
...****************...
Dalam kantor Xi Yuan.
"Siapa yang memerintahkan mu?!"
"It-itu, saya sendiri CEO Yu..." lirih nya takut.
"Kau kira aku sebodoh itu, percaya begitu saja setelah begitu lama jadi salah satu karyawan baik ku!"
"Katakan saja," bujuk asisten cadangan.
"Foto itu memang perbuatan ku, aku, aku menyukai mu, CEO Yu,"
"Penipu! Pecat dia! Pastikan tidak ada perusahaan yang akan menerima resume nya." kata Yuan kepada asistennya.
"Jangan! Tuan! Aku, aku mengaku salah.. Mohon jangan seperti ini. Aku, Tuan, aku salah, aku salah. Kau boleh memecat ku tapi, tapi tolong jangan menghitamkan pekerjaan ku, Tuan, ku mohon..."
"Siapa dia?!"
"Dia, Non-Nona Ai Ki, dialah yang menyuruh ku meletakkan kamera ini di pot bunga. Awalnya aku tidak mau, tapi dia mengancam dengan ibu ku yang sedang dirawat di Rumah sakit. Tuan, aku, aku tidak punya pilihan, ibuku sedang koma. Tuan, maafkan aku, maaf, Tuan."
Xi Yuan memijat plepis alis nya. "Huhh... Lagi-lagi karena Ai Ki... Jal@ng ini, apa dia mengira bisa menjebak ku dengan ini!" gumam Yuan setelah mengetahui kebenarannya. "Pecat dia, tapi jangan hapus riwayat hidupnya."
"Baik, CEO,"
"CEO terimakasih, terimakasih, Tuan CEO,"
Karyawan tersebut keluar dari dalam kantor Yuan. Xi Yuan lupa menyalakan alat redam di kantornya, membuat para rekan kerja karyawan tersebut mendengar semua yang terjadi di sana.
Ocehan mereka melihat keputusan Xi Yuan, di sela karyawan itu mengemasi barang-barang nya.
"Tuan Yu, langsung berhati lembut saat dia berkata tentang ibunya,"
"Kau tahu, tuan juga kehilangan ibu nya saat masih kecil,"
"Mungkin dia sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan,"
"CEO ku memang yang paling terbaik dari yang paling baik,"
"Kerjakan tugas kalian! Apa kalian mau menemaninya keluar dari sini," ucap asisten yang baru saja keluar dari kantor Yuan.
Mereka langsung bubar kembali ke meja kerja masing-masing.
"Tuan, surat nya sudah di tandatangani," asisten menyerahkan selembar kertas.
"Letakkan di sana," menunjuk ke arah meja kerja Xi Yuan.
Asisten melihat Yuan tengah menikmati segelas kopi susu dingin di tangannya. "Tuan, kau belum makan siang. Aku akan meminta koki memanaskan bekal mu," mengambil bekal yang sebelumnya dibawakan Ai Ki untuk Yuan.
"Buang saja, ambil jika kau mau."
"Ah buang?," melihat ke arah bekal tersebut. "Lebih baik untuk ku saja, apalagi ini adalah makanan mahal," batinnya. "Terimakasih, Tuan," membawa pergi bekal tersebut.
Melihat jam tangan nya, "Sudah jam 2, sampai kapan dia akan membawakan makanan untuk ku? Apa memasak sup memerlukan waktu selama ini?" gumam Xi Yuan kembali mengenakan jas nya, lalu keluar kantor menuju dapur kantin.
Dapur Kantin Perusahaan
__ADS_1
"Charles, dimana Ming Ke?"
"Ahh? Bukan nya tadi dia pergi membawakan mu semangkuk sup juga beberapa makanan lainnya? Aku malah mengira kalian sedang menjalin asmara, Tuan."
"Dia pergi menemui ku?"
Xi Yuan meninggalkan Charles, juga terus mencoba menghubungi Ming Ke. Tapi tetap saja usaha nya tidak membuahkan hasil.
Yuan berjalan menuju garasi mobil. "Ming Ke, dimana kau? Kenapa ponsel mu lagi-lagi mati?..." lirih nya Yuan di sepanjang perjalanan.
Apartemen Ming Ke lantai 20 kamar 125
Xi Yuan langsung saja masuk kedalam apartemen setelah sampai di sini. "Ming Ke! Keke?!... Kau di sana?... Keke?..." Yuan terus mencari ke setiap ruangan, tapi tetap saja Xi Yuan tidak menemukannya.
Setelah mencari ke setiap sudut ruangan, Xi Yuan berhenti menatap seseorang yang baru saja masuk kedalam apartemen itu. "Ming Ke!!.. " Yuan langsung memeluk erat wanita itu.
"Darimana saja kau? Aku sudah mencari mu ke sana-sini? Ponsel mu juga di luar jangkauan.." ucap Xi Yuan di tengah pelukannya.
Ming Ke dengan berbagai pertanyaan di pikiran nya. "Kenapa dia disini? Kenapa mencari ku? Apa yang aku lakukan, kenapa membiarkannya memeluk ku... Jelas-jelas tahu siapa aku di antara mereka," Ming Ke menahan air matanya.
"Keke, jangan diam saja.. ucapkan sesuatu.."
"Tuan, aku lelah..."
Xi Yuan membawa Ming Ke duduk di atas sofa.
"Ada apa, Keke?"
"Tidak ada. Tuan, bisakah aku beristirahat?"
"Kenapa tidak,"
"Kau hanya perlu istirahat, kenapa harus menyuruhku pergi secara tidak langsung,"
"Yasudah," Ming Ke mengunci pintu kamarnya.
"Ada apa dengannya? Kenapa terlihat begitu kesal?" Xi Yuan bertanya dengan dirinya sendiri.
Panggilan masuk dari Kota C
"Xi Yuan, ID itu kembali masuk 5 menit yang lalu. Tapi aku tetap tidak bisa melacak nya, bahkan sekarang tingkat keamanan nya 98%"
"Benarkah? Siapa dia, begitu hebatnya memainkan dunia hacker,"
"Aku juga sudah mencoba masuk tapi saat ini laptop ku penuh dengan virus,"
"Apa yang dia kunjungi selama akhir-akhir ini,"
"Tidak ada kecurigaan besar, semua data juga aman. Dia hanya keluar masuk ke dalam satu File, yaitu File yang sandinya hanya kau yang tahu."
Xi Yuan terkejut, "File itu."
"Ada apa, Yu?"
"Aku akan menghubungi mu lagi nanti," memutuskan panggilan.
"File itu berisikan beberapa pesan terakhir Ming Lan untuk Keke sebelum kepergiannya. Aku ingat saat itu Ming Lan meminta Keke pergi ke sebuah tempat dimana dirinya merasa bahagia bersama dengan ayah dan juga kakek nya."
__ADS_1
"Sampai saat ini, aku belum juga menemukan dimana tempat itu. Lantas, hacker itu. Ada hubungan apa dia dengan Ming Ke?" Xi Yuan mencoba mengingat dengan jelas isi-isi dari File tersebut.
Xi Yuan memikirkan nya sampai tertidur. Perut nya bergemuruh membuatnya terbangun, "Sial! Aku melewatkan makan siang, dan bahkan sekarang sudah pukul 04 sore," gumam nya.
Ming Ke membuka pintu kamar nya. Keke terkejut melihat Xi Yuan yang masih berada di apartemen nya.
"Sayang, kau sudah bangun..." berjalan mendekati Ming Ke.
"Kenapa masih dis-"
Menutup bibir Ming Ke dengan jari telunjuknya, "Kau berjanji akan membawakan ku hasil masakan mu siang ini, tapi kau malah kabur. Lihat, sampai sekarang cacing ku belum mengunyah apa pun,"
"Kau belum makan?! Apa kau keledai, kenapa tidak makan... Kau akan sakit kalau begini terus..." jawab Ming Ke memarahi Xi Yuan.
Yuan tersenyum, merasa ternyata Ming Ke masih perhatian dengannya. "Kau berhutang semangkuk sup daging dengan jamur untuk ku," manjanya, menenggelamkan diri di antara leher Ming Ke.
"Hentikan, aku akan melunasi hutang ku, setelah itu kau boleh pergi," jawab Ming Ke menghempas pelan kepala Xi Yuan.
Keke sibuk membuatkan Sup untuk bayi besar nya. Sementara Yuan hanya melihat dari kejauhan, sambil terus tersenyum.
Tiba-tiba, "Awh!" Ming Ke berteriak dengan panci berisikan air panas yang tergeser dari kompor.
"Keke, kau terluka!" panik Xi Yuan.
Melihat jari Ming Ke yang terkena air panas, "Jangan biarkan dia membekas, aku akan membawa mu ke Rumah Sakit,"
Yuan membawa Ming Ke ke Rumah Sakit.
Sesudah melakukan pemeriksaan.
"Tuan Yu, ini tidak begitu parah. Kau hanya perlu memastikan tangan mu tidak bekerja untuk sementara waktu,"
"Benar tidak apa?"
"Tidak, Tuan. Di sini ada salep, kau perlu mengoleskan nya 3x sehari."
"Dengar, kau tidak boleh melakukan pekerjaan lagi. Mulai sekarang kau hanya perlu beristirahat saja di rumah," perintah Xi Yuan.
Mereka keluar dari ruang Dokter.
"Tuan, kau belum memakan apapun,"
"Kita bisa memesan nya nanti."
Dari arah lain seorang Pria memakai jas putih menghampiri Xi Yuan dan juga Ming Ke.
"Tuan, Yuan!." berteriak mengejar ketertinggalan.
Yuan dan Ming Ke berhenti.
"Tuan, untuk waktu 2 hari... bisakah kami meminta 1 hari lagi," ujarnya.
"2 hari masih tidak cukup! Sebenarnya kalian yang kurang profesional atau aku yang terlalu bodoh mempercayakan tugas ini!" bentak Xi Yuan kepada seorang ilmuwan medis itu.
...----------------...
...Qarry_Adz...
__ADS_1
...Jangan berjuang untuk dunia saja, karena semua yang ada di dunia bersifat Sementara...