Keluarga Kartika

Keluarga Kartika
Perasaan


__ADS_3

" aduh..!!"


" pelan dong..!!" seru Roby dengan spontan menghindar dari usapan tanganku. aku pun berhenti mengusap tisu itu ke mulut nya.


" dasar cewek bar-bar.." gumam nya pelan, namun aku mendengar jelas kata-kata yang keluar dari mulut Roby.


" sialan..!!" seru ku sambil memukulkan tisu itu ke arah dada Roby.


" aduuhh..!!" seru Roby sedikit kesakitan. aku pun berbalik arah dan pergi menjauhi Roby yang sedang memegang dadanya yang kupukul tadi.


" wooiii..!!" sambung Roby jengkel sambil mendekat ke arah ku yang mengambil buku perpustakaan yang ku pinjam tadi.


" apaan sih..?!" tanya ku dengan sewot sambil kembali melihat ke arah Roby yang mendatangi ku.


" kau ya..., cewek terbar-bar yang pernah ku tau..," sambung Roby yang kini sudah ada di dekat ku.


" hhaaa...??!" jawab ku sambil mengangkat buku dan seakan mau mengancamnya lagi. Roby pun mengangkat tangannya untuk melindungi tubuhnya dari pukulan buku ku.


melihat Roby yang berusaha melindungi tubuhnya, aku pun berhenti mengancamnya dan kini fokus melihat ke arah wajah yang tadi sempat berdarah.


" ke UKS lah..., lukamu terlihat jelas tuh..!!" sambung ku dengan nada iba.


terlihat Roby kembali menyentuh luka di bibirnya tadi, dan sedikit kesakitan saat tangan nya sendiri menyentuh pipinya.


" masih sakit..?!" tanya ku lagi dengan melihat kembali ke wajah Roby. dia pun hanya mengangguk saja.


" ayolah ke UKS..!!" ajak ku sambil menarik tangannya dengan sedikit kasar.


" duh nih cewek ya..., bar-bar banget..!!" keluh Roby yang ku tarik dengan kasarnya menuju ke UKS.


" diam..!!" sambung ku kesal.


kami berdua pun segera berjalan menuju ke arah UKS sekolah yang ada di lantai bawah. sambil berjalan ku perhatikan lagi jam tangan yang berada di tangan kiri ku.


" Bagus juga jam tangan mu...??" tanya Roby dengan tiba-tiba.


aku hanya diam saja mendengar pertanyaan Roby yang gak penting itu. kami berdua pun tiba di UKS sekolah dan segera masuk kedalam nya.


" permisi...?!" seru ku kedalam ruangan yang cukup lebar dan terdapat berbagai ornamen khas ruang perawatan.


" iyaa..?!" sambung suara perempuan dari dalam ruangan perawatan itu.


kami berdua pun segera menghampiri perawatan yang berjaga di tempat UKS sekolah.


" ada apa ya..??" tanya perawatan itu dengan bijak.

__ADS_1


" ini..!!" jawabku sambil mendekatkan Roby yang berada di samping ku. terlihat Roby hanya menunduk saja seperti anak kecil yang takut kena marah orang tua nya.


" aduuhh..?!"


" kok bisa bengkak gini...?!" seru ibu perawat itu sambil melihat ke arah pipi Roby yang bengkak.


" abis berkelahi ya..?!" tanya ibu itu lagi. kini dia kembali mencatat sesuatu tulisan dan mencari beberapa obat di meja dia.


aku pun keliling di ruang UKS dan melihat beberapa hal yang menarik. sedangkan Roby hanya duduk di depan perawatan itu dan dibersihkan lukanya.


tak selang beberapa lama gawai ibu perawat itu berdering. tampak dengan segera ibu perawat itu mengangkat panggilan masuk untuknya.


" nak Marischka..?!" seru ibu perawat itu ke arahku yang sedang melihat peraga bermodel tengkorak.


" iya bukk..!?" sambung ku cepat. dengan segera aku mendekat ke tempat ibu itu duduk.


" bisa minta tolong..??" tanya ibu perawat itu sambil mulai berdiri dari kursi lipatnya.


" bisa Bu..?!" jawab ku cepat sambil mendekat ke ibu perawat.


" tolong bantu ibu untuk merawat teman mu.."


" ibu mau pergi ke ruang guru sebentar.." seru ibu perawat itu sambil tersenyum aneh.


idiih...


" ndak apa-apa..." sambung ibu perawat itu sambil menepuk pundak ku.


" bentar saja kok.." sambung ibu perawat itu dengan cepat seakan tau jika aku sedikit keberatan dengan permintaan nya.


" baik lah Bu..." jawab ku pelan dan tidak ikhlas. ibu perawat itu hanya tersenyum melihat ku menjawab dengan sedikit tidak ikhlas.


dengan segera ibu perawat itu meninggalkan kami berdua di dalam kamar perawatan. sebenarnya agak risih juga sih berduaan bersama pria di ruang UKS.


" apa kau lihat-lihat..!!" seru ku kesal sambil melihat ke arah Roby yang kini duduk di atas kasur.


terlihat muka Roby yang terlihat aneh dan seakan penuh dengan kemenangan. aku pun hanya mendengus kesal saat melihat Roby yang terlihat aneh.


" bukannya kau nanti mau jadi dokter..??" tanya Roby dengan gaya sok tau nya itu.


" idiih.., sok tau...!?" jawabku sambil melihat tajam ke arah Roby.


aku pun mendekati Roby yang duduk di tempat tidur sambil membawa beberapa salep pengurang rasa sakit.


" geser...!!" sambung ku ketus dan memukul kaki Roby supaya dia berada di posisi tidur.

__ADS_1


" baring...!!" perintah ku, tetap dengan tatapan tajam.


" galak betul neng...?!" ejek Roby yang kini sudah berbaring di tempat tidur. aku pun hanya melihat dia dengan tajam.


" tahan ya...!"


" ini sedikit sakit..." sambung ku sambil mencolek salep yang ku bawa.


Roby hanya diam dan melihat ku akan mengolesi luka di bibir nya itu dengan salep. dengan pelan aku oleskan pada lukanya, mata Roby kini malah fokus ke wajah ku yang sedang mengolesi salep di bibirnya.


sebenarnya aku juga merasakan tatapan Roby yang membuat ku sedikit dag-dig-dug, entah apa yang merasuki ku sekarang. setelah merata salep di bibirnya aku pun kembali fokus melihat muka dia.


" kenapa..?!" tanyaku ketus. mendengar itu Roby bukannya tambah marah namun malahan tersenyum manis.


" terima kasih..." sambung dia sambil tersenyum manis ke arahku. hal itu entah kenapa membuatku salah tingkah.


" heem..." gumam ku pelan. aku pun beranjak pergi dari sisi Roby. namun dengan cekatan tangan ku dipegang oleh nya.


" jangan pergi...!" seru nya sambil memegang tangan kananku. dengan reflek aku berhenti dan tidak tau harus berfikir apa lagi.


dengan pelan Roby menarik ku supaya aku tetap berada disisi nya. entah kenapa aku pun hanya mengikuti tarikan tangan Roby.


Duhh, kenapa nih aku..


" tolong rawat aku Marischka.." seru Roby pelan dan penuh ketulusan. aku pun hanya mengangguk saja mengikuti permintaan dari Roby.


setelah itu di mulai melepaskan tangan nya dan membiarkan aku melanjutkan merawat luka yang dia dapat.


" tunggu sebentar.." seru ku sambil kembali melangkahkan kakinya menuju meja perawatan dan mengambil plester luka yang transparan.


dengan segera aku menempelkan plester itu ke arah luka Roby di sebelah pelipisnya. lagi-lagi Roby melihat ku dengan tatapan anehnya dan sekali lagi membuat ku salah tingkah.


" kamu nggak usah ke kelas dulu.." seru ku cepat sambil berusaha mengalihkan perhatian Roby yang semakin aneh.


" heem..., asal kamu juga masih disini.." jawab nya sambil tersenyum manis dan seakan membuat ku hampir lupa diri.


" Ndak.., aku nggak bisa..!!" jawab ku cepat sambil memalingkan muka ku supaya wajah memerah ku tidak dilihat nya.


dengan segera aku berdiri dan meletakkan kembali plester dan salep itu di meja perawatan. aku pun membuang muka dan tidak mau lagi menatap wajahnya supaya dia tidak kege-eran.


teeetttt...


suara bel ganti pelajaran terdengar jelas di lorong sekolah kami. hal itu membuat ku sedikit terkejut dan membuat ku berfikir untuk kembali ke kelas ku lagi dan mengikuti pelajaran yang selanjutnya.


# Author.

__ADS_1


_to be continued.


__ADS_2