ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 25


__ADS_3

Hiiii 😁


Maafkanlah saya baru up hari ini. dikarenakan beberapa hari ini saya sibuk merevisi cerita saya sendiri, ada yang mau bantu revisi? hahahaha mana ada yaaaaa😂


lelah sayaaaaa loh ini 😩 tapi demi kalian semua saya usahakan up terus ko.


kasih saya like, koment, dan vote nya doooong biar saya tambah semangat up nyaaa🤩


saya percaya kalian ga pelitko wkwkwk.


yang kangen Ratih tenang Ratih untuk saat ini saya tempatkan di kelas bahagia dulu😚


Selamat membacaa 💋💋💋💋💋


--------------------------


Kini aku sedang mengendarai motorku menuju perusahaan dimana aku akan bekerja, tadi pagi disaat sarapan aku juga sudah meminta tolong kepada Sarah agar mencarikan orang untuk mengurus semua barang-barangku di pindahkan ke rumah yang baru aku beli kemarin. Setelah aku mengantar Yaya ke madrasah tadi aku bertemu seseorang yang mengatakan bahwa sidang perceraianku akan di lakukan satu minggu kemudian, ah rasanya ingin sekali cepat selesai semua permasalahan ini.


Berbicara perihal hak asuh anak tentu saja aku telah percayakan kepada pengacaraku, dan sudah di pastikan akan jatuh di tanganku karena Mas Arga lah yang melakukan perselingkuhan terhadapku.


Setelah beberapa saat menerobos jalan raya kini aku berada di lobi perusahaan ku.


"Ratih hey" seseorang memanggilku dari kejauhan.


"Ah kamu Ana" ucapku, ternyata Diana yang memanggilku tadi.


"Ada apa?"


"Kamu udah selesai baca file kan? nanti jam sepuluh ada rapat saa bos" ucap Diana.


"Udah ko semalam aku baca sampai habis"

__ADS_1


"Syukurlah, yaudah yu kita masuk, semangat yaaaa" ucap Diana genit.


"Hahaha dasar kamu dari dulu ga pernah berubah" jawabku dengan tertawa renyah.


Begitu lah obrolanku di pagi hari ini, aku dan Diana pun menuju lift khusus karyawan. Ruangan Diana berada di lantai sebelas sedangkan lantaiku tentu saja di lantai teratas yaitu lantai empat puluh.


Begitu aku sampai aku lansung menyiapkan file yang akan di rapatkan pagi ini, disaat aku menyiapkan file Rafka datang.


"Selamat pagi Pak" ucapku seraya membungkukan badan memberi salam dan tak lupa juga tersenyum.


"Pagi" ucapnya dengan muka datar dan dingin.


Rafka pun langsung masuk kedalam ruangan CEO itu, ya aku belum menjelaskan jabatan Rafka kan bayangkan saja di umurnya yang masi cukup terbilang muda hanya berbeda dua tahun bersamaku dia telah menjadi seorang CEO dengan mukanya yang tampan dia bisa mendapatkan perempuan mana saja yang ia mau tetapi sayang nya dia cukup gigih untuk mempertahankan sikap dingin nya itu, kalian bertanya aku tau darimana kan tentu saja gosip-gosip dari karyawan lain.


Setelah aku selesai membereskan yang ada dimeja ku, aku akan membuatkan kopi untuk Rafka. Diana yang memberitahuku bahwa salah satu pekerjaanku di pagi hari adalah menyiapkan kopi untuk Rafka.


Aku pun mengetuk pintu sebelum aku masuk kedalam ruangannya.


"Pgai pak maaf ini kopinya" ucapku seraya masuk kedalam.


"Sudah Pak"


"Baiklah kamu boleh keluar"


"Baik pak saya permisi" ucapku seraya membuka pintu ruangan tersebut.


Aku pun bergegas keluar dari ruangan Rafka, aku berpikir kayaknya dia bukanlah teman masa kecilku Rafkaku dulu itu sangat hangat periang tidak mungkin dengan sikapnya yang seperti itu dia akan berubah menjadi pria dingin seperti Rafka atasanku ini mungkin aku yang terlalu berlebihan. ah Rafka dimana kamu aku rindu sungguh rindu.


Tak terasa jam menunjukan waktu untuk rapat, aku pun mengetuk pintu ruangan Rafka untuk mengingatkan dia akan rapat ini siapa tau dia lupa. Setelah aku mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban aku pun memberanikan diri memasuki ruangan itu.


"Pak Rafka sekarang waktunya kita untuk keruangan ra..." ucapanku terhenti disaat aku melihat tubuh Rafka tersungkur di lantai, aku panik dan memanggil asisten pribadinya.

__ADS_1


"Pak Naufal tolong saya Bapak Rafka pingsan" ucapku seraya membantu membopong tubuh besarnya Rafka.


"Ratih jangan pernah tinggalin aku Ratih ... Ratih" ucap Rafka setengah sadar dengan sesekali menggenggam kuat tanganku.


"Pak Rafka tahan sebentar ya" ucapku panik.


Tak lama kemudian Naufal asisten pribadinya Rafka datang.


"Pak ini pak Rafka kenapa? dia ga apa'apa kan?" tanyaku panik, aku sendiri pun tidak mengerti kenapa aku sepanik ini, yang aku tahu aku akan panik jika orang yang dekat denganku mengalami hal yang kurang baik.


"Tidak apa-apa Ratih Rafka emang selalu seperti ini ketika ia mengingat teman masa kecilnya dia akan demam dan tidak menyadarkan diri beberapa jam saja dengan istirahat dia akan sembuh, percaya padaku aku sudah kenal dia lama. lebih baik kamu urus dulu soal penundaan rapat bilang aja rapat akan di lakukan besok saat ini Rafka sedang ada urusan pribadi"ucap Naufal panjang lebar.


Aku pun bergegas memberi tahu bagian perancangan untuk menunda rapat dilakukan besok. Ah aku tau kalian pasti bertanya-tanya tentang Naufal kan ya Naufal itu asisten pribadinya Rafka gosip bilang mereka teman dekat sangat dekat Naufal tak jauh berbeda seperti Rafka tampan tinggi dengan badan tegapnya hanya saja yang membedakan mereka sifat Naufal lebih hangat tak sedingin Rafka.


Aku pun kembali ke ruangan Rafka untuk melihat siapa tau dia butuh bantuanku atau ada hal lain, disaat aku hendak mengetuk pintu ruangan Rafka aku mendengar samar-samar Naufal sedang berbicara kepada Rafka.


"Raf kamu yakin dia adalah orang yang kamu cari?"


"Fal aku sudah lama tidak beresaksi seperti ini ketika mengingat Ratih terakhir kali aku seperti ini ketika kita di LA tahun lalu"


"Iya juga aku melihat kemiripan di antara Ratih sekretarismu itu dengan Ratih yang ada di figuramu itu"


"Tapi aku merasa dia melupakan semuanya, di tidak mengingatku, aku merasa ragu soal ini, coba kamu cari tau semua tentang masa lalu Ratih aku takut dia sedang berada di dalam masalah"


"Ok aku akan carikan untukmu bosku"


Rafka mencurigaiku sebagai teman masa kecilnya? tapi aku tak mengingatnya. yang aku ingat Rafka adalah seorang periang.


Aku pun mengurungkan niat untuk memasuki ruangan Rafka itu. dan emlanjytkan pekerjaanku yang belum sempat aku bereskan.


------------------

__ADS_1


Setelah melakukan makan siang tadi bersama Diana aku banyak bercerita kepadanya begitu pun dia ah rasanya rindu masa kuliahku dulu sebelum aku mengenal Mas Arga dan tentunya sebelum aku merasakan sakit seperti ini. Tak terasa kini waktunya aku pulang ke rumah pasti Sarah sudah membawa anak-anak kerumah baru.


Mama datang malaikat kecilku. Ah terima kasih Ya Allah atas nikmat yang Engkau beri padaku.


__ADS_2