
...****************...
Xi Yuan menoleh ke arah kaca, melihat titisan air mata Keke mengalir. "Sayang, ada apa? Apa perut mu sakit lagi?! Apa suhunya terlalu panas?" tanya Xi Yuan kebingungan.
"Tidak,"
"Lantas, kenapa kau menangis?" bersujud di antara lutut kaki Ming Ke.
"Tuan, kau sangat baik. Aku hanya penasaran, wanita mana yang akan mendapatkan kelembutan hangat mu ini," jawab Keke berbohong.
"Wanita? Hei, dengar sini... Wanita ku hanya kau saja, kau lah satu-satunya Ming Ke,"
Ming Ke hanya terdiam menatap mata Xi Yuan.
"Apa yang perlu aku lakukan agar kau percaya?"
"Aku ingin sembuh,"
"Aku sudah mengaturnya untuk mu sayang, kita tunggu 2 hari lagi. Tiba saat nya mereka berhasil membuatkan penawar nya, kau akan mengingat segalanya," jawab Xi Yuan meyakinkan Ming Ke.
Keke hanya mengangguk kan kepalanya saja.
"Sudahlah... Dokter sudah berkata, kau tidak boleh tertekan untuk saat ini, buang semua pikiran buruk mu itu. Kau akan tahu setelah nya nanti,"
Mendengar perkataan itu Ming Ke jadi sedikit lebih tenang, Xi Yuan kembali menggendong nya naik ke atas ranjang. "Ming Ke, aku lelah. Bisakah kau menemaniku istirahat?"
Keke mengikuti permintaan Xi Yuan, menemaninya sampai tertidur pulas. Sementara itu di gedung dan apartemen yang berbeda Ai Ki datang dengan sendirinya.
"Sayang!!" ujarnya kepada seorang pria.
"Ai Ki? Kau datang?"
"Benar, apa aku mengganggu mu?"
"Tidak, tidak... Bagaimana mungkin aku terganggu oleh wanita ku," mendudukkan Kiki di pahanya.
"Ao Ting, kau pernah berkata. Jika aku mengandung anak mu, maka kau akan memberikan saham perusahaan Xi Yuan untuk ku bukan?"
"Iya, aku masih ingat, ada apa sayang?" membelai rambut Ai Ki.
Mengarahkan tangan Ao ting ke perut tipis nya, "lihat sayang, ini adalah tangan papa," ungkapnya.
"Papa?! Ai Ki, kau hamil?!" Terkejut bahagia.
Ai Ki mengangguk.
"Ini anak kita?! Anak ku dan anak mu!"
"Iya sayang, lihat. Aku sudah hamil 4 minggu," jelasnya menunjukkan hasil pemeriksaan.
"Ai Ki, aku sangat bahagia!!... Besok, besok, aku akan langsung membuat surat perpindahan saham untuk mu! Ohh... Ai Ki akhirnya aku akan memiliki anak dengan mu!" girang nya.
"Tapi... saat ini status ku masih sebagai istri Tuan Yu,"
"Tidak masalah, pelan-pelan kita akan jatuhkan dia. Setelah itu, kita umumkan saja anak ini adalah anaknya. Dengan begitu kedepannya semua ini adalah milik kita, sayang!!" menghamburkan pelukannya.
"Sudah, sudah... Hentikan, kau menyakiti anak ku,"
"Ah iya... Sayang maafkan papa ya, papa terlalu bersemangat, sampai lupa kau ada di sana," terus mengelus perut Ai Ki.
__ADS_1
"Dasar bodoh! dibandingkan dengan Xi Yuan, kau bukan apa-apa! Setelah aku mendapatkan saham perusahaan, lalu proyek perhotelan mu itu, aku akan mencampakkan mu!" gumam Ai Ki dalam hatinya.
Rumah Keluarga Ming Lan
"Bibi, kapan mommy kembali?"
"Ming Wei, kenapa belum tidur?"
"Wei-Wei menunggu mommy, minta bacakan dongeng sebelum tidur,"
"Bibi bacakan ya sayang,"
"Wei-Wei mau mommy,"
Ming Wei menunggu hingga menjelang larut malam, pintu terbuka seseorang masuk ke dalam rumah.
Wei-Wei berdiri dengan rasa bahagia tiada tara, "Mom... my" seketika raut wajah nya kembali berubah.
Seseorang kembali, tapi bukan Ai Ki melainkan Su Nian-Nian. "Mommy?" ujar Nian-Nian heran.
"Su Nian-Nian?" tukas Chu Xia.
"Kau?... Sepertinya aku ingat wajah mu, tapi dimana ya..." mencoba mengingat kembali.
"Aku Chu Xia, teman kerja Ming Ke saat di Kota W,"
"Ahh iya... Aku ingat! Kau teman nya,"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chu Xia curiga, mengingat perlakuan Nian-Nian pada Ming Ke sewaktu di Kota W.
"Tidak perlu panik, ceritanya cukup panjang. Intinya saat ini aku harus menjaga kalian,"
"Tugas dari Tuan ku Xi Yuan, oh iya kenapa cuma ada satu. Dimana pria kecil itu?" tanya nya sembari mengganti sandal dan meletakkan tas nya.
"Bibi, kakak bermain ponsel," jawab Ming Wei menarik baju Chu Xia.
"Sudah larut tapi kalian masih terjaga? nanti saat Tuan kembali jangan salahkan aku jika kalian menerima hukuman ya..."
"Bibi..." menatap sedih ke arah Chu Xia.
"Benar sayang, jika ayah kembali kalian belum juga tidur. Dia pasti akan marah,"
"Tapi... Wei-Wei mau menunggu mommy,"
Nian-Nian membungkuk kan badannya, "Gadis kecil, mommy mu akan kembali setelah ayah kembali, bukan kah penantian mu juga akan sia-sia, heumm?"
"Wei-Wei, Bibi yang akan membacakan dongeng nya, ya..." bujuk Chu Xia.
Ming Wei tidak punya alasan untuk menolak lagi. Setelah Wei-Wei tertidur Chu Xia turun menemui Su Nian-Nian yang tengah bermain ponsel di depan televisi.
"Kau..."
"Tenang saja, aku juga tahu mereka salah menganggap Kiki sebagai Keke."
"Baguslah... aku khawatir kau akan menceritakannya,"
"Teman, ini bukan 2 tahun yang lalu. Su Nian-Nian yang rela mencelakai orang lain demi mempertahankan seorang pria yang tidak pernah mencintainya itu telah hilang. Hilang untuk selamanya. Saat ini yang kau lihat adalah Desainer terkenal di seluruh Negeri yaitu Nona Su Nian-Nian," ujarnya bangga.
"Juga bukan urusan ku," jawab Chu Xia.
__ADS_1
"Kau!..." menahan amarahnya.
Chu Xia mendekat Su Nian-Nian dengan masker wajah di tangannya. "Kau mau?"
"Tentu!"
Setelah memakainya, "ahhh... Belakangan ini banyak desainer yang membuat karya dengan ide-ide yang sudah ku persiapkan, jika diteruskan bisa saja mereka mengatakan akulah si plagiat,"
"Kau tidak terlalu buruk. Kau tahu, sebelum diselamatkan Tuan Yu kami dimana?"
"Kalian di sekap oleh Richard, kan..."
"Kau juga tahu?"
"Yahh... Jika tidak, bagaimana bisa Tuan Yuan dapat menemukan kalian..." tukas Su Nian-Nian. "Kau ingat saat Tuan Richard membawa seorang wanita di samping nya, dan disela-sela itu dia mengangkat telepon?"
"Kau yang menelepon nya? Tapi saat itu aku dengar kau memanggilnya ibu, bukannya itu ibu Ming Ke dan juga Ai Ki?"
"Dia juga ibuku. Dari panggilan itu, Tuan Rey yang merupakan tangan kanan Tuan Yuan menelusuri jejak panggilan tersebut,"
"Wahh... Ternyata kau benar-benar bukan Su Nian-Nian yang jahat itu lagi," kagum dengan perbuatan mereka dalam misi menyelamatkan anak-anak.
Xi Yi melangkah menuju dapur. "Bibi Chu, bisakah kau mengambilkan itu untuk ku?" menunjuk secangkir jus wortel yang terletak di kulkas paling atas.
"Oh, Xi Yi disini, Bibi akan mengambilkan nya,"
"Terimakasih Bibi,"
"Sama-sama anak baik nya Bibi,"
Saat hendak melangkah masuk ke kamar, langkah Xi Yi dihentikan seorang wanita tak lain iyalah Ai Ki, yang baru saja kembali dari apartemen Ao Ting.
"Sayang, kenapa minum minuman dingin," mencoba perhatian.
"Chk... Hentikan sandiwara mu, aku tahu siapa kau. Aku Xi Yi, tidak mudah di tertipu seperti adik ku," tegasnya meninggalkan Ai Ki.
"Ahh... dia tahu?" gumamnya Ai Ki. Kiki langsung mengarahkan pandangannya kepada Su Nian-Nian dan juga Chu Xia di atas sofa.
"Apa?" merasa risih dengan tatapan Ai Ki.
"Kau yang memberitahu nya?!"
"Idihhh... Juga bukan urusan ku, salah kan diri sendiri kenapa tidak secantik Ming Ke, Bwahaha..." tawanya.
"Su Nian-Nian!!... Ahh sudahlah tidak ada gunanya aku berdebat dengan wanita gila!" mengambil langkah pergi.
"Kau yang gila! Dasar pelakor gila!" jerit Su Nian-Nian.
"Sudahlah... Suaramu bisa membangunkan Wei-Wei," tegur Chu Xia.
Di tempat lain, dimana dua orang yang pulas tertidur dari sore hingga malam menjelang.
Melihat jam tangan nya, "gawat! ternyata sudah jam 10 malam..." ujarnya dalam hati.
Dengan perlahan Xi Yuan melepaskan pelukannya pada Ming Ke, "sayang, tidurlah dengan nyaman, aku akan kembali lagi besok." Setelah mengecup kening Ming Ke, Xi Yuan berjalan keluar meninggalkan apartemen.
...----------------...
...Qarry_Adz...
__ADS_1
...Puncak kemarahan seorang wanita adalah Diam & seolah menganggap semuanya berjalan Lurus meskipun dia tahu itu Berliku...