Keluarga Kartika

Keluarga Kartika
Ketua OSIS.


__ADS_3

upacara bendera telah usai, banyak siswa yang berada di luar kelas karena para guru sedang rapat di kantor. kami berenam ternyata tidak dilepaskan dengan mudah oleh pengurus OSIS sekolah kami.


" kenapa kalian terlambat...??" tanya salah satu pengurus OSIS dengan sedikit membentak.


ya.., mungkin siswa yang terlambat semuanya kelas satu jadi mereka sedikit semena-mena terhadap kami yang terlambat.


mereka yang notabene masih kelas satu pun tertunduk dan merasa terintimidasi dengan keadaan. aku pun sedikit simpati melihat adik kelas ku tertekan karena perilaku beberapa pengurus OSIS yang terlihat songong.


" siapa suruh kalian semua telat...??" seru salah satu anggota OSIS perempuan dengan mengacungkan jari telunjuk ke arah barisan kami.


" maaf kak..." jawab salah satu adik kelasku yang perempuan dengan lirih namun bisa di dengar salah satu anggota OSIS.


" maaf.., maaf....!!"


" emang ini lebaran kalian minta maaf...?!" seru salah satu anggota OSIS cowok.


diantara mereka yang mendisiplinkan kami, terdapat ketua OSIS sekolah kami. namanya ialah Rendy Hermawan.


intermezo sebentar ya..


Rendy Hermawan ialah salah satu pewaris tahta keluarga Hermawan, ayahnya ialah pejabat di negeri ini. sebagai putra pejabat sering kali ia memanfaatkan nama ayahnya untuk menghalalkan ambisinya.


menurut ku seharusnya dia tak perlu menggantung kan nama orang tua nya pun dia cukup mumpuni di sekolah. karena wajahnya tergolong ganteng untuk ukuran siswa di sekolah kami. apalagi otak nya juga encer, sehingga tidak sedikit yang mengidolakan Rendy di sekolah kami.


Rendy juga satu angkatan dengan ku, namun dia berada di kelas sebelas IPA 2. kelas yang cukup lemah dalam olahraga namun banyak terdapat petinggi OSIS di kelas itu.


back to topic...


" tumben kau telat...??" tanya Rendy yang melihat ku dengan tatapan sinis, aku sebenarnya tak tahu sih kenapa mereka anggota OSIS terlihat benci dengan kehadiran ku di sekolah ini.


" emang gak boleh...??" tanya ku yang berbalik melihat ke arah matanya dengan tajam.


" boleh..."


" karena dengan senang hati aku akan menyiksamu...!" serunya sambil mendekatkan wajahnya ke arah ku. dengan refleks aku pun menghindar dari sikapnya barusan.


" heehh..." seru ku sambil tersenyum kecut dan melihat tajam ke arah Rendy.


" jaga mulutmu yaaahhh..." seru ku sambil menyilangkan lengan ku. aku pun sudah mulai muak melihat tingkah sok memerintah Rendy. dia pun semakin menjadi dan terlihat tidak senang dengan ancaman ku.


" dengar untuk kalian semuanya...!!" seru Rendy yang terlihat kesal sambil menatap ku.


" dia mencoba untuk menantang ku sebagai ketua OSIS..." sambung Rendy yang makin kalap dengan kebencian nya terhadap ku. belum selesai dia memprovokasi semua siswa aku pun menyela pembicaraan nya.


" heehh...!!"

__ADS_1


" kau kenapa sih..??" seru ku yang kali ini makin tersulut emosi karena ucapan Rendy.


" cowok kok kelakuan kayak cewek sih..." seru ku sambil melihat tajam ke Rendy. dia terlihat makin tersulut.


🤬


saat kami berdebat satu sama lain, ternyata semua siswa pandangannya tertuju semua ke arah ku dan Rendy yang sedang berdiri di dekat tiang bendera. semua siswa termasuk di kelas ku pun menatap Rendy dengan penuh kebencian, apalagi kelasku sering dirugikan oleh peraturan dari Rendy.


" ehh...!!"


" diam kamu perempuan...!!"


" siapa yang menyuruh mu untuk berbicara melawan ku...?!" sambung Rendy dengan nada yang tak ramah lagi.


aku cukup terkejut dengan reaksi Rendy, hal itu membuat ku untuk mulai berfikir logis dan lebih tenang, aku tidak mau terpancing kata-kata Rendy yang makin provokatif.


😡


" udah laahh..."


" capek ngeladeni bocil...!!" seru ku sambil berjalan menjauhinya dan membelakangi Rendy. dengan segera Rendy memegang tangan ku dengan kuat.


" apa maksudmu...!!" seru Rendy dengan nada penuh emosi dan mengancam ku. tak selang berapa lama kemudian teman sekelas ku yang melihat ku teraniaya oleh Rendy pun bereaksi dengan berteriak ke arah kami.


" najis tanganmu memegang tangan Marischka Ren...!!"


" lepasin wooiii...!!" seru satu persatu siswa dikelas ku, ternyata banyak juga yang tak senang dengan sikap Rendy yang berlebihan.


" denger mereka...??!" seruku sambil melihat dingin ke arah tangan ku yang sedang dipegang Rendy dengan kuat.


Rendy terlihat senyum sinis saat melihat ke arah ku. tampaknya dia masih belum terima dengan keadaan yang berbalik sekarang. dengan pelan tangan kuatnya melepaskan genggaman di tangan ku.


" good job...!" seru ku sambil tersenyum kecut, aku pun segera kembali ke arah adik kelasku yang sedang dihukum hormat ke bendera ditengah lapangan seperti ku tadi.


" ayok dek..." ajak ku sambil memegang kedua bahu adik kelasku yang terlihat cukup kelelahan karena berada di bawah terik matahari yang makin menyengat.


" tapi kakk...??" seru adik kelasku sambil melirik ke arah Rendy si ketua OSIS.


" ssttt...!!"


" tenang aja, kau dibawah perlindungan ku sekarang...!!" sambung ku sambil mengangguk supaya dia lebih tenang.


dengan segera dia mengerti tentang keadaan nya, akhirnya mereka semua berjalan dan memberanikan diri untuk kembali ke kelas nya masing-masing.


sedangkan adik kelasku yang sedang ku papah pun kondisi nya sedikit dehidrasi karena kepanasan. bibirnya terlihat pucat pasi dan sangat terlihat jika dia tidak baik-baik saja.

__ADS_1


aku pun memapah dia sambil melewati Rendy yang masih ada di tempat nya sedang mengawasi gerak-gerik ku


" suatu saat kau akan membayar nya..." seru Rendy sambil tersenyum kecut penuh dengan kebencian.


" what's ever...!" balas ku segera dengan tak kalah sinis.


Winda dan Natasya pun menghampiri ku dan bertanya tentang keadaan ku. aku pun segera mengajak Winda dan Natasya untuk mengantarkan si adik kelas ke UKS sekolah.


dengan segera mereka pun mengikuti ku ke UKS, ditengah perjalanan ke UKS Winda bercerita tentang Rendy yang jadi ketua OSIS. dia banyak tau karena memang Winda dan Rendy dulu satu SMP.


" dari dulu Rendy memang begitu Marischka..." seru Winda sambil mengingat-ingat kejadian di SMP nya dulu yang sering melibatkan Rendy.


" kami dulu sempat sama-sama di pengurus OSIS waktu di SMP dulu..." sambung Winda sambil melihat ke arah ku yang kini berada di tengah antara Winda dan Natasya.


" owhh pantesan..." sambung Natasya sambil melihat ke arah Winda.


" pantes kenapa...??" tanya Winda penasaran ke arah Natasya.


" sama gilanya kalian berdua..." sambung Natasya sambil tertawa sedikit ngakak. Winda pun dongkol mendengar ucapan Natasya, sambil melipat kedua lengannya dia berhenti berjalan sambil menatap Natasya dengan jengkel.


" yeee...!!" jawab Winda yang masih cemberut. aku pun menenangkan ketegangan kecil diantara mereka berdua.


" sudah..., sudah..."


" kayak gak tau Natasya aja Win..., dia kan juga termasuk gak waras...!" seru ku sambil berjalan ke arah Winda yang tadi berhenti di belakang, sedangkan Natasya masih ngakak dan berjalan di depan kami.


" ihh..., Natasya gak jelas..." serunya sambil kembali melanjutkan perjalanan menuju kelas kami di lantai tiga.


adik kelas yang ku papah tadi sudah berada di UKS, sehingga kami kembali ke kelas. sesampainya kami di kelas ternyata semua temanku membicarakan tentang keadaan ku tadi.


bahkan mereka berencana untuk membalas ke Rendy tentang penghinaan yang kudapatkan tadi. aku sebenarnya senang dengan sikap teman-teman ku yang kompak, namun aku juga berfikir jika konflik antar kelas tidak dibutuhkan di sekolah kami.


saat kami bercerita masing-masing, guru pembimbing pun datang ke kelas kami.


" ayo anak-anak...!!"


" duduk di bangku masing-masing ya...!" seru guru mata pelajaran sosiologi tersebut sambil berjalan ke arah meja beliau.


tak selang berapa lama Eris sang ketua kelas pun meminta kami untuk berdiri dan memberikan salam kepada sang guru.


pelajaran pun segera dimulai.


# Author.


_ to be continued.

__ADS_1


__ADS_2