
Aku merasa sudah bosan berada di rumah sakit ini, tapi dokter belum memberiku ijin untuk pulang. Sebelum rasa sakit di kepala dan leher benar-benar hilang. Rasa rindu pada buah hatiku tak terbendung lagi, membuatku tak bisa tidur malam ini.
"Kok belum tidur?" tanya Mas Arga kepadaku sambil tiduran di sofa.
"Aku kangen Yaya sama Alya" kali ini aku menjawab pertanyaan nya.
"Sudahlah mereka baik-baik saja, jangan khawatir" jawabnya sambil beralih duduk.
"Tapi aku benar-benar kangen Mas" jawabku dalam isak tangis, Mas Arga mendekatiku dan memelukku.
"Ratih, maafkan aku semua ini terjadi karena aku. Aku tau kamu pasti marah, tapi percayalah semua uang kau lihat tak seperti apa yang kau pikirkan"
"Lalu aku harus berpikiran gimana Mas, setelah apa yang aku lihat dan aku alami?"
"Aku mengerti Ratih, aku ngerti. Saat aku melihatmu terbaring di UGD, betapa aku merasa berdosa saat aku melihat ibu dari anak-anakku orang yang seharusnya aku lindungi berada di antara hidup dan mati, karena aku. Apalagi saat kau tak menyadarkan diri hanya namaku yang kau sebut, saat itulah aku menyadari betapa besar cintamu padaku" bisiknya dengan suara lirih, aku berusaha melepaskan pelukannya.
"Aku mohon jangan kau hukum aku dengan kemarahanmu, maafkan aku Ratih" ada bulir bening yang mengalir di ujung matanya.
"Lalu dia?"
Dia menghela nafas dan menggeleng pelan "Entahlah"
Jawaban yang terakhirnya terkesan menggantung membuat lecutan kemarahan kembali hadir di dadaku. Namun saat melihatnya menangis, memohon maaf kepadaku amarah itu hilang ntah kemana.
"Tidurlah besok aku akan meminta mama membawa Yaya kemari" ucapnya sambil mengusap air mata di pipinya itu.
"Alya?"
__ADS_1
"Ini rumah sakit Alya masih kecil akan sangat beresiko membawanya kemari"
"Kau harus cepat sembuh agar bisa cepat pulang ke rumah makan yang banyak, istirahat yang cukup, dan.."
"Dan?"
"Dan tidak usah berfikir macam-macam" jawabnya sambil membenahi posisi bantal dan merapikan selimutku.
--------------------------------------------------
Hari ini aku sangat gembira karena besok sudah di perkenankan pulang oleh dokter, dan lebih senang lagi Sarah datang berkunjung menjengukku. Tidak hanya Sarah banyak kerabat yang datang menjengukku dan memberikan doa agar aku cepat kembali pulih.
Mas Arga pulang lebih awal setelah melaksanakan solat jum'at dia tidak kembali ke kantor tapi langsung ke rumah sakit untuk menjagaku. Menggantikan mama yang sudah menjagaku dari pagi saat Mas arga berangkat kerja.
"Assalamualaikum" ucap beberapa orang serempak memasuki ruanganku.
"Waalaikumsalam" jawab Mas Arga, ternyata teman-teman sekantornya Mas Arga.
"Apa kabar ibu, kenalin nama saya Aca" ucap salah satu gadis manis dengan wajah khas jawa. Dia menyalamiku seraya mencium pipi kiri dan kananku, padahal aku risih karena sudah beberapa hari tidak mandi hanya seka saja.
"Dan ini Bu Fatima" orang yang di perkenalkan Aca menghampiriku tak lupa juga mencium pipi kanan dan kiriku.
"Kalau yang berlesung pipit itu namanya Pak Aldi, trus yang kurus itu Pak Putra yang agak-agak black sweet itu Pak Syarif yang paling sehat itu Pak Dimas" gadis bernama aca itu memperkenalkan teman-temannya dengan gayanya yang tengil namun terkesan kocak sedangkan orang yang di perkenalkannya hanya tersenyum melihat tingkahnya.
"Mba Aca ini kelihatannya kalem ya, tapi ternyata..." aku menggantung kalimatku.
"Tapi nyenengin ya bu" ucapnya dengan percaya diri sambil terkekeh "Huuuuu....." sorakan teman-temannya.
__ADS_1
"Aca itu nama lengkapnya Acakadul" ucap Pak Dimas dengan di sambung gelak tawa semua orang di ruanganku.
"Akhirnya Aca bisa ketemu Bu Ratih" aku hanya tersenyum mendengar celoteh Aca.
"Pak Arga sih ga pernah ajakin bu Ratih kalau ada acara" lanjutnya.
"Diajakin kok cuman orangnya aja gak mau" ucap Mas arga membela diri.
"Bukan gitu Mbak saya gak mau anak-anak masi kecil, takut rewel pas di acara nantinya" sanggahku secara halus, walaupun apa yang di katakan Aca itu benar namun aku harus menjaga wibawa suamiku di depan bawahannya.
"Eh Bu Lily kemana ya kok ga datang?" ucap Bu Fatima yang sedari tadi hanya senyum melihat candaan Aca akhirnya buka suara, hatiku mencelos mendengar nama itu. Aku melihat perubahan ekspresi pada muka Mas arga, yang tadinya santai berubah jadi agak kikuk. Mana berani dia datang menghampiriku, pikirku.
"Ini dia WA sama aku katanya ban motornya bocor" jawab Aca sambil memasukan hp ke dalam tas hitamnya.
"Alasan!" ucapku dalam hati, aku malah berdoa dia tak datang menemuiku.
"Trus gimana ini kita nungguin Lily apa mau pulang duluan?" ucap Pak Syarif menanyakan pendapat teman-temannya.
"Tunggu ajalah kasian" ucap Pak Dimas.
Setengah jam berlalu yang di tunggu tak kunjung datang, Bu Fatima nampak gelisah.
"Duh saya lupa anak saya ga ada yang jemput pulang dari madrasah" Bu Fatima buka suara.
"Saya juga ada acara kondangan habis ini" Pak Aldi menimpali.
"Yaudah deh kita pulang duluan aja, biarin dah Lily datang sendiri toh ada Pak Arga yang...." ucapan Aca terhenti setelah tangan nya di sikut oleh Bu Fatima yang membuat Aca salah tingkah.
__ADS_1
Mereka berenam pamit, tak lama setelah mereka keluar dari ruanganku. Perempuan itu datang, Mas Arga menyambutnya dengan kaku. Dia tersenyum manis tapi bagiku seperti seringai serigala yang licik.
Punya nyali juga rupanya.