ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 16


__ADS_3

Pagi ini aku sangat bahagia, karena bisa pulang ke rumah, jenuh rasanya setelah satu minggu lebih berada di ruangan ini. Ingin rasanya cepat sampai di rumah dan bertemu Gledia sama Alya.


Seorang dokter dan perawat masuk keruanganku untuk melakukan pemeriksaan terakhir, setelah melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan dokter dan perawat itu berlalu pergi. Beberapa saat kemudian perawat itu kembali seraya membawa sekantong kresek obat, dia menjelaskan bagaimana aturan aku memakan obat itu lalu ia membuka jarum infus di tanganku.


"Bapak bisa mengurus administrasi kepulangan Ibu sekarang" ucap perawat itu kepada Mas Arga. Mas Arga mengangguk tanda mengerti. Perawat itu berlalu, Mas arga memintaku untuk menunggunya sebentar. Belum sempat Mas Arga keluar Albi muncul dari balik pintu.


"Aku udah urus semua" ucap Albi sumringah.


"Apa?" Mas Arga mendesis.


"Terima kasih, sudah merepotkan" ucapku basa basi.


"Tidak apa-apa Mbak ini sudah tanggung jawab saya , sebagai bentuk permintaan maaf saya, sekali lagi saya mohon maaf ya Mbak" ucap Albi dengan tulus.


"Ish" lagi-lagi Mas Arga tidak menjawab, hanya mendesis pelan.


"Maaf saya gak bisa lama-lama masih ada tugas mengajar"


"Oiya silahkan kalau mau pergi" ucap Mas Arga ketus, Albi pun mengerutkan dahi mungkin merasa terusir.


"Kan kasian muridnya kalau harus nunggu" lanjut Mas Arga menetralisir keadaan.


"Mbak boleh saya minta nomor hp nya?" ucap Albi seraya mengeluarkan hp dari saku celananya.


"Ini nomor hp saya aja, Ratih jarang-jarang pegang hp" sela Mas Arga sebelum aku sempat memberikan nomor handphoneku pada Albi.


albi pamit setelah mendapatkan nomor handphonenya Mas Arga, aku dan Mas Arga segera meninggalkan rumah sakit, tak sabar rasanya ingin segera sampai di rumah dan bertemu anak anak.


---------------


Satu minggu berlalu, keadaanku semakin membaik dan keluargaku normal seperti sedia kala. Aku merenungi kejadian yang aku alami beberapa bulan terakhir, ah betapa banyak sekali yang telah aku lalui mulai dari kehadiran Lily, kecelakaan, dan kecemburuan Mas Arga pada Albi yang tidak beralasan.


"Ratih ayo masuk, angin malam tidak bagus untuk kesehatanmu" suara Mas Arga dari arah pintu mengejutkanku.

__ADS_1


"Mas sekarang jadi perhatian ya gak seperti dulu, dulu Mas dingin, cuek padaku" tanpa menoleh ke arahnya.


"Kau suka? Bukan kah itu yang kau harapkan" ucapnya mencibir, sambil duduk di kursi taman yang bersebrangan denganku.


"Tentu, hanya saja..." ucapku menggantungkan kalimat yang aku bicarakan.


"Hanya apa?"


"Rasanya hambar" Mas Arga menghela napas tipis.


"Karena ada Albi?"


"Gak usah bawa-bawa Albi"


"Kenapa?" tanyanya sinis.


"Kau kira aku bodoh, untung aku cukup pintar, kuberi daja nomor hpku" kilahnya.


"Biasanya dari SMS an trus teleponan trus ketemuan keterusan deh"


"Jadi cerita antara kamu dan Lele ops salah maksudku Lily seperti itu ya"


"Aku dan kamu beda"


"Jelaslah"


"Laki-laki bisa menikah lebih dari satu kali, dan aku tau kamu faham itu" ketus Mas Arga.


"Tahu" jawabku pendek.


"Tapi kau tak mengijinkan"


"Siapa bilang?"

__ADS_1


"Menikah seribu kali kalau perlu, tapi ceraikan aku dulu" ucapku dengan menatap tajam matanya.


"Apakah keputusanmu tidak berubah?"


"Tergantung"


"Tergantung apa?"


"Tergantung situasi dan kondisi"


"Misalnya"


"Aku yang mencarikan istri untukmu"


"Sungguh?"


"Ya asal sesuai kriteriaku" ucapku datar karena aku tidak bersungguh-sungguh atas ucapanku.


"Contohnya" Mas Arga membenahi posisi duduknya.


"Cantik, baik, penyayang, dan disukai anak-anak cocok untuku"


"Lily" Ah.. Dia mengajukan nama itu lagi.


"Cantik iya, pintar iya tapi belum tentu cocok sama anak-anak"kilahku.


"Alasan" ujarnya kesal, aku terkekeh.


"Wanita yang mengerti agama tak akan melarang suaminya untuk menikah lagi" ujarnya sengit.


"Laki-laki yang faham agama akan menundukan pandangannya dari wanita yang bukan mahromnya" ujarku tak kalah sengit.


Suara derit pintu pagar menghentikan perdebatanku dengan Mas arga, wanita setengah baya seumuran ibuku memasuki halaman. Diikuti seseorang yang aku kenal, dia adalah Lily.

__ADS_1


Ya Allah mau apa wanita itu kemari, dan siapa wanita paruh baya itu?


__ADS_2