya, "Tuan XY03II, kau sudah bekerja dengan baik," batinnya sembari menutup mata.

__ADS_1


Keesokan harinya


Kamar Yuan.


Terdengar suara seorang pria bercerita melalui ponsel nya.


"Tidak jumpa juga?"


"Tidak, Tuan. Kami bahkan sudah 3x mengulang semua isi dari kotak-kotak surat ini,"


"Jika masih 3, buat jadi 4, jika tidak bisa juga. Kalian cari sampai menghapal semua titik dan koma semua surat di sana!"


Memutuskan panggilan.


"Siapa dibalik ini semua! Kenapa aku selalu gagal! Mencari Giok, mencari Ai Ki, bahkan sekarang surat itu pun gagal lagi!" Yuan mengepalkan tangannya ke meja kerja.


Bo mengetuk pintu kamar, lalu masuk ke dalam kamar Yuan.


"Yu, aku dan Rey sudah memastikan Richard tidak ada di Kota A. Selanjutnya apa yang harus dilakukan?"


"Bagus jika tidak ada, segera pesan tiket setelah rapat hari ini. Besok pagi kita akan kembali ke kota A,"


"Siang ini, kau sudah membuat janji bertemu dengan seorang pemilik tambang emas dan berlian terbesar, tepatnya di Hotel King. Tujuan pertemuan kali ini yaitu membahas masalah Eksportir sebesar 50 ton Emas dan juga Berlian dari nya. Dimana masing-masing barang sebanyak 20 ton emas dan 30 ton berlian. Barang akan digunakan perusahaan untuk puncak pemesanan di awal tahun mendatang."


"Awal tahun... begitu cepat. Tinggal menghitung hari, maka tahun pun berganti. Baiklah, beritahu aku jika sudah waktunya pergi. Kau keluarlah," pintanya.


Xi Yuan terus berada di kamarnya sampai siang mendatang.


Ruang Makan


"Dimana Tuan Yu?"


"Kata Tuan Bo, dia punya banyak pekerjaan. Sehingga mengurung diri di dalam kamar nya,"


Meletakkan semangkuk sayur untuk makan siang. "Bekerja boleh, tapi harus ingat makan juga, dong"


"Samperin gih," ucap Chu Xia.


Ming Ke berjalan menuju kamar Xi Yuan. Belum sampai di pintu kamar, Xi Yuan keluar dengan setelan rapi.


Berhenti, "oh, ternyata masih tau lapar"


"Tidak, aku harus bertemu klien. Dimana Bo?" tanyanya.


"Dia sedang makan, kau juga makan terlebih dahulu sebelum pergi"


"Ini sudah hampir telat, gimana sih!" kesal nya menghampiri ruang makan.


"Bo!" pekiknya.


"Aku dengar, tidak perlu berteriak. Ada apa?"


"Kita sudah hampir telat, kenapa kau malah makan"


"Kemana?"


"Astagaaa.... Aku hitung mundur, kalau kau masih duduk maka duduklah di sana untuk selama-lamanya. 3-"


"Tunggu! Kau hendak pergi menghadiri pertemuan? Apa kau tidak dengar kabar dari Rey?"


"Kabar apa?" Yuan mengecek ponsel nya.


Di sana terlihat puluhan panggilan masuk dari Rey dan juga beberapa pesan yang belum dibaca nya. Yuan menghubungi Rey.


"Ada apa, Rey?"


"Tuan, kabar dari perusahaan pagi ini pukul 09, Manajer pabrik perhiasan dan juga supervisor lapangan, mengabarkan telah menerima import bahan mentah sebanyak 50 ton. Mereka sudah berusaha mengkonfirmasikan nya padamu, tapi kau tidak dapat dihubungi sejak tadi"


"Aku tahu," memutuskan panggilan. Xi Yuan kembali melakukan panggilan.


"Import barang? Aku bahkan belum menemui nya, bagaimana bisa?" batinnya.


...----------------...

__ADS_1


...Qarry_Adz...


...Tersenyumlah walau itu sulit...


__ADS_2