
keseruan di restoran itu benar-benar membuat ku bahagia, ya kan dari pada diam di mansion terus yang makin sepi akhir-akhir ini.
" Natasya.."
" bawakan buat keluarga mu nanti ya..." seruku sambil mengunyah daging yang dipilihkan Winda tadi.
" betulan nih..." jawab Natasya dengan antusias.
" ssttt...!!"
" gak usah heboh...!!" seruku sambil menunjuk ke Natasya dengan sumpit di tangan kanan ku.
" upss..., maaf..." jawab Natasya sambil menutup mulutnya yang masih penuh dengan daging. aku pun tersenyum kecil melihat Natasya.
" kau juga mau Win..?!" tanyaku sambil melihat ke arah Winda yang sedang mengaduk beberapa daging di saos soyu.
" mau dong..." jawab Winda sambil tersenyum dan mengaduk daging di pemanggang sambil berdiri.
" nanti ku infokan mereka lah..." sambung ku sambil melahap potongan daging yang sudah matang.
assalamualaikum..!!"
seru suara ngebass dari arah pintu masuk, suara yang familiar dan penuh wibawa. semua pun sontak melihat kearah sosok itu dan menjawab salam dari nya
" wa'allaikumsalam..."
yupz..
siapa lagi kalau bukan yang mulia lord Roby Sugara.
😑
" maaf baru datang.." seru Roby bersama Fitra, tampaknya mereka makin akrab saja akhir-akhir ini.
" never mind..."
" nikmati aja hidangannya..." jawab ku cuek, sebenarnya aku agak risih juga saat Roby mendekati mejaku. apalagi dia makin greget aja saat melihat penampilan Roby yang..
aahhh..., lupakan...
😣
dia diam aja melihat ku yang cuek, aku pun membuang muka saat merasakan kehadirannya dekat dengan ku. parfum mint Roby begitu segar dan membuat siapapun yang mencium wangi nya pasti akan klepek-klepek.
" duh baumu..." seru ku sambil menutup hidung ku dengan jari telunjuk. kini aku melirik ke arah Roby yang berdiri tepat di samping kiri ku.
" kenapa dengan parfum ku..??" tanya Roby sambil mencium dadanya sendiri.
" terlalu kuat.."
" kayak parfum cewek aja..." sambung ku sambil membuang muka ku lagi, sindiran ku membuat Natasya dan Winda terkejut. Natasya hampir tersedak daging mendengar ucapan ku, sedangkan Winda hampir memuntahkan lagi teh yang akan diminumnya.
aku tertawa melihat kedua sahabat ku itu bereaksi dengan uniknya saat mendengar perkataan ku tentang Roby. dia kali ini melihat kami bertiga dengan menyipitkan matanya.
" sudahlah..."
" matamu sudah sipit..., gak usah kamu sipit-sipitkan..." seru ku dengan tertawa dan melihat ke arah Natasya dan Winda.
__ADS_1
karena menurut mereka bercanda ku udah sedikit keterlaluan, Natasya pun menendang pelan kaki ku di bawah meja. di berinisiatif untuk memperingatkan ku dengan kode menggeleng kepalanya dengan pelan agar tidak melanjutkan perkataan ku dan lebih menjaga perasaan Roby.
" ya udah lah kalau gitu..."
" kalian lanjut aja.." seru Roby sambil memasang ekspresi kecewa sambil meninggalkan meja kami. Roby dan Fitra berangsur meninggalkan meja kami dan mengambil makanan yang akan mereka nikmati.
" duh kau Marischka...!!"
" sedikit berlebihan candaan mu sama Roby..." seru Winda sambil kembali melanjutkan memasak dagingnya.
" halah..."
" cowok kok gampang ngambek Win.." seru ku sambil mengunyah makanan dan melihat ke arah Winda. sebelum Winda akan melanjutkan pembelaannya terhadap Roby, Natasya pun membantu menengahi kami berdua.
" udahlah biarkan saja.." sambung Natasya dengan cuek dan memasukkan lagi daging di pembakaran.
" betul kata Marischka..."
" Roby itu bukan anak kecil lagi..." seru Natasya yang masih membolak-balik daging di pemanggang.
Winda terlihat cukup mengerti tentang maksud perkataan kami berdua. Winda pun terlihat lebih baik lagi moodnya, kali ini dia memasukan bermacam rebusan di hot pot yang sudah dipersiapkan tadi.
kami bertiga pun saling bercanda satu sama lain, saling menceritakan hal yang bersifat pribadi, terutama Natasya yang menceritakan tentang pertengkaran nya dengan kakak nya.
sampai cerita tentang pacar Natasya yang sering gonta-ganti, aku pun juga mengorek informasi tentang percintaan Winda. katanya sih Winda punya pacar mahasiswa universitas terkemuka di kota Bogor.
namun saat ini si cowok masih sibuk dengan KKN di luar daerah sehingga Winda menjalani hubungan LDR. aku dan Natasya pun sedikit terkejut dengan kenyataan bahwa Winda sudah gak jomblo lagi.
" ya kan pas kita dekat, aku sudah jalan sama cowok ku Nat..." seru Winda sambil mengunyah bakso.
" tinggal kamu aja tuh Marischka yang masih ngejomblo..." tanya Winda sambil memasang ekspresi mengejek ku.
" Marischka mah tinggal tutup mata bisa aja tuh langsung pacaran.." sambung Natasya sambil menunjuk ku dengan sumpit yang masih ada potongan daging nya.
" yeee..."
" kau pikir aku cewek gampangan apa...!!" sambung ku sambil menyipitkan mataku ke arah Natasya.
" teruss...??"
" kalau Roby menurut mu gimana...??" tanya Winda sambil mengunyah makanan dan menatap ku dengan serius. aku yang sedang mengunyah pun sedikit tersedak karena pertanyaan Winda yang mendadak.
" Roby...??"
" kenapa memangnya dia..??" tanya ku sambil meminum air putih supaya tertelan semua makanan di mulut ku.
" kalian cocok dehh..." sambung Winda santai sambil mengambil daging di pemanggang.
" gak aahh..."
" keluarga nya orang terpandang..." jawab ku santai sambil membersihkan bekas makanan di mulut ku dengan tisu.
" haahh...??"
" kalau menurut ku sih lebih terpandang keluarga mu lah Marischka..." sambung Winda yang kini melihat ku dengan fokus dan terlihat cukup serius.
" gak lah.."
__ADS_1
" keluarga ku hanya bisnis perhotelan aja.."
" beda sama keluarga Roby yang bisnis properti..." jawab ku sambil tersenyum dan mencari sesuatu di dalam tas jinjing merah ku.
" emang apa bedanya...?"
" kan sama-sama konglomerat kalian..?" tanya Natasya yang sibuk memasukkan lagi daging itu ke pemanggang.
" iyaa kan beda sayang..." seruku sambil mengambil amplop yang diberikan oleh sang supervisor tadi.
" siapa sih yang gak kenal keluarga kelas atas Sugara..."
" kalau jeli dan sering lihat televisi, ada tuh iklannya tentang properti yang dijalankan keluarga Roby yaitu Sugara Building Group.." sambung ku sambil melihat isi surat tadi.
" sedangkan keluarga ku...??"
" cuma keluarga kecil.." seruku sambil melihat ke arah Winda.
" begitukah...??" seru Winda sedikit paham situasi nya. kali ini dia kembali mengambil daging yang terlihat over cook.
aku pun kembali fokus melihat isi surat yang ku pegang, ternyata isinya dari sang owner Hanamasa dan beliau menyampaikan jika semua makanan yang dihidangkan akan menjadi tanggungan nya alias gratis.
hmmm...
seperti ada sesuatu yang mencurigakan nih...
🤔
aku pun meletakkan kembali lembaran kertas itu di dalam amplop lagi, serta ku masukkan ke tas jinjing merah ku supaya tuan Alfred melihatnya.
" kalau aku sih setuju nya dia sama Mario.." celetuk Natasya yang dengan cepat membuat Winda sedikit tersedak, aku pun melotot tak percaya perkataan Natasya.
" memang kenapa dengan Mario..??" tanya Winda ke arah Natasya, aku pun memelototi Natasya supaya sedikit menjaga omongan nya saat bercerita tentang pribadi ku.
" iyaa setuju aja sih..."
" lagian kan Mario kapten tim basket sekolah kita dan calon ketua OSIS pula..." seru Natasya sambil melirik kearah ku saat menyadari ancaman dariku.
" iyaa kan Marischka..." seru Natasya sambil mengangkat kedua alisnya.
" heleehhhh..."
" itu karena kau aja yang ngebet sama Mario..." seruku sambil nyengir kearah Natasya. Winda pun terkekeh melihat kami berdua saling lempar Mario.
" lagian Giselle gak akan biarkan mu mendekati nya Marischka..." seru Winda sambil melihat ku dan menunjuk dengan sumpit nya.
" iyaa..."
" belum lagi ada Mak lampir alias si Dian..." seru Natasya sambil berdiri dan mengambil rebusan di mangkok nya.
" heehh..."
" lagian siapa yang mau merebut Mario..."
" Natasya kali yang keganjenan sama Mario.." seruku sedikit ngegas. Natasya melotot seakan matanya mau keluar saat disangkut pautkan dengan nama Mario.
# Author.
__ADS_1
_to be continued.