
sudah ku rebahkan tubuh ku di kasur, namun mata ini seakan tidak mau tertutup.
suara deburan ombak seakan terdengar memilukan sekaligus menenangkan hati.
kulihat asisten Liu sudah tertidur dengan pulas nya, jika di ingat-ingat lagi banyak kejadian yang terjadi hari ini yang melibatkan aku dan asisten Liu.
aku yang merasa sudah bosan berbaring terus, kini aku duduk lagi untuk mencari kesibukan lain.
" dasar nih cewek.."
" kalau tidur seperti cowok.." seru ku sambil aku pukul kaki asisten Liu, aku tersenyum saat melihat asisten Liu tidak bergerak saat ku pukul kakinya.
kini aku melihat gawai ku berada di atas meja pendek dekat kasur kami.
dengan pelan aku membangunkan diri supaya asisten Liu tidak terbangun dari tidurnya.
aku tertawa saat ku lihat asisten Liu yang terlihat unik jika tidur.
sebelum beranjak aku sempatkan untuk merekam gaya tidur asisten Liu yang aneh.
" nih gaya belalang sembah ala asisten Liu." sahut ku saat merekam asisten Liu yang tertidur pulas.
aku senyum-senyum sendiri saat melihat hasil perekaman ku,
" dasar nih orang.., kalau tidur aneh gayanya."
kini aku duduk di lantai kamar lagi, entah kenapa aku merasa kesepian.
tak selang berapa lama perut ku teras keroncongan, kulihat snack keripik kentang tadi sudah habis dimakan asisten Liu.
" ishh.., sudah habis kripik nya" seru ku saat melihat pembungkus plastik makanan yang sudah kosong.
ku lihat asisten Liu juga membeli selimut pantai khas Bali yang berada di tas kresek tadi.
" aku cari angin sebentar lah.." sambung ku sambil berdiri.
aku berdiri dan mengambil selimut pantai dan gawai yang ku pegang dari tadi, ku kantongi juga beberapa lembar uang ratusan ribu untuk mencari makan di resto hotel.
ku buka pintu kamar kami dan bersiap untuk jalan ke resto, dingin nya angin malam di pantai membuat ku sedikit kesusahan.
" brrr.., dinginnya..."
segera aku menuruni anak tangga di kamar kami, setelah itu ku memantapkan langkah ku untuk ke resto itu.
aku susuri jalan setapak yang terbuat dari ubin batako berwarna merah, angin malam yang dingin seakan masuk ke dalam selimut pantai ku yang kini ku lilit kan di leher ku.
sesampainya di depan resto hotel kulihat beberapa wisatawan asing yang sedang asik mengobrol satu sama lain.
" ah enak ya seandainya aku punya banyak teman seperti mereka.." seru ku dalam hati.
aku segera ke resto hotel dan bertanya ke kasir yang berjaga.
" maaf kak.., masih bisa saya pesan makan ?" tanya ku ke kasir resto yang kini sudah berganti lagi dengan yang tadi siang.
" maaf kak kami sudah last order.." jawab kasir tersebut.
" kalau minuman hangat masih layani kak.." sambung kasir itu.
" ohh..., baiklah.., saya pesan minuman kopi cappucino panas saja, " seru ku.
__ADS_1
" di bungkus saja ya kak.." sambung ku sambil tersenyum ke kasir.
" baik kak..," sambung nya
tidak selang beberapa lama kasir memberikan bill dan pesanan ku,
" total semuanya jadi 30 ribu rupiah kak.." seru kasir itu sambil memberikan bungkus kopi cappucino ku.
kuberikan selembar uang seratus ribu-an dan memberikan kembali an nya sebagai tips untuk kasir tersebut.
setelah memesan cappucino tadi aku berniat untuk kembali ke kamar, tapi entah mengapa aku ingin duduk sebentar di kursi tidur dekat pantai.
kulihat dengan jelas kapal pesiar kami masih lego jangkar di sekitar perairan Nusa Lembongan.
" kapal pesiar ku terlihat mewah juga dari sini.." seru ku dalam hati.
" namun itu hanya permukaan saja.." sambung ku dan dengan senyum kecut.
segera ku angkat cappucino ku dan meniup nya supaya bisa untuk ku minum.
kulihat lagi beberapa lampu kelap-kelip tampak dari kejauhan, sambil berdiam dan melihat lampu itu, ku nikmati lagi kopi cappucino yang kini sudah terasa tidak terlalu panas.
" kok sendiri kamu??" sambung seseorang dari belakang ku, suara yang familiar dengan nada ngebass nya.
aku membalikkan badan dan menatap wajah yang kukenal tadi, yaa... walaupun cuma sebentar namun sosok itu yang berhasil membuat ku penasaran.
" mana teman mu yang satunya..? " tanya nya lagi.
aku hanya diam sambil tersenyum dan menatap kembali lampu kelap-kelip yang tampak cantik jika dari kejauhan.
" dia sudah tidur.." sambung ku sambil meminum kopi cappucino ku.
" kau sendiri belum tidur ??" tanya Roby santai
" belum.."
" belum ngantuk.." jawab ku singkat.
aku terus memandangi kelap-kelip lampu di seberang pulau, kami berdua terdiam tanpa kata.
" kenapa kau memandang lampu yang tampak jauh di sana??" serunya lagi.
" ya.., bagus aja menurut ku.." jawab ku dengan asal aja, namun dalam hati ku malah mempertanyakan apa yang barusan aku katakan.
" emm..." sambung nya, jawaban ku seakan membuat Roby mati gaya, aku pun merasa ada yang salah jika aku berada di posisi nya.
" kamu sendiri.., tidak tidur..??" tanyaku ke Roby.
ah sial kenapa aku juga menanyakan hal yang bodoh juga, kutuk ku dalam hati
" aku belum bisa tidur.., gak tau kenapa.." jawabnya..
"nah kan dia ngelantur lagi.., aduh nih anak.., kau aja gak tau kenapa, apa lagi aku ", seruku dalam hati,
" owh.. " seruku, tak terasa kopi cappucino tadi sudah hampir habis, dan aku sekarang 'stuck' disini..
" kamu lihat kapal pesiar di depan kita kah..??" sambung Roby sambil menunjuk ke kapal pesiar keluarga kami.
" iya kenapa..??" tanyaku heran.
__ADS_1
" iya.., aku yakin jika siapapun yang punya kapal itu pasti bahagia.." seru Roby kini dengan ekspresi yang agak serius
" maksudnya..?? " tanyaku heran
" iya.., seandainya aku pemilik kapal pesiar itu pasti akan ku ajak teman-teman ku main, bersenang-senang dan hal-hal lain yang menyenangkan.." jawab nya dengan serius.
" emm... " jawab ku datar saja.
" iya lah..., kan punya banyak uang pasti juga punya banyak teman.." seru nya antusias..
aku hanya diam saja mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Roby, mungkin dia berpandangan bahwa dengan uang bisa membeli segala nya.
" owh.., " aku hanya tersenyum melihat cara pikir nya yang berbeda dengan ku,
mungkin yang dia rasakan berbeda dengan yang ku rasakan.
" tapi menurut ku tidak semua sepakat dengan mu..."
" ada beberapa hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.." seru ku tersenyum, sambil memandang lampu yang jauh di seberang.
ku minum kopi cappucino di tangan ku yang tinggal beberapa tegukan saja,
" bukan lah keluarga Sugara termasuk keluarga yang kaya..??" tanyaku ke Roby dengan nada sedikit serius.
" ya begitulah.., " jawab Roby dengan senyum bangga nya.
" tapi aku gak akan bisa menjadi komisaris utama dikarenakan ada kedua kakak ku.." sambung Roby.
" maksudnya..??" tanyaku dengan muka aneh dan serius.
" iya.., aku hanya anak ketiga, pastinya ayah ku akan mewariskan pimpinan perusahaan ke kedua kakak ku.." jawab Roby kini dengan intonasi yang lebih serius.
aku berfikir jika apa yang dikatakan oleh Roby terlihat lebih berambisi dari kebanyakan orang yang pernah ku temui, hal itu mungkin karena kondisi keluarga Sugara group yang membuat anak-anak nya bersaing satu sama lainnya.
" kenapa kamu mengincar posisi itu...??" tanyaku dengan serius.
" yaa....,"
" Mungkin kau tidak akan pernah tau yang kurasakan, karena kasta kita yang sedikit berbeda.." jawab nya dengan serius.
" besseett sombong amat nih anak..,seruku dalam hati.
" iyaa..,"
aku hanya tersenyum mendengar perkataan Roby.
aku hanya diam saja, tidak terpikirkan oleh ku jika seorang anak pewaris Sugara group akan se ambisius itu..
malam semakin larut dan kopi cappucino ku sudah habis.
" kalau begitu aku pamit dulu.." seru ku sambil tersenyum ke arah Roby.
" iya.." jawab Roby.
" terima kasih sudah berbagi cerita dengan ku Roby " seru ku sambil meninggalkan Roby yang masih duduk di atas kursi pantai.
sambil berjalan ke kamar,aku lihat Roby masih menikmati malam di pinggir pantai.
# Author
__ADS_1
_ to be continued