
" wuih ada bidadari nihh..??" celetuk kakaknya Winda sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya saat melihat ku.
aku hanya mengangguk pelan dan sedikit tersenyum malu mendengar ucapan kakak nya Winda.
" husstt..!!"
" yang sopan sama tamu.." seru mama Winda sambil mengibaskan tangannya dan sedikit tersenyum karena godaan anaknya terhadap ku itu.
hehehe...
" maaf ya nak Marischka..."
" memang kebiasaan tuh putra Tante yang satu ini..." seru mamanya Winda sambil tersenyum melihat kearah ku. aku pun membalas senyuman beliau tanpa berkata apa-apa.
tak selang berapa saat, gawai di dalam tas jinjing merah ku bersuara dan bergetar menandakan jika ada panggilan masuk kedalam nya.
" maaf..."
" saya ijin angkat telepon saya..." sambung ku sopan ke arah keluarga Winda. mereka pun mengangguk tanda setuju dengan permintaan ku.
sambil berjalan ke ruang tamu, aku pun mengangkat panggilan dari tuan Alfred. aku pun menjelaskan jika saat ini aku masih di rumah Winda dan akan segera pulang setelah selesai semuanya.
📞 " baik tuan Alfred..., sebentar lagi saya akan pulang ke rumah..." seruku sambil menutup panggilan dari beliau. aku pun melihat lagi gawai yang ku pegang, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, makanya tuan Alfred menghubungi ku.
tak selang berapa saat Winda menghampiri ku yang ada di ruang tengah sambil melihat gawai ku.
" kenapa..??" tanya Winda sambil memakan potong buah apel.
" gak apa-apa Win..." jawab ku sambil tersenyum dan berdiri dari sofa.
" ayo lanjut lagi.." seruku sambil memeluk pinggang belakang nya Winda.
" ayookk..." seru Winda sambil mengunyah apel, sambil tersenyum dia pun menyuap kan potong apel itu ke arah mulut ku.
" aaaaakk.....!!" seru Winda dengan nada bercanda. aku pun melahap potongan apel dari Winda, sambil tertawa kecil aku dan Winda berjalan ke meja makan keluarga.
" dari siapa nak Marischka..??" tanya mamanya Winda dengan sedikit antusias.
" orang rumah tante..." jawab ku sambil melihat mamanya Winda yang kali ini mengoleskan selai coklat di roti tawar berbentuk kotak itu.
" owhh..."
" Tante pikir dari cowoknya nak Marischka..." sambung nya sambil tersenyum dan melihat ke arah putranya yang kali ini duduk di samping kanan Winda.
" helehh..."
" mana sempat dia memikirkan cowok ma..." celetuk Winda sambil melihat ke arah ku.
" orang dia sibuk belajar melulu..." sambung Winda sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.
" waahh.."
" sayang sekali ya..."
__ADS_1
" padahal Tante mau jodoh kan sama putra Tante yang kedua tuh..." seru beliau sambil melihat ke arah putranya yang baru datang tadi.
" heehh...??"
" mama pikir aku gak bisa cari cewek sendiri kah...??" seru sang putra dengan sedikit jengkel dengan saran mamanya itu.
" yakan siapa tahu..."
" lagian gak pernah tuh mama liat kamu bawa cewek yang bibit, bebet, bobot nya yang sesuai dengan kriteria mama..." sambung mamanya Winda sambil melihat ke arah kakaknya Winda yang sibuk makan potongan daging di piring nya.
suasana seketika canggung saat semua mendengar celetukan mamanya Winda. sebenarnya dengan niat bercanda tapi malah membuat seisi ruangan jadi suram.
" ahhh..., gak jelas nih mama.." seru kakaknya Winda sambil cemberut dan terlihat gak nyaman.
" ke kamar yuk Marischka..." ajak Winda dengan berbisik di kuping ku dengan pelan.
" suasananya gak enak..." sambung nya sambil memegang tangan ku. aku pun mengangguk pelan ajakan nya Winda.
" ke kamar dulu lah kami..." ajak Winda dengan cepat. Winda terlihat sedikit tak senang dengan situasi yang ada di meja makan.
" owhh iyaa..." seru mamanya sambil tersenyum dan melihat kearah ku, aku dan Winda pun segera naik ke lantai dua tempat kamar Winda berada.
" tadi kakakmu Win..??" tanyaku basa-basi sambil menaiki tangga menuju ke kamar Winda di lantai dua.
" heem..." angguk Winda
" kakak kedua ku, yang pertama yang di meja makan tadi..." sambung Winda sambil melihat ke arah ku yang berjalan di samping nya.
" enaknya punya kakak laki-laki..." seru ku sambil tersenyum dan sedikit meratapi nasibku yang menjadi anak tunggal.
" heisssttt..."
" dari mana enaknya tuhh..." sambung Winda sambil tersenyum sedih, kali ini dia juga meratapi nasibnya yang malah jadi bulan-bulanan kakak keduanya saat di rumah.
" yang ada aku malah jadi bahan buli-bulian kakak ku..." seru dia sambil ngakak sendiri. aku ikut tertawa kecil melihat Winda yang terlihat senang dan bukannya kecewa.
kami berdua sudah sampai di lantai dua tepat di depan kamar Winda. sebelum masuk dia mencari kunci kamarnya dahulu di dalam tas yang tadi dia bawa.
" ayok..." ajak Winda sambil membukakan pintu masuk kamarnya.
" okee..." seru ku sambil melangkah masuk kedalam kamar pribadinya. aku cukup senang saat melihat kamar Winda yang lebih terkesan girly dari pada kamar Natasya.
" waaooww...."
" impresif..." seruku sambil manggut-manggut melihat sekeliling kamar Winda.
dalam kamar Winda terdapat banyak hal yang menarik, foto-foto bersama temannya SMP, ada juga bingkai foto bersama keluarganya saat jalan-jalan ke Malaysia. berbagai pernak-pernik menarik yang dia dapat dari keliling bersama keluarga nya.
" senangnya..." seruku sambil melihat foto masa kecil Winda bersama kakaknya.
" itu saat kami jalan ke Bali..."
" kami menginap di Elliot hotel Nusa Dua lhoo.." seru Winda sambil tersenyum melihat ku, aku pun sedikit terkejut dengan cerita Winda.
__ADS_1
" masa Win...??" tanya ku sambil tersenyum dan memperhatikan lebih dalam ke foto di meja belajar Winda, memang sih di dalam foto keluarga Winda terdapat beberapa icon ciri khas resort milik keluarga kami.
" iyaa....!!"
" liburan hari itu sangat berkesan bagi keluarga kami..." seru Winda sambil berdiri di sampingku dan melihat foto yang sedang ku pegang.
" jadi penasaran kek mana ceritanya..." seru ku sambil mengembalikan bingkai foto itu di tempat semula.
" nanti lah ku ceritakan..." seru Winda sambil duduk kembali di kasurnya.
" boleh tuhh..." jawab ku antusias. aku pun berfikir untuk menginap di rumah Winda kali ini, toh ya di tempat Natasya udah pernah, dan ingin lagi tidur di rumah sahabat ku.
hehehe...
" lain kali aku nginap ya Win...?!" seru ku sambil tersenyum dan menghampiri Winda di tempat tidur nya.
" beneran nihh...??" tanya Winda antusias dan semangat.
" tentu laahh..." sambung ku sambil duduk di kursi belajar Winda.
" aseekkkk...!!" sambung Winda sambil tersenyum bahagia. kami berdua pun saling bercengkrama satu sama lain, apa lagi Winda terlihat lebih semangat. saat kami berdua saling bercerita satu sama lain, tiba-tiba kakak Winda yang baru pulang mengetok pintu kamar Winda.
" Winda...??" seru suara laki-laki dari balik pintu kamar Winda. kami berdua pun cukup terkejut dengan ketokan kakak Winda.
" iyaa kak..??" balas Winda dari balik pintu kamarnya dengan rasa penasaran.
" siapa...??" tanya ku pelan ke arah Winda, dia pun mengangkat bahunya tanda tak mengerti keadaan nya.
" Winda... ini kakak...!?"
" buka dulu pintu nya...!" sambung kakak nya Winda dari depan pintu nya. mendengar kakak nya berbicara, Winda pun segera membukakan pintu untuk nya.
saat Winda berbicara dengan kakaknya, aku melihat beberapa file yang akan ku pelajari besok. terutama tentang bisnis perhotelan dari ayah ku.
" emmm..., Marischka...??" seru Winda dengan malu-malu saat mendekati ku.
" ada apa...??" tanya ku santai, sebenarnya aku merasakan gelagat Winda yang cukup aneh saat dia mendekati ku.
" emmm..." jawab Winda ragu.
" kenapa...??" tanya ku dengan sedikit penasaran ingin mendengar permintaan Winda.
" emmm..."
" bolehkah kakak ku pinjam mobil mu sebentar..??" tanya Winda dengan penuh keraguan di dalamnya.
" owhh..."
" tentu saja..." jawab ku singkat.
# Author.
_to be continued.
__ADS_1