KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kepastian


__ADS_3

Herman mengambilkan air mineral yang ada di nakas. Dengan berlahan Halimah meminum air itu dengan bantuan Herman.


"Mana cucu-cucuku ...."


Irwan dan Adam segera mendekat, memegang tangannya sambil berbisik.


"Ini aku Irwan, Nek."


Demikian juga dengan Adam. melakukan hal sama. Tetapi sinar mata Halimah masih mencari-cari seseorang. Lalu bernafas panjang ...


"Tia dan Aldo masih sama Bunda, mungkin sebentar lagi datang." jawab Irwan berbohong, sambil juga berdoa dan berharap, kalau bunda Zulfa segera datang.


Mendengar jawaban Irwan, tampak wajahnya sedikit tenang, kemudian memejamkan mata. Tidur tenang.


"Kak. Aku tinggal sholat ashar dulu."


"Segeralah, kita bergantian."


Rahmi mengangguk, meninggalkan mereka menuju masjid untuk sholat.


Melihat keadaan Halimah saat ini, hati Irwan jadi terenyuh juga. Dia keluar akan menelpon bunda Zulfa kembali.


"Assalamualaikum ....Bunda."


"Irwan tak bisa cerita. Nanti bunda lihat sendiri."


"Sampai sekarang masih tak sadarkan diri."


"Segera ya, Bun. Nenek cari Bunda, Aldo, Tia juga."


"Assalamualaikum ..."


💎


Sementara itu di rumah Redha ....


Kali ini mereka bisa dengan tenang menikmati makanan yang terhidang tanpa rasa was-was, kalau makanan itu akan diberi racun oleh Jamilah, putri Kombes Hasan.


Untunglah Redha maupun Ridho tidak menemani mereka makan. Sehingga Zulfa dan Hasan dan anak-anak tak sungkan. Apalagi Jamilah , Tia maupun Aldo menambah juga


Mereka makan sampai rasa lapar yang sempat mereka derita hilang. Bagaimanapun rasa lapar semakin bertambah panjang, karena keusilan si cantik Jamilah. Kini terbayar lunas bagi semua, terkecuali Zulfa.


Telpon yang diterimanya sesaat lalu, benar-benar mempengaruhi pikirannya. Bagaimana keadaan mama Halimah saat ini, mengapa sampai dibawa ke rumah sakit. Gerangan apa yang terjadi ....


Semua itu mempengaruhi selera makannya.


Baru beberapa sendok, makanan itu masuk ke mulutnya, dia sudah meletakkan sendok ya kembali.


"Zulfa, makanlah. Nggak enak sama mbak Redha kalau kamu begitu." tegur Hasan.


Zulfa pun tersadar, dan mulai memakan kembali apa yang sudah diambilnya. Meski kurang berselera karena pikiran yang mengganggu, dia mencoba dengan cepat memasukkan semuanya ke dalam perutnya hingga tak tersisa. Kemudian menutupnya dengan minum air putih secukupnya.


"Itu lebih baik." kata Hasan.


Kembali terdengar dering telepon dari handphone-nya.


"Maaf, Mas."


"Terimalah ...."


Zulfa menggangguk.


"Wa alaikum salam .... ya Irwan, ada apa?"


"Nenek kenapa?"


"Pingsan?!!"

__ADS_1


"Astaghfirullah .... ya Wan. bunda segera balik."


"Wa alaikum salam ...."


Zulfa menutup telponnya dengan pikiran melayang. Hingga Hasan menyadarkannya.


"Ada apa?"


"Bisakah kita balik sekarang ... aku takut terjadi apa-apa sama mama."


"Oke. tapi dengan wajahmu seperti itu, anak-anak pasti khawatir. Tenanglah dulu."


"Aku tak bisa tenang."


Dia terlihat sangat gelisah, mungkinkah keadaan ibunya Herman sangat serius. lebih baik aku turuti saja keinginannya. Meski ada kekhawatiran dalam diriku. Tentang ... coba nanti aku bicara ....


"Baiklah. Kita pamit sama mas Ridho dan mbak Redha dulu."


Diapun segera bangkit, dan memanggil Aldo , dan Tia agar bersiap-siap.


"Bunda kenapa kita cepat sekali pulangnya." tanya Tia yang merasa belum sempurna melepas kangen pada Rahmat dan keluarga Kakakku.


"Kapan-kapan kita ke sini lagi."


"Bunda, boleh aku ikut?" Jamilah tiba-tiba angkat bicara. Sesaat dia berfikir. Tapi lama kemudian, mengangguk dengan senyum yang menawan. Aku tak bisa menikmati dengan sempurna. Karena harus segera berpamitan.


"Kak Ridho, sepertinya keluarga Herman ada musibah, kita mau balik dulu."


"Ayahnya Tia?"


"Ya, Kak. Tapi ibunya yang masuk rumah sakit."


"Benarkah?" wajahnya terkejut. Tapi itu tak penting. Karena kulihat Zulfa sudah menggiring anak-anak ke arah kami.


"Kami balik dulu," dia berpamitan.


"Aku jadi ikut nggak enak. Aku mau jenguk juga, boleh ya ...." Kak Redha selalu nomor satu kalau urusan jenguk-menjenguk orang sakit.


"Kan ada man Kasim yang bisa nyopiri mobil kita. Papa juga mau ikut."


Jadilah kini tak hanya kami yang akan balik. Tetapi keluarga kakak Ridho ikut juga. Ini sebuah musibah, cobaan ataukah anugrah. Musibah buat Herman, cobaan buat Zulfa, anugrah untukku. Karena dengan ikutnya kak Ridho, bisa sekalian melamar Zulfa. Astaghfirullah ....


Maaf kalau berfikir seperti itu, aku tak mau lagi kehilangan dia untuk kedua kalinya. Toh, sekarang tak ada larangan bagiku untuk mendekatinya. Menunggu keadaan normal, kurasa itu sulit.


Astaghfirullah Al adzim ....


Ampuni diriku ya Robbi, jika saat ini aku meminta kepastian padaMu tentangnya.


"Ya sudah, Kak. Aku tunggu di depan."


Kini, langkah kaki ini melangkah ke arahnya, yang telah membawa hatiku dan hati putriku pergi.


"Mas kelihatannya letih."


"Tak apa, keadaan seperti ini sudah sering aku hadapi. Insya Allah masih kuat."


Tubuh ini rasanya minta digerakkan sedikit. Untuk perenggangan. Satu, dua, satu, dua, seperti biasa tangan ke atas, ke samping, ke bawah cukup.


"Ayo semua."


Tanpa banyak bicara, gadis kecilku dan dan putra-putri Herman mengikuti kami menuju mobil.


Ingin aku membukakan pintu untuknya, tapi kok tak enak dengan putriku, takut cemburu. Tapi tak kusangka, Jamilah dengan suka rela membukakan untuknya.


"Bunda di depan saja, biar Jamilah di belakang sama adik-adik."


Sok akrab juga anak itu. Bikin aku tambah bangga padanya. Karena dapat dukungan 100% dari dirinya. Hanya mungkin perlu kesabaran, sedikit ... sedikit lagi.

__ADS_1


Tuhan beri kemudahan ....


Mang Kasim sudah mengeluarkan mobil kakak. Segera ku hidupkan mesin mobil. Dan menjalankan pelan keluar dari halaman rumah kakak.


Belum juga mobil keluar dari komplek perumahan, kulihat para penumpang di kursi tengah sudah terlelap. Pengaruh perut kenyang dan juga bermain seharian ini. Sedangkan dia masih mencicing mata, rupanya agak kesulitan untuk tidur


"Apa yang kau pikirkan?"


Diapun sedikit mengubah posisinya. Terlihat sangat kalau sedang memikirkan sesuatu. Semoga bukan Herman yang dipikirkannya. Ah ... mengapa aku jadi cemburu.


"Makasih, Mas. Kami sudah merepotkan mu."


"Tak usah kamu pikirkan. Berdoa saja, jangan pikirkan apapun. Setidaknya kamu lebih bisa tenang dengan itu."


"Ya, Mas."


"Tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku bangunin. Kursinya bisa kamu turunkan, biar nyaman."


Dia melakukan apa yang aku katakan. Lalu seperti berusaha memejamkan mata.


"Zulfa ...."


"Ya, Mas."


Ternyata dia belum bisa tidur, meski matanya terpejam.


"Apa kamu masih memikirkan Herman."


"Dia ayah anak-anakku. Tapi aku tahu diri Mas. Bahwa diriku sudah tak berhak lagi di hatinya. Di sana ada Maria, dan anak-anak nya. Anak-anakku mengerti itu. Maka, mereka nggak mencegahku saat memutuskan itu. Mereka sudah dewasa."


"Apa kamu marah dengan Herman."


"Seandainya aku marah, aku akan mengambil keputusan berpisah sudah sejak lama. Saat aku tahu kalau dia telah menduakan diriku."


"Apa yang membuatmu bertahan. Apa berharap dia berubah."


Dia hanya menjawab dengan membuka mata dan tersenyum.


"Mas, seandainya kita benar-benar bersama lalu kita berpisah, apakah pantaskah bagiku untuk bercerita tentang kita. Tapi yang pasti, saat ini aku sedang belajar untuk menyembuhkan diriku dari luka. Dan itu juga yang jadi pikiranku jika harus menerima mas saat ini. takut mas kecewa."


"Ribet juga ternyata kalau perpisahan itu karena perceraian."


"Sebenarnya ada apa, Mas?"


"Aku sungguh-sungguh padamu, dan ingin melamarmu."


"Aku mohon mengertilah, aku ingin mulai dari awal hubungan kita. Tanpa harus mengingatkanku kembali pada masa lalu. Jadi tolong, jangan tanyakan lagi tentang mas Herman. Karena itu sudah selesai."


"Itu artinya kamu menerima ku."


"Aku hanyalah bisa berucap 'Bismilah' semoga ini jalan yang terbaik bagi kita."


"Terima kasih Zulfa."


"Maaf mas, aku agak keras."


"Tak apa, aku suka."


.....


.....


.....


____________________________________


Readers yang author sayangi dan selalu author rindukan. Sambil nunggu up ... silahkan tengok karya baru author yang berjudul" PELURU CINTA SANG JENDERAL HAFIDZ . Bercerita tentang Jamilah dan kisah cintanya

__ADS_1


Silahkan membacanya dengan bahagia ....



__ADS_2