ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 18


__ADS_3

Seharian ini kepalaku terasa berat, karena semalam aku tidak bisa tidur. Tapi bagaimana pun itu aku harus tetap bangun pagi untuk mengurus rumah dan menyiapkan keperluan Mas Arga dan Yaya, serta harus menjaga Alya. Yang sedang aktif-aktifnya berjalan kesana kemari hingga aku kewalahan, karena teledor Alya jatuh di taman depan. Dia menjerit histeris, ada darah segar mengalir di lututnya yang membuatku panik.


"Kenapa Alya? Jatuh ya?" saking paniknya aku tak menyadari kehadiran Sarah.


"Iya Sar, tolong ambilkan kotak obat di kotak paling bawah di bufet yang ada di ruang tamu itu" pintaku pada Sarah.


Sarah bergegas mengambil kotak obat yang aku maksud, lalu membantuku membersihkan dan membalut luka Alya. Setelah lukanya di obati, aku menggendong Alya berusaha menenangkannya dengan memberikan sebotol susu. Beberapa saat kemudian tangis Alya pun mereda dan ia pun tertidur di pangkuanku.


"Ko bisa jatuh sih Alya nya?" tanya Sarah, aku tak menjawab hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti.


"Halah palingan gara-gara kamu ngelamun terus" jawabnya gemas melihat reaksiku "Gimana keadaanmu sekarang? Udah baikan?"


"Alhamdulillah" ku jawab pendek saja.


"Trus Arga? Udah waras?" Sarah terus saja menanyaiku.


"Makin parah"


"Maksudnya?"


"Bentar ya aku nidurin Alya dulu" ucapku sambil berlalu ke kamar Alya, meninggalkan Sarah duduk sendiri di beranda, sekembalinya aku menceritakan semua kejadian semalam. Saat Bu Lina dan Lily datang Sarah mendengarkan dengan antusias.


"Gila bener tuh emaknya Lily ya, minta suami orang buat anaknya, Ya Allah wanita macam apa dia?" seru Sarah sambil geleng-geleng kepala.


"Aku ngerti Sar Bu Lina tak punya pilihan lain walaupun tindakannya tak bisa dibenarkan" ucapku datar.


"Bisa mengerti dari hongkong? nggak lah kalau aku gak bisa ngerti" sahut Sarah kesal "Trus tanggapan kamu?" lanjut Sarah masih mencecarku.


"Ya aku bingung Sar kamu tau kan prinsip aku ga mau dimadu, tapi kalau harus bercerai bagaimana anak-anak? Bagaimana dengan ibu dan mama? Pasti mereka kecewa padaku ini cukup rumit buatku, ada banyak hati yang harus ku jaga"


"Hmmmm rumit juga ya trus tanggapan Arga gimana?"


"Mas Arga ga mau ceraikan aku Sar, tapi dia juga ga mau ninggalin Lily"

__ADS_1


"Hadeh laki-laki emang mau enaknya aja ya"


"Apa aku ijinin Mas Arga buat nikahin Lily ya" gumamku lirih, merasa putus asa.


"Apa??? Ga salah denger?? Kamu sakit?" seru Sarah sambil meraba keningku.


"Aku harus gimana Sar?" ucapku tak terasa sebulir air mataku meluncur bebas di pipi.


"Sulit ya Tih, aku paham posisi kamu. Tapi dalam posisi ini aku ga bisa kasih kamu pendapat karena ini sudah menjadi bagian privasi kamu. Bukan ranah aku lagi, baik menurut aku belum tentu baik menurut kamu. Sholat istikharah aja minta Allah pilihkan jalan yang terbaik" ucap sarah sambil memegang tanganku, aku hanya menghela napas pelan.


"Kamu yang sabar ya Tih, semoga ada jalan keluar yang baik" ucap Sarah dengan tatapan iba.


Obrolan kami terhenti karena ada suara mobil terhenti di depan pagar rumahku.


"Siapa?" tanya Sarah.


"Albi, orang yang nabrak aku waktu itu" ucapku setelah Albi keluar dari mobil, Sarah ber-oh pelan.


"Waalaikumsalam" jawab kami serempak.


"Apa kabar Mbak? Gimana udah sehat?" tanya Albi ramah.


"Alhamdulillah, ko bisa tahu rumah saya?"


"Oh, waktu saya mengurus administrasi kepulangan Mbak, saya lihat alamatnya. Trus tadi cari-cari pas liat mbak di jalan. Ketemu deh, tapi ko sepi kemana orang-orang Mbak?"


"Mas Arga belum pulang, anak saya yang gede lagi ke madrasah kalau yang kecil lagi tidur" jelasku pada Albi.


Sarah menyikut pelan lenganku.


"Kenalin dong masa dari tadi di cuekin" bisiknya kesal, aku nyengir.


"Oiya lupa, kenalin ini Sarah sahabatku"

__ADS_1


"Albi" ucap Albi sambil mengulurkan tangannya ke arah Sarah.


"Kayaknya kenal deh, tapi dimana ya?" ucap Sarah sambil nerawang.


"Oya, dimana Mbak?" tanya Albi penasaran.


"Di TV" ucap Sarah dan Albi mengernuitkan dahi "Habis mirip Lee Min Hoo sih" lanjutnya sambil nyengir, sontak aku dan albi tertawa.


"Oiya aku sampe lupa, aku bawa salad buah di mobil, bentar aku ambil"


Albi berlalu menuju mobilnya.


Sarah segera mengambil alih kresek yang berisi 6 cup salad buah dari tangan Albi, ia segera membuka satu setelah meminta ijinku dan mencicipinya.


"Kok rasanya gini ya" ucap Sarah dengan nada tengil.


"Kenapa mbak? Ga enak ya?" ucap Albi gelagapan melihat reaksi Sarah ketika mencicipi salad buah yang dia bawa.


"Rasanya lain" lanjut Sarah menegaskan.


"Lain gimana Sar" tanyaku sambil mencicipi salad buah itu.


"Lain kalau di bawain orang ganteng" ucap Sarah sambil terkekeh, yang membuat aku dan Albi tergelak kembali melihat tingkahnya.


Kami bertiga bercengkrama dengan akrab. Albi orang yang supel, dia bisa cepat akrab dengan orang yang baru ia kenal. Kehadiran Sarah dan Albi membuat soreku lebih ceria, melupakan sejenak masalah yang sedang aku hadapi. Kali ini Albi banyak bercerita tentang siswa badungnya, yang selalu di tanggapi tengil oleh Sarah. Aku hanya sesekali menimpali sambil menikmati salad buah yang di bawa Albi.


Mobil Mas Arga memasuki halaman diikuti oleh motor vario putih yang di kendarai seorang wanita. Setelah wanita itu melepaskan helm yang ia kenakan aku baru tahu itu adalah Lily.


"Siapa dia?" tanya Sarah setengah berbisik.


"Lily" bisiku pada Sarah.


"Huh" dengus Sarah kesal, aku menghela napas tipis. Sarah menyikutku mengarahlan ke arah Albi yang memandang Lily tanpa kedip.

__ADS_1


__ADS_2