KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Maria


__ADS_3

Ada terbersit kekecewaan yang terlintas dalam diri Zulfa. Ketika mendapati Herman tak ada di tempat. Apalagi sewaktu dia tahu Ayas seperti mengejar seseorang. Yang sekilas dia tahu itu adalah Herman.


Ingin dia mengejarnya. Namun dia tahan. Karena secepat itu pula Herman menghilang.


"Mbak, Ada apa?" tanya Ayas.


"Nggak apa-apa." jawabnya singkat.


Lalu dia mengalihkan pandangan pada anak-anak yang sedang menikmati wahana permainan.


Mesti Zulfa tak menjawab, tapi Ayas segera mengerti dengan apa yang dipikirkan Zulfa.


"Apa perlu kita balik ke sana lagi?"


"Nggak perlu.Ya kalau mas Herman mau menemui ku, kalau tidak. Aku takut kalau anak-anak melihat itu, mereka akan kecewa.


"Tapi, tidak ada salahnya bila kita mencoba."


Ayas memberikan pandangannya.


Tampaknya Zulfa berfikir ulang. Dia diam lama


"Baiklah, kalau kalian tak keberatan."


"Kita tunggu sampai anak-anak puas bermain. Ba'da Asyar kita ke sana lagi."


"Ya."jawab Zulfa dengan menganggukkan kepala.


Kalaulah tak bisa menemui ayahnya. Setidaknya mereka sudah cukup bersenang-senang di hari ini.


Sebelum meninggalkan Jakarta, Mereka mencoba kembali lagi ke tempat kontrakan Herman. Siapa tahu dia mau keluar, menemui mereka.


"Kita ini mau ke mana, Om?" tanya Irwan yang penasaran.


"Ya ... mau pulang." jawabnya santai.


"Sebentar-sebentar, sepertinya ini jalan yang tadi kita lewati." kata Irwan dengan mimik seolah-olah berfikir keras, hingga membuat kami tertawa lebar.


"Ada yang salah?"candanya.


"Tidak ...."jawab kami serempak.


Menikmati perjalan sambil bercanda, amat menyenangkan. Hingga tanpa terasa sudah sampai di rumah itu lagi.


"Ya, bude kangen banget sama Pak Dhe. Makanya mau pulang pake mampir segala."celetuk Adam.


Diam-diam ternyata punya selera humor tinggi. Membuat kami semua senyum-senyum dikulum.


Mobil dihentikan oleh bang Udin tepat si depan kontrakan mas Herman. Ayas keluar dan menghampiri rumah itu. Tapi baru beberapa langkah,dia berhenti.Karena dia melihat sekilas seseorang yang keluar pintu belakang. Dan lari entah ke mana.

__ADS_1


Aris pun kembali lagi ke mobil, sebelum Zulfa mengikutinya. Padahal dia telah turun dari mobil.


"Sudah sore, kita balik. Nanti kemalaman pulangnya." ajaknya.


Merekapun kembali menyusuri lorong sempit itu, untuk kembali ke jalan raya. Kembali ke kampung halaman, dengan menyisakan sedikit beban. Karena keinginan untuk berjumpa dengan ayah pupus sudah. Entah kapan akan terwujud. Semua masih rahasia pada kuasa Yang Maha Tahu.


Sejak kejadian itu, Zulfa sudah tak ingin terbelenggu lagi dengan kerinduan pada suaminya. Dia lebih mengfokuskan kehidupannya untuk membesarkan putra-putrinya. Dan juga orang yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya. Yaitu ibu Halimah, mertuanya.


Tak pernah terdengar keluh kesah dari bibirnya. Meski beban yang ditanggungnya tidak ringan. Sebagi sigle parent untuk kedua anaknya.


Alhamdulillah semua telah cukup dengan sekarang yang dia punya. Usahanya semakin lama semakin meningkat. Hingga dia dapat membeli rumah yang ada di sebelahnya untuk pengembangan usahanya. Dengan produksi dan karyawan yang semakin banyak.


💎


Lain Zulfa, lain pula Herman. Setelah mengikuti Aziz menemui bosnya, dia diangkat menjadi sopir tetap perusahan, di bagian pengantar barang. Ternyata tidak saja sampai di situ, beberapa bulan kemudian dia sudah diberi kepercayaan yang lebih baik lagi di dengan diangkat sebagai manajer pemasaran di salah satu anak cabang di bawah perusahaan tersebut. Yang ada di Batam.


Saat ini dia merasa bangga dengan pencapaiannya. Dengan gaji yang diterimanya saat ini, dia sudah mampu membeli sebuah rumah yang cukup nyaman di kawasan perumahan elit. Untuk itu dia berencana untuk mengajak keluarganya ke tempat dia saat ini. Agar dapat berkumpul bersama seperti dulu lagi.


Tetapi hal yang selama ini sudah dia lupakan ternyata muncul kembali. Dulu, dia mampu menghindar dari istri sahnya. Tapi tak sangka, permasalahan yang menyebabkan dia pergi dari rumah masih mengikutinya. Sudah lebih satu tahun peristiwa itu berlalu, tapi keluarga wanita yang pernah dia sentuh dalam keadaan mabuk itu, masih tetap mencarinya.


Sore itu, Herman sedang duduk-duduk di beranda rumahnya yang baru dia beli dengan bahagia. Dia ingin menghubungi keluarganya dan juga mengirim sejumlah uang, sebagai bentuk perhatian bahwa dirinya masih selalu memikirkan. Tanpa dia sadari, ada seorang wanita berambut ikal datang menghampiri.


"Mas Herman!"


Dia menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya, saat tahu siapa yang datang. Sehingga dia melupakan maksud sebelumnya.


"Maria?"


"Lama aku mencarimu.Tak sangka, kita bertemu di sini"


"Untuk apa mencariku?"


"Mas Herman lupa?"


Ingatan Herman kembali pada peristiwa lama yang tak ingin mengingatnya kembali.


"Maaf, saat itu aku sedang mabuk."


"Aku ngerti, tapi keluargaku apa mau mengerti?"


"Lalu?"


"Mas sudah tahu selanjutnya."


"Jangan ganggu keluargaku."


"Tidak, keluargaku tak lagi mengganggu keluarga Mas."


"Apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


"Aku hanya tak ingin orang yang aku cintai menderita."


"Maria, jangan berharap lebih. Aku sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak yang manis."


"Aku tahu, tapi aku ingin bersama dengan orang yang kucintai. Kamu tahu mas, berapa hutang kamu pada bandar judi itu?"


"Sudahlah, aku salah. Terima kasih, keluargamu mau melunasinya."


"Tetapi, mengapa mas lari driku."


"Aku tak sengaja, Maria."


"Aku malu, Mas."


Pandangan Herman menerawang jauh, rasa bersalah menyelimuti jiwanya. Bagaimana pun dia telah mem***nya. Dan mengambil kep***nan Maria. Apa dia akan lari dari tanggung jawab.


"Apa yang kau inginkan?"


"Kita bersama."


"Itu tak mungkin ...."


"Apanya yang tak mungkin."


"Apa karena mbak Zulfa."


"Dia istriku dan ibu dari anak-anakku."


"Aku rela dimadu."


Herman diam seketika. Tak ada sedikitpun niatan menduakan Zulfa. Selama ini Maria memang menggodanya, tapi dia mampu bertahan. Tapi sejak kejadian malam itu ....


Ada penyesalan yang dalam dalam diri Herman. Beberapa kali dia mengambil napas panjang. Sekedar mengurai rasa sesak yang mulai menyerangnya.


"Itu alasan yang pertama, Maria."


"Apa yang lainnya?"


"Kita beda keyakinan."


Maria diam dan pandangannya menerawang. Mencoba menyelami perasaannya sendiri. Mengapa rasa ini hadir dalam jiwanya. Membawanya dalam khayalan untuk bersama. Sedangkan keluarganya tak menyetujuinya. Dan salah satu alasannya adalah masalah keyakinan. Tapi dia tak menyerah. Karena dia melepas rasa itu dari jiwanya.


Setelah diam sekian lama untuk menimbang-nimbang. Dia harus mengambil keputusan.


"Aku akan mengikuti keyakinanmu, Mas."


Herman terperanjat dengan keputusan Maria. Tak sangka rasa yang tersimpan untuknya sanglah besar. Sehingga dia berani mengambil keputusan seperti itu.


"Maria, kamu tahu konsekuensi dari keputusanmu itu?"

__ADS_1


"Aku tahu."


__ADS_2