
Mas Arga datang bersama Gledia dan Alya, dia langsung mencari letak keberadaan handphone nya itu.
"Ada telpon?" tanyanya padaku.
"He,em" ku jawab sependek mungkin karna jika aku menjawab dengan jawaban panjang bisa-bisa aku tidak akan terkendali menggerutu nya, aku berusaha sabar dan terus melafalkan istighfar agar tidak terjadi percecokan didepan anak-anak.
"Siapa?"
"Lily" Mas Arga dengan cepat mengernyitkan dahi, mungkin merasa aneh dan heran? melihat reaksiku yang biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa, tidak seperti biasanya.
"Ngomong apa kamu sama dia?"
"Ga bicara apa apa ko"
"Masa?"
"Kalau ga percaya tanya aja sama orangnya" jawabku pura-pura acuh, padahal darahku sudah mendidih sampai ke ubun-ubun rasanya. Astaghfirullah, aku segera pergi menjauh darinya takut diri ini tak bisa menahan segala emosi yang sudah bergemuruh didada, dan saat aku lihat Mas Arga sudah berkutat kembali dengan handphonenya itu.
Aku segera menelpon Sarah tidak kuat rasanya menahan sakit dan sesak di dada melihat suamiku sendiri lebih peduli dengan orang lain dibandingkan aku sebagai istrinya.
"Assalamualaikum Rat"
"Waalaikum salam, Sarah tadi..." aku menggantung ucapanku celingak-celinguk kanan kiri melihat keadaan takutnya ada orang lain yang mendengar ceritaku kepada Sarah.
"Iya tadi kenapa?" tanya Sarah penasaran.
"Wanita itu menelpon ke handphonenya Mas Arga, lalu ku angkat"
"Lalu?"
"Sesuai saran kamu Sar, aku bersikap biasa aja tapi Sar aku ga kuat menahan rasa sakitnya"
"Aku tau Rat, tapi ini cobaan buat kamu ujian hidup kamu, dan hanya orang yang akan naik kelas yang akan di uji, jadi kamu sabar ya, percaya deh jangan putus asa."
"Anggap saja suamimu sedang sakit. Dan kau adalah dokternya sekaligus obat buat dia, kamu harus sabar merawatnya dan jika dia sembuh nanti dia akan sdar jika kamu yang terbaik baginya, kamu harus lebih agresif, lebih manja, dan lebih perhatian"
__ADS_1
"Caranya?"
"Ya ampun, pake nanya lagi. Kalau dia pergi agak lama telepon dan SMS dia tanya lagi dimana? Tanyain dia, deket-deket sama dia, manja-manja gitu, tanyain dia mau makan apa besok? Hari ini acaranya kemana aja? Siapin kesukaan dia, ya pokonya gitu-gitu deh" seperti biasa Sarah memberiku saran panjang lebar.
" Tapi Sar..." sebelum aku menyelesaikan ucapanku Sarah sudah memotong dan nyerocos lagi.
"Masih kesel sama dia? Kesel? Gengsi? Coba deh bayangin lebih malu mana kamu jadi janda atau deket-deket, manja-manja sama dia, kamu kan istrinya. Apa susahnya coba udah halal dapat pahala pula dan bonusnya kamu mendapatkan cinta dari suamimu" kupikir ada benarnya juga ucapan Sarah apa salahnya aku manja-manja sama Mas Arga toh dia suamiku.
"Mesti gitu ya?"
" Harus karna biasanya ya, laki-laki itu suka dengan perempuan yang manja karena dia merasa di butuhkan oleh pasangannya, terus mereka senang di perhatikan, manusia mana si yang ga suka di kasi perhatian. Coba deh dikasih perhatian yang ekstra, eh udah dulu ya nanti lanjut lagi ada tamu kayaknya wassalamualaikum" Sarah menutup teleponnya.
---------------------------------------------
Selama beberapa hari ini aku bersikap biasa saja seperti saran dari Sarah, menyiapkan kesukaannya, bermanja-manja walaupun awalnya agak canggung karena aku bukan orang yang suka manja, menghampirinya ketika dia sedang sendiri dan menceritakan hal-hal kecil yang terjadi di rumah terutama perkembangan Alya. Awalnya dia acuh tak acuh pada ceritaku tapi makin kesini dia pun merespon ceritaku, setiap dia pulang dari kantor dia selalu duduk di teras atau depan televisi bersamaku sekedar untuk ngobrol walaupun hanya sebentar. Tetapi menurutku ini perkembangan yang luar biasa, kebiasaannya bersama Lily? Masih sama.
Alya terbangun tengah malam memang akhir-akhir ini ia agak rewel, mungkin efek dari jatuh bangun saat belajar berdiri. Badannya agak demam jadi dia tidak mau ditidurkan di kasur, dan dia tidak mau tidur jika tidak dalam gendongan, sudah selarut ini Mas Arga belum juga pulang aku akan coba kirimi dia sms.
'Mas dimana? Ko selarut ini belum pulang?'
"Hmmmm.... Mas dari tadi Alya rewel Mas ga ada, aku capek gendongin Alya nya" aku sengaja melebih lebihkan keluhanku agar dia sadar bahwa aku juga memerlukan kehadirannya bukan hanya wanita itu.
"Kenapa baru SMS barusan?" tanya nya seolah menyalahkan ku
"Harus di SMS dulu ya baru mau pulang?"
"Yaudah sini aku gantiin gendong Alyanya biar kamu bisa istirahat sebentar"
Mas Arga selalu berhasil menenangkan anak-anaku saat mereka tantrum atau rewel. Makanya aku merasa kebingungan saat tidak ada Mas Arga ketika anak-anak rewel, setelah Alya tertidur pulas Mas arga tidak langsung tidur, padahal ini sudah larut tetapi ia malah melanjutkan urusan dengan handphonenya itu.
" Apakah perempuan itu tidak ada kerjaan? Padahal ini sudah malam, apakah ia tidak akan bekerja esok hari?" ucapku dalam hati.
"Ehm... Capek" ucapku sambil menidurkan kepalaku di pangkuannya, ia cukup terkejut. Mungkin ia cukup canggung karna tak sering melakukan nya bahkan tak pernah, aku pun langsung mengangkat kepalaku dan menyandarkan di pundaknya, ia pun menghentikan aktivitas pada hpnya.
"Ehmm.. Mas apa aku boleh tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Apa?" tanyanya dan aku langsung mengangkat kepalaku untuk memandang lekat wajahnya.
"Seberapa besar rasa cintamu kepada Lily?" dia terdiam, mungkin tak menyangka arah pembicaraan yang ku mulai tertuju pada perempuan itu, dia menghela nafas dalam-dalam.
"Aku tak tau perasaan apa ini? Aku tak pernah merasakan sebelumnya, serindu ini segila ini, aku sadari semua ini Ratih, aku tau ini menyakitimu. Aku ingin selalu ada di dekatnya aku ingin melindunginya, maafkan aku Ratih" Mas Arga mengusap wajahnya.
"Sejauh apa hubunganmu dengannya Mas?" tanya ku tak berhenti memandangi mukanya.
"Demi Allah aku tidak pernah menyentuhnya"
"Apakah sumpahmu bisa aku percaya?"
"Itu tergantung padamu Ratih"
"Kalau aku minta kamu pilih, kamu pilih siapa? Aku atau dia?" pertanyaan itu muncul dengan sendirinya entah kekuatan dari mana aku berani bertanya seperti itu yang menjadikan keluargaku taruhan untuk hidup dan mati, ia pun menggeleng lemah.
"Aku ga bisa, aku ga bisa pilih antara kalian berdua" ucapnya lemah.
"Harus, aku atau dia?" tanyaku nada setengah mengancam.
"Dia hatiku dan kau ibu dari anak-anaku, hidupku tak akan lengkap jika tidak ada salah satu diantara kalian, Lily adalah gairah hidupku dan anak-anak adalah semangatku"
"Egois" nampaknya aku terbawa keadaan, aku melupakan nasihat Sarah.
"Aku atau dia?" tanyaku ulang dengan nada yang lebih tinggi.
"Ijinkan aku menikahinya"
Ucapan terakhirnya membuat dunia kehidupanku runtuh seketika hancur tak tertahankan, suamiku meminta ijin untuk menikah lagi. Air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya membanjiri pipiku tak hanya hati yang bergemuruh kelopak mataku terasa panas hatiku terasa amat sangat sakit mendengarnya.
Aku tidak tau harus memberi jawaban apa, hatiku terlanjur sakit teramat sakit, aku mungkin bisa berbagi apapun dengan orang lain apapun itu. Tapi jika berbagi suami, membayangkannya saja aku tak sanggup mungkin berpisah adalah jalan yang terbaik untukku, tapi anak-anak? Apakah aku bisa sejahat itu memisahkan mereka dari ayah kandungnya? Tapi jika aku bertahan aku tak sanggup melihat suamiku berbagi kasih dengan wanita lain.
"Menikahlah dengannya jika itu pilihanmu yang bisa membuatmu bahagia, aku ikhlas tapi kembalikan dulu aku kepada orang tuaku" Mas Arga terhenyak kemudian ia menggeleng lemah entah apa maksudnya, ia menghela nafas dan membuangnya dengan gusar akhirnya ia meninggalkanku sendiri di ruang tengah dan terisak seorang diri.
Ya Allah jika memang ini rencananu kuatkan aku.
__ADS_1