
Garra Charrua...
adalah spirit dari negeri Uruguay, berjuang untuk tidak kalah dari siapapun yang memadukan kegigihan, keuletan dan muslihat dalam meraih segalanya.
Sial...!!!
semua orang berusaha untuk membantu ku berdiri, namun entah kenapa aku merasa tidak bisa berdiri lagi.
" Nat..."
" lutut ku nyeri banget..!!" sambung ku sambil melihat ke arah lutut sebelah kiri.
dengan segera Natasya melihat kondisi lututku sebelah kiri, dari pengelihatannya memang terlihat semakin membengkak lututku itu.
" kenapa Nat..??" tanya Winda sambil berdiri di belakang Natasya dan terlihat khawatir.
" sakit lutut ku.." sambung ku sambil mengelap air mata yang tiba-tiba keluar tadi. Natasya pun berusaha membantu meringankan cedera yang ku dapat dengan cara memijat nya.
" sakit..!!"
tak selang berapa lama Roby dan teman-teman ku datang ke tempat ku duduk. asisten Liu pun terlihat khawatir dan datang hampir bersamaan dengan Roby.
Winda yang melihat Dian sudah berdiri dan terlihat senang atas cedera ku, dia berbalik dan mendatangi Dian. Mak Nyak yang mengetahui maksud Winda, dengan cepat dia mengikuti Winda yang terlihat emosi.
" kau ya Dian..!!!" dengan cepat Winda melayangkan tangan kanannya dan berusaha menampar pipi Dian.
" WINDA...!!!!" seru Mak Nyak yang sudah menahan tangan Winda yang akan menampar Dian dengan keras.
" apa kau...??!!!"
" berani tampar...?!!" seru Dian dengan terlihat emosi. Winda makin menjadi saja mendengar perkataan Dian, dengan masih di pegang oleh Mak Nyak, Winda dengan penuh amarah memukul kepala Dian dengan tangan kirinya.
semua perhatian jadi tertuju ke Winda dan Dian, amarah Winda sudah tak tertahankan lagi. Dian pun mulai berusaha membalas tamparan dari Winda.
kondisi semakin rusuh saat semua ikut terbawa emosi Winda dan Dian. Natasya hanya berdiri dan melihat perkelahian yang sudah mulai tak terkendali.
semua berusaha melerai kedua team, adu mulut pun tersaji di tengah lapangan. saling mengejek pun tak hanya ada di lapangan basket, para suporter yang hadir pun menjadi tak terkendali.
" curaanggg..!!!"
" takut kalah lo..!!??"
keributan makin menjadi, namun dengan cepat guru olahraga yang dari tadi mengamati di bangku panitia sampai harus turun tangan untuk melerai.
aku pun masih duduk di lapangan, Natasya menemani ku sambil memasang muka iba. asisten Liu juga masih berada di samping ku, walaupun terlihat marah, namun asisten Liu tak mau terbawa suasana dan memilih untuk menemani ku.
" nona bisa berdiri..??" tanya asisten Liu khawatir, aku hanya menggeleng kan kepala.
" Roby..!!"
__ADS_1
" sini...!!!" seru Natasya dengan keras ke arah Roby yang ikut melerai Winda tadi.
Roby pun kembali berlari ke arah Natasya, aku masih terduduk dan tidak bisa apa-apa lagi.
" asisten Liu..?!"
" nanti pulang dari sini antar aku ke Singapura ya...?" seru ku sambil melihat ke arah asisten Liu yang masih jongkok di samping kiri ku.
" baik nona muda..." jawab nya dengan segera. tak selang berapa lama Roby datang dan berbicara sebentar dengan Natasya.
" Roby...."
" tolong angkat kan Marischka ke bangku cadangan.." pinta Natasya dengan serius. Roby hanya mengangguk saja dengan permintaan Natasya.
Natasya dan Roby pun mendatangi tempat ku duduk. Roby yang melihat kondisi ku terlihat iba dan tak tega, bukan karena aku sudah tidak berdaya lagi namun lebih ke sisi humanis seorang Roby.
" tolong ya Roby..." seru Natasya sambil melihat kearah nya. Roby hanya mengangguk tanda mengerti.
" ada apa ini...??" tanyaku ke Natasya dan Roby yang sudah ada di samping ku.
" kami mau pindah kan kau ke bangku cadangan..!" seru Roby dengan suara ngebassnya.
" apaaa...??" seru ku kesal.
" sudahlah Marischka...!!"
" gak ada waktu untuk menolak..!!" sambung Natasya dengan kesal. dengan segera Natasya mengkode ke arah Roby seakan berkata cuekin aja penolakan nya.
" apaan sih..!!!" seru ku kesal sambil tetap berontak. asisten Liu pun sebenarnya dilematis juga, namun demi kebaikan ku dia malah mengiyakan ide Natasya.
" sudahlah nona muda...!!" seru asisten Liu. sambil tersenyum dan mengangguk seakan meyakinkan ku.
mau tak mau aku menerima ide gila Natasya. dengan segera Roby mengangkat tubuh ku, entah kenapa aku hanya diam dan pasrah saja.
" hati-hati...!!" seru asisten Liu.
melihat dada Roby dengan dekat dan tangan kokohnya, membuat hati ku tidak karuan. baju seragam putih dan wangi parfum yang dia kenakan makin membuat ku tak karuan.
dengan cepat aku sudah sampai di tempat duduk pemain cadangan kelas kami, semua berkumpul melihat kondisi lututku. namun aku hanya tersenyum saja melihat perhatian mereka kepada ku.
pertandingan yang sempat berhenti karena insiden kecil dan pertikaian Winda dan Dian kini sudah akan dimulai lagi.
akhirnya panitia pelaksana memutuskan Winda dan Dian dikeluarkan dari permainan. keputusan panitia membuat kami tidak terima, namun karena sudah disepakati oleh panitia dan wasit, maka kami harus menerima kenyataan nya.
tanpa adanya aku dan Winda pertandingan bisa dikatakan berat sebelah, walaupun ada Natasya dan Mak Nyak namun mereka tidak bisa membendung permainan team Giselle dan gengnya.
priiittt..!!!!
peluit panjang pertandingan pun telah ditiup. kelas kami harus mengakui kekalahan dari team Giselle, di quarter terakhir kelas kami seakan sudah tak bisa membalas permainan cepat mereka.
__ADS_1
keunggulan poin tadi dengan mudahnya disusul dan dibalikkan keadaannya, kelas kami pun gagal masuk ke final tahun ini.
yahhh...
pelajaran yang berharga...
...* * *...
" biar saya papah nona muda...!" seru asisten Liu dengan senyum manis khas dirinya. aku hanya mengangguk saja dan kembali tersenyum ke arah asisten Liu.
" sudahlah lah gak apa-apa...!!" seru Winda sambil menenangkan pemain lainnya yang terlihat lemas dan hanya membisu.
asisten Liu yang masih disamping ku pun juga ikut kecewa dengan hasil ini, sambil tetap menghibur ku, asisten Liu pun berjanji akan menghancurkan team Giselle di final nanti.
" tenang saja..."
" di final besok, akan ku hancurkan lawan kalian..!!" seru asisten Liu sambil tersenyum, namun senyum asisten Liu terlihat lebih mengerikan dan seakan drakula yang menampakkan taring nya dengan jelas.
" terima kasih...!!" seruku sambil tersenyum melihat asisten Liu, namun ku lihat mereka seakan masih belum bisa move on dari game tadi, terutama Winda.
" sudahlah..!!"
" nanti kalau sudah selesai semuanya, ku traktir kalian makan di Hanamasa..." seruku sambil tersenyum dan melihat ke arah teman-teman ku berdiri.
" gak usahlah..."
" kami gak mau repotin kamu lagi Marischka.." seru Winda sambil melihat kearah ku dan celingak-celinguk ke yang lainnya. namun mereka terlihat tidak semangat seperti biasa.
" sudahlah...!!"
" ayookk..??" tanya ku sambil tersenyum dan melihat ke arah teman yang lain.
mereka pun hanya tersenyum sayu dan mengangguk seakan tidak semangat. aku tau perasaan mereka yang telah berjuang namun hasilnya tak sesuai harapan kami.
" sudahlah ayo balik ke kelas..!!" seru ku sambil membereskan perlengkapan ku tadi ke dalam tas.
" ayookk..." seru Natasya sambil mengajak yang lainnya untuk segera kembali ke kelas.
kami pun mulai meninggalkan gedung olahraga, asisten Liu membantu ku untuk kembali ke kelas bersama-sama teman sekelas ku.
dalam perjalanan kesana aku menanyakan kepada asisten Liu kenapa tidak main di semifinal, toh ya sekarang lutut ku sudah membaik tidak seperti saat pertama kali cedera tadi.
" saya ingin menemani nona muda..!"
" lagian teman-teman bisa mengatasi perlawanan mereka dengan mudah, walaupun tanpa kehadiran ku.." sambung asisten Liu sambil tersenyum.
sebenarnya aku mengerti maksud asisten Liu, tapi untuk sekarang aku tak ingin menghalangi passion dari asisten Liu. bisa dibilang dia akan semangat jika ada aku didalamnya, menurut asisten Liu aku adalah rival terberatnya.
# Author.
__ADS_1
_ to be continued