
" iya kann...??"
" coba kau pikir secara logika..." seru Winda dengan berapi-api sambil melihat ku, hal itu malah membuat ku sedikit takut.
" biasanya tuh kalau cowok ajak cewek ke undangan pernikahan..."
" berarti dia ingin kenalkan pasangan nya ke semua orang..." sambung nya lagi, kali ini lebih meyakinkan.
mendengar itu aku pun baru menyadari jika undangan Roby kemarin tak seperti biasa dirinya lakukan kepadaku. kemarin dia terlihat grogi dan tak nyaman saat mengutarakan permintaan nya.
" iya juga sih..." sambung ku dengan ekspresi wajah yang tegang.
" nah kaann...!"
" aku yakin tuh dia pasti ada maunya..." seru Winda sambil menunjuk ku dengan garpu yang dipegangnya. aku pun hanya bisa menghela nafas panjang sebagai tanda kecerobohan ku.
" terus gimana nih..."
" apa ku batalkan aja ya...??" tanyaku ke arah Winda dengan pasrah.
" menurut ku gak usah aja..."
" sebab jika kamu batalkan undangan Roby secara sepihak, nanti akan mencoreng nama baik keluarga mu..." jawab nya sambil berekspresi lebih tegas.
" iyaa juga sihhh..."
" make sense..." sambung ku dengan nada penuh penyesalan. jujur setelah Winda bicara tentang kemungkinan Roby memanfaatkan ku untuk mendongkrak nama keluarga Sugara aku sedikit down.
" yaa kamu ikuti aja permainan dia..."
" jika kamu rasa sudah merugikan mu dan nama baik keluarga mu, baru kamu tunjukkan siapa sebenarnya keluarga Kartika itu..." jawab Winda dengan mantap dan penuh perhitungan.
aku sedikit terkejut mendengar kata-kata Winda, apalagi dia biasa nya terlihat cukup tertutup dengan ku. namun kali ini saran dari nya membuat ku harus memikirkan ulang langkah ku selanjutnya.
aku harus lebih berhati-hati...
" jadi..."
" seandainya kamu besok ku ajak ke Jakarta mau ikut...??" celetuk ku dengan penasaran, ya terdengar lebih ke arah spontanitas sih.
" emmm..."
" gak ahhh..." jawab Winda dengan sedikit ragu.
" lho kenapa...??" sambung ku dengan cepat supaya membuat nya tidak berfikir ulang.
" aku gak bisa keluar tanpa ijin mama..." seru Winda sambil mengaduk mangkok bakso yang sudah tinggal kuah nya saja.
" apalagi jika keluar kota..." sambung nya lagi, kali ini dia meletakkan sendok nya dan mulai membuka tutup botol air mineral.
" emmm..." gumam ku santai sambil berfikir sejenak untuk mencoba membujuk Winda supaya mau menemani ku besok.
__ADS_1
" kalau gitu biar aku yang ijinkan ke mama mu..." sambar ku supaya Winda tak bisa beralasan lagi untuk menolak permintaan ku.
" tapii...!?" sambung Winda yang mulai terdengar pasrah dengan ajakan ku.
" udahlah gak usah tapi-tapian..." sambar ku lagi sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisku.
" ishhh..."
" cobalah nanti aku usahakan..." sambung Winda, kali ini terdengar sudah menyerah seakan sudah tak bisa berdebat lagi dengan ku.
" yeesssss..." seru ku sambil tersenyum bahagia.
akhirnya aku bisa pergi dengan salah seorang sahabat ku untuk menghadiri suatu acara. biasanya jika ada acara seperti ini, aku selalu berangkat sendiri dan harus bermuka dua saat menghadapi orang-orang yang sebenarnya tak ingin aku hadapi.
...* * *...
tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang, aku dan Winda pun mulai berjalan meninggalkan halaman sekolah dan pergi ke tempat parkir mobil ku.
" jadi langsung aja nih kita ke salon..??" tanya Winda yang sedang ku gandeng lengannya di sebelah kiri ku.
" heem..."
" manager salonnya sudah ku telpon tadi.." jawab ku santai, aku masih berharap besok acara kami berdua lancar.
" emmm...." gumam Winda.
walaupun Winda tersenyum namun aku merasa jika jauh di dalam hatinya ada suatu hal yang mengganjal. tatapan matanya terlihat ada sesuatu yang dipikirkan.
🙂
" siap..."
kami berdua sudah berada di dalam mobil Ferrari ku, tampak semua siswa yang juga sedang menunggu jemputan pun melihat ke arah mobil ku.
yaa jarang-jarang juga sih ada yang bisa bawa mobil sport ke sekolah, mau itu di manapun jarang ada siswa yang diperbolehkan untuk membawa mobil seharga miliaran sendiri.
" kita langsung aja kesana..." seruku sambil melihat kanan-kiri jalan untuk sekedar menyebrang jalan, security sekolah pun sigap mencarikan jalan untuk ku lewat.
" enak ya jadi kamu..." seru Winda sambil ikut tengok kanan-kiri. setelah berhasil menyebrang dan mulai menyusuri jalan, aku pun kembali fokus untuk mengemudi si kuda jingkrak dari Italia.
" gimana Win..??" tanyaku sambil melihat ke arah Winda yang sedang menyandarkan tubuhnya di bangku mobilku sambil memainkan gawai nya.
" enggak..., enggak apa-apa..." sambung Winda yang sibuk memainkan gawai nya.
" gimana besok Win..??"
" jadi temani aku nggak...??" tanyaku basa-basi sambil tetap fokus ke jalan raya.
" tau ah Marischka..."
" sebenarnya aku pun ada acara sama teman kakak ku..." jawab Winda dengan sedikit gak enak karena aku sudah berharap lebih.
__ADS_1
" emmm..." sambung ku dengan nada yang serba salah. sebenarnya dalam hatiku ada kekecewaan, namun jika memang Winda gak bisa temani aku, ya aku gak bisa paksa dia.
" maaf ya Marischka..." seru Winda yang masih merasa tak enak.
" iya gak apa-apa Win..."
" santai aja...." sambung ku sambil tersenyum ke arah Winda yang terlihat berubah ekspresi wajah nya.
" aku gak bisa paksaan kehendak ku ke siapapun kok..." seru lagi sambil tersenyum manis.
lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan, yang sialnya kali ini cukup dalam kurasakan. Winda terlihat makin gak enak dengan ku, kami pun berdiam diri cukup lama. situasi yang cukup aneh menurut ku.
" Winn...."
" tenang aja..." seru ku sambil melihat ke arah Winda dan berusaha mencairkan suasana.
" it's not a big deal Winda..." seru ku sambil tersenyum dan berupaya menenangkan Winda yang masih aja tertekan karena penolakan nya.
" really...??" jawab nya sambil tersenyum, suasana pun mulai menjadi cair saat Winda bercerita tentang cowok yang sedang mendekati nya.
...* * *...
mobil sudah berada di parkiran salon kecantikan yang terkenal di kota Bogor. harganya yang cukup mahal membuat salon kecantikan langganan ku pun sering jadi tempat nongki soalita di kota Bogor.
" ayok Win..." ajak ku sambil mengambil tas jinjing ku di sisi kanan ku.
" ayookk..." sambung Winda dengan antusias, kali ini aura dia tampak lebih baik dari tadi pas aku bicara tentang undangan Roby.
" bukannya ini salon yang mahal...??" tanya Winda. aku pun hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan Winda.
" sama aja tuh..." jawab ku sambil tersenyum dan mulai masuk ke dalam salon kecantikan langganan ku.
Winda terlihat sedikit ragu saat mulai melihat nama salon kecantikan itu, bahkan mamanya tak pernah menginjakkan kakinya di salon yang akan dia masuki.
" ayookk...??" ajak ku sambil menggandeng tangan nya dan masuk kedalam salon.
" selamat siangg...!!" seruku sambil tersenyum dan menyapa ramah resepsionis salon yang notabene masih kerabat dari yang punya salon.
" selamat siang nona Marischka..." sapa nya dengan ramah. aku pun tersenyum dan meletakkan tas ku di atas meja kasir.
" ada yang bisa saya bantu hari ini...??" tanya resepsionis tadi dengan ramah.
" iyaa kak.."
" paket seperti biasanya ya kak..." seru ku sambil tersenyum ramah dan sesekali melihat beberapa pelanggan yang sudah hadir terlebih dahulu.
" tentu nona Marischka..." jawab nya ramah.
" jadi langsung aja nih ke tempat ku..??" tanya ku sambil menunjuk ke lantai atas.
" owhh iyaa nona Marischka..." seru nya sambil mulai beranjak dari meja resepsionis dan mengantar aku dan Winda menuju ke ruang privat dan paling mahal di salon kecantikan itu.
__ADS_1
#Author.
_to be continued