Keluarga Kartika

Keluarga Kartika
Tuan Sugara


__ADS_3

rapat penyampaian visi misi Sugara Building Group segera dimulai, tampak asisten tuan Sugara menyampaikan presentasi di proyektor yang telah dipersiapkan.


diskusi pun terjadi antara aku dan beberapa perwakilan pihak pemerintah. tuan Sugara pun hanya sekedar menyimak jalannya rapat tersebut.


" jadi pada intinya nona Kartika, tuan Sugara ingin meminta bantuan kepada keluarga Kartika untuk bisa masuk ke Dubai dan berinvestasi di sana.." sambung asisten tuan Sugara dengan serius dan penuh perhitungan.


" kemauan tuan Sugara sangat besar untuk melebarkan sayap perusahaan kami.." sambung asisten tersebut.


" saya paham tuan..." sambung ku dengan serius dan penuh perhitungan.


" pasti akan saya bantu dengan menghubungi cabang perusahaan kami di Dubai, dan pemerintah disana untuk mengurus permintaan tuan.." jawab ku sambil melihat ke arah tuan Sagara yang berada di ujung meja rapat.


pernyataan ku tadi seakan membuat tuan Michael Sugara jadi tenang dan sedikit nyaman.


" tak salah memang keturunan dari keluarga Kartika.." sambut tuan Sugara yang membuat perhatian kami tertuju kepada beliau.


" masih muda namun intuisi bisnisnya sangat baik.." puji tuan Sugara dengan senyum ramahnya.terlihat beberapa orang dalam ruangan rapat itu mengamini pernyataan dari tuan Sugara.


" kalau boleh tahu, berapa kira-kira umur nak Marischka..?!" seru tuan Sugara dengan sedikit serius.


" emm..., kebetulan saya baru 16 tahun pak.." jawab ku dengan sedikit malu-malu dan entah kenapa aku pun melirik ke arah Roby yang ada di samping tuan Sugara.


" wahh..., kebetulan putra saya pun berumur sama dengan nak Marischka.." sambung nya dengan antusias dan sedikit bangga.


aku hanya mengangguk saja dan tersenyum tipis seperti memahami situasi nya. sedangkan Roby, tampak Roby pun hanya tersenyum sok cool sambil melihat ke arah ku.


" yahh..., kebetulan yang tak disangka.." sambung tuan Sugara sambil tersenyum dan melihat ke arah jam tangan mewah yang dipakainya.


dengan sedikit kaget beliau memperhatikan jam tangan nya dan entah kenapa tuan Sugara dengan pelan berdiri dari tempat duduknya.


" tuan-tuan seperti nya meeting kita kali ini kita akhiri dulu hari ini.." sambung tuan Sugara yang kini sudah berdiri. semua hadirin yang berada di ruang itu melihat ke arah tuan Sugara.


" melihat waktu sudah malam.., para hadirin saya undang untuk makan malam dahulu..!"


" kita lanjutkan lain hari saja, sambil menunggu kabar dari nona muda kita.." sambung tuan Sugara sambil melihat ke arah ku.


" baik pak kami mengerti..." jawab salah satu staf pemerintahan dengan cepat.


tak selang berapa lama peserta meeting pun berdiri dari tempat duduknya masing-masing. sedangkan aku tetap fokus ke lembaran kertas dari tuan Sugara.

__ADS_1


" ayo makan dulu nak Kartika...?!" ajak tuan Sugara ramah yang ternyata sudah berada di belakang ku.


aku pun sedikit terkejut karena tuan Sugara sudah berada di belakang ku saja. dengan spontan aku berbalik ke arah tuan Sugara dan Roby yang ternyata sudah berada di belakangku.


" ohh.., baik pak Sugara..!!" sambung ku dengan sedikit kaget dan terlihat kikuk.


terlihat tuan Sugara melihat ku yang kini bergegas membereskan lembaran kertas yang ada di mejaku. namun entah kenapa aku tiba-tiba gugup dan membuat kertas ku jadi berantakan kemana-mana.


" bantu nak Marischka lah Roby..."


" masak kamu gak peka sih.." sambung tuan Sugara sambil sedikit menggoda anaknya.


" terima kasih tuan.." sambung ku cepat sambil membereskan lembaran kertas tadi.


Roby dengan segera membantu ku merapikan lembaran kertas tadi, namun dengan cepat kertas tadi sudah ku rapikan, sehingga Roby hanya tersenyum saja melihat ku.


" mari..." ajak tuan Sugara dengan ramah sambil menunggu ku yang kali ini membereskan tas jinjing yang ku bawa tadi.


" mari tuan Sugara.." jawab ku ramah.


dengan segera aku dan tuan Sugara jalan beriringan menuju ke tempat makan yang ada di lantai bawah. semua tamu dan staf pemerintahan yang lain pun mengikuti kami dari belakang.


dalam perjalanan menuju ke tempat makan, aku dan tuan Sugara bercerita banyak tentang nenek ku. ternyata tuan Sugara dan nenek lama saling mengenal, terutama mengenai bisnis yang dijalankan tuan Sugara sekarang.


mendengar kata-kata tuan Sugara, aku pun hanya tersenyum saja. saat mendengarkan cerita tuan Sugara, tiba-tiba telpon ku berbunyi dari dalam tas jinjing yang ku pegang.


kring...kring...kring....


" maaf tuan Sugara..." seru ku sambil mencari gawai yang ada di dalam tas ku dan sedikit menjauh dari rombongan kami.


ternyata tuan Alfred dari rumah memberi tahu jika jemputan ku sedikit telat karena terjebak kemacetan di kota. aku pun mengerti maksud tuan Alfred dan segera memerintahkan untuk tidak khawatir dengan ku.


dengan segera aku menuju tempat makan yang berada di lantai satu, ternyata di sana sudah siap beberapa staf restoran untuk melayani kami.


" nak Marischka sini..!!" ajak tuan Sugara sambil melambaikan tangan ke arah ku yang baru sampai. terlihat disana tuan Sugara duduk bersama Roby sambil ditemani oleh waiters yang sedang menulis pesanan mereka.


sambil tersenyum dan mengangguk aku pun berjalan ke arah tuan Sugara dan Roby duduk.


" mari-mari sini duduk sama om dan Roby.."

__ADS_1


" siapa tahu jodoh..." sambung tuan Sugara sambil tertawa kecil. terlihat Roby yang sedang minum sedikit tersedak karena candaan ayah nya itu.


aku pun hanya tersenyum saja mendengar candaan tuan Sugara. walaupun aku sedikit kaget dan malu sih, namun situasi itu sudah biasa ku atasi.


" nah.., nak Marischka mau pesan apa..??" tanya tuan Sugara sambil melihat ke arah ku yang sedang meletakkan tas jinjing.


" saya minuman saja tuan Sugara.." sambung ku sambil melihat ke arah tuan Sugara.


" baik..., lagi diet ya...??" goda tuan Sugara sambil tersenyum ke arahku. mendengar kata-kata tuan Sugara, aku pun hanya tersenyum saja dan seakan mengamini kata-katanya.


" gak perlu diet, om yakin pasti banyak yang mendekatimu..." lagi-lagi pujian dari tuan Sugara membuat ku sedikit malu.


" tuan Sugara terlalu memuji..."


" saya sangat jauh dari kata sempurna.." jawab ku merendah dan tersipu malu.


aku memang tidak ingin pujian dari seseorang membuat ku melayang, mengingat aku sangat jauh dari kata sempurna dan banyak hal-hal baru yang mesti aku pelajari.


" nak Marischka terlalu merendah.." sambung tuan Sugara sambil tersenyum bangga.


" nah Roby.., harusnya kamu mencontoh apa yang nak Marischka lakukan.." kali ini giliran Roby yang disindir oleh ayahnya sendiri.


" iya ayah..." sambung Roby cepat. terdengar suara Roby yang kurang nyaman saat dinasehati oleh ayahnya sendiri.


kulihat Roby sedikit kesal karena kata-kata ayahnya, memang saat rapat tadi Roby sering dinasehati ayah nya.


tak selang berapa lama kemudian, orderan yang kami pesan satu persatu datang di meja kami.


" silahkan nak Marischka..." sambung tuan Sugara ramah.


" terima kasih banyak tuan Sugara..." jawab ku sambil mulai mengaduk lemon tea hangat pesanan ku.


" panggil saja Om nak Marischka.."


" biar lebih akrab.." seru tuan Sugara ramah dan tersenyum penuh arti.


" baik om Sugara.." jawab ku dengan senyum manis khas dari ku.


kami mulai obrolan mengenai banyak hal tentang dunia bisnis dan berbagai isu yang beredar. namun pembicaraan kami harus berakhir saat tuan Sugara harus kembali ke Jakarta.

__ADS_1


# Author.


_ to be continued


__ADS_2