
" boleh kurang dikit lah kaaak..?!" seruku sambil menerima baju yang kutunjuk tadi dari pegawai toko itu.
" kami pelajar nihh.."
" uang saku kami tak terlalu banyak.." sambung ku sambil melihat-lihat koleksi baju lainnya.
" boleh kurang..."
" kakak minta berapa..??" tanya pegawai toko itu dengan ramah. tampak nya dia tau jika aku dari Indonesia.
" kasih delapan dolar lah kuambil banyak..!?" sambar ku sambil mengembalikan baju yang ku pegang ke pegawai toko itu.
" gak bisa kaakk..!"
" kalau segitu belum balik modal kaakk..!" jawab pegawai itu dengan ramah dan tetap dengan tersenyum.
" ya udah saya keliling dulu lah kak..." seru ku dengan sedikit beranjak meninggalkan toko pertama. biasanya sih jika dikasih aku akan dipanggil kembali sama pegawai toko itu, ilmu yang kudapat saat ikut Natasya kepasar.
😑
ilmu gak guna banget sih sebenarnya...
setelah aku beranjak dari toko itu, aku pun kembali melihat lihat isi pusat oleh-oleh itu. banyak pernak-pernik yang menarik, mau itu album foto, gantungan kunci, patung statue Merlion dan berbagai macam jenis souvernir lainnya.
" wuih...!!"
" bagus-bagus kualitas nya pula.."
aku singgah di toko yang menurut ku menarik, terutama yang memberikan kesan tersendiri bagi ku.
" berapa nih kaakk..??" tanyaku ke penjaga toko sambil memegang bingkai foto yang menarik.
" tiga dolar kaak..!" mendengar harganya aku diam sejenak, sebenarnya untuk kualitas dan harga seimbang sih, namun entah kenapa aku belum terlalu tertarik untuk membeli nya.
" nanti lah kak.." jawab ku sambil meletakkan kembali bingkai foto itu di tempatnya semula.
" saya keliling dulu..." sambung ku lagi. aku pun mulai berjalan menjauh dari toko souvernir itu, aku kembali melihat lihat toko lain yang menarik.
" ini berapa kaakk..??" tanyaku ke pegawai toko lain. dengan segera sosok perempuan muda pegawai toko menghampiri ku.
" tujuh dolar kaak..!" jawabnya dengan ramah sambil sesekali memperbaiki jilbab nya yang sedikit berantakan.
" bisa kurang kan..?" tanya ku lagi.
" bisa kaakk..." jawab nya, kali ini perhatian karyawan toko itu teralihkan oleh beberapa rombongan pemuda yang juga singgah di toko sama denganku.
" berapa kaakk..!?" seru salah seorang teman cewek yang juga sedang memilih bingkai foto. aku pun acuh dan tetap memilih bingkai foto yang terlihat lebih menarik dari toko yang pertama.
" seperti nya pernah ketemu deeh..??" seru salah seorang teman cowok di rombongan pemuda itu sambil melihat ke arah ku.
" ihh sok akrab..!!" seru teman cowok lainnya.
" iyaa nih.., mentang-mentang ada cewek cantik langsung semua jadi kenal..!!" sambung cewek yang ada di satu rombongan.
aku hanya sibuk dengan pemilihan bingkai foto, jadi tidak terlalu ngeh jika cowok itu seakan sok kenal dan ingin menyapa ku.
__ADS_1
" dasar...!!"
mereka pun kompak mengacak-acak rambut temannya tadi yang bilang jika kenal aku. sambil bercanda mereka pun mengeluarkan suara gaduh yang cukup membuat riuh toko souvenir itu
aku pun membalikkan badan dan melihat ke arah keramaian kecil disekitar ku.
" naahhh...?!!!"
" betul kan cewek yang naik mobil di Nusa Lembongan dulu..!!" seru teman cowok yang tadi diacak-acak rambutnya.
" hmmm..??" aku pun memasang ekspresi wajah yang penuh keheranan.
" maaf ya..!" belum aku menyelesaikan kalimat ku langsung aja disambar oleh Samuel yang notabene teman serombongan Roby waktu di Nusa Lembongan dulu.
" aku Samuel...!!"
" teman serombongan nya Roby dulu..!!" sambar Samuel dengan cepat.
" Roby..??"
" iyaa..., Roby Sugara..!?" sambung Samuel lagi. masih dengan kebingungan ku, kali ini Samuel menjulurkan lengannya untuk sekedar berjabat tangan.
" Samuel..!!" serunya sambil terlihat antusias dan bersemangat.
" Marischka..." jawab ku dengan ekspresi yang belum normal sepenuhnya.
" Marischka...?!" seru salah satu cewek cantik yang masih satu rombongan dengan Samuel.
" seperti nya aku cukup familiar dengan nama mu akhir-akhir ini..?!" sambung cewek itu dengan ekspresi wajah yang penuh tanda tanya.
" owh sorry...."
paras Chinese begitu kental diwajahnya, dengan tinggi yang hampir sama dengan ku, dia memperkenalkan dirinya dengan ramah.
" owh iyaa..."
" Marischka Kartika..." sahut ku ramah dan hangat, entah kenapa aku pun sedikit familiar dengan nama keluarga cewek itu.
" emm..."
" memang sepertinya aku cukup familiar dengan marga mu.." sambung Felia dengan senyum yang manis.
" saya pikir nama marga ku banyak di Indonesia.." jawab ku sambil tersenyum manis dan sedikit salah tingkah.
" kau benar...!!"
" namun tidak banyak yang memiliki body guard sepertimu.." sambung nya, kali ini kata-katanya terdengar sedikit dingin.
aku mencium bau ketidak nyamanan dari kata-kata barusan, namun aku tetap berusaha ramah ke semua orang. tak selang berapa saat body guard yang mendampingi ku, kini mulai memberanikan diri untuk mendekati ku.
" maaf nona muda...?!"
" ada telpon dari nyonya besar..." seru dia sambil mengulurkan gawai di tangannya. aku pun melihat ke arahnya dan dengan segera mengambil gawai tersebut.
" maaf ya...!?" seruku ke arah mereka.
__ADS_1
" tentu saja..!!" sambung Felia sambil tersenyum. aku pun sedikit menjauhkan diri dari mereka supaya tidak terdengar percakapan ku dengan nenek.
📞 " iyaa neek..??" tanyaku dengan sedikit berbisik.
📞 " kamu masih belanja honey...??" tanya nenek dengan nada yang penasaran.
📞 " heem neekk..."
📞 " sebentar lagi selesai kok..!" jawab ku, kali ini sambil melihat barang belanjaan yang berhasil ku beli tadi.
📞 " owhh iya tidak apa-apa kok honey...!"
📞 " nenek cuma khawatir kan cucu nenek saja.." tanya beliau dengan ramah, aku senang mendengar kata-kata nenek. tak ku sangka nenek mengkhawatirkan cucunya ini.
📞 " terima kasih neekk..!" jawab ku dengan ekspresi sedikit manja di gawai punya body guard itu.
📞 " tentu sweet heart...!!"
📞 " kalau begitu nenek lanjut urusan nenek dulu ya.." sambung nenek terdengar dengan bijak.
📞 " iyaa nek..." sambung ku lagi, tak selang berapa lama telpon pun dimatikan. setelah terputus telpon nenek aku pun segera memberikan gawai itu ke pemilik nya.
" terima kasih banyak..." seru ku ke body guard itu.
" ayo kita lanjutkan hunting nya..!" ajak ku ke body guard yang mendampingi ku. aku pun berjalan lagi ke arah toko souvenir tadi, dan ternyata mereka masih disana dan sedang memilih beberapa cinderamata.
" kaakk saya ambil ini deeh...!" seruku sambil mengambil beberapa souvenir secara acak dan terkesan asal pilih aja.
" baik nona..." seru pegawai toko itu dengan sedikit kerepotan karena banyaknya souvenir yang ku pilih.
" saya minta sekalian di total semuanya ya kak..!" seruku ke kasir yang juga ikut kerepotan. gerombolan Felia dan Samuel ikut memperhatikan aku yang sedang belanja oleh-oleh dengan kalapnya.
" berapa semuanya kaakk...??" seruku sambil berdiri di dekat kasir yang sedang menghitung semuanya.
" dua ratus tiga puluh lima dolar kak..!" jawab sang kasir sambil tersenyum ke arah ku. mendengar jumlahnya aku segera mengeluarkan kartu kredit hitam bertuliskan infinite milik ku.
" tentu kaak...!" jawab sang kasir sambil menerima kartu kredit ku. aku pun melihat sekeliling ku, tepat di belakang ku ternyata Felia antri.
" waahh..."
" sungguh hebat keluarga mu ya Marischka..!" seru Felia dengan sedikit dingin.
" maksud nya..??" tanyaku penasaran sambil membalikkan badan ku melihat ke arahnya.
" iyaaa..."
" baru kali ini aku melihat kartu kredit milik mu.." jawab nya sambil tersenyum dan melihat ke arah kartu kredit hitam milik ku yang sedang dipegang oleh kasir.
" bahkan orang tua ku gak akan mampu memiliki kartu kredit seperti yang kau miliki..." sambung nya sambil berjalan mendekati kasir, aku pun hanya diam saja mendengar perkataan Felia.
" silahkan nona.." seru sang kasir sambil menyodorkan kartu kredit hitam milik ku dan struk belanja. dengan segera aku pun mengambil kartu kredit dan kantong belanjaan milikku.
" terima kasih banyak kaak...!!" seru kasir itu dengan ramah.
body guard ku dengan cepat membantu ku menerima barang belanjaan yang lumayan banyak.
__ADS_1
# Author.
_to be continued