ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 20


__ADS_3

Setelah aku dan Alya keluar dari rumah, aku langsung mencari taksi karena jika memakai motor aku khawatir jika harus membawa Alya, aku pun menyetop taksi yang lewat di depanku. dan aku pun mengucapkan alamat rumah Sarah kepada supir taksi tersebut.


Selama di perjalanan pikiranku berkecamuk jika hanya aku yang sakit hati tak jadi masalah tetapi ada dua malaikat kecilku bagaimana nanti aku harus menjelaskannya apalagi kepada Gledia yang dekat sekali dengan Mas Arga di tambah ada mamah dan ibu yang pasti akan sangat kecewa terhadapku. Ya Allah inikah jalan untukku? tapi aku harus bagaimana?


Sesampainya di rumah Sarah aku langsung memencet bel dan mengucapkan salam. karena hanya kepada Sarah aku bisa meminta pertolongan jika aku pulang ke rumah mamah atau datang ke rumah ibu aku belum siap untuk menjelaskan semuanya yang akan membuat mereka kecewa.


Sarah pun membukakan pintu untukku.


"Waalaikumsalam, eh kamu kenapa, ayo masuk dulu Tih" ajaknya mempersilahkan aku masuk.


setelah aku dan sarah duduk aku meminta Sarah untuk menidurkan Alya karena Alya masih tertidur pulas, kasian juga jika terbangun. dan Sarah pun langsung mengambil alih Alya dan barang-barang yang aku bawa. sekembalinya Sarah keruang tamu dia langsung menanyaiku.


"Ada apa? ko kamu bisa bawa Alya sama barang-barang kesini? perasaan tadi pas aku tinggal baik- baik aja deh" ucapnya.


"Nanti aku ceritanya ya, aku titip Alya dulu aku mau jemput Yaya dulu di madrasah," ucapku menitipkan Alya kepada Sarah dan berpamitan untuk menjemput Yaya.


begitu sesapmpainya di madrasah aku melihat Yaya sedang duduk di bangku taman dan aku pun menghampiri Yaya.


"Ayo pulang sayang" ucapku pada Yaya.


"Eh mama udah sampe ya, mama kenapa ko kaya abis nangis?" tanya Yaya padaku yan melihat mataku aga sembab.


"Ga apa-apa ko, oiya kita pulang ke rumah tante Sarah dulu yaa"


"Ko ga ke rumah ma?"ucapnya sambil mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Emmm soalnya Alya tadi dibawa tante Sarah ke rumahnya jadi kita nyusul kesana deh" ucapku dengan merasa bersalah telah membohongi putri sulungku, aku bingung harus jawab apa jika nanti Yaya bertanya tentang aku dan Papanya.


"Tapi ma Yaya kan ga bawa baju ganti" ucapnya yang mengingatkanku kalau barang Yaya belum aku ambil.


"Yaudah kita pulang dulu aja bawa barang-barang Yaya ya"


Aku dan Yaya pun menghentikan taksi untuk kami tumpangi. Aku kembali sibuk dengan pikiran ku, bagaimana nanti aku menjelaskan kesemuanya, mungkin mulai besok aku akan mencari tempat tinggal menggunakan tabunganku dan mulai mencari pekerjaan untuk memenuhi biaya aku dan anak-anakku.


"Ma ko ngelamun sih?" tanya Yaya yang menyadarkanku dari lamunan sedari tadi.


"Ah ga apa-apa ko sayag" jawabku sembari tersenyum pada Yaya.


Sesampainya di rumah ternyata mobil Mas Arga dan motor Lily masi terparkir di parkiran, hatiku sakit dan perasaanku campur aduk saat ini. Dimana dulu inilah rumahku sejauh aku pergi kemana pun aku akan kembali lagi ke tempat ini tetapi sekarang aku malah dituntut untuk pergi sejauh-jauh nya dari tempat ini.


"Ma ayoo masuuuk, kayanya lagi ada tamu deh" ucap Yaya menyadarkanku lagi, Ya Allah kuatkan aku.


"Assala...." ucapan salamku tergantung ketika melihat kejadian di depan mataku dan di depan mata anaku Mas Arga sedang berciuman bersama Lily, sakit hati ini tak sengaja buliran bening di mataku meluncur bebas di pipi.


"PAPA " ucap Yaya berteriak yang membuat mereka melepaskan satu sama lain, aku tak berucap apa-apa saat ini pikiran dan hatiku sedang tidak baik-baik saja.


"Mama siapa tante itu ko mereka kaya gtu, kan papa itu suami mama dan papa nya Yaya tante itu bukan Mama Yaya jadi dia ga boleh deket sama papa" ucap Yaya setengah ketakutan karena pandangan Mas Arga yang terlihat marah, malu dan menyesal.


"Udah sayang yu kita ambil barang-barang Yaya jangan ganggu mereka ya sayang" ucapku setengah terisak mencoba menguatkan hati demi anak-anak.


"Ratih.." ucap Mas Arga lirih tapi aku tidak mendengarkannya.

__ADS_1


Aku langsung berjalan ke kamar Yaya dan mengambil semua barang yang ia butuhkan selebihnya biar nanti aku beli saja aku pikir uang tabunganku cukup buat membeli beberapa keperluan anak-anak dan sewa rumah.


Yaya mulai menangis tak tau kenapa apakah ia sudah mengerti? tapi aku bagaimana cara untuk menjelaskannya.


"Yaya kenapa nagis?" tanyaku.


"Yaya sayang mama yaya ga mau mama baru yaya cuman punya satu mama" ucapnya yang membuat hagiku semakin sakit.


"Iya sayang mama juga sayang Yaya ko, udah beres kan yuk kita ke rumah tante Sarah" ucapku seraya mengajak Yaya untuk cepat pergi.


Begitu aku dan Yaya melewati ruang tengah ternyata hanya ada Mas Arga sendiri aku dan Yaya pun bergegas cepat untuk keluar dari rumah ini.


"Ratih tunggu aku mau ngomong sama kamu" ucap Mas Arga.


"Sudah Mas aku ikhlas kamu menikah dengan dia, dan anak-anak juga akan aku arahkan agar tidak melupakanmu karena kamu adalah wali mereka tapi aku mohon jangan melakukan hal yang tidak pantas orang lain lihat terutama anak-anak. aku permisi dulu" ucapku pada Mas Arga dengan menahan rasa sakit dan air mata agar tidak mengalir.


"Ayo sayang kita jalan" ucapku kepada Yaya.


"Ratih tunggu Yaya tunggu papa nak" ucap Mas Arga setengah berteriak.


"Mama Yaya ga mau sama papa, soalnya papa jahatin mama"ucap Yaya dengan polosnya.


"Iya Yaya dan Alya sama mama ko, ayo kita pergi pake sepeda motor mama ya" ucapku sembari bersiap menjalankan motor.


Janjiku pada diriku sejauh apapun aku pergi aku tak akan pernah datang ke rumah ini lagi.

__ADS_1


Aku hanya memiliki dua malaikat kecilku, dan masa depan mereka. Aku harap aku selalu di beri umur panjang dan kesehatan serta rezeki untuk membesarkan anak-anakku.


__ADS_2