ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 11


__ADS_3

Aku merasa ada udara segar mengalir masuk melalui sebuah alat ke dalam rongga hidungku, aroma obat yang segar juga ikut masuk bersamaan dengan udara segar itu. Kepalaku pusing, aku berusaha membuka mataku. Kabur, mengerjapkan mata agar pandanganku bertambah jelas. Kulihat sekelilingku semuanya putih, aku mencoba untuk bangun. Aaaahhh,, rasanya leherku sakit bila bergerak sedikit saja, aku merasa pedih di siku sebelah kanan dan lututku dan kurasakan nyeri di tanganku yang ternyata akibat jarum infus.


Aku tak tau sudah seberapa lama aku di ruangan ini, aku mencoba mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan dan aku menemukan seseorang yang sedang tidur di kursi sebelah ranjangku bagian kiri dengan wajah yang tenggelam di kedua tangannya.


"Dimana aku?" aku bertanya pada diriku sendiri, dan dia pun terbangun. Mas Arga, suamiku.


"Ratih kamu sadar" ada pancaran gembira diguratan wajahnya yang letih, dia berlari ke arah telepon yang ada di dekat tempat tidurku. Menekan tombol dengan kasar karena terburu-buru, tak lama kemudian seorang pria ber jas putih dan berkalungkan stetoskop datang, diikuti seorang wanita muda berpakaian serba putih dan membawa peralatan. Entah apa itu di tangannya dengan cekatan dokter itu melakukan pemeriksaan terhadapku di bantu oleh wanita muda itu.


"Alhamdulillah ibu Ratih sudah melewati masa kritisnya" ucap pria itu ramah.


"Alhamdulillah" ucap Mas arga penuh rasa syukur.


"Baiklah ibu ratih jangan dulu banyak gerak ya,semoga lekas sembuh kalau begitu saya permisi dulu" ucap pria itu diikuti wanita muda tadi.


"Terima kasih dokter" ucap Mas arga seraya mengantarkan dokter itu sampai pintu rungan.


"Sayang akhirnya kamu sadar juga, terima kasih Ya Allah" ucap Mas Arga lembut, yang malah membuatku risih mendengarnya.

__ADS_1


"Aku keluar dulu ya, mau telepon" ucapnya padaku.


"Sejak kapan mau telepon izin dulu" batinku dalam hati, dari balik kaca aku melihat dia sibuk menelpon beberapa orang, sesaat kemudian ia masuk dan duduk di samping tempat tidurku.


"Sudah berapa lama aku disini" tanyaku.


"Kamu mengalami gegar otak karena benturan keras di kepalamu, beruntung waktu itu kamu memakai helm, dan tidak sadarkan diri sudah dua hari" ucapnya dengan tatapan mata yang sendu, tiba-tiba pikiranku tertuju pada anaku Gledia dan Alya, bagaimana nasib mereka saat aku tidak menyadarkan diri? Alya pasti mencariku, aku tidak pernah meninggalkan dia selama ini.


"Yaya Alya" ucapku terbata, namun Mas Arga sepertinya mengerti maksudku.


"Tenang saja mereka bersama ibu dan mama" ibu adalah panggilan untuk ibu Mas Arga, mertuaku dan mama panggilan untuk ibuku.


"Alhamdulillah kamu sudah siuman nak" ucapnya padaku sambil mencium pipiku.


"Gledia dan Alya" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku ibu sudah menghentikan ucapanku.


"Sudah jangan banyak bicara dulu, istirahat yang cukup biar kamu bisa cepat pulang ke rumah, mereka baik-baik aja sayang"

__ADS_1


Aku menuruti ucapan ibu untuk tidak banyak bicara, dalam diam ingatanku tertuju pada kejadian siang itu. Dan ahhh,,, adegan saat Mas Arga berjalan bersama dengan wanita itu, cara ia berbicara, cara ia melihat wanitanya semua tergambar di benakku.


Tiba-tiba ada rasa benci yang dahsyat menyeruak di dalam hatiku. Aku berpikir ini semua gara-gara Mas Arga aku jadi harus terbaring lemah di rumah sakit menjadi pesakitan. Anak-anaku jadi terlantar tidak terurus, seperti ada api yang membakar tubuhku. Dadaku terasa sesak mengingatnya, kepalaku jadi ousing dan aku menjadi muak melihat muka Mas Arga.


"Keluar!!!" aku teriak histeris.


"Ratih kamu kenapa nak?" ibu kaget mendengarku berteriak.


"Suruh dia pergi bu, aku benci aku tak mau melihatnya ada di sini" ucapku sambil menujuk Mas Arga.


"Ratih ada apa? Ratih..." ucap Mas Arga bukannya keluar ia malah menghampiriku dengan wajah yang terheran.


"Arga sudah cepat! Panggil dokter" ucap ibu pada Mas Arga.


Pria ber jas itu datang menghampiri ku, kemudian ia menyuntikkan sesuati cairan padaku.


"Ibu Ratih baru saja siuman tolong di jaga agar emosinya terkontrol, saya pamit jika ada susatu bisa hubungi saya lagi ya pak bu" ucapnya dan berlalu meninggalkan ruangan .

__ADS_1


Sesaat kemudian aku merasa tak bertenaga, aku merasakan kantuk yang sangat, kemudian setelah itu aku tak ingat apapun.


__ADS_2