
" kenapa lepas ? silahkan lanjutin , bukannya anda mau melakukan nya lagi ? apa anda masih belum puas kah menghancurkan hidupku ? " ujar dina dengan membuka bajunya kembali , setelah sempat memasangnya.
" hentikan na ! " arfan memegang tangan dina , yang hendak membuka baju di depan nya.
" kenapa menghentikan ku ? bukan kah ini maumu ARFAN WIJAYA ? " dina menghempaskan tangan arfan yang memegang tangan nya.
dina pun melihat sekeliling kamar , karena dina merasa tidak asing pada tempat ini . " kenapa kamu , kembali membawaku ketempat laknat ini ? " teriak dina , setelah mengingat kamar ini .
dina menumpahkan semua kekesalan nya dengan menangis , setelah mengingat tentang kamar yang menjadi saksi kebodohan dina " arfan , kenapa kamu tega melakukannya pada ku ? " dina terus menangis sampai tersedu-sedu .
" maafin ina , aku janji akan segera menikahimu . " ucap arfan dengan memegang pundak dina .
mungkin kata - kata itu yang dina tunggu , saat dina mengandung azkal .
dina berhenti menangis ketika arfan menyentuh pundak nya . " lepas ! aku ingin pulang sekarang . " ucap dina , dengan menghapus jejak air matanya.
" aku akan antar na " dina tak menolak maupun mengiyakan , dina keluar tanpa menjawab terlebih dulu .
arfan memakai baju terlebih dulu , sebelum mengejar dina yang sudah lebih dulu keluar .
" silakan ina " arfan membuka kan pintu mobilnya , di samping kemudi. tapi dina lebih memilih duduk dibelakang dengan membuka sendiri , pintu belakang mobil arfan.
arfan menghela nafas panjang , ketika dina lebih memilih duduk dijok belakang .
" brug " arfan menutup kembali pintu mobilnya , ketika dina lebih memilih duduk dibelakang. arfan memutari mobilnya tanpa semangat , karena dina menolak duduk di sampingnya.
saat dalam perjalanan dina mulai bertanya keberadaan anaknya . " dimana azkal ? " dina bertanya dengan arah pandang ke jendela, tanpa melihat arfan , dengan suara dingin .
" anak kita di rumahnya mami. " arfan menjawab dengan melihat dina dari kaca tengah mobilnya .
" anak kita , azkal itu anakku arfan . " dina masih tidak rela , arfan menyebut azkal anaknya.
" baiklah itu anak kamu , tapi dari benih ku . " jawab arfan dengan santai meski dina terus berbicara ketus padanya.
dina tak menanggapi jawaban arfan , karena yang di pikirkan nya saat ini , bagaimana menjelaskan pada kedua orang tuanya ketika sudah sampai rumah nya .
" biar aku , yang menjelaskan sama keluarga mu saat sudah sampai. " ujar arfan . seolah mengerti ke gundahan dina saat terdiam diperjalanan.
" kenapa dia bisa tahu , apa yang ku pikirkan ? " batin dina heran.
dina belum menyadari , ketika mobil arfan sudah berhenti didepan rumah kedua orang tuanya.
" turunlah dulu ! ini rumahmu kan ? " ujar arfan, saat melihat dina masih duduk di mobilnya.
" dari mana arfan tahu , rumahku yang sekarang ? " batin dina , saat menyadari sudah berada didepan rumah nya.
__ADS_1
dina belum beranjak , karena dina bingung menjelaskan pada kedua orang tua nya terutama ayahnya .
arfan pun keluar untuk membuka kan pintu belakang yang dina duduki , karena dina masih belum beranjak keluar dari mobilnya .
" ina keluar lah ! biar aku yang menjelaskan pada keluargamu . " dina langsung keluar , tanpa berucap apa pun saat arfan membukakan pintu mobilnya .
tok
tok
tok
" assalamu'alaikum ibu , ayah . " panggil dina dari luar dengan pelan, kemudian duduk di kursi depan , karena dina belum kuat berdiri lama.
" saha nyya ? naha mirip suara teteh . " ujar ibu dina , saat berada di dapur .
ibu dina menghentikan aktifitas memasaknya, kemudian menuju depan untuk membuka kan pintu .
" wa'alaikumusalam , nyari siapa jang ? " tanya ibu dina , saat arfan berdiri membelakangi pintu .
ibu dina, tidak melihat keberadaan dina, karena dina duduk kursi depan setelah mengetuk pintu rumahnya . jika dari dalam rumah tidak akan terlihat , karena kursinya berada di samping kiri depannya , sedangkan pintunya berada ditengah .
arfan membalikkan badannya , menghadap ibu dina . " sebentar , seperti nya ibu pernah ketemu kamu , tapi dimana yah ? " ketika ibu sedang mengingat wajah arfan , dina muncul dari belakang arfan dengan kepala masih diperban , dan jalan pun masih tertatih-tatih.
" teteh , apa yang terjadi sama teteh ? terus s azkal mana teh ? ibu kaget , setelah melihat keadaan dina .
dina langsung melirik sinis arfan , ketika ibunya menanyakan keberadaan azkal .
" azkal di rumah ma .... " arfan belum menyelesaikan kata - katanya tapi dina menyela jawaban arfan .
" azkal di rumah sama rina , maksud dia bu. ibu tidak menyuruh teteh masuk ? kaki teteh sakit berdiri terus dari tadi . " dina sengaja mengalihkan pembicaraan , kemudian masuk begitu saja tanpa menyuruh arfan masuk.
" ibu sampai lupa , ayu pak masuk juga . " ibu menuntut dina masuk kedalam , kemudian mendudukannya di sofa ruang tamu .
" bu ayah mana bu ? " tanya dina , karena tak melihat ayah nya berada di rumah .
" berangkat ke toko . ngomong - ngomong makasih pak udah anterin dina sampai rumah , bapak teman kerjanya dina ? " tanya ibu dengan ramah .
" seperti nya ibu lupa sama arfan ? bukan nya ibu orang yang paling semangat ingin menghajar arfan , saat tahu arfan ayah biologis azkal . kenapa sikap ibu biasa aja , seolah-olah tidak pernah bertemu dengan arfan. " batin dina saat melihat ibunya, yang bersikap ramah sama arfan .
" sudah kewajiban saya mengantar dina , karena ini tanggung jawab saya sebagai atasan nya dan saya bersedia merawat dina sampai sembuh . " ujar arfan .
dina memicingkan matanya setelah mendengar ucapan , kalo arfan akan merawat nya sampai sembuh .
" apa - apaan dia ngomong seperti itu , dengan merawat ku sampai sembuh . bukan nya langsung pulang juga . " batin dina terus menggerutu saat mendengar ucapan arfan.
__ADS_1
" bu , bukannya ayah lagi sakit , ko malah ke toko bu ? " tanya dina , saat ibu menuju dapur untuk membuat minum .
" teuing , bilang nya ngges sembuh ceunah teh . silakan diminum pak ! " ucap ibu setelah menaruh minuman buat arfan diatas meja .
" makasih bu, ngerepotin banget sih bu .bu sebenarnya aku..... " saat arfan ingin berkata jujur tentang siapa dirinya , ponsel ibu berdering .
" bu seperti nya handphone ibu bunyi . " ujar dina, dengan menunjuk ponsel ibunya yang berada di meja.
" seperti nya keberuntungan sedang berpihak dengan nya . " batin dina dengan menghela napas panjang .
dina tahu arfan ingin membicarakan tentang siapa dirinya , tapi terganggu karena suara handphone ibu yang begitu nyaring . padahal dina sangat penasaran melihat reaksi ibunya , ketika tahu arfan adalah ayah biologis azkal.
" kenapa kamu terlihat kecewa , setelah aku gagal memberi tahu ibu , siapa aku ? " ujar arfan , karena dina terlihat menghela napas setelah ibunya mendapat panggilan telepon .
dina mendengus setelah mendengar omongan arfan , kemudian menghampiri ibunya yang sedang berbicara di handphone nya.
" bu siapa yang telepon ? ko ibu nangis ? " dina yang penasaran pun, mengambil ponsel ibunya .
" hallo siapa ini ? " tanya dina setelah mengambil ponsel Ibunya .
" ini teteh ? "
" iyah ini teteh , ada apa disya ? ko ibu nangis setelah menerima telepon dari kamu . "
" teteh ayah pingsan di toko, aku mau bawa ayah ke rumah sakit , karena ayah tak kunjung sadar . "
" ayah pingsan ? ya sudah teteh sama ibu kesana jemput ayah , kamu belum manggil ambulan kan? "
" aku belum sempat panggil ambulan kak , karena panik . "
" ya sudah kakak tutup dulu telepon nya . "
arfan menghampiri dina dan ibunya , karena mereka terlihat panik saat menerima telepon .
" ada apa na ? " tanya arfan setelah sudah dekat .
dina tak menghiraukan arfan sama sekali . " ibu tidak apa - apa ? minum dulu bu ? " dina menyodorkan minuman pada ibunya yang shock.
" ayah dibilangin ke ibu teh sok ngeyel wae , jadi we kie . " omel ibu dengan menangis .
" ibu ada bu ? kenapa nangis gitu ? " arfan memberanikan diri bertanya pada ibunya, setelah dina tak menggubris omongan.
" bukan urusanmu . "
Bersambung
__ADS_1