
Setelah kepergian Lily aku dan Mas Arga saling membisu untuk beberapa saat, cukup lama. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, dia menatap kosong ke arah pintu mungkin dia sedang berpikir keadaan wanita itu namun enggan untuk meninggalkan aku sendiri disini namun aku berusaha tetap tenang setenang mungkin agar aku tak tersulut emosi karena ada pesan ibu yang masih mengingatkanku.
flash back on
Malam itu.
Ada suara motor berhenti di depan rumah. Aku tak segera keluar, aku takut karena ini sudah lewat jam sembilan malam. Aku mengintip dari balik tirai jendela, dua orang perempuan. Ternyata itu ibu dan satunya lagi salah satu pegawai perempuan toko yang selalu mengantarkan ibu, aku pun segera membuka pintu.
"Ibu kok malam banget?" tanyaku sambil mencium tangannya takzim.
"Mana Arga?"
"Em anu itu bu Mas Arga lembur" ucapku sedikit gugup, aku mempersilahkan ibu dan mbak karyawan itu masuk. Ibu langsung menuju ke ruang tengah, sedangkan mbak karyawan itu duduk di ruang tamu.
Di ruang tengah aku duduk di kursi yang bersebrangan dengan ibu. Tatapan ibu yang teduh, membuatku merasa bersalah telah membohonginya.
"Nak ibu tanya sekali lagi jawab jujur, Arga kemana?"
"Lembur bu"
"Jujur?" perkataan ibu seperti menikam ulu hatiku, aku tak kuasa membendung air mataku.
"Nak ada apa sebenarnya antara kamu dan Arga? Mengapa setiap malam ia ada di toko? Kalau ibu yang tanya dia hanya bilang sibuk, makanya ibu tanya kamu ada apa nak?" tanyanya lembut.
"Ibu Mas Arga punya wanita lain dan dia bilang ingin menikahinya" aku pun terisak, kurasakan sesak di dada mengatakan semua ini, mungkin ini saatnya untuk ibu mengetahui perihal perpisahan aku dengan Mas Arga.
"Lalu apa kau mengijinkannya?"
Aku menggeleng lemah "Ratih lebih milih mengalah bu" ucapku dengan suara parau.
"Hmmm tak ku sangka menantuku ini wanita yang lemah, menyesal aku menuruti permintaan suamiku menikahkan Arga denganmu, Nak" kata-kata ibu menohok perasaanku.
"Ibu pikir kau wanita yang tangguh saat kau meminta untuk segera dinikahkan dengan Arga dulu, walaupun kau tau Arga menentang pernikahannya. Tapi cuman segini nyalimu, kau mati-matian ingin menikah dengan Arga tetapi ada godaan sedikit kau langsung menyerah. Mana Ratih yang dulu? Mana Ratih yang gigih mengejar Arga, mana?" ibu berucap sedikit berbisik dengan suara yang tegas.
__ADS_1
"Lalu Ratih harus gimana ibu?" air mataku tumpah di pelukan ibu, ibu membelai kepalaku lembut.
"Nak ibu juga dulu pernah ada di posisimu, ibu mengerti rasa sakitmu. Berjuanglah nak, perjuangkan hakmu untuk anak-anakmu, cucu ibu. Buat Arga tak bisa lari darimu, ibu selalu bersamamu. Ibu juga akan memperingatkanya nanti" ibu melepaskan pelukannya.
"Kau ingat janjimu pada mendiang ayah mertuamu? Apa kau sudah lupa? Bahwa kau tak akan meninggalkan Arga apapun keadaannya, kau ingat?" ibu memegang kedua bahuku dan menatapku penuh keyakinan.
"Lakukan apa saja supaya Arga tertap bersamamu, jangan hanya menangis, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus bangkit harus kuat, menantuku hanya Ratih, tidak yang lain" ibu mengusap air mataku lalu tersenyum, kata kata ibu seperti memberi kekuatan baru padaku.
flash back of
"Assalamualaikum" suara orang mengucapkan salam membuyarkan lamunanku.
"Waalaikumsalam" aku dan Mas Arga menjawab serempak Mas Arga tampak tersenyum kecut melihat siapa yang baru datang ke ruanganku, Albi datang bersama seorang anak laki-laki gemuk dengan usia sekitah 5 tahunan.
"Itu Om Arga dan yang lagi baring itu Tante Ratih, salam dulu gih" Albi berbicara lembut pada anak Laki-laki yang bersamanya, anak laki-laki itu menghampiri Mas Arga untuk menyalaminya dan kemudian menghampiriku.
"Namanya siapa, sayang?" tanyaku lembut kepada anak itu.
"Farel tante" Albi menirukan ucapan anak itu sambil menyalami Mas Arga.
"Farel ini anak lelakiku yang ku ceritakan hari itu, kalau anak Mbak ada berapan" tanyanya padaku.
"Dua cewek semua"
"Pasti cantik kayak mamanya ya" ucap Albi sambil duduk di sofa memangku anaknya.
"Iyalah masa kaya tetangga" sela Mas Arga dengan sinis yang malah membuat Albi tergelak.
"Kalau menurut mitos di keluargaku ya mbak, kalau anak pertama yang lahir laki-laki berarti cinta suami lebih besar kepada istrinya begitupun sebaliknya kalau yang lahir anak pertama perempuan cinta istri lebih besar kepada suaminya" ucap Albi.
"Oo ya, baru tau nih" ucap Mas Arga, mengerlingkan matanya sekaligus tersenyum simpul penuh kemenangan.
"Untung cuma mitos ya" ucapku berusaha menyanggah pernyataan Albi.
__ADS_1
"Hehe iya tapi biasanya bener loh Mbak" Albi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oo iya kayaknya banyak benernya itu" ucap Mas Arga dengan angkuh membuat aku menjadi jengah.
"Tante Latih" ucap Farel yang sedari tadi hanya bengong menonton TV yang terpasang di kamarku. Dengan wajah agak ketakutan.
"Iya sayang, ada apa?"
"Jangan lapolin ayah Falel ke pak polisi, nanti ayah Falel di penjala telus Falel tinggal sama siapa?" ucapnya dengan cadel.
"Farel, sini sayang" aku melambaikan tangan kepada Farel agar mendekat.
"Buat apa tante laporin ayah Farel?"
"Kan ayah Falel udah nablak tante" sahutnya dengan wajah sendu.
"Itu bukan sebuah kesengajaan dan tante juga salah ko tante kurang hati-hati. Udah, Farel ga usah mikir macem-macem lagian besok tante udah di bolehin pulang ko sama dokternya" ucapku dan Farel nampak bernafas lega.
Farel anak yang lucu, pipinya tembem, bibirnya mungil, matanya sipit khas wajah oriental. Dia juga termasuk anak yang kritis untuk anak seusianya, kehadiran Albi dan Farel membuat ketegangan antara aku dan Mas Arga mencair sedikit.
Setengah jam berlalu nampak Farel sudah terlihat bosan.
"Ayah, ayo pulang katanya tadi mau beli es klim" rengek Farel sambil menarik tangan ayahnya.
"Iya ayah pamit dulu sama om dan tante" ucap Albi pada Anaknya. Farel mengerti maksud ucapan Albi dia segera menyalami aku dan Mas Arga.
"Oiya Mbak besok pulang jam berapa? Biar saya urus semuanya"
"Ga usah repot ya, Ratih masih ada saya suaminya. Saya bisa urus semuanya" ucap Mas Arga pada Albi yang terkesan angkuh, Albi menautkan kedua alisnya melihat reaksi Mas Arga.
"Eh iya sebentar nak" ucap Albi pada Farel yang sedari tadi sudah mengajaknya keluar "Saya pulang dulu ya Mas Mbak, sampai ketemu besok" Aku hanya merespon ucapan Albi dengan senyuman, Albi dan Farel berlalu meninggalkan ruang rawatku.
"Oh nampaknya ada yang senang nih" sindir Mas arga padaku, aku tak menjawabnya hanya mengangkat bahu dan tersenyum simpul. Ntah ini hanya perasaanku atau memang benar adanya, setiap Albi datang Mas Arga berubah menjadi laki-laki yang menyebalkan.
__ADS_1