
...****************...
Tepat setelah Xi Yuan pergi, Ming Ke pun terjaga dari tidurnya. "Kau pergi..." lirihnya.
Ming Ke berjalan menuju dapur, mengambil segelas air lalu menenggak nya dalam satu napas. "Ming Ke, tidak boleh lemah... masih ada dia di dalam sini," gumamnya sambil mengelus perut yang berisikan janin 2 minggu tersebut.
Rumah keluarga Ming Lan
Xi Yuan masuk ke dalam rumah, mengabaikan Chu Xia dan Su Nian-Nian yang tengah duduk di atas sofa. Dia langsung menuju kamar anak-anak, melihat si kakak masih terjaga Yuan menghampiri nya.
"Masih main?"
"Belum ngantuk,"
"Sudah makan?"
"Kapan kau akan membawa kami menemui ibuku," mengalihkan topik pembicaraan.
"Kau tahu?"
"Aku tidak sebodoh itu, aku tahu siapa ibuku yang sebenarnya,"
"Kau berbicara seperti diriku sewaktu kecil,"
"Jika tidak menjawab, keluarlah. Kau tidak diundang masuk."
"Xi Yi, kalian sama, tapi sepertinya kau lebih dewasa dari adik mu. Aku akan memberitahu kebenarannya, tapi kau harus berjanji untuk merahasiakan ini dari Ming Wei,"
"Kau kira tidak menyakiti hatinya saat dia tahu kau berbohong, apa kau masih berfikir dia akan menganggap mu sebagai ayah setelah mengetahuinya? Kepala mu bahkan lebih besar daripada bumi ini, Tuan."
"Mulut mu, pedas sekali. Apa ibu mu mengajarkan berbicara seperti itu pada orang tua? Apalagi dengan status ku sebagai ayah mu,"
"Kau bukan ayah ku, aku hanya butuh ibu. Karena dia sudah menjadi ibu dan juga ayah ku selama ini,"
"Benarkah? Baiklah jika begitu, aku tidak akan memberitahu mu kebenarannya," berdiri dari tempat tidur Xi Yi.
"Dimana dia?" bertanya dengan wajah datar dan penuh amarah.
"Apa aku harus mengajarimu cara meminta maaf atas kesalahan?"
"Aku tidak akan minta maaf, sebelum mengetahui kebenarannya,"
"Keras kepala," ujar Xi Yuan meninggalkan Xi Yi.
"Chkk... Kau berfikir aku akan memaafkan mu jika terjadi sesuatu dengan ibu ku," Xi Yi meninggalkan ponselnya, melangkah keluar dari kamar dengan gelas kosong di tangannya.
Meletakkan gelas kotor tersebut, lalu menghampiri kedua gadis yang sedang memakai masker wajah. "Bibi Chu, apa aku boleh meminjam laptop mu?"
"Xi Yi, kau juga tahu laptop ku tertinggal di rumah nenek,"
"Huhh... Ternyata Xi Yuan benar-benar tidak membaca pesan ku, aku sudah memberitahu nya untuk membawa laptop mu dari rumah lama," menggelengkan kepalanya.
"Hei anak kecil, jangan terlalu sering bermain game. Otak mu akan rusak sebelum waktu nya,"
"Siapa yang kau panggil anak kecil? Dasar desainer bayaran," ucap nya meninggalkan mereka berdua.
"Yakk! Kau berkata apa! Aku ini murni sebagai desainer terkenal tanpa sokongan! Hei...kemari kau!"
"Sudahlah... Kau juga yang memulainya.." ungkap Chu Xia.
"Dia berkata seperti itu, apa Ming Ke tidak bisa mengajarkan yang baik untuk anak nya! Hosh... hosh..." mencoba menenangkan diri.
__ADS_1
"Dia meminjam laptop bukan untuk game, lagipula perkataan tajam nya itu timbul setelah kami di kurung oleh Richard,"
"Tidak main game, anak sekecil itu bisa main apalagi?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Saat aku mencoba melihat layar komputer nya, di sana hanya terlihat teks-teks yang begitu panjang dan rumit juga sekumpulan angka-angka,"
"Sekumpulan teks rumit?" berfikir.
Chu Xia mengangguk. Su Nian-Nian berdiri berjalan menuju kamarnya lalu keluar dengan laptop di tangannya.
"Kau mau apa?"
"Aku hanya penasaran," tersenyum gigi.
Su Nian-Nian membawa laptop tersebut menuju kamar Xi Yi dan Ming Wei. "Hei anak kecil, kau butuh ini, 'kan?" menyodorkan laptop di tangannya.
"Kau sungguh baik, katakan apa mau mu?"
"Kau sungguh langsung ke inti saja ya," tersenyum pahit, karena Xi Yi langsung mengetahui tujuannya.
"Tidak ada, aku hanya berbaik hati meminjamkan nya,"
Xi Yi mengabaikan perkataan Su Nian-Nian, dia mulai mengutak-atik laptop tersebut. Benar saja dalam hitungan detik tampilan layar sesuai dengan yang di katakan Chu Xia.
"I-ini... Kau sedang merusak laptop ku!"
"Tutup mulutmu, adik ku bisa terbangun karena suara mu,"
"Kau, apa yang kau lakukan,"
Xi Yi hanya diam dan terus melakukan tugasnya.
"Tuan! Sistem keamanan kembali di bobol oleh akun tidak di kenal, bahkan aku tidak bisa menghentikannya!"
"Kenapa bisa? darimana itu berasal,"
"Ehh... menurut pemeriksaan, sepertinya lokasi dia berdekatan dengan lokasi ponsel mu saat ini. Tuan kau yang membuka nya ya? Sejak kapan kau pintar meng-hacker?"
Xi Yuan memutuskan panggilan tersebut. Yuan langsung turun melihat siapa pelaku tersebut.
"Chu Xia, dimana Su Nian-Nian?"
"Dia di kamar anak-anak, Tuan,"
Yu berjalan menuju kamar anak-anak, dia melihat Su Nian-Nian dan Xi Yi sedang menatap layar komputer bersama. "Apa yang kalian lakukan,"
Menangkap laptop, lalu melihat nya. "Kenapa bukan, tapi Rey berkata di sekitar ku, apa itu Ai Ki?" batinnya.
"Ada apa Tuan?" tanya Su Nian-Nian.
"Jangan ajarkan anak kecil untuk menonton video lucu lagi, ini sudah saat nya mereka tidur," ucap Xi Yuan ditengah kepergiannya dari kamar.
"Huhh... Hampir saja" ujar Su Nian-Nian.
"Bibi, kau berasal dari Kota W?"
"Benar,"
"Bisakah kau menolong ku, mencari lokasi ini,"
"Taman Kota? Untuk apa?"
__ADS_1
"Bantu aku menemukan sebuah kotak hitam, yang dititipkan 5 tahun lalu di kantor pos tidak jauh dari sana,"
"Jika aku bisa kembali ke sana, untuk apa aku harus bertahan di sini..."
"Aku akan membantu mu membujuk Nya (Xi Yuan),"
"Baiklah, dengan begitu aku juga bisa kembali mengambil alih perusahan ayah ku,"
Mereka bersepakat.
Xi Yuan berjalan, membuka pintu kamar Ai Ki.
"Tuan, kau disini? Lihat, aku sedang mempersiapkan keperluan bayi kita,"
Tidak menggubris, dan terus mencari sesuatu.
"Ada apa, Yuan?"
"Dimana laptop mu?"
"Aku meninggalkan nya di perusahaan,"
Xi Yuan berhenti mencari dan hendak keluar dari kamar tersebut.
"Xi Yuan, tunggu! Apakah kau tidak ingin mempersiapkannya bersama ku?" menggandeng tangan Xi Yuan.
"Lepaskan, kau persiapkan saja sendiri. Aku sibuk," menghempas tangan Ai Ki.
"Yuan, Yuan!" mencoba mengejar Xi Yuan.
Menghentikan langkahnya, "satu lagi," memutar badan menghadap Kiki, "sejak kapan kau berhak memanggilku dengan nama?"
Terkejut, "Ah... ma-maaf, Tuan Yu..." menundukkan kepala.
Xi Yuan meninggalkan Ai Ki. "Tuan? Aku harus memanggil suami ku sendiri seperti itu? Tapi Ming Ke, dia bahkan bisa memanggil mu dengan sebutan sayang! Xi Yuan, kau tidak adil!" gumam Ai Ki setelah kepergian Xi Yuan.
"Chu Xia? Su Nian-Nian? Ai Ki? Atau itu kau, Xi Yi?" mencoba memikirkan. "Siapa sebenarnya Hacker di rumah ini?" bingung Xi Yuan.
Keesokan harinya.
"Bo, Rey. Bagaimana situasi di sana?"
"Kemarin kami sudah melumpuhkan pasukan Richard. Tapi, sampai saat ini tubuh Richard sendiri tidak diketahui," jelas Bo Gum.
"Aku juga sudah mencari di beberapa titik, tapi tetap tidak menemukan nya," lanjut Rey.
"Bo, kau kembali lah malam ini, bantu aku mengatasi masalah kantor. Para ahli sudah bekerja. Besok, jika mereka berhasil membuat penawar nya, dalam waktu seminggu ini. Aku harus sibuk mengurus kesembuhan Ming Ke di Rumah Sakit,"
"Baik, Yu. Aku akan memesan penerbangan malam ini,"
"Rey, terus awasi pergerakan di sana, Brian juga sudah disini untuk membantu ku mengawasi daerah sini."
"Perintah diterima. Yuan, kau berhati-hati lah. Kehilangan Richard bukanlah hal baik, aku takut dia akan mengusik anak-anak atau bahkan Ming Ke."
"Aku tahu," Xi Yuan memutuskan panggilan. "Richard berhasil melarikan diri lagi. Aku hanya berharap sampai tiba saat nya Ming Ke sembuh dia tidak akan muncul dan menghambat semua nya. Atau, jika itu terjadi aku tidak akan tinggal diam. Meski harus menggali lubang semut sekalipun aku akan menghancurkan nya dengan tangan ku sendiri."
...----------------...
...Qarry_Adz...
...Jangan menilai seseorang dari apa yang kamu lihat...
__ADS_1