Keluarga Kartika

Keluarga Kartika
Henry ke III


__ADS_3

" lalu apa urusanmu di sini Henry.." tanyaku sambil bermuka kesal.


" apa kau datang hanya untuk merendahkan diri ku..?" sambung ku kini dengan intonasi yang lebih serius.


Henry yang mendengar kata-kata kasar ku, membuat nya makin senang dan seakan sudah menang, sedangkan asisten Liu dan para Dubes yang melihat kami berdua berdebat hanya bisa diam seribu kata.


" tidak seperti biasanya mulut manis mu berkata kotor nona Marischka.." ejek Henry lagi


" diam kau Henry..!!"


"tidak pantas orang seperti mu mengkritik diriku..." sambung ku sambil menunjuk ke arah muka nya.


aku yang mulai terprovokasi berdiri dari kursi hitam dan akan berpamitan kepada kedua duta besar itu,


" ayo kita pergi asisten Liu..!" sahut ku ke arah asisten Liu yang masih duduk di sofa.


" Baa.., baikk nona muda.." jawab asisten Liu


dengan segera asisten Liu berpamitan dan membereskan semua yang aku bawa tadi termasuk tas jinjing merah ku dan beberapa kertas.


" mau kemana kau...?!" tanya Henry sambil mulai berjalan ke arah ku berdiri.


" apa urusanmu Henry.." jawab ku dengan nada kesal.


kini aku dan Henry sudah saling bertatap muka, seakan terjadi psywar di antara kami.


melihat mukanya semakin dekat dan didepan mataku seakan ingin ku cakar dengan kuku dari jari tangan ku.


aku menghela napas panjang, supaya Henry tidak makin mengejekku dengan tatapan mata aneh nya.


" kenapa..."


" Masih benci dengan ku..? "


" atau.., kamu ingin menghabiskan malam ini bersamaku di Bali..? " ejek Henry sambil terus mendekatkan tubuh tingginya ke arah ku.


" huh... bodoh...!!"


" kamu bukan level ku Henry.." tawaku kecut saat melihat tingkah laku Henry yang seperti anak kecil.


" kita pergi Asisten Liu.."


" percuma kita penuhi undangan ini " sahut ku kesal. aku berjalan dan dengan sengaja ku tabrakan bahu ku ke dia seakan mengisyaratkan jika aku tidak senang dengan kehadiran Henry dan perkataan nya.


segera setelah selesai aku bicara, asisten Liu juga berjalan mengikuti ku dengan membawa kan tas jinjing merah ku.


tuan Quinlan yang ikut berdiri berusaha menenangkan diriku yang kini seakan sudah terbakar api emosi.


" nona Marischka tenang dulu..."


" kita bicarakan ini secara baik-baik dulu.." sahut nya panik sambil berusaha menenangkan diriku.

__ADS_1


melihat perlakuan ku pada nya, membuat Henry juga sudah mulai terprovokasi.


" tidak usah repot-repot mister Quinlan..." sambung Henry sambil membalikkan badan dan melihat ke arah ku yang kini sudah berada dekat dengan pintu keluar.


aku pun berhenti dan diam sambil ku menunggu apa yang akan diucapkan oleh mulut Henry selanjutnya.


" kita tidak membutuhkan bantuan dari wanita dan keluarga semacam dia..." sahut Henry lagi dengan nada serius.


tanpa sepatah kata aku dan asisten Liu berangsur meninggalkan ruang rapat tersebut.


kedua duta besar tersebut berusaha mengikuti ku dari belakang dan berusaha meyakinkan ku untuk kembali ke dalam ruang tersebut dan membicarakan ini secara baik-baik.


" saya mohon maaf atas kelakuan tuan Henry nona Kartika.." sambung mister Quinlan dengan nada bicara yang mulai panik.


aku hanya diam dan berusaha tidak mendengar kata-kata dari mister Quinlan.


sama halnya dengan mister Quinlan, tuan Jonathan pun berusaha menghalangi ku untuk tidak meninggalkan perbincangan dan memohon untuk melanjutkan lagi.


" maafkan kami tuan Jonathan, tuan Quinlan..,"


" jika kita teruskan pembicaraan kita tadi, justru itu akan membuat keadaan makin tidak terkendali..." sahut asisten Liu kepada kedua duta besar supaya lebih menerima pilihan nona mudanya.


" biarkan nona muda kami untuk menenangkan diri sejenak.."


"itu akan lebih baik untuk sekarang..." sambung asisten Liu sambil tersenyum meyakinkan.


asisten Liu berusaha menenangkan para duta besar untuk mempercayakan semua pada dirinya, dia akan berusaha untuk membujuk ku yang saat ini masih dalam keadaan emosi.


" jika nanti nona muda lebih tenang.."


" saya paham permintaan nona Liu.."


" namun sebagai utusan resmi dari yang mulia Ratu, kejadian tadi benar-benar membuat kami tidak enak..." sambung tuan Quinlan dengan nada penyesalan.


asisten Liu hanya tersenyum manis melihat ke arah kedua duta besar, lagi-lagi asisten Liu memahami rasa malu yang ditanggung oleh kedua duta besar tersebut.


" saya berjanji akan mengatur ulang pertemuan dengan nona muda..." seru asisten Liu sambil tersenyum manis. kali ini gurat wajah kedua duta besar tersebut sudah mulai tenang.


aku hanya diam saja mendengar perkataan asisten Liu, kali ini aku semakin mempercepat langkah kaki menuju ke parkiran lobi. di sana sudah bersiap bodyguard kami dan dua mobil sedan hitam.


segera setelah diriku sampai di parkiran, para bodyguard membukakan pintu untuk ku dan asisten Liu.


" kita langsung kembali ke hotel pak..!!" sambung ku dengan muka yang masih kesal.


segera setelah itu mobil kami berangsur meninggalkan hotel Ritz-Carlton.


...* * *...


" laki laki sialan...!!" umpat ku dengan suara yang sedikit ku tahan.


asisten Liu yang mendengar kekesalan ku hanya bisa diam dan tidak berani menyapaku atau pun berbincang dengan ku.

__ADS_1


perjalanan dari hotel Ritz-Carlton ke hotel kami terasa lama, entah kenapa jarak yang seharusnya tidak jauh menjadi seperti perjalanan dari Jakarta menuju Bali.


sesampainya di hotel aku segera berjalan menuju arah kamar ku, asisten Liu yang mulai khawatir berinisiatif untuk bertanya kepada ku.


" nona.., nona muda apakah anda baik-baik saja..??" seru asisten Liu sambil mengikuti ku dari belakang.


aku pun berhenti dengan mendadak dan berkata jika aku baik-baik saja


" tenang saja Asisten Liu tidak perlu khawatir.." jawab ku sambil tersenyum supaya dia tidak lagi mengkhawatirkan kondisi ku.


sesampainya di kamar ku merebahkan diri di kasur yang berukuran king size sambil berfikir tentang kedatangan Henry tadi.


dengan melihat wajah Henry saja membuat diriku merasa kesal bukan kepalang.


sambil aku tiduran, ku ingat-ingat lagi peristiwa yang terjadi antara aku dan Henry.


...* * *...


intermezo sebentar..


pernah suatu ketika ayah ku dan aku pergi ke Gloucester Inggris untuk memenuhi undangan ratu Elizabeth disana.


aku yang ditinggal sendiri di mansion keluarga kerajaan Inggris, tampak kebingungan sendiri mau melakukan apa.


waktu itu umur ku baru menginjak delapan tahun, sehingga belum terlalu mengerti apa yang ayah ku akan bicarakan dengan ratu Elizabeth.


aku putuskan untuk bermain sendiri di taman di istana yang besar itu, tanpa adanya asisten Liu membuat ku kesepian.


tanpa sadar aku di datangi oleh anak perempuan yang sebaya dengan ku.


" kenapa kamu bermain sendiri..??" tanya anak perempuan itu kepada ku.


" maukah kamu bermain bersama ku..??" tanya anak perempuan itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum manis kepada ku.


anak itu bernama Charlotte, paras cantiknya sudah nampak dengan jelas walaupun dia masih berumur delapan tahun, diantara mereka juga ada Henry disitu.


awalnya aku ragu untuk ikut bermain bersama mereka, namun ada anak perempuan yang meyakinkan ku untuk bergabung bermain bersama.


aku yang awalnya malu-malu akhirnya mulai terbuka dan tanpa ragu bermain bersama mereka.


kami bermain lari-lari an sambil tertawa dengan riang seperti sudah mengenal lama satu sama lain.


tanpa sengaja aku terjatuh dan menimpa Charlotte sehingga menyebabkan siku tangan nya berdarah.


melihat itu Henry terlihat marah, dan dengan emosi dia mengangkat ku serta mendorong ku hingga tersungkur di tanah.


pada waktu itu Henry melihat dan menatap ku dengan pandangan penuh kebencian, aku pun hanya diam saja saat Henry melihat ku dengan tatapan itu


ya....


saat itulah untuk pertama kalinya aku merasa direndahkan oleh orang lain, dan sejak saat itu hubungan ku dan Henry bagaikan minyak dan air.

__ADS_1


# Author


_to be continued


__ADS_2