ISTRI YANG TAK DI INGINKAN

ISTRI YANG TAK DI INGINKAN
Part 7


__ADS_3

Aku harus berubah, ya aku harus berubah jadi lebih baik, terus kata-kata itu yang aku ulang agar tertanam melekat di alam bawah sadarku di dalam diriku. Kali ini aku harus buang jauh sejauh mungkin rasa ego dan gengsiku, tidak ada yang bisa menyelamatkan keluargaku selain aku sendiri, demi anak-anak. Seperti pesan Sarah saat aku hendak pulang dan diantar oleh sopir pribadinya dia.


"Ingat ya kamu harus berusaha mengalihkan pandangan Mas Arga agar tidak terlalu terpaku pada handphonenya"


"Tapi bagaimana caranya?"


"Ya ampun, seperti itu saja kamu tidak tau. Kamu bisa menggunakan Alya atau Gledia kan?"


"Oiya juga sih"


"Dan satu lagi jangan gampang emosian jangan hadapi Arga dengan emosi sebisa mungkin kamu harus sabar harus dengan hati yang tenang. Sesabar-sabarnya pria, emosinya akan melonjak jika kita melawannya secara frontal. Jadi kalau kamu gak bisa mengendalikan emosi lebih baik kamu beristighfar atau gak jauhin Arga dulu. Ok, kalau ada apa-apa atau mau curhat kamu cukup telpon aku aja ga usah kesini, kalau ada waktu luang biar aku yang mampir ke rumah kamu ya kasian juga Alya"


Beruntung aku memiliki sahabat seperti Sarah dia mengerti aku dan selalu ada saat aku membutuhkan bantuan.


---------------------


Gledia sudah pulang dari liburan sekolahnya, sisa liburan sekolah Yaya tinggal dua hari lagi. Untuk sementara Mas Arga cukup banyak menghabiskan waktu bersama Yaya. Mungkin dia merasa kangen pada putri sulungnya setelah pisah selama satu minggu lamanya, ini kesempatan ku untuk menyelamatkan biduk rumah tanggaku dan hubunganku dengannya.


Sore ini terasa sangat panas, karna memang musim kemarau sedang melanda desa kami. Kulihat Yaya sedang bercerita sangat riang tentang liburannya di Yogyakarta. Sedangkan Mas Arga memperhatikannya dengan sangat antusias.


"Taklukan laki-laki lewat perut" Tiba-tiba saja aku ingat pesan ibuku. Kenapa tidak, aku menuju ke dapur dan membuat jus alpukat kesukaan Mas Arga dan Yaya. Dengan hiasan susu coklat kuhidangkan jus alpukat dan aku tak langsung pergi begitu saja seperti biasa saat aku menyuguhkan makanan. Aku duduk di samping Mas Arga dengan memasang wajah manis, Yaya langsung menyambar gelas yang berisikan jus alpukat itu.


"Gimana enak?" Tanyaku pada Yaya.


"Hmmmmm. Enak banget, pa cobain deh pa beneran ini enak seger banget" mimik mukanya Yaya saat menggoda Mas Arga untuk mencoba jus buatanku, kemudian Mas Arga pun menyeruput jus itu dengan sedotan yang ada, akupun menunggu komentar dari Mas Arga.

__ADS_1


"Lumayan" Komentarnya sambil mengankat satu alis, dan akupun tersenyum genit kepadanya dia pun merasa keheranan atas sikapku ini.


"Kalau gitu sekarang mama mau buat puding semangka"


"Horeeeee..... Ayo ma cepetan buat puding nya Yaya udah ga sabar udah lama ga makan puding buatan mama"


Aku segera menuju ke dapur, aku sempatkan melihat aktivitas Mas Arga, dia mulai memainkan hp nya lagi, aku mulai memutar isi otaku ini untuk berfikir bagaimana caranya suapaya Mas Arga lupa dengan hpnya itu, ah aku punya ide.


"Mas.. Mas .. Sini deh" Aku memanggil Mas Arga untuk ke dapur.


"Ya" dia datang dengan wajah yang bertanya-tanya,


"Ada apa sih?"


"Bantuin" aku memasang wajah manja.


"Bantu cariin resep puding semangka aku lupa, pliiiiis"


Aku memasang wajah memelas tak lupa dengan menangkupkan kedua tanganku untuk memohon. Dia tersenyum tipis, dan saat itu juga aku ingin rasanya melompat keluar karena senyum manisnya itu, dia langsung mengotak atik hp nya itu kembali, sesaat kemudian.


"Nih baca" sambil menyodorkan handphonenya ke tanganku.


Aku cemberutanja "Mana bisa baca sambil masak. Ga konsen, coba bacain dooooong" pintaku.


Dia membacakan resep yang tertera di layar handphonenya itu dengan ekspresi wajah yang sama, Cuek. Tapi minimal sejauh ini aku sudah mulai berinteraksi dengannya, dan ada respon positif. Di tengah keasyikan aku memasak bersama Mas Arga, Alya terbangun dari tidurnya dan seperti biasa menangis mau minum susu. Aku membuatkannya susu formula dan meminta Mas Arga untuk membawanya jalan-jalan agar aku bisa melanjutkan memasak pudingnya.

__ADS_1


Dan sepertinya ideku sukses, akhirnya Mas Arga lupa dengan handphonenya. Dia meninggalkannya di dapur tapi sayang handphone itu terkunci dengan sandi, aku tak bisa membukanya. Huffftttt... Sudahlah yang penting langkah pertama sukses. Tapi tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal, aku ragu antara menerima atau membiarkan panggilan masuk itu, akhirnya aku pun mengangkat panggilan itu.


"Hallo assalamualaikum" aku mengangkat telpon dan menunggu jawaban dari sebrang.


"Hallo" tetap tak ada jawaban akhirnya panggilan terputus,tapi sebentar kemudian ada telpon masuk lagi dari nomor yang sama, hatiku mulai tak nyaman jangan-jangan dari perempuan itu. Tapi aku tak mau menduga-duga, akhirnya aku angkat lagi.


"Hallo, Assalamualaikum"


"wa..waalaikumsalam" suara perempuan terdengar dari sebrang "Mas Arganya ada?"


"Dengan siapa ya?" aku tak menjawab pertanyaan nya justru aku jawab dengan pertanyaanku.


"Lily" deggg seperti ada pukulan keras tepat di hatiku... Rasa sakit yang luar biasa.


"Oh mbak Lily teman kantornya Mas Arga ya?" sebisa mungkin aku mengatur nada bicaraku.


"Iya bu, bisa bicara dengan Mas Arga?" padaku dia memanggil ibu tapi pada Mas Arga dia memanggil Mas.


"Oh pak Arga sedang jalan-jalan bersama anak-anak, ada pesan biar nanti saya sampaikan?" aku merubah panggilanku menjadi Pak pada Mas Arga agar aku bisa mengajari perempuan itu agar formal pada suamiku dan tidak terlalu sok akrab walaupun kenyataan nya mereka jauh lebih akrab dari bayanganku.


"Emmm... Ga ada sampaikan aja kalau saya telpon"


Dengan suara yang gugup.


"Oh baiklah, nanti saya sampaikan"

__ADS_1


Aku berusaha menahan emosiku yang mulai tersulut. Jika mungkin bila wanita itu ada di hadapanku sudah aku cakar-cakar mukanya. Aku jambak rambutnya, oh tidak tidak astaghfirullah. Ingin rasanya aku membanting hp ini tapi aku ingat kata-kata Sarah " astaghfirullah Ratih sabar... Sabar.. " ucapku seraya mengusap dada.


__ADS_2