ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 9


__ADS_3

Percakapan malam itu telah memberikan pukulan telak bagiku, walaupun Mas Arga tidak pernah berkata akan menceraikanku. Setidaknya aku sudah mengetahui keinginan dan isi hatinya. Ia ingin selalu ada di dekat wanitanya, mungkin sama seperti keinginanku waktu itu ingin selalu ada didekat Mas Arga. Aku mengerti, disaat hasrat cinta di dada begitu menggebu ingin bersama orang yang kita cintai, logika sudah tidak bisa berfungsi lagi, tapi apakah benar itu cinta?


Aku sadar ini adalah bagian karma yang harus aku terima, setelah sekian lama aku tidak perduli dengan apa yang di rasakan oleh Mas Arga. Mungkin ia tersiksa hidup bersama orang yang tak ia cintai, berpura-pura bahagia di hadapan orang lain dan bertanggung jawab atas diriku lahir dan batin, kini waktunya aku harus rela melepas statusku sebagai nyonya suryadinata untuk di gantikan noleh wanita itu. Dia yang namanya saja aku tak sanggup menyebutnya.


"Assalamualaikum.." suara Gledia membuyarkan lamunanku, dia baru pulang dari sekolahnya tanpa membuka sepatu ia langsung lari kebelakang.


"Waalaikumsalam.. Yaya buka dulu dong sepatunya cuci tangan dan kaki dulu" ucapku setengah berteriak. Tapi percuma, Yaya tidak menghiraukan ucapanku. Ia terus saja nyelonong ke arah dapur dan mengambil minuman dingin di kulkas lalu meneguknya dengan nikmat.


"Aku haus ma, panas banget" ucapnya sambil mengusap bibirnya yang basah dengan sebelah tangan, dia melepaskan tas sekolah di bahunya. Duduk di ruang tengah bersamaku dan membuka sepatu serta kedua kaos kaki putihnya itu, aku pura-pura menutup hidungku.


"Bau.. Sayang jangan di lepas di sini ah" dia nyengir lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Dia kembali kepadaku setelah berganti baju dan membawa boneka teddy bear kesukaannya itu.


"Adek mana ma?"


"Ikut tante ke rumah eyang"


"Oooooo..." bibirnya membulat membentuk huruf o.


"Mama Yaya bingung deh sama ayah bundanya Tania"


"Emangnya kenapa sama ayah bundanya Tania?"


"Kan tadi pas di sekolah Bu guru ngasih tugas buat menulis silsilah keluarga, nah trus satu persatu di suruh kedepan sama Bu guru trus pas Tania ke depan dia bilang punya dua ayah dan dua bunda ma"

__ADS_1


"Maksudnya gimana sih? Mamah ga ngerti deh" aku mengernyitkan dahi dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali tanda tak faham atas ucapannya.


"Jadi Tania bilang dia punya ayah lama dan ayah baru, trus punya bunda lama dan bunda baru trus ayah lama nya tinggal sama bunda baru nah bunda lamanya tinggal sama ayah baru, gitu ma"


"Trus ayah bunda Tania yang asli yang mana sih? "


Aku masih pura-pura tak mengerti padahal aku sudah mengerti apa yang sedang di bicarakannya.


"Ayah lama dan bunda lama dong" jawabnya tegas.


"Mama apakah nanti Gledia bakalan punya papa dan mama baru?" tanyanya dengan tatapan polos dari kelopak matanya yang bulat dan indah.


Pertanyaan Gledia terasa menghujam ulu hatiku, membuat udara siang yang panas terasa semakin panas. Sedangkan aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan yang Gledia tanyakan tadi apa, aku harus memutar otaku untuk mengalihkan perhatiannya sementara waktu. Sebelum aku menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.


"Mama mama ko malah diem?" aku tersadar dari lamunanku.


Mencari sesuatu yang sekiranya bisa membuat Yaya melupakan pertanyaannya.


"Terus...?"


"Mama pikir kayaknya mamah butuh yang seger-seger deh, gimana kalau kita makan puding mangga dulu"


"Oyaaa.... Mama punya puding mangga? Kenapa ga bilang dari tadi? Yaya mau Yaya mau ma" Yaya terlihat sangat senang mengetahui ada puding mangga kesukaannya.

__ADS_1


"Sebentar mama ambilin dulu ya" aku mencubit pipinya yang gemas.


Akhirnya aku bisa mengalihkan perhatian Yaya, bagaimana nanti aku bisa menjelaskan arti sebuah perceraian kepada anak-anakku. Saat papa dan mamanya harus berpisah. Ia harus memilih salah satu di antara kami, hatinya pasti terluka. Dan luka itu akan ia bawa seumur hidupnya.


Apalagi tentang papa dan mama baru yang baru saja ia tanyakan, bagaimana aku bisa menjelaskannya? Ini akan menjadi sesuatu yang rumit bagi anak usia tujuh tahun seperti Gledia.


Ya Allah berilah hamba kekuatan dan ketabahan menghadapi ini semua.


------------------------------------


Aku tersungkur di hadapan sajadah, tenggelam dalam do'a di sepertiga malamku. Mengadukan segala keluh kesahku kepada sang pencipta, badai pasti berlalu. Ada rencana tuhan yang indah untukku dan untuk keluargaku, karena aku yakin segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak akan terjadi tanpa seijin-Nya. Aku masih berharap agar keluargaku bisa diselamatkan, berharap ada mukjizat agar Mas Arga bisa mencintaiku, mungkin semuanya sudah terlambat.


Aku tidak tahu, sudah berapa lama ia memperhatikanku, aku khusyuk berdo'a sampai aku tidak menyadari kehadirannya di sampingku. Dia menatapku lembut, kurasakan dadaku berdesir. Dia menghapus air mataku dengan ibu jarinya, entah apa maksudnya, apa ia merasa iba padaku? Atau apakah ia merasa bersalah? Diraihnya kepalaku dalam peluknya. Erat dan hangat, kurasakan detak jantungnya dan aroma tubuhnya. Ini kali kedua Mas arga memelukku seperti ini, yang pertama karena ayahku meninggal mendadak karena serangan jantung dan yang kali ini aku tidak tau apa alasannya.


"Ratih maafkan aku" bisiknya lembut di telingaku.


"Aku juga minta maaf membuatmu terjebak di dalam pernikahan ini"


"Tidak Ratih, tidak. Semua ini terjadi karena takdir tuhan" kali ini ia memelukku semakin erat.


"Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa jadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anakmu" aku melepaskan pelukannya, dan kami bertatapan. Lama, kedua tangannya masih memegang lembut pipiku.


"Mas sebelum kita berce.." dia meletakan jari telunjuknya di bibirku bermaksud menghentikan ucapanku, tapi aku menepisnya dengan lembut.

__ADS_1


"Sebelum kita resmi bercerai aku ingin bertemu dulu dengan Lily" Mas Arga menggeleng tanda tak setuju.


"Aku mohon" pintaku setengah berbisik, Mas Arga tertunduk lesu. Aku segera beranjak dan meninggalkan dia, keputusanku sudah bulat. Jika ia memaksa ingin menikahi wanitanya, maka aku mengalah. Walaupun sebenarnya dalam hati ini tak ingin berpisah.


__ADS_2