
dr.dion masuk ke ruangan , sementara revan dan adrian menunggu di luar , di sana juga sudah ada bi murni , rasa takut dan kawatir menjadi satu menyelimuti mereka ,
air mata revan tak hentinya mengalir , lelaki tampan itu , tak bisa menyembunyikan kesedihannya ,
adrian dan bi murni hanya bisa menangis dalam diam , melihat kegelisahan revan ,
tak berapa lama ruangan terbuka , menampakan wajah dr.dion yg kurang bersahabat ,
" dokter , bagaiman keadaan ibu saya , " tanya revan panik dengan suara segukannya ,
dr.dion hanya diam , menatap wajah revan saja sudah tak mampu ,
melihat diamnya dr.dion , revan langsung masuk ke ruangan , betapa kagetnya dia , orang yg di cintainya , sedang terbaring tak bergerak , dengan wajah yg pucat , tangan yg dingin dan kaku ,
air mata sudah membajiri wajah tampannya , melihat kenyataan yg tak bisa di bayangkan , kaki yg tadinya kokoh berdiri , kini terkulai lemas hingga tak mampu untuk menopang tubuhnya ,
dunia revan seketika menggelap , kenyataan yg di hadapannya seakan mimpi , mimpi yg sangat buruk , mimpi yg tak pernah di bayangkan oleh seorang Revan Aditia Wiguna ,
" hikss , ibu , " tangis revan , memeluk jenazah ibu diana yg tak bernapas lagi ,
tangisannya pecah , kala melihat orang yg di cintainya pergi untuk selamanya ,
dr.dion sudah melakukan yg terbaik , tapi takdir berkata lain , ketika sadar , ibu diana terlihat lemas , sesak napas menyerangnya , alat - alat yg terpasang sepertinya tak berguna lagi , harapan hidupnya sangat sulit , hanya bertahan dengan oksigen saja ,
" hiks ,hiks , hikss , ibu , bangun , jangan tutup matamu , jangan tinggalkan aku , aku tak punya siapa - siapa lagi selain ibu , aku mohon bu , buka matamu , " tangis revan , menggoyangkan tubuh yg kaku itu ,
" hikss , ibu , aku mohon ibu , bangun , aku janji akan menuruti semua yg ibu katakan , aku mohon bu , bangun , " tangis revan , terus menggoyangkan tubuh ibu diana ,
__ADS_1
revan mengambil oksigen memasang ke mulut ibu diana berharap keajaiban akan terjadi , tapi semuanya sia - sia , ibu diana sudah meninggal dunia ,
" hikss , ibu , ibu , " tangis revan memeluk memanggi manggil ibunya ,
bi murni menghampiri revan , sekedar menenangkan , tapi sepertinya revan tak tenang , kenyataan benar - benar mempermainkannya ,
dengan wajah yg merah padam , revan menghampiri dr.dion , tanpa bicara , revan langsung menghadiahi bogem mentah ,
bugh , ,
satu pukulan untuk sang dokter yg selama ini menangani ibu diana ,
" katakan , inilah alasanmu menyuruhku ke sini , " geram revan memegang kerah baju dr.dion ,
dr.dion hanya diam saja , satu pukulan begitu sakit di rasakan , hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya , tak salah jika revan memukulnya , karna dia ingat betul perkataannya bulan lalu pada revan , memberi harapan kalau ibu diana pasti akan sembuh ,
" aku tidak membayarmu untuk menghilangkan nyawa ibuku , aku membayarmu untuk menyembuhkannya , tapi apa yg kamu lakukan , kamu malah memberikan aku kabar buruk , " ucap revan dengan geram menatap dr.dion yg sudah ketakutan ,
" gue percaya pada rekomendasi lo , tapi apa yg gue dapat , lo dan dokter sialan itu nggak berguna , kalian berdua melenyapkan ibuku " ucap revan ber api - api ,
" van , gue , " ucap adrian , tapi langsung di potong oleh revan ,
" lo gue pecat , dan jangan menampakan wajah lo lagi di hadapan gue , lo bukan sahabat gue lagi , sekarang lo pergi dari hadapan gue , gue tidak ingin melihat wajah lo lagi , pergi " marah revan mengusir ,
adrian keluar dengan wajah sedih , kini apa yg di takutkan telah terjadi , bukan hanya kehilangan orang yg sudah di anggapnya orang tua sendiri , tapi juga kehilangan persahabatan dan pekerjaan ,
" sampai kapanpun lo tetap jadi sahabat gue selamanya , " batin adrian sedih ,
__ADS_1
adrian hanya pasrah menerima semuanya , bicarapun percuma , revan tak akan mendengarkannya , apalagi dalam keadaan emosi seperti ini ,
dalam hatinya dia juga begitu sedih , mengetahui orang yg sudah di anggapnya sebagai ibu sendiri , kini meninggalkan dunia ini untuk selamanya , tapi mau di apa semua sudah terjadi ,
bi murni tak dapat berkata apa - apa lagi , melihat semua ini , dirinya merasa terpukul , tak menyangka ibu diana akan meninggalkannya secepat ini , tapi dia juga berjanji dalam hatinya akan menjaga revan seperti amanat ibu diana sebelum meninggal ,
flash back
di sela tangisannya saat melihat ibu diana sesak napas , bi murni terkejut saat ibu diana memanggil namanya ,
" bi , " panggil ibu diana ,
bi murni menghampiri ibu diana yg begitu pucat , menatap dalam majikannya yg begitu baik , dengan suara tersendat ibu diana memaksakan diri untuk bicara ,
" bi , a , aku , titip revan anakku , tolong jaga dia , jangan biarkan dia sedih , " ucap ibu diana ,
mendengar itu bi murni sedih , seakan ibu diana akan pergi untuk selamanya ,
"nyonya , jangan bicara seperti itu , percayalah nyonya pasti sembuh , kita akan menjaganya bersama , " ucap bi murni memegang erat tangan ibu diana , berharap ibu diana akan sembuh ,
ibu diana hanya tersenyum , dia tau umurnya tak akan lama lagi , pada saat dr.dion berbicara dengan bi murni , dia mendengar semuanya , walaupun matanya tertutup tapi telinganya masih mendengar ,
bi murni hanya diam saja , rasa takut bercampur kawatir , begitu jelas terlihat , sedangkan ibu diana hanya bisa pasrah , apapun yg terjadi dia akan menerimanya dengan ikhlas ,
ibu diana yakin , walaupun dia sudah nggak ada lagi , selama masih ada orang seperti bi murni , revan pasti akan baik - baik saja .
flash off .
__ADS_1
.🌼...🌼
Jangan lupa tinggalkan jejak 😊