
...****************...
Restoran siap saji
"Apa kau tau, hari ini Yuan memasak bubur untuk ibu hamil,"
"Benarkah? Pantas saja meminta ku mencari chef terbaik kemarin malam" jawab Bo.
"Rey, kira-kira bubur itu untuk siapa ya?"
"Sepertinya untuk Kiki"
"Ch... Kau bergurau. Kau tak tahu bagaimana sifatnya selama ini dengan Kiki"
"Lalu jika bukan untuk Kiki, untuk siapa?"
"Entah lah, sepertinya untuk orang lain."
Perbincangan mereka terdengar oleh Ai Ki yang duduk membelakangi mereka. "Bubur ibu hamil?... masak sendiri?... untuk siapa?...." batinnya. Ai Ki mengikuti Bo Gum dan Ri Rey diam-diam.
Di dalam kamar RS
"Keke jangan bergerak," Xi Yuan menunduk kan wajahnya menghadap Ming Ke, menjulurkan jari tangannya, mengusap dengan lembut bibir tipis wanita tersebut.
"Ada potongan nasi disini." Yuan sengaja memperlambat gerakan nya, mata nya menatap Ming Ke terus mendalam, tangannya terus membelai pipi halus Keke, menghindarkan beberapa helai rambut Keke, lalu menyelipkan anak rambut itu kebelakang telinga Keke dengan mata tak berkedip menatap bibir wanita itu.
"Yuan kami membawakan pesanan mu," Bo Gum dan Ri Rey berhenti berjalan, mata mereka terpelongok melihat pemandangan tersebut. Begitupun dengan Ai Ki yang keluar dari balik tubuh mereka, menyaksikan pemandangan sejuk namun membangkitkan amarah nya.
"Cukup!!... apa yang kalian lakukan disini! Ming Ke, Kau!" Ai Ki berjalan mendekati Keke. Plaakk!!... Tamparan itu membekas diwajah Keke yang barusan saja disentuh oleh Yuan.
"Ai Ki!...." teriak Yuan namun tak dihiraukan olehnya.
"Kau berani menggoda suami ku, dasar kau ****** yang tak tahu malu!!... Berani sekali kau!" layangan tangan Ai Ki kini berhasil ditahan oleh Yuan.
Kini Yu murka mendengar ucapan Ai Ki. "Sudah belum?... Jika sudah, Bo, Rey, bawa dia ke Menara. Pastikan kalian memberikannya makanan yang SEHAT dan BERGIZI untuknya."
Bo dan Rey sempat melirik satu sama lain sebelum mengangkat Kiki, sebab menara adalah tempat terseram miliki Yuan. Menara di jaga oleh bodyguard khusus yang merupakan tentara bayaran. Lalu makanan yang sehat dan bergizi itu tak lain adalah Air bening dengan nasi saja.
"Kau tak apa?"
__ADS_1
"Tuan hentikan, aku baik-baik saja. Ai Ki adalah istrimu, wajar saja jika dia merasa cemburu"
Tanpa menjawab pertanyaan Keke Yuan pergi meninggalkan nya dengan raut wajah yang penuh amarah.
Keke bingung dan berkata, "Kenapa dia malah bermuka cuka, bukankah aku hanya bertanya"
Yuan tak suka wanita menyakiti wanita apalagi setelah tahu bahwa Ming Ke adalah adik kandung Ai Ki. bisa-bisanya kiki memperlakukan adiknya seperti itu. Sudah seperti itupun Keke tetap saja membela nya.
"Ke... Ke." Tangan Lan bergerak, mata menatap Keke, dan bibir tersenyum sendu.
"Ayahh!" Keke terkejut senang melihat Ayah nya kini telah membuka mata.
"Sudah tak perlu menangis lagi," menghapus air mata anak nya,
Lan menggenggam tangan Keke, "Sayang jika ini adalah hari terakhir ku, maka dengarkan lah permintaan ku ini baik-baik. Kau harus selalu bahagia, suatu hari nanti semua pasti akan terungkap kau harus bahagia dengan nya dan juga dengan calon bayi ini,"
"Kau tak boleh berkata seperti itu, aku akan tetap disini menemanimu hingga kau benar-benar sembuh, Yah"
"Jantung ini sudah lama sakit, aku diam karena tak ingin membuat mu menangis. Tak sangka pada akhirnya kau akan tetap menangis meskipun aku sudah menahankan nya."
"Ayah kau pasti bisa sembuh..." Keke menangis tersedu sedu diatas genggaman tangan Ayah nya.
"Pergilah nak, carilah keadilan untuk mu sendiri disana, kau akan bahagia setelahnya. Pergilah Ming Ke, pergilahh, Nak..."
Tiitttt......
Tangan lemah, mata tertutup, bibir tak lagi berbicara, setetes air mata keluar untuk yang terakhir kali nya begitupun dengan nafas nya.
Tangisan menggelegar hebat. Wanita itu berusaha membangunkan pria yang selama ini sangat menyayangi dirinya. Dokter sudah berusaha namun apalah daya kehidupan seseorang sudah pasti akan menemukan ajal nya.
Xi Yuan berlari mendatangi kamar tersebut, dilihatnya pria yang terbaring di sana kini sudah tertutup oleh lain putih sementara wanita yang berada disana juga pingsan menahan kan kesedihannya.
Mendengar kabar duka dari Rumah Sakit tersebut, Bo dan Rey memutar arah mobil melaju kembali menuju Rumah Sakit. Kini semua orang telah berkumpul melihat mayat pria paruh baya tersebut keluar dari kamarnya menuju kamar mayit.
"Kauu!....bangun kau!!...bukan hanya ayah ku sekarang suami ku. Mengapa tidak kau bunuh saja aku... Anak sial! pembawa sial!!... Jal*ng bu*uk! Aaagrrhhh...!!" teriaknya. Ai Ling mengguncang kasar tubuh lemah Keke hingga membangunkannya.
"Dasar pembawa sial, mati saja kau!" Ai Ki dengan sengaja mencabut infus yang tengah terpasang di tubuh Keke, juga mencekik leher nya dengan kuat, membuat Ming Ke kesulitan untuk bernafas.
Nenek nya melanjutkan tindakan mereka, "Wanita mur*han dan tidak bermoral, kau tak pantas menjadi cucuku!"
__ADS_1
Di cekik kembarannya hingga sulit bernapas, rambut ditarik ibu sampai leher terdongak ke atas begitu pun dengan tangan dan kaki yang diikat kain oleh mereka, pipi merah akibat tamparan nenek nya. Tangisan tanpa suara juga tidak membuat mereka melepaskannya karena terbawa suasana kebencian.
Ditengah ricuhnya ruangan tersebut dengan berbagai macam cacian untuknya, seorang pria tinggi nan tampan rupawan datang dengan membawa anak buah.
"Sayang, maaf aku terlambat."
Pria itu meminta mereka memegang an*ing liar yang berani menyentuh cinta pertama nya, sedang pria ini langsung menggapai tubuh lemah Ming Ke dengan tangannya.
Mereka tak mengedipkan mata melihat pesona tampan pria ini. Dengan lembut pria itu membelai dan mengangkat Ming Ke kembali ke atas ranjang nya.
"Ikat mereka... Berikan hukuman yang setimpal, termasuk kepada wanita ini," tangannya mengarah kepada Ai Ki.
"Dia sudah berani menyakiti ibu dari calon anak-anak ku" ucapnya lembut namun bermakna penuh emosi.
Ai Ki menjawab, "Maksudmu Ming ke adalah pasangan mu?... kekasih mu?...."
"Menurutmu?..."
'Sial lepas dari Tuan Yu wanita mu*ahan ini malah mendapatkan pria dengan speak raja di kota W,' batin Ai Ki
Xi Yuan baru saja selesai mengkremasi mendiang Ming Lan dan langsung mendatangi kamar Ming Ke diikuti dengan dua asistennya.
"Ada apa ini?..."
"Mohon kepada Xi Yuan, ahhh... CEO terkaya dikota A, Xi Yuan dengan hormat, saya minta anda menjaga Istri, Mertua, juga Nenek Tua yang tidak memiliki Etika ini, agar tidak sembarangan menyiksa kekasih orang lain."
"Kekasih?... maksud mu Ming Ke?... apa yang sudah kalian lakukan padanya!!" Xi Yuan berbalik badan, dengan tatapan murka. Menampar keras wajah Ai Ki hingga membentuk jari diwajahnya.
"Tuann... sudah cukup... jangan lagi menyakiti kakak dan juga keluarga ku..." lirih nya.
Yuan menatap heran. "Ming ke.. tapi mereka..."
Keke tidak menghiraukan perkataan Yuan dan berbalik arah menghadap wajah mantan kekasih nya itu. "Fei sejak kapan kau disini?"
"Aku pergi keluar kota, mendapatimu tak ada dirumah aku sangat khawatir, benar saja ternyata kau kembali kesini"
Keke menunduk, "Maaf ini karena, Ayah ku..."
Tangannya mengusap air mata Keke. "Sudah tidak boleh bersedih di depan abu mendiang,"
__ADS_1
"Ming Ke aku turut berdukacita atas kepergian paman, ikhlas kan kepergiannya. Aku akan selalu menemani mu," Fei memeluk nya dengan kelembutan dihadapan semua orang.