
Hiiiiiii 😉
maaf yaaa baru post lagiiii hehehe..
selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak di like dan komentar yaaa😘
-------------
Mas Arga segera beranjak dari kursi dan menyambut tamu yang datang, sedangkan aku hanya diam saja suasana hatiku mendadak tidak enak.
Mas Arga mempersilahlan tamunya untuk masuk ke ruang tamu, aku masih saja berdiam di kursi taman menata hati dan emosi sebelum aku menemui tamu itu. Aku membaca istighfar, dan menarik napas dalam-dalam agar lebih tenang.
Setelah aku rasa cukup menguasai diri, segera ku temui tamu Mas Arga. Bersalaman dan berbasa-basi sebentar lalu aku menuju ke belakang membuat minuman dan mengambilkan suguhan. Ternyata wanita patuh baya itu adalah ibunya Lily Bu Lina.
"Kok repot-repot Nak. Ibu kesini ada perlu sama kamu dan Nak Arga" ucap Bu Lina sambil terbatuk-batuk ketika aku menyuguhkan teh dan kudapan. lily memegang tangan ibunya dan menggeleng mencegah ibunya berbicara namun Bu Lina menepis tangan Lily dengan lembut.
Aku menatap Bu Lina lamat-lamat. Kulitnya pucat, tatapannya sayu, matanya cekung dan tubuhnya sangat kurus, terlihat ringkih, dia juga sering batuk-batuk.
"Nak, sejak kecil Lily hanya hidup berdua dengan ibu, dan sekarang ibu sakit-sakitan" dia berhenti sejenak dan memberiku dua bulah amplop yang berukurang kecil dan besar hasil pemeriksaan rumah sakit.
__ADS_1
Amlop besar itu berisikan foto rontgen atas nama Bu Lina, aku tidak bisa menerjemahkan kelainan yang ada di foto tersebut. Aku beralih pada amplop yang lebih kecil, aku membaca disitu tertera pasien mengalami kanker paru-paru stadium lanjut. Aku menarik napas dalam-dalam meletakan kedua amplop itu di atas meja.
"Bu jangan Bu" pinta Lily dalam isaknga tetapi tetap Bu Lina hiraukan.
"Untuk itu nak ibu mohon kerendahan hatinya untuk mengijinkan Lily menjadi istri kedua Arga" bagai tersambar petir aku mendengar perkataan Bu Lina, kepalaku mendadak sakit.
"Ibu tahu ini sangat menyakitkan bagimu nak, tapi ibu tak punya pilihan lain, ibu yakin kamu bisa memahami posisi ibu karena kamu juga seorang ibu" bu Lina terbatuk lagi.
"Bu bagaimana jika posisinya terbalik, jika saya meminta suami anak ibu untuk menikahi saya, apa kira-kira ibu mengijinkannya? Saya juga punya seorang ibu, bagaimana perasaan ibu saya nanti? Bagaimana perasaan anak saya melihat ayahnya menikah lagi? Apa ibu memikirkan itu?" ujarku setengah emosi, aku naik pitam setelah mendengar permintaan Bu Lina yang tak masuk akal.
"Nak tolonglah, ibu mohon"
Bu Lina batuk-batuk lagi, kali ini batuknya cukup lama dan aku melihat ada percikan darah di sapu tangannya, sesaat kemudian Bu Lina pingsan.
Aku jadi panik takut terjadi apa apa pada Bu Lina, Lily histeris melihat ibunya tak berdaya, wajah Bu Lina semakin pucat Mas Arga segera membopong tubuh Bu Lina kedalam mobil.
"Ratih, aku ke rumah sakit dulu" ucap Mas Arga panik, aku hanya mengangguk tak tahu harus berkata apa.
--------------
__ADS_1
Kejadian tadi berlangsung begitu cepat. Permintaan Bu Lina membuatku berpikir tak karuan, disisi lain aku tak ingin membagi suamiku dengan orang lain tapi disisi lain ada permintaan seorang ibu yang hampir sekarat. Ya Allah, kenapa keadaanya menjadi seperti ini?
Aku terbelenggu antara prinsip dan rasa kemanusiaan ada ketakutan dalam diriku dimana suatu saat aku berada di posisi Bu Lina saat ini, anakku dua-dua nya juga perempuan.
Mungkin ini yang dinamakan roda kehidupan terus berputar, dulu Mas Arga terpaksa menikahiku karena tekanan dari ayahnya. Apakah sekarang aku harus rela berbagi suami bersama Lily karena permintaan ibunya?
Suara deru mobil Mas Arga menyadarkanku dari lamunan.
"Belum tidur?" tanyanya yang melihat aku masih duduk bersandar di dipan di kamarku, aku tak menjawab hanya memandang kosong ke arah jendela.
"Kau masih kepikiran permintaan Bu Lina?" aku tak menjawab hanya bernapas tipis.
"Sulit Mas, ini keadaan yang rumit bagiku"
"Aku tahu, kau tak ingin dimadu tapi aku tak akan menceraikanmu Ratih apapun alasannya" ucapnya datar.
"Lalu Lily?" tanyaku kesal.
Mas Arga meremas rambutnya dan mengusap wajahnya " Seandainya aku abisa membahagiakan semua orang tanpa harus ada yang tersakiti" gumam nya lirih.
__ADS_1
Pikiranku benar-benar kalut, apakah aku harus melanggar prinsipku untuk kebahagiaan Mas Arga dan orang lain? Atau kah aku tetap pada prinsipku, dan melanggar janjiku pada almarhum ayah mertuaku? Ya Allah kapan kah badai ini akan berlalu.