Keluarga Kartika

Keluarga Kartika
Kembali ke sekolah


__ADS_3

matahari pagi masih belum menampakkan diri di ujung ufuk timur, namun aktivitas di kota kami seakan sudah seperti pada siang hari.


daerah penyangga ibukota memang lah selalu padat dari segala aktivitas, banyak pekerja yang berangkat lebih awal supaya tidak terjadi terjebak kemacetan jalanan ibukota.


aku pun sudah siap untuk kembali ke sekolah yang terletak tidak terlalu jauh dari mansion keluarga Kartika.


bunyi suara sepatu pantofel kepala asisten rumah tangga kami memecah keheningan pagi di mansion keluarga Kartika.


tap...tap...tap....


sesampainya di depan kamar ku, dengan segera kepala asisten rumah tangga kami mengetuk pintu kamar ku.


" permisi nona muda.." seru tuan Alfred dari luar pintu kamar ku.


" iya tuan Alfred.." sahut ku dari dalam kamar.


" sudah waktunya anda pergi ke sekolah nona muda..," sambung tuan Alfred.


" baik tuan Alfred.."


" segera aku kesana..," seruku dari dalam kamar.


setelah selesai dengan semua persiapan ku untuk kembali sekolah, segera aku menuju ke ruang makan yang terdapat di lantai satu.


" selamat pagi nona muda.." sapa tuan Alfred yang berada di samping ku dan mempersilahkan ku untuk duduk di kursi depan


dengan teliti tuan Alfred mempersiapkan sarapan ku, ruang makan yang luas seakan menunjukkan keheningan yang dingin.


sendok dan garpu makan ku saling beradu memecah keheningan di ruang makan.


" tuan Alfred..,"


" iya nona muda.., jawab tuan Alfred dengan tersenyum.


" kemana nenek..?" tanyaku lagi.


" nyonya besar sudah berangkat ke Jerman nona muda..,"


" dia berkata jika ada keperluan disana, sehingga ijin untuk berangkat dahulu.." jawab tuan Alfred.


" aku mengerti.." jawab ku sambil menyelesaikan sarapan pagi.


dengan segera aku meninggalkan ruang makan itu dan keluar menuju ke mobil yang sudah siap di depan.


setelah dipersilahkan masuk kedalam mobil, ku sempatkan untuk pamit ke tuan Alfred.


" saya berangkat dulu tuan Alfred.."


" hati-hati nona muda.." seru tuan Alfred dengan tersenyum.


pria paruh baya itu sudah lama ikut dengan keluarga kami, dan sekarang menjadi bagian penting keluarga Kartika.


mobil Rolls-Royce Phantom biru silver milik ku berjalan dengan pelan menuju ke sekolah.


sekolah ku tergolong sekolah yang elit, karena banyak anak-anak dari keluarga kaya di negeri ini bersekolah di sana.


namun tidak hanya anak dari kalangan berada yang bersekolah disitu, banyak juga yang diterima merupakan siswa yang berprestasi baik dari segi formal maupun informal,


berbagai prestasi sudah sekolah ini raih, sehingga menjadi rujukan untuk sekolah lain baik di lokal maupun secara nasional.


...* * *...

__ADS_1


mobil ku memasuki jalanan dekat dengan sekolah, kuputuskan untuk turun beberapa meter dari gerbang utama.


kebetulan aku dan Natasha teman baikku janjian di salah satu halte bus yang tidak terlalu jauh dari sekolah.


setelah turun segera kuambil gawai ku untuk menghubungi Natasya.


📞" kau dimana Nat..??"


" masih dijalan kah??" seru ku dalam telpon.


📞" iya nih aku masih dijalan, tunggu aja disitu..!" sambung Natasya.


📞 " oke, hati-hati.." seru ku, dengan segera aku tutup telpon supaya tidak menggangu Natasya.


selang beberapa saat kemudian Natasya datang dengan motor, dia selalu diantarkan oleh ayahnya.


" maaf ya Marischka.." seru Natasya sambil turun dari motor ayah nya.


tidak lupa pula aku sempat kan untuk menyapa ayah Natasya dan menghampiri nya.


" pagi pak Agus.." sapa ku ke pria paruh baya yang masih sibuk melepaskan helm anak tercinta nya.


" pagi juga nak Marischka.." sapa pak Agus dengan penuh kehangatan.


"sudah lama kamu tungguin nya Marischka??" sela Natasya sambil memberikan helm yang tadi dipakainya ke pak Agus


" maaf ya nak Marischka jadi lama nunggu Natasya nya..."


aku hanya tersenyum saat melihat kasih sayang yang melimpah dari ayah Natasya.


" jalannya macet parah tadi..." sambung pak Agus sambil tertawa dan memperlihatkan gigi nya yang sudah tidak utuh lagi.


aku pun menahan tawaku saat melihat gigi pak Agus yang sudah tidak utuh lagi.


" saya pamit masuk dulu pak.." seru ku ke pak Agus sambil tersenyum.


" berangkat dulu ayah., assalamualaikum.."


" wa'alaikum salam..." seru pak Agus dengan ramah.


segera kami meninggalkan tempat pertemuan tadi dan berjalan ke arah gerbang utama.


" nih.., oleh-oleh yang ku janjikan untuk mu dan adik mu.." sambungku sambil memberikan tas yang ku bawa dari Bali


" waaaooowwwww..."


" makasih banyak Marischka..!!" seru Natasya dengan antusias.


" iya sama-sama.." sambung ku sambil tersenyum.


kami berdua memasuki gerbang utama sekolah dan bertemu murid-murid lain yang juga sudah mulai berdatangan.


tempat ku menimba ilmu memang tergolong elite, banyak siswa yang berangkat menggunakan mobil pribadi yang harganya tidak lah murah.


" pagi Marischka..." sapa seseorang di belakang kami.


sosok pria itu bernama Mario Anggara, cowok idaman di sekolah kami, kapten tim basket sekolah dan banyak sekali prestasi yang dicapai nya sehingga membuat dia mendapat julukan pangeran sekolah.


dulu Mario, aku, dan Natasha berada dalam satu kelas, makanya kami saling mengenal.


" pagi juga Mario..," jawab Natasya sambil melihat penuh kekaguman kepada Mario.

__ADS_1


aku yang melihat Natasha kegatelan memelototi nya, Natasya sering menggoda dan menjodohkan ku dan Mario, karena tau jika Mario sedikit ada rasa sama ku.


Mario termasuk orang yang berpikiran dewasa di antara semua murid, walaupun banyak murid yang mengidamkan dirinya, namun seringkali dia tidak memperdulikan nya.


...* * *...


" pagi juga Mario.." sambung ku sambil tersenyum.


" emm..., sepulang sekolah kami nanti ada pertandingan persahabatan di aula utama.."


" maukah kamu melihat kami bermain Marischka..??" ajak Mario.


Natasya yang memang sudah kegatelan menyetujui nya tanpa mendengar kata-kata ku.


" mau..,mau...,mau...,!!"


" pasti kami datang..." seru Natasya dengan antusias.


" idih..., kau kenapa sih Nat..??" sambung ku ke arah Natasya dengan muka yang jengkel.


aku yang sedikit risih pun memelototi Natasya yang kini sedang memegang lengan ku, Natasya yang mengerti kode ku hanya merunduk seperti anak kecil yang kena marah ibu nya.


" hufftt..."


" kita liat aja nanti.." sambung ku dengan ketus, mendengar itu Mario sedikit bersemangat.


" oke.., ku tunggu kalian di sana.." sambung Mario.


kini Mario mulai meninggalkan kami berdua dan berjalan menuju ke kelasnya.


aku yang dari tadi kesal sama sikapnya Natasya, kini ku cubit lengan nya yang melingkar di lengan ku.


" aw..., sakit Marischka..!!" seru Natasya sambil mengusap bagian yang ku cubit tadi.


" salah siapa juga yang kegatelan sama Mario.." seru ku, Natasya dengan seribu akal nya beralasan supaya aku mau iku melihat team basket sedang bertanding.


" sudah lah Marischka..,"


" ikutan saja liat nanti yuk.., lumayan kan siapa tau ada anak basket sekolah lain yang cakep.." sambung Natasya.


aku pun sedikit goyah dengan antusias Natasya, kupikir sih benar juga apa yang dikatakan Natasya, lagian lama sudah gak liat aksi Mario main basket.


" tau ah Nat..."


" kita liat aja nanti.." sambung ku,


" nah..., gitu..." seru Natasya


Natasya dan aku mulai berjalan ke arah gedung utama sekolah, terlihat senyum kemenangan yang karena berhasil membujuk ku.


" siapapun yang liat pasti akan ngiler melihat kecantikan mu Marischka.."


" siapa tau anak sekolah lain gak konsen saat ada kamu dan team sekolah kita menang..!!" sambung Natasya sambil tertawa.


" idih.."


" dasar gak jelas." sambung ku.


aku dan Natasya sudah berada di dalam kelas dan bersiap untuk mengikuti mata pelajaran.


# Author

__ADS_1


_ to be continued


__ADS_2