Jodohku Ditangan Kakakku

Jodohku Ditangan Kakakku
BAB. DINAR 17


__ADS_3

“ Aku ingin kamu bekerja di perusahaan mu sendiri , aku juga ingin kamu tidak melarang ku untuk bekerja . “ jawab dina dengan sungguh-sungguh , saat arfan menanyakan keinginan dina .


Saat ini mereka berdua masih berada di dalam kamar arfan untuk bicara , lebih tepat nya arfan yang memaksa dina agar tetap berada di dalam kamar kontrakannya , setelah sarapan yang dibawakan ibu ke kamar arfan .


Arfan mengernyitkan kan dahinya , karena permintaan aneh dina . “ kamu gak salah meminta ku bekerja di perusahaan keluarga ku sendiri ? dan kalo masalah kamu ingin tetap bekerja , aku tidak akan melarang mu , asalkan keluarga yang menjadi prioritas utama mu . “ jawab arfan .


“ Tidak , aku benar-benar ingin kamu kembali ke perusahaan orang tua mu . tidak ada alasan apapun , bukan nya kamu menanyakan ke inginanku apa ? ya hanya itu yang aku ingin kan dari kamu . “ dina tetap kekeh dengan keinginan nya , agar arfan kembali ke perusahaan keluarga nya . “ aku harus bisa membuat arfan bekerja di perusahaan keluarga nya , meskipun dengan cara memaksanya . “ ucap dina dalam hati .


“ Apa mami yang menyuruh mu ? “ tanya arfan dengan menyelidik . arfan langsung mencurigai ibunya , saat dina kekeh meminta nya untuk bekerja di perusahaan keluarga nya . padahal sebelum nya , dina tidak pernah ikut campur urusan nya .


“ Ti - tidak , mami mu tidak menyuruh ku . “ jawab dina dengan gugup . “ aku hanya ingin punya suami seorang DIREKTUR kaya suaminya shela sahabat ku . “ ujar dina , dengan sekenanya saja beralasan . “ Dan jalan satu - satunya , kamu harus kembali ke perusahaan mu sendiri . “ dina menambahkan ucapan nya .


Arfan memicing kan matanya , mendengar keinginan dina , apa lagi dina terlihat gugup saat berucap . “ seperti nya ini kerjaan mami , karena aku sangat mengenal kamu dina , jika bukan karena paksaan dari mami , kamu tidak akan berkeinginan yang aneh - aneh seperti ini . “ ujar arfan dalam hati .


“ Sudah lah ! lain waktu saja kita membahas masalah ini , karena ada masalah yang jauh lebih penting dari masalah itu yang harus aku selesai kan . “ ujar arfan dengan mengalihkan pembicaraan . arfan merasa dina sedang menyembunyikan sesuatu darinya , karena sikap dina pun terlihat berbeda dari biasanya . “ apa kamu bisa menyelesaikan masalah ku duluan ? aku sungguh tidak sanggup menahannya , karena kepalaku juga terasa sakit . “ ujarnya dengan terus memegang kepalanya .


“ Masalah apaan , emang kamu punya masalah apaan yang harus di selesai kan sekarang ? kamu ma_ mau ngapain ? “ tanya dina saat arfan meraih wajahnya . “ apa arfan minta anu - anu nya sekarang mana alat kontrasepsi dari nyonya fanny masih ada di tas ku lagi . “ ucap dina dalam hatinya , saat arfan sedang silaturahmi bibirnya pada bibir dina . tapi pikiran dina hanya alat kontrasepsi yang dia tinggal di kamarnya , dina sampai tak menjamu bibir arfan yang saat ini masih bersilaturahmi .


Tanpa bertele-tele lagi , arfan menggendong menuju ke ranjang nya . tanpa melepas bibir nya yang asyik silaturahmi . “ fan , eh maksudku Aa . kalo azkal nyariin kita gimana ? bentar lagi dia berangkat sekolah . “ ujar dina , saat arfan mengakhiri silaturahmi bibir nya .


Arfan menurunkan dina secara perlahan - lahan dan membaringkan dina kemudian mengungkung dina . “ ini hari minggu . “ jawab arfan di telinga dina .

__ADS_1


Bulu kuduk dina langsung meremang saat hembusan napas arfan tepat di telinga nya . “ ternyata arfan masih sangat hapal kelemahan ku . “ batin dina dengan terus mengambil nafas panjang , agar dina tak terlihat gugup .


“ Tunggu a ! “ dina menghentikan arfan , saat arfan mulai menggigiti telinga nya .


Arfan pun menghentikan aksinya dengan wajah frustasi . “ apa lagi ? “ tanyanya dengan meraup kan wajahnya sendiri , karena arfan harus kembali menahan hasrat nya untuk menyentuh dina .


Dina mengangkat tangan nya , untuk mengelus pipi arfan , agar arfan mau menuruti keinginan nya . “ bisa aku ke kamar ku sebentar saja , soal nya aku lupa sesuatu . “ pinta dina dengan memohon .


Arfan mendelikan matanya , saat dina meminta ke kamar nya . “ tidak , tidak . aku sudah tidak bisa menahannya . “ ujar arfan dengan kembali ingin bermain di area kelemahan dina . semalaman arfan sudah menahan dirinya , agar tidak menyentuhnya tanpa seizin dina .


" Pliss sebentar aja . “ dina menangkup kan kedua tangan nya , saat di bawah kungkungan arfan , agar arfan mengijinkan nya .


Arfan kembali menghentikan aksinya , karena dina terus memohon . “ biar aku yang ke kamar , kamu mau ambil apa ke kamar . “ jawab arfan dengan lemah , karena arfan kembali harus menahan hasrat yang sudah di puncak nya . seperti nya arfan harus sedikit bersabar , apalagi arfan tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya seperti dulu .


“ Kamu tidak sedang menghindari kewajibanmu kan ? “ tanya nya dengan menyelidik .


“ Tidak , aku hanya kelupaan sesuatu aja . tapi aku janji setelah ini , aku akan melakukan kewajiban ku sebagai istri . “ ucap dina dengan mengangkat kedua jarinya .


“ Baiklah , biar ku temani . “ balas arfan dengan beranjak .


“ Biar aku sendiri aja , Aa tunggu disini sebentar . lagian kamar ku itu di sebelah kamar ini , bukan di atas . “ dina kembali menolak tawaran arfan .

__ADS_1


“ Baiklah aku tunggu di sini . “ jawab arfan dengan pasrah .


Dina bernafas dengan lega , karena akhirnya arfan mengijinkan nya keluar dari kamar nya . “ aku harus cepat - cepat mengambil nya , seperti nya masih ada di tas ku . “ gumamnya saat sudah keluar dari kamar suaminya .


Dina masuk kedalam kamar nya dengan tergesa-gesa , sampai - sampai ayah dan ibu memanggilnya pun dina tak menyahuti nya .


“ Teh ada apa ? “ tanya ibu saat melihat dina masuk ke kamarnya dengan terburu - buru .


“ Bu tas teteh yang warna dongker kemana ? ko gak ada di gantungannya . " teriak dina dari dalam kamarnya , tanpa menjawab pertanyaan ibunya terlebih dulu .


“ Tas apa teh ? “ jawab ibu dengan ikut masuk ke dalam kamar untuk melihat , karena dina terlihat panik .


“ Tas yang kemarin teteh pakai itu bu , perasaan tasnya teteh gantung di sini . “ jawab dina dengan mencari tasnya .


“ Tas warna dongker mah , ibu nte nyahoan teh . tapi , tadi disya nginjem tas teteh yang warna biru ceunah . “ jawab ibu


“ Disya sekarang kemana bu ? kenapa ibu malah ngijinin disya bawa tas teteh ? di tas itu kan ada barang - barang teteh bu . “ saking paniknya , tanpa terasa dina berbicara sedikit marah pada ibu .


“ Disya pergi sama rina , dia juga membawa azkal pergi bersamanya . “ jawab ibu dengan sedih , karena dina terlihat marah .


Dina luluh ke lantai , karena barang yang dia cari ada di tas yang di bawa disya . “ maafin teteh bu , teteh gak ada maksud membentak atau marah sama ibu .

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2