
Perempuan itu berjalan dengan mantap kearahku, dia terlihat anggun mengenakan setelan blezer merah maron dan rok hitam yang menjuntai tak lupa jilbab yang bermotif bungan warna maron yang menjadikannnya senada dengan baju yang ia kenakan. Membuat wajahnya terlihat tambah manis, dengan matanya yang lentik terlihat bercahaya, bibir tipisnya yang tersenyum dan aku paling suka dengan alis ulat bulunya itu.
Dia mengulurkan tangan dan aku menyambutnya bagaimana pun sekarang ini dia adalah tamuku yang harus aku hormati.
"Bagaimana keadaanmu, Mbak? Aku turut bahagia saat Mas Arga memberitahuku kalau kamu sudah sadar Mbak" ucapnya basa basi.
"Seperti yang kau lihat, aku masih di kasih kesempatan untuk bersama suami dan anak-anaku" ucapku penuh kemenangan. Mas Arga diam saja duduk di sofa dengan tegang.
"Ya.. Alhamdulillah banget ya" dia duduk di kursi dekat dengan tempat tidurku tidak ada rasa canggung sedikit pun.
"Iya berkat doamu aku tidak mati"
Ucapku dibuat seramah mungkin.
"Mbak jangan ngomong gitu ah" ucapnya sambil membenahi jilbabnya.
"Kenapa bukannya kamu ingin aku mati agar jalanmu bisa mulus" ucapku sinis.
"Maksud Mbak" ucapnya sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Supaya jalanmu untuk menikah dengan suamiku menjadi lebih mudah" matanya terbelalak mendengar ucapanku raut wajahnya berubah menjadi sedikit kesal.
"Rupanya kedatanganku disini tidak tepat, aku permisi dulu" ucapnya sambil beranjak ke arah pintu.
"Tunggu dulu" ucapku. Dengan nada memerintah , ia menghentikan langkahnya. "Bisakah aku minta tolong padamu?"
"Apa?" tanyanya padaku tanpa memalingkan wajahnya kepadaku namun terlihat dari sudut matanya ia cukup terganggu oleh kata-kataku.
"Tolong jauhi suamiku, pergi jauh-jauh dari kehidupan kami, kau bisa minta apapun. Apapun itu asal jangan suamiku" ucapku tegas.
"Ratih apa-apaan kau ini" ucap Mas Arga mendesis.
"Kau tak usah ikut campur mas, ini urusan wanita antara aku dan dia" Mas Arga tercekat mendengar kata-kataku dia diam mematung di dekat sofa. Aku berusaha menahan emosiku. Bagaimana pun ini waktu yang tepat untuk membuatnya pergi.
"Mbak, aku tau Mbak pasti benci sama aku pasti Mbak marah. Tapi hari ini aku benar-benar datang kemari untuk mengetahui keadaan Mbak aku merasa salah atas ini semuanya"
"Akting yang bagus" ucapku sinis.
"Mbak beruntung ada di posisi yang selalu di anggap benar yang selalu di anggap sebagai korban keadaan ini. Mbak tau rasanya jadi yang kedua? Ngga kan" tampaknya dia bukan orang yang mudah mengaku kalah.
__ADS_1
"Seluruh dunia menyalahkan aku, karena aku datang disaat kalian sudah berada di sebuah ikatan pernikahan. Yang bahkan aku sendiri tak ingin ada di posisiku saat ini, apa Mbak tau rasanya di tuduh melakukan sesuatu yang bahkan kita tak pernah lakukan. Mbak tau rasanya?" ucapnya berapi-api, aku diam saja menyimak kata demi kata yang keluar dari bibir tipis itu.
"Aku juga tidak pernah berfikiran untuk merusak kehidupan rumah tangga orang, karena... Karena..." dia ragu meneruskan kalimatnya.
"Karena" aku menirukan kata terakhirnya yang menjadi kata perintah agar ia menuntaskan kalimatnya.
"Karena aku tau rasanya memiliki orang tua yang tidak lengkap, ayahku hanya datang satu bulan sekali itu pun hanya tiga hari dan aku tidak ingin anak-anak mengalami hal serupa. Apalagi aku penyebabnya" kali ini ia berucap dengan nada lirih dan sendu.
"Lalu kau pikir aku akan bersimpati dan percaya semua kata-katamu?" ucapku sinis.
"Aku tidak meminta Mbak untuk itu, aku hanya ingin Mbak tahu. Percaya atau tidaknya itu hak Mbak"
"Lalu bagaimana jika kau di posisiku, apa kau tau rasanya jika suamimu meminta ijin untuk menikah lagi? Bagaimana perasaanmu ketika suamimu berkata ia lebih mencintai wanita lain dari pada kau, istrinya"
"Sekarang mbak tau kan rasa sakitnya, maka dari itu jaga baik-baik Mas Argaku. Berapapun dia mencintaiku kami tak akan bisa bersama karena aku memiliki hatinya tapi tak dengan takdir tuhan untuk bersama" dia berkata dengan lirih di barengi dengan air mata yag bercucuran.
Hening.
Aku membisu menelaah kata-kata Lily, sedangkan ia masih tetap berdiri mematung dengan tatapan yang kosong.
__ADS_1
"Lily sebaiknya kamu pulang"
Akhirnya Mas Arga membuka suara, memecah kebisuan di antara kita bertiga. Lily menghapus air mata di pipinya yang mulus dan beranjak pergi meninggalkan aku dan Mas Arga.