ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 10


__ADS_3

Pagi ini berjalan seperti biasa, aku menyiapkan perlengkapan sekolah Yaya, mengurus Alya dan menyiapkan sarapan. Mas Arga sedang mandi, saat aku sedang menyuapi Alya bubur di depan televisi menonton kartun kesayangannya, aku melihat handphone Mas Arga tergeletak begitu saja di meja. Begitu ada panggilan masuk dari Nando, tertera di layar handphone itu aku terima. Belum sempat aku bicara penelepon dari sebrang sudah menggerutu terlebih dahulu.


"Mas, cepetan aku mau ambil pesenan jilbabku, mau aku pake buat ke kantor nih"


"Jilbab?" tanyaku.


"Eh... Ehmmm anu bu Mas Arga nya mana?"


Suara terdengar gugup dari sebrang.


"Mandi" jawabku pendek terkesan sinis.


"Ya sudah bu" sambungannya terputus.


Aku tersenyum geli setelah menerima telepon tadi. Namanya Nando, suaranya cewek. Nampaknya Mas Arga sudah pintar main kucing-kucingan, dia memberi nama Nando padahal aku yakin itu dari Lily. Karena aku pernah berbicara dengannya di telepon tentu saja aku kenal suaranya, baiklah kalau begitu aku akan ikuti permainan ini. Entahlah, mengapa aku sekarang tak merasakan sakit hati?


Mas Arga keluar dari kamar mandi lalu menuju cermin untuk memakai dasi.


"Bicara sama siapa?"


"Nando" Mas Arga yang tadinya santai malah jadi salah tingkah.


"Mas, cepetan aku mau ambil pesenan jilbabku, mau aku pake buat ke kantor nih" aku berbicara menirukan gaya suara di telepon, Mas Arga tidak berkata apa-apa dia hanya bergaya sok sibuk dengan dasinya yang sedari tadi sudah terlihat rapi dan pura-pura tidak mendengar ucapanku.


Aku mwncolek lengannya dengan tengil.


"Sejak kapan Nando pake jilbab?" lagi-lagi dia tak menjawab, dia hanya mendengus kesal kemudian meninggalkan aku yang terkekeh geli melihat raut wajahnya yang menurutku lucu.


Mas Arga berangkat dengan tergesa tak sempat sarapan, ada tugas mendesak katanya, dari Lily eh salah dari Nando. Mungkin, aku tidak tenang jika ia tidak sarapan. Mas Arga punya penyakit maag yang parah jadi aku rencanakan akan menyusulnya ke kantor untuk membawakan sarapan.


Aku memacu motorku dengan kecepatan sedang, sengaja aku berangkat ke kantor Mas Arga tiga puluh menit lebih awal dari jam istirahatnya, agar sampai disana tepat waktu. Namun sial, ban motorku kempes. Aku harus mencari tambal ban terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan, sesampai disana mobil Mas Arga sudah tidak ada. Aku masuk lewat pintu depan nasabah tidak melalui pintu samping yang di khususkan untuk pegawai bank.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam itu ramah sambil membukakan pintu, aku tidak langsung menjawab sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Ibu mau setor atau mau tarik tunai" tanyanya lagi, aku menggeleng.

__ADS_1


"Saya mencari pak Arga Nofta Suryadinata, saya istrinya"


"Pak Arga sedang keluar bu, ini kan jam makan siang"


Jelasnya padaku.


"Makanya saya kemari, kalau jam kantor kan ga boleh pak"


"Ibu coba telepon bapak aja biar cepat kembali kesininya"


"Saya lupa ga bawa hp pak"


"Mari saya antarkan ke ruangan bapak"


"Oh ngga pak makasih, saya disini aja. Kalau di ruangan bapak saya bosen sendiri mending disini sekalian liat-liat"


"Baiklah ibu silakan duduk disini, saya permisi ya" ucapnya pamit padaku.


Aku duduk di kursi tamu dekat pintu, ku lihat di bagian teller ada tempat untuk dua orang yang kosong tanda istirahat dan dua orang lagi sedang melayani nasabah.


"Menurutku sambelnya kurang pedes deh" wanita itu berceloteh dengan riang.


"Oh kayak gitu bilang ga pedes, bibirku aja rasanya jontor makan begituan'' ucap Mas Arga menimpali.


"Jangan makan pedes-pedes Mas, nanti asam lambungnya naik lho" sengaja aku menyela pembicaraan mereka.


Mas Arga dan wanita itu serempak menoleh ke arahku, Mas Arga tampak begitu terkejut, berbeda dengan ekspresi wanita di sebelahnya yang bertanya-tanya. Aku melangkah dengan santai tak lupa menyunggingkan senyum di bibirku.


"Ratih,kamu" Mas Arga bertanya dengan ekspresi masih kaget.


"Ih awas minggir-minggir" aku melangkah ke arah mereka dan berdiri tepat di tengah-tengah mereka.


"Sanaan dikit" karena merasa sempit aku meminta Mas Arga untuk sedikit bergeser agar aku leluasa berbincang dengan wanita itu.


"Kenalin, Ratih istri sah Pak Arga Nofta" aku mengulurkan tanganku kepada wanita itu dengan penuh percaya diri tak lupa demgan senyuman manis yang aku buat sedemikian agar terlihat sinis. Ragu-ragu ia menyambut uluran tanganku.

__ADS_1


"Apriliyanita" ucapnya terbata.


"Udah tau tuh di tanda pengenal, maksudku nama panggilannya siapa?" tanyaku padanya.


"Lily" jawabnya pendek.


Deghhh.... Jadi wanita ini yang bernama Lily, akhirnya aku bertemu dengannya. Ku akui Lily wanita yang sempurna, hidung mancung, bibir tipis, mata bulat dengan bulu mata lentik, dan alisnya melengkung indah seperti ulat bulu, pantas sana Mas Arga tertarik padanya.


Sekilah kulihat dia mirip dengan Mas Arga, banyak orang yang bilang, bila sepasang kekasih wajahnya mirip itu tandanya mereka berjodoh. Apa iya dia berjodoh dengan suamiku? Terus aku apanya?


"Ratih, Ratih" Mas Arga menyadarkanku dari lamunan, ternyata tanpa sadar aku meremas tangan Lily dengan kuat hingga ia meringis kesakitan, aku terkekeh kemudian melepas tangannya.


"Santai saja" kataku pada Mas Arga sambil mengedipkan mata.


"Maaf saya permisi" pamit Lily sambil berlalu dengan wajahnya yang cemberut.


"Cemberut aja cantik" kataku dalam hati. Aku menyusul agar jalanku sejajar dengannya dan menghadang dia.


"Eh ko buru-buru sih. Padahal saya mau ngucapin terima kasih karena udah mau temani ngobrol suami saya sampe larut malam" ucapku dengan nada yang ku buat setulus mungkin.


"Maaf saya buru-buru" pamitnya dan kali ini aku tak mencegahnya.


"Apa-apaan sih kamu" kata Mas Arga sambil menghampiriku.


"Cuman bilang terima kasih, salah?" ucapku dengan nada tak berdosa


"Kamu gila, Ratih" katanya sambil berbisik, ada nada kemarahan di sana yang terselip di kata-katanya.


"Oh ya? Untung aku masih sabar, coba kalau ngga sudah ku bunuh kalian berdua" ucapku dengan nada megancam dan sorot mata yang tajam, Mas Arga bergidik dan aku terkekeh melihatnya.


"By the way cantik" ucapku pada Mas Arga sambil berlalu meninggalkan Mas Arga yang masih mematung di koridor.


Aku memberikan makanan yang aku bawa dari rumah kepada pak satpam. Panas udara siang ini tak sepanas hatiku melihat wanita itu bersama Mas Arga, di balik helm yang aku kenakan ini air mataku mengalir deras. Karena tidak konsentrasi menyetir. Tiba-tiba..


BRAAAAAKKKKK...!!!

__ADS_1


Kurasakan badanku terhempas kepalaku tiba-tiba pusing rasanya semua badanku sakit, aku tak bisa menggerakan badanku dan akhirnya semua gelap.


__ADS_2