Keluarga Kartika

Keluarga Kartika
Undangan resmi.


__ADS_3

setelah kami masuk ke istana kepresidenan, kami pun diarahkan untuk menunju ke tempat rapat selanjutnya.


saat kami sampai di tempat itu, aku sedikit terkejut dengan tempat yang telah dipersiapkan. ternyata ruang makan yang elegan dan penuh dengan ornamen khas Eropa, memang sih Singapura dulu masih bagian dari kerajaan Inggris, sehingga istana ini terlihat berarsitektur lebih Eropa.


" silahkan nyonya Kartika..." seru tuan Lee sambil mempersilahkan kami untuk masuk dulu ke dalam ruangan itu.


dengan segera kami duduk di bangku yang sudah dipersiapkan untuk kami berdua, nyonya Lee juga ikut dalam perjamuan makan ini. beliau dengan ramah juga menyambut nenek dan aku dengan sangat ramah.


" silahkan...!" seru tuan Lee sambil tersenyum dan mempersilahkan kami untuk sekedar mencicipi makanan ringan.


" baik tuan Lee.." jawab nenek sambil tersenyum manis ke arah kedua pasangan yang ada di depan kami.


dengan pengalaman yang pernah diajarkan oleh tuan Alfred di mansion dulu, aku pun sudah tidak kaku lagi dalam menikmati hidangan di meja.


" nona Kartika masih sekolah..??" tanya tuan Lee dengan bahasa melayu yang masih kental. aku yang sedang mengaduk teh hanya membalas dengan senyuman saja.


" dia masih sekolah..." jawab nenek segera. aku pun melirik ke arah nenek yang ada disamping kiriku.


dengan segera aku melihat kembali ke arah tuan Lee yang ada di depan ku dan melihat ekspresi beliau yang hanya manggut-manggut saja tanda mengerti.


" dia masih remaja tuan Lee..."


" masih banyak yang harus dia pelajari di Indonesia..." sambung nenek sambil tersenyum dan mulai menempelkan bibirnya di cangkir teh yang beliau pegang.


" tentu..."


" pasti nona Kartika akan menjadi seorang primadona di sekolahnya.." seru tuan Lee sambil tersenyum lebar. mendengar pernyataan tuan Lee aku pun hanya tersenyum saja.


" prioritas saya hanya ingin membantu nenek kelak tuan..."


" jadi masih banyak yang harus saya pelajari..." jawab ku dengan senyum elegan khas putri keluarga konglomerat.


" beliau masih hijau tuan Lee..." sambung nenek sambil tersenyum melihat ke arah ku dan tuan Lee.


" oh tentu...!!"


" negara kami selalu mengharapkan keluarga Kartika.." seru tuan Lee sambil tersenyum manis dan terdengar serius.


tuan Lee sekali lagi menunjukkan jika suatu negara tidak hanya bergantung pada hal yang baik saja, namun selalu ada sesuatu di balik bayang yang juga turut campur didalamnya.


perjamuan tuan Lee cepat berlalu, pembicaraan pun tadi sempat berjalan menuju ke arah yang lebih intens dan serius. tak lupa beliau juga menitipkan salam untuk keluarga lainnya, beliau selalu memperingatkan untuk selalu hati-hati dalam bergerak di balik bayang.


" terima kasih banyak atas perjamuan nya tuan Lee.." seru nenek sambil tersenyum manis saat kami berada di depan pintu keluar gedung kepresidenan.


" sama-sama nyonya Kartika..."


" kami berharap hal terbaik dari keluarga Kartika.." sambung tuan Lee yang terkesan meminta sesuatu dari kami.


" tentu tuan..."

__ADS_1


" keluarga Kartika selalu menjadi benteng pertama negeri tuan..." jawab nenek sambil tersenyum melihat ke arah tuan dan nyonya Lee.


" anda tidak perlu sungkan untuk menghubungi kami jika membutuhkan bantuan..." sambung nenek.


" terima kasih banyak nyonya Kartika..." seru tuan Lee sambil mulai berjabat tangan dengan nenek ku.


" kalau begitu saya pamit dulu..." seru nenek sambil tersenyum dan mengangguk ke arah tuan Lee.


aku pun ikut berjabat tangan ke arah tuan dan nyonya Lee. beliau dengan ramah melihat ku dan berkata harapan nya kepada ku.


" saya harap nona Kartika selalu menjadi bagian penting dari negara kami..." seru tuan Lee sambil menepuk tangan ku yang sedang beliau genggam.


" tentu tuan Lee..." seruku sambil tersenyum manis ke arah beliau.


" Singapura akan selalu menjadi bagian penting keluarga Kartika." sambung ku sambil tersenyum dan melepaskan tangan ku dari beliau untuk melanjutkan perjalanan kami.


" terima kasih nona Kartika..." seru tuan Lee sambil tersenyum melihat ke arah ku dan nenek.


" kalau begitu kami ijin pamit dahulu..." sambung nenek sambil tersenyum dan melihat ke arah tuan Lee.


" baik nyonya Kartika..." seru tuan Lee sambil tersenyum ramah. akhirnya aku dan nenek sudah siap di dekat pintu masuk mobil kami.


dengan segera kami pun masuk ke dalam mobil, tak selang berapa saat mobil kami mulai meninggalkan istana kepresidenan tersebut. kali ini iring iringan mobil berjalan cukup cepat, karena akan ada agenda lain dari keluarga kami.


" setelah ini kita mau kemana lagi neek..??" tanyaku penasaran, namun nenek hanya tersenyum dan melihat ke arah ku.


" kita pulang dulu.." jawab nenek dengan sedikit dingin. aku pun hanya mengangguk dan tak mau berkomentar lagi ke nenek ku.


mobil kami tak terasa sudah ada di depan pintu gerbang utama rumah kami, dengan segera iringan mobil masuk secara bergantian.


" nenek turun dulu ya..." seru nenek sambil membuka pintu mobil dan segera turun dari dalam mobil. aku pun hanya melihat nenek ku yang sudah berjalan menuju ke pintu luar rumah kami.


cepatnya...


sebelum turun aku pun membereskan tas jinjing yang ku bawa dan beberapa dokumen yang nenek titipkan kepada tadi.


" ada yang bisa saya bantu nona muda...??" seru asisten rumah tangga kami sambil melihat ke dalam mobil.


" terima kasih banyak tuan..." seru ku sambil berusaha turun dari dalam mobil.


" hufftt...!"


" akhirnya selesai juga..." seru ku sambil tersenyum ke arah asisten rumah tangga tadi yang ada di dekat pintu mobil.


sambil tersenyum ramah beliau mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah. tas jinjing dan dokumen nenek ku bawa di tangan kananku, sambil berjalan masuk kedalam rumah ternyata beliau sudah ada di ruang keluarga rumah kami.


" ini neek..!" seru ku sambil memberikan dokumen tersebut ke arah nenek ku yang sedang duduk.


" owh...?!"

__ADS_1


" nenek lupa...!" seru nenek sambil tersenyum melihat ke arah ku. nenek pun mempersilahkan ku untuk duduk disampingnya, dengan segera aku meletakkan tas jinjing ku di atas sofa yang sama.


" fiuh..!!"


" ikut rapat seperti ini memang membutuhkan tenaga dan pikiran ya nek.." seru ku sambil tersenyum dan mengusap keringat yang ada di jidat ku.


" itu belum seberapa..."


" suatu saat nenek ajak ke pertemuan yang lebih kompleks dari ini..." sambung nenek sambil tersenyum dan mengusap kepala ku. aku pun ikut senang saat dijanjikan oleh nenek.


" janjii...??" seru ku antusias.


" owh tentu...!" sambung nenek sambil mengeluarkan jari kelingking sebagai tanda perjanjian diantara kami.


" aseekkkk...!!" seru ku sambil menyambut jari kelingking nenek. dengan spontan aku pun merebahkan diri di pangkuan beliau, dan dengan reflek beliau mengelus lagi rambut ku.


" hari ini ada agenda apa sayang..??" tanya nenek sambil terus mengelus rambut ku.


" paling dirumah saja nek..." jawab ku santai sambil memperbaiki posisi tidur ku.


" kenapa kamu gak belanja oleh-oleh untuk teman-teman mu..." sambung nenek sambil melihat ke arah ku yang kini sudah berada di posisi menghadap ke atas.


" hmmm..."


" ingin sih neekk..., tapi aku bingung harus beli apa..!?" sambung ku.


" banyak oleh-oleh yang recommended untuk kamu pilih.."


" nanti biar nenek meminta tolong pak sopir yang akan mengantar mu mencari oleh-oleh.." sambung nenek. aku pun bangun dari posisi ku semula, dengan antusias aku pun melihat nenek.


" beneran nih neekk...??!" tanya ku antusias.


" tentu..."


" lagian nenek nanti sore masih ada urusan..." sambung nenek sambil tersenyum melihat ku. aku sedikit terkejut dengan pernyataan nenek, aku pun memberanikan diri untuk bicara.


" apa aku boleh ikut lagi neek..??" tanya ku dengan sedikit mengiba, nenek pun hanya tersenyum dan melihat ke dalam mata ku.


" ini urusan yang sangat penting..."


" maaf nenek tidak bisa mengajak mu kali ini sweat heart..." sambung nenek dengan bijak. aku pun hanya tersenyum mengerti mendengar kata-kata nenek kali ini.


" aku mengerti..." seru ku sambil tersenyum manis. dengan segera beliau membalas senyuman ku.


" baiklah..."


" nenek siap-siap dahulu..." sambung nenek sambil tersenyum dan mulai berdiri dan berjalan meninggalkan ku yang masih ada di sofa ruang keluarga.


#Author.

__ADS_1


_to be continued


__ADS_2