Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Salah Paham


__ADS_3

...****************...


Pukul 09 pagi


"Tuan, semua barang sudah beres. Anak-anak juga sudah menunggu lama," tukas Bo Gum.


"Kalian pergi saja, kami akan menyusul,"


"Baik! Anak-anak dan kau, Bibi. Ayo kita kembali,"


"Tidak, Wei-Wei pulang sama mommy,"


"Xi Yi juga,"


Sahut anak-anaknya


"Betul! Kami kembali saat Ming Ke sudah bangun," lanjut Chu Xia.


Kembali duduk di sofa. "Huh... Sudahlah,"


Xi Yi dengan laptop nya.


📨"Bagaimana?"


📩"cara yang kau gunakan untuk mengirim ku kembali memang mudah, tapi sulit bagiku untuk mengembalikan kepercayaan para pemegang saham"


📨"Aku bertanya tentang kesepakatan,"


📩"Iyaa, aku tahu. Lusa baru ada waktu. Aku akan mengabari mu secepatnya"


Ming Wei yang tengah duduk memperhatikan kakak nya.


Mengeja, "XY0-"


"Kau bercita-cita menjadi penguntit?" menjauhkan laptop nya.


Xi Yuan yang merasa familiar dengan huruf dan angka itu langsung mengambil alih laptop Xi Yi.


"Ada apa?" tanya Yi-Yi.


"Hanya permainan anak-anak," batinnya. Mengembalikan laptop pada Xi Yi.


"Kakak, Wei-Wei mau main, mau main..."


"Kau ini," menyerahkan laptop nya pada Ming Wei.


Xi Yi berjalan ke tempat tidur Ming Ke. "Kenapa ibu belum juga bangun," batinnya melihat kesana-kemari. "Kondisi nya normal, detak jantung juga normal, tapi kenapa-. Eh! apa ini?" Xi Yi memperhatikan aliran infus yang masuk ke dalam tubuh Ming Ke.


"Tuan Xi Yuan, lihat! Infus ibu berwarna lain!" pekik Xi Yi.


"Kenapa bisa!" Xi Yuan berdiri menghampiri mereka.


Mereka juga ikut berdiri mengelilingi Ming Ke.


"Panggil dokter! Panggil dokter!" teriak Xi Yuan.


Rey dan Bo berlari keluar mencari dokter.


"Ming Ke, keke... Kenapa kau tidak bangun? Ming Ke..." Xi Yuan mencabut infus yang di kenakan Ming Ke.


"Ibuu, bangun ibu, bangunn,"


"Mommy, mommy kenapa..."


"Ming Ke, bangun lah Keke..."


Mereka berusaha membangunkan Ming Ke.


Dokter datang dengan suster nya.


"Ada apa ini?"


"Kenapa warna air infus ini berbeda?! Apa yang kalian masukkan!"


"Tuan, Tuan tenang lah..." ujar Bo dan Rey.

__ADS_1


"Tuan, biarkan kami memeriksanya dulu."


Dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk Ming Ke.


"Kau, bawa ini untuk di periksa," menyerahkan kantong infus kepada suster.


"Tidak, biar aku saja yang akan memeriksa nya," jawab Bo.


"Rey, bantu Bo Gum,"


"Chu Xia, bawa anak-anak masuk ke dalam kamar,"


"Baik, Tuan.."


Rey dan Bo pergi menuju laboratorium rumah sakit. Sementara Chu Xia dan anak-anak masuk ke dalam kamar tunggu.


"Tuan..."


"Apa yang terjadi dengannya?"


"Tuan, keadaan nona baik-baik saja. Tapi,"


"Tapi apa?!!" penuh emosi mendengar penjelasan dokter yang ragu-ragu.


"Sepertinya janin telah berhenti berdetak,"


"Kau bilang apa?! Kau bilang anak ku sudah tiada?!" Xi Yuan menarik kerah baju dokter.


Chu Xia keluar dari kamar. Melihat Xi Yuan yang tengah emosi.


"Tuan, jangan begitu, tenanglah..." ujarnya memisahkan mereka.


"Kau bilang tenang! Anak ku tiada, kau menyuruhku untuk tenang!"


"Maaf Tuan, karena keadaan nona sudah membaik, pagi ini kami hanya memeriksa jahitan mu saja,"


"Kalian tercela!"


"Tuan, kau bisa memaki dan juga memarahi ku. Tapi nanti saja, saat ini jika janin tidak dikeluarkan aku takut plasenta juga janin akan sulit di keluarkan, atau bisa saja naik dan menutup jalur pernapasan Nona,"


"Aku akan perhitungan dengan kalian. Jika Ming Ke tidak terselamatkan juga aku pastikan rumah sakit ini bangkrut bahkan kalian juga akan mati sampai ke cicit kalian semuanya!"


Dokter dan para suster bergetar takut. Mereka langsung mendorong Ming Ke ke ruang operasi persalinan.


Cukup lama mereka di dalam sana, Xi Yuan menunggu nya di pintu. Chu Xia dan anak-anak masih menunggu di dalam kamar. Yuan melarang anak-anak tahu emosi nya saat tidak terkendali.


Rey dan Bo Gum menghampiri Xi Yuan. "Yu!"


Xi Yuan berdiri. "Bagaimana?"


"Yuan, setelah memeriksa nya kami menemukan adanya Cytotec Misoprostol Pfizer atau obat penggugur kandungan di dalam kantong infus"


"Obat ini biasanya berbentuk pil, tapi seseorang sengaja memperbaharui nya, membuatnya menjadi cairan lalu dengan mudah memasukkannya kedalam kantong infus nona,"


"Benar, sepertinya ada seseorang yang sengaja melakukannya," sahut Rey.


"Tuan, menurut panduan pemakaian yang di anjurkan, obat di gunakan saat kandungan berusia satu bulan. Tapi, dosis yang masuk ke dalam kantong melebihi aturan, mungkin ini juga yang memicu kenapa nona tidak sadarkan diri. Dari perhitungan saat ini, kandungan nona seharusnya baru berusia 3 minggu,"


Xi Yuan benar-benar ingin membunuh orang tersebut. Wajahnya memerah, mata terbelalak kesal. "Cari tahu siapa dia, jangan biarkan dia hidup dengan tenang!"


"Kau sudah berani mencari masalah dengan ku, kau bahkan membunuh keturunan ku. Siapapun kau, dan di manapun, aku akan membunuh mu!!" Xi Yuan mengepalkan tangannya menumbuk dinding rumah sakit.


Rey dan Bo pergi menuju ruang CCTV rumah sakit.


Xi Yuan masih menunggu Ming Ke keluar dari ruang UGD.


"Ming Ke, Lagi-lagi aku tidak menjaga mu dengan baik, Keke aku sudah terlalu berdosa," Xi Yuan menunduk menenggelamkan wajahnya diantara lutut kaki dan juga tangannya.


Dokter keluar.


"Ming Ke!" Xi Yuan berdiri menghampiri Keke.


Ming Ke yang sadar saat operasi berlangsung, menatap jelas melalui pantulan kaca saat-saat janin di angkat keluar dari dalam rahim nya.


Xi Yuan melihat Ming Ke yang tengah menahan sesegukan tangisnya. "Ming Ke, kau sudah sadar, sayang?"

__ADS_1


"Xi-Xi Yuan... Kau, kau membuang anak ku," tangisnya menutup rapat bibir agar tidak mempengaruhi sayatan yang baru saja di tutup kembali.


"Tidak, tidak. Ming Ke itu bukan aku, kau salah paham" ucap Xi Yuan mencoba menjelaskannya sambil bercucuran air mata.


"Dokter bawa aku pergi, aku tidak ingin melihat nya,"


Dokter hanya dapat menuruti kemauan Ming Ke saat ini.


"Ming Ke dengarkan aku, Keke..."


"Arghhh...." teriak Xi Yuan yang tidak mengetahui apa-apa namun malah tertuduh.


Chu Xia berselisih dengan Ming Ke namun dirinya tidak tahu karena berlari cepat menghampiri Xi Yu di depan ruang UGD.


"Tuan, dimana Ming Ke?" tanya nya


Xi Yuan hanya menunjuk kearah tempat tidur yang tengah di dorong para suster dan juga dokter.


"Astaga ternyata sudah selesai," gumamnya kembali menyusul mereka.


Xi Yuan terduduk semakin lemah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Rasanya baru kemarin dia dapat bercengkrama baik dengan Ming Ke, tapi sekarang kesalahpahaman terjadi lagi.


Bo datang menghampiri Xi Yuan, "Tuan, CCTV bangsal nona sudah di rusak, sepertinya pelaku sudah mengantisipasi situasi nya,"


"Apa tidak bisa kembali dicari?"


"Rey masih memperbaiki nya,"


Rey datang dengan laptopnya. "Xi Yuan! Lihat," menyuguhkan laptopnya.


"Akun itu memangil mu"


"Akun?"


"XY03II"


Xi Yuan langsung tergugah menjawab panggilan tersebut.


"Xi Yuan di sini,"


Dalam suara samaran, "Jika kau tidak bisa menjaga Ming Keke dengan baik, maka hilang saja kau dari kehidupannya,"


"Heii... Siapa kau?!"


Panggilan terputus.


📩 CCTV 1944


"Lihat, dia mengirimkan File CCTV nya," tukas Bo Gum.


Xi Yuan membuka file tersebut.


"Benar, ini CCTV yang merekam pintu bangsal Ming Ke. Lihat itu kau saat keluar dari bangsal," ungkap Rey.


"Siapa XY03II ini? Kenapa dia lebih cepat dari ku?" lanjutnya.


"Tuan, berhenti di sana, coba zoom dan ulangi," pinta Bo Gum.


"Dia menggunakan masker, sedikit sulit mengenali nya," sahut Rey.


"Ai Ki," gumamnya.


"Ai Ki?!" mendongak kepada Bo lalu kembali memperhatikan videonya. "Benar, ini Ai Ki. Kurang aj@rrr! beraninya dia!!" Xi Yuan mengepalkan tangannya.


Suster palsu itu mengenakan masker putih dan juga menggunakan poni untuk menutupi sebagian besar dahi nya. Dia juga selalu menundukkan wajahnya ke bawah.


...----------------...


...Qarry_Adz...


...Jadilah Rendah tanpa harus Merendah atau Meninggi...


...Jadilah Tinggi tanpa harus Meninggi atau Merendahkan diri...


...Hidup sesuai kemampuan bukan kemauan. Berikan jika lebih, tapi jangan meminta jika kamu saja masih kurang berusaha. ...

__ADS_1


__ADS_2