
Aku terbangun dari tidurku, pusing di kepalaku mulai berkurang sedikit. Selang oksigen telah di lepas, luka di lengan dan lututku tak senyeri kemarin. Hanya leher bagian belakang yang masih merasa sakit bila di gerakkan, tapi sekarang aku bisa menggerakan badan ku agak leluasa.
Dari balik tirai jendela yang transparan aku dapat melihat cahaya matahari di luar sana masi remang jam dinding menunjukan pukul lima lebih sepuluh menit Mas arga masih tertidur di sofa rumah sakit, biasanya Mas Arga bangun sebelum subuh. Mungkin ia terlalu letih siang hari harus bekerja dan malamnya harus menjagaku, aku tak tega membangunkannya. Dia tampak semakin kurus dan wajahnya tampak kusam.
Aku bingung dengan perasaanku terhadapnya disatu sisi aku sangat mencintainya dan tak pernah ingin berpisah tetapi disisi lain aku sungguh muak jika mengingat pengkhianatan yang ia lakukan. Rasa rindu dan benci yang datang silih berganti membuat diriku terpasung diantara berpisah atau terus bertahan.
Dia menggeliat kemudian membuka matanya dan memandang ke arah ku, akupun langsung mengalihkan pandanganku.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanyanya kepadaku, aku melengos tak menjawab. Ada gemuruh kemarahan didadaku mendengarnya memanggilku sayang.
"Aku mau sholat dulu ke mushola ya?" tanyanya padaku tetapi aku tak menjawab aku hanya berdehem pelan.
"Yaudah aku sholat disini aja" aku tak mengerti mengapa ia bisa berubah pikiran, apa dehemanku tadi dianggap sebagai larangan olehnya? Dia langsung ke kamar mandi. Kemudian memakai sarung dang menghamparkan sajadah di area kosong antara sofa dan ranjangku. Tak lama setelah ia selesai solat, ada seorang perawat datang membawa bak alumunium tanggung yang ntah apa isinya.
"Apa itu mbak?" tanyaku dengan suara lirih.
"Air hangat untuk seka bu" perawat itu menjawab dengan senyuman kemudian ia berlalu pergi, setelah meletakan bak alumunium itu didekat kaki ranjangku.
Mas Arga mengambil dan meletakan bak alumunium itu di sampingku, kemudian ia ke kamar mandi dan keluar membawa waslap. Aku mengerti apa yang akan ia lakukan dia akan menyeka tubuhku. Dia mencelupkan waslap itu kemudian memerasnya, belum sempat tangannya sampai ke wajahku aku mendorong bak alumunium itu dan.
Praaanggggggg!!!!!
Bak alumunium itu jatuh kebawah dan membasahi sebagian sarung Mas Arga, ia nampak terkejut dengan apa yang aku lakukan.
"Ratih kau..." ada rasa terkejut dan kesal dalam nada ucapannya, lagi-lagi aku tak menjawab. Hanya membuang muka aku merasa tak sudi kulitku di sentuh olehnya, aku membayangkan setelah menyentuh wanitanya dan ia mau menyentuhku, jijik dan sangat muak.
Mas Arga keluar setelah mengganti sarungnya dan ntah kemana, dia tidak bilang kepadaku mungkin dia kesal. Kemudian beberapa saat ia kembali dengan petugas kebersihan, sementara petugas kebersihan menjalani tugasnya Mas Arga duduk di sofa. Melihat handphonenya sebentar lalu memandangku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.
__ADS_1
Petugas itu mengepel dan mengganti keset kamar mandi yang basah kemudian ia berlalu pergi, kemudian Mas Arga datang menghampiriku.
"Ratih, apakah kamu marah padaku?" lagi-lagi aku tak menjawab pertanyaannya. Enggan rasanya untuk membuka mulutku ini, hanya membuang muka.
"Assalamualaikum" rupanya ada orang datang membesuk.
"Waalaikumsalam" jawab Mas Arga.
Seorang laki-laki berbadan tegap dan berwajah oriental masuk kedalam ruanganku, dari seragam dinas dan atribut yang ia kenakan aku tahu ia seorang pengajar. Mas Arga menyambut nya dengan ramah.
"Mbak Ratih, kenalkan saya Albi" dia memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan kanannya. Aku tersenyum dan mengangguk tak menerima uluran tangannya, tetapi hanya menangkupkan tanganku di depan dada dengan susah payah, tampaknya ia mengerti.
"Oh maaf" ucapnya sambil menarik uluran tangannya.
"Pak Albi ini orang yang menabrak kamu" jelas Mas Arga tentang siapa laki-laki yang berdiri di samping ranjangku.
"Ini mbak saya bawakan bubur untuk sarapan, semoga mbak Ratih suka" ucap pria itu sambil menyerahkan bungkusan yang di bawanya, Mas Arga mengambil bungkusan itu dan meletakannya di meja telepon dekat ranjangku.
"Terima kasih Pak malah merepotkan ini" ucapku basa basi.
"Jangan panggil Pak lah berasa tua saya, hahaha" ucapnya di barengi tawa padahal bagiku tak terasa lucu.
"Panggil saja Albi" lanjutnya.
"Maaf mbak karena saya mbak jadi seperti ini" ucap pria itu dengan wajah menyesal.
"Bukan ko bukan karena hal itu saja ada hal lain yang membuat saya seperti ini" jawabku sambil menatap tajam ke arah Mas Arga. Tapi ia seolah tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Handphone Mas Arga yang terletak di meja sofa berdering, kemudian ia melihatnya.
"Pak Albi saya permisi tinggal dulu" ucapnya sambil memberi isyarat menerima telepon, ia pun keluar. Dari balik jendela aku melihat ia duduk di kursi taman yang ada di sebrang kamarku, aku pikir kenapa ia mesti sejaiuh itu, seberapa rahasia kah pembicaraannya itu? Aku tak perduli.
Selama Mas Arga menjawab telepon, aku mengobrol dengan Albi. Ternyata dia orang yang lucu, ingin rasanya aku tertawa oleh cerita-cerita lucunya itu. Tapi jika tertawa leherku terasa masih sakit, dan akhirnya aku hanya bisa tersenyum saja, dia bercerita tentang kenakalan masa kecilnya dan pengalaman menjadi orang tua tunggal karena istrinya meninggal saat melahirkan anak pertamanya.
Aku mendengarkan cerita Albi dengan santai sambil melahap bubur yang ia bawanya. Karena makan sambil mendengarkan cerita, tidak terasa aku hampir menghabiskan satu porsi bubur itu padahal biasanya aku tak nafsu untuk makan. Setengah jam kemudian Mas Arga kembali, dia bersungut-sungut kemudian mengambil kotak bubur yang sedang ku makan dengan kasar.
"Jangan makan sembarangan kamu belum pulih" ucapannya membuat aku kaget dan begitu juga dengan Albi.
"Pak Albi ini sudah jam setengah tujuh lo" Mas Arga mengingat kan Albi tetapi bagiku ia mengusirnya secara halus.
"Oiya saya lupa, kalau begitu saya permisi dulu ya mbak, mas" pamitnya sambil menyalami Mas Arga kemudian Mas Arga tersenyum kecut melihat kepergian Albi.
"Ngapain si kamu tadi senyum-senyum pas bicara sama dia?" aku tak menjawab hanya keheranan melihatnya.
"kalau berantem sama dia marah-marahnya jangan sama saya" batinku.
"Kenapa? Gak boleh?" tanyaku kesal.
"Jelas gak boleh" dia menjawab dengan nada yang tinggi.
"dia itu duda"lanjutnya.
"Trus masalahnya apa?" tanyaku semakin tak mengeri mengapa ia tiba-tiba marah tidak jelas.
"Kamu istriku mengerti" aku tersenyum mendengar kata-kata terakhirnya, ternyata ia cemburu.
__ADS_1