Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Pegawai Magang


__ADS_3

...****************...


Toko Baju


"Kenapa berhenti?" tanya Ming Ke.


"Aku merasa tidak nyaman dengan pakaian mu," jawab Xi Yuan.


Melihat dirinya sendiri, "Pakaian ku? Apa yang salah dengan pakaian ku?"


Tuan tidak menggubris dan langsung membawa Ming Ke masuk kedalam Toko.


"Tuan, silahkan.." sambut para pelayan toko.


Duduk di sebuah sofa, "pilih semua yang kau inginkan, aku sudah menyewa tempat ini. Kau bisa bebas memilih mereka sekarang," ucapnya melipat kaki.


"Kau berlebihan, aku merasa nyaman dengan pakaian ku. Lagi pula," menundukkan kepalanya, membisikkan sesuatu ke telinga Xi Yuan. "Disini terlalu mahal," ujar Ming Ke.


"Semahal apa pun tidak akan menghabiskan uang ku kalau hanya untuk mu"


"Si tua bangka ini, susah sekali!" batinnya. "Tuan, kita mau bekerja bukan memilah baju. Jadi, lebih baik bekerja dulu. Selepas kerja kita bisa kembali ke sini,"


"Sepertinya kau tidak paham juga," menepuk tangannya. "Pilihkan pakaian yang cocok untuk nya," pinta Xi Yuan pada pelayan.


"Baik, Tuan. Nona, mari.." ajaknya, tapi Ming Ke tidak mengikuti nya dan memilih mematung di dipan Xi Yuan.


"Pakaian disini terlalu mahal, bahkan gaji ku selama 3 bulan. Belum tentu cukup untuk melunasi nya," batin Ming Ke.


Keluar dengan beberapa pasang pakaian di tangannya. "Nona, coba kenakan ini. Aku sangat merekomendasikan set cream ini untuk mu, selain tampilan nya yang elegan dia juga cocok dengan warna kulit mu. Aura menawan nya akan langsung terlihat jika kau mengenakan nya," ucap nya. Tapi, Ming Ke masih dengan lamunan nya.


"Bo, sadarkan dia," ujar Xi Yuan.


Memanggil Keke, "Ming Ke,"


Terkejut, "Ah, iya. Ada apa?"


"Nona, aku sudah mengambilkan beberapa pakaian untuk mu. Kau cobalah,"


"Mencoba sama dengan membeli. Jadi, menurut ku pakaian semahal ini tidak akan cocok untuk karyawan magang seperti ku. Bagaimana jika kau menyimpan mereka saja," ucapnya dengan senyuman penuh derita.


Pelayan menoleh kearah Xi Yuan.


"Tidak bisa, kau harus tetap mencobanya" paksa Xi Yuan. "Apa kau membutuhkan bantuan ku untuk merapatkan resleting lagi, heum?" tanya Xi Yuan dengan ekspresi nakalnya.


"Pria licik!" pekiknya. "Baik, aku akan mencoba nya," jawab Ming Ke menyambar semua baju yang ada di tangan pelayan.


Setelah mencoba kurang lebih 10 pasang baju, akhirnya Xi Yuan setuju dengan warna biru laut yang dipadukan dengan kemeja putih di dalam nya.


"Baik, pakai ini saja," tukasnya. "Bo, jangan lupa bayar semua pakaian yang di coba tadi,"


Keke terkejut, "semua! Tapi kau hanya setuju satu set ini. Kenapa membuang-buang uang sih!"


"Siapa bilang aku membuangnya. Melihat kau yang begitu perhitungan, lebih baik baju itu untuk kerja mu di hari berikutnya,"


"Benar juga, tapi ini sangat mahal," batinnya melihat cap harga baju yang sangat fantastis tersebut.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Xi Group

__ADS_1


"Tuan, turunkan aku di halte bus sebelum perusahaan,"


"Kenapa?"


"Kenapa? Apa kau masih belum mengerti juga. Jika aku berhenti bersamaan dengan mu apa yang akan dikatakan para karyawan lainnya," jelasnya.


"Untuk apa memperdulikan omongan mereka"


"Bagimu tidak penting, tapi saat ini aku bukan asisten pribadi mu, mengerti?"


Mobil segera melintasi halte bus.


"Bo, berhenti!" pekiknya.


Terpaksa juga terkejut dengan teriakan Ming Ke, akhirnya mobil berhenti tepat di pemberhentian bus.


"Terimakasih," ujarnya.


Tangannya ditarik kembali oleh Yu. "Kau tak memakai cincin yang ku berikan?"


"Tidak. Lagi pula itu juga buatan perusahaan. Akan terlalu mencolok jika aku mengenakannya. Sudahlah, lepaskan," melepaskan tangannya. "Sampai jumpa pulang nanti," hormatnya.


"Sepenting dan sejauh itukah karyawan magang dengan CEO nya?" gumam Xi Yuan.


"Tuan, nona tidak salah. Dia hanya tidak ingin staf yang lain merasa kalau dia masuk karena bantuan mu,"


"Diluar sana banyak wanita yang menginginkan perhatian ku, tapi wanita ini tidak pernah sekalipun menunjukkan rasa manjanya di hadapan ku,"


"Mungkin karena dia sudah terbiasa melindungi diri nya sendiri selama ini"


"Tidak bisa, aku adalah pria mu, dan kau adalah wanita ku. Lihat saja, aku akan tetap melindungi mu meskipun kau enggan," batin Xi Yuan.


"Lihat, bukannya itu kakak dari nona Ai Ki yang sebelumnya dituduh sebagai pembunuh"


"Benar, dia juga pernah masuk ke perusahaan sebagai juru masak"


"Mengenai juru masak, apa kau tahu. Chef yang di undang CEO itu juga karena permintaan nya"


"Benarkah! Astaga, ternyata tampang nya saja yang sok polos. Ternyata dia juga penjilat"


Cakap para pegawai yang melihat Ming Ke berjalan menuju lift.


Dari arah lain seorang pria membawa gelas kosong. "Ehem, ehem.." berdeham. "tampaknya setelah beberapa hari CEO cuti, pekerjaan kalian juga semakin sedikit ya?" ujarnya.


"Ah! Tuan Bo, maaf"


Mereka semua bubar dari tempat pengambilan air tersebut.....,........


"Masih baik tadi Dia turun di halte, jika sesuai keinginan Yuan. Entah apalagi yang akan mereka bicarakan dibalik Ming Ke," gumamnya.


Ming Ke masuk ke dalam lift, namun lift kembali terbuka untuk 2 staf kantor lainnya. Dia berdiri di belakang keduanya.


"Kau tahu, baru-baru ini perusahaan membuat karya cincin berlian, dan desain itu dari CEO sendiri"


"Hah! Setahu ku, selama bekerja disini, CEO tidak ingin desain yang sederhana"


"Apa mungkin CEO sengaja membuat itu untuk calon istrinya?"


"Ahh.... Siapa sih wanita yang sangat beruntung itu,"

__ADS_1


"Entahlah, jika itu aku. Oh tuhan, aku akan mengadakan pesta selama setahun"


"Ahahaa... Kau bisa saja,"


Lift terbuka.


"Kira-kira karya langka ini menggunakan berlian berwarna apa ya?"


"Kemarin kalau tidak salah dengar, berlian itu berwarna biru laut," tukasnya sebelum meninggalkan lift.


"Biru laut? Mungkinkah..." batin Ming Ke mengingat cincin nya. "Ahh... Tidak mungkin, itu hanya cincin dengan motif biasa saja. Lagipula mereka bilang Yu lebih suka desain yang mewah, sudah pasti bukan itu," batinnya meyakinkan diri sendiri.


Keke pergi menuju kantor Xi Yuan. "Mereka bilang, aku harus menemui CEO terlebih dahulu untuk mengambil identitas, tapi kenapa? Bukankah seharusnya itu urusan bawahannya," gumam Ming Ke membuka pintu kantor Xi Yuan.


Memberi salam, "Selamat pagi Tuan,"


"Kau urus saja bagian acara lelang akhir tahun 7 hari mendatang. Aku akan perintahkan orang lain untuk mengurus kekacauan di pabrik"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi," tukasnya pegawai yang tengah melaporkan diri.


"Ada apa dengan pabrik?" tanya Rey.


Memijat pelepis alisnya, "permintaan pasar melampaui batas perkiraan. Sementara stok barang sudah habis, bahkan untuk acara lelang nanti mereka sudah memesan 70 jenis kalung dan mahkota dari desain yang di buat 6 bulan lalu"


Memutar kursinya, "Waktunya sudah sangat sempit. Tahun baru akan segera datang, aku tidak tahu tambang mana yang bersedia mengirimkan bahan mentah mereka secara mendadak,"


Bo Gum kembali dari mengambil kopi untuk Xi Yuan. Terkejut melihat sosok wanita yang sudah berdiri lama di ujung pintu.


"Eh, Ming Ke. Kenapa kau tidak masuk?"


Xi Yuan memutar kembali kursi nya. "Keke. Sejak kapan kau berada di sana?" tanya Xi Yuan menghampirinya.


"Belum lama kok"


"Kalian, chaw." ujar Yu mengusir keduanya.


"Baiklah," jawab Bo Gum.


Setelah keduanya pergi


"Keke, ada apa?"


"Aku, em..." mengingat kekhawatiran Xi Yuan barusan.


Ming Ke menggiring Yu untuk duduk di kursinya. Berdiri di sisi lain Xi Yuan. "Tuan, duduk dan minum lah dulu," menyuguhkan kopi.


Yu meneguk nya dengan perlahan.


"Tuan, kalau boleh aku akan membantu mu mencari tambang yang bersedia memenuhi kebutuhan barang di pabrik"


"Tidak perlu, aku akan mencari jalan lain,"


"Jangan lupa, aku juga seorang karyawan disini. Aku hanya melakukan tugas yang seharusnya dilakukan karyawan," ujarnya.


...----------------...


...Qarry_Adz...


...Bunga butuh waktu untuk Mekar...

__ADS_1


...Sama seperti Kehidupan, semua butuh Proses...


__ADS_2