KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Berangkat


__ADS_3

"Oh ... itu alasannya. Kalau kamu percaya sama bapak. Boleh bareng sama bapak. Besok juga waktunya jenguk putri bapak."


"Bagaimana, Bun?"


Herman yang mendengar, tersentak kaget. Tak sangka sang polisi ini, kok selalu punya kesempatan untuk bersama dengan mantan istrinya. Sedangkan dirinya yang selama ini merindukannya, tak pernah mendapat kesempatan itu.


Sementara itu, Zulfa dibuatnya bingung dengan tawaran Hasan. Ini benar-benar di luar dugaannya. Ini sengaja atau sengaja sich, Hasan melakukan ini.


Apalagi melihat wajah Herman yang seperti menyiratkan kecemburuan. Semakin membuat dilema. Antara menerima atau menolak.


Ataukah ini sebuah kesempatan bagi dirinya, untuk menunjukkan pada Herman, bahwa kesempatan kembali itu sudah tak ada lagi bagi mereka.


Hasan benar-benar menikmati kegugupan Zulfa dan kegelisahan Herman. Dia hanya senyum-senyum dikulum.


"Tapi aku bawa anak-anak, nggak apa-apa kan?"


"Itu menyenangkan sekali," jawab Hasan antusias.


"Baiklah."jawab Zulfa meski agak berat juga. Itu karena dirinya selalu nggak enakan hati. Tapi gimana lagi ....


"Oke, kalau gitu besok pagi-pagi benar aku jemput."


"Ya." Zulfa mengangguk.


Herman benar-benar dibuat terkesima dengan pembicaraan mereka. Rasanya dia sudah dianggap tak ada. Dia segera memanggil Tia dan Aldo untuk berpamitan.


"Tia ... Aldo. Ayah pulang dulu."


Keduanya mendekat dan mencium tangan Hasan bergantian. Dan menghadiahi mereka dengan kecupan di pucuk kepala.


"Oh ya, Ayah. Seminggu ini Aldo kan libur sekolah. Aldo nginap di sini ya?" dengan senyum dan mata yang memohon sangat.


"Kok nggak bilang dari kemarin. Kalau benar libur kan, kita bisa jalan-jalan bareng?"


"Nggak seru kalau nggak sama Bunda Zulfa."


"Bilang sama Bunda, siapa tahu mau."


Tak perlu disuruh 2 kali, Aldo segera menengok ke Zulfa.


"Bunda kita jalan-jalan sama ayah, dik Tia juga, ya!"


Dikerumuni bapak-bapak dan anak-anak, bikin keki juga. Sudah nikmati saja ....


"Kapan itu?"


"Kapan Yah ...."


Terlihat Herman berfikir sejenak.


"Bagaimana kalau hari Rabu besok?"


"Bunda tanya kak Irwan dulu."


"Kakak sih oke-oke saja. Kalau nggak lagi ada kerjaan."


Kali ini Irwan sengaja menggoda kedua orangtuanya. Yang kini telah berpisah. Ternyata asyik juga, lihat kegugupan bunda Zulfa, kecemburuan ayah Herman, persis anak muda ....


Bisa dicap anak durhaka nich, hehehe ....


Tumben, nich anak tak bisa diajak kompromi, gerutu Zulfa.

__ADS_1


"Atau kita putuskan kalau pulang dari mama Redha. Bagaimana Tia."


"Tia ikut saja, pokoknya sama Bunda."


Makin ke sini, pembicaraan jadi ngalor-ngidul, tak tentu arah. Hasan, Irwan hanya menikmati saja kalau bunda Zulfa sedang dilema.


"Baiklah."


Akhirnya Zulfa menyerah. Menuruti Herman demi anak-anak.


Yes .... teriak Herman dalam hati. Impas kita Hasan. Tapi Hasan hanya senyum-senyum saja menanggapi kemenangan Herman.


"Aku pulang dulu, Zulfa. Assalamualaikum ...." kata Hasan dan Herman beriringan.


"Wa'alaikum salam ...." jawab Irwan, Zulfa, Tia dan Aldo bersamaan.


Ke duanya meninggalkan rumah Irwan dengan tertawa gembira. Atas kekonyolan masing-masing.


"Kita ini sudah berumur, tapi kok masih bersaing sich." kata Herman membuka pembicaraan.


"Siapa juga yang bersaing, Her. Tapi yang jelas aku mengaku kalah sama kamu." kata Hasan sambil tersenyum.


Tapi aku tak kan rela kalau kamu menyakitinya lagi, Her. Bisik kalbu Hasan yang tak mungkin terdengar di telinga Herman.


"Tapi aku menghormati keputusan Zulfa, kalau suatu saat nanti dia sudah siap memutuskan. Aku lihat saat ini, Zulfa masih perlu menenangkan diri."


"Ya, ...."


Hasan pun meninggalkan Herman. Menuju mobilnya yang terparkir di depan motor Herman.


"Aku pergi dulu. Assalamualaikum ..."


"Wa Alaikum salam ..."


💎


Pagi-pagi benar, matahari belum sempurna menampakkan diri, waktu subuh juga baru saja berlalu. Hasan sudah menampakkan diri di depan rumah Irwan.


Sengaja memilih waktu ini, agar tidak terjebak macet. Dan dapat menikmati udara pagi yang segar, belum banyak polusi. Apalagi perjalanan ini cukup memakan waktu.


Dengan membunyikan klakson mobil nya, dia memberikan isyarat pada penghuni rumah untuk segera bersiap-siap.


Dan benar, tak lama kemudian terlihat Tia memakai baju kaos biru muda, berlengan panjang dan jilbab yang senada keluar dari dalam rumah. Yang diikuti Aldo. Dia memakai kaos biru laut dengan celana jins selutut. Mereka menghampiri Hasan yang juga memakai baju santai dan juga jins.


"Bagaimana, sudah siap?"


"Sudah, Om," jawab mereka serempak.


"Yuk. Minum kopi dulu," ajak Zulfa.


Mereka pun mengikuti Zulfa, menuju ke dalam rumah. menikmati kopi dan juga pisang rebus yang sengaja dimasak untuk bekal nanti. Kini mereka cicipi terlebih dahulu untuk sekedar mengganjal perut.


Setelah menghabiskan kopinya, Hasan pun berdiri.


"Kita berangkat sekarang ya, biar nggak kena macet."


"Oke." jawab Zulfa.


"Irwan, bunda pergi dulu."


Irwan yang juga sudah rapi, menghampiri Zulfa. Sepertinya dia juga tengah bersiap-siap untuk pergi.

__ADS_1


"Ya. Bun."


Tanpa diperintah, bibi membawakan tas kecil ke mobil Hasan. Yang berisikan sedikit perlengkapan mereka bertiga sekedar untuk berjaga-jaga.


"Nyonya, tas ini di taruh di mana?"


"Letakkan di bagasi, Bu. Nggak dikunci kok."


"Ya, Pak."


"Makasih, Bu." kata Zulfa ketika melihat bibi sudah selesai meletakkan tas itu, dan kembali ke dalam rumah.


"Kami pergi dulu, Bi. Jaga rumah baik-baik. Kalau orang yang tak dikenal jangan dibukakan pintu."


"Baik nyonya."


Mereka meninggalkan bibi sendirian yang memasuki rumah. Dan memastikan mengunci gerbangnya.


"Pak Hasan, aku titip bunda ... adik-adikku juga." kata Irwan sesudah berpamitan pada Zulfa yang masih berdiri di samping pintu depan mobil Hasan.


"Jangan khawatir, Wan."


Mereka semua segera memasuki mobil masing-masing. Dan menghidupkan mesin mobil.


"Bunda ... pak Hasan. Aku duluan."


"Ya, Wan."


Irwan pun berlalu meninggalkan halaman rumahnya. Sesaat kemudian mobil Hasan pun mengikutinya.


💎


Sebenarnya, aku mau memperkenalkan Zulfa pada putriku. Tapi mau ngomong serius, ada krucil-krucil. Ah nikmati saja dulu dech ....


Belum lagi kalau putriku tak setuju, hadech ... pusing ....


Terus terang diri ini khawatir, kalau-kalau dia tak setuju. Sebenarnya tak apa .... tapi biasanya kalau tak setuju, bakal bikin ulah yang membahayakan. Seperti wanita-wanita yang pernah aku ajak menemuinya. Pulang-pulang pasti dengan kekecewaan yang teramat sangat. Akhirnya ....


Belum jodoh kali ...


Mungkin dia belum siap punya ibu sambung.


Semoga tidak untuk kali ini. Dia bisa terima ... bisik kalbunya berpusat pada pengharapan Yang di Atas


"Om Hasan, Kak Jamilah sekarang di Panti?" tanya Tia yang membuyarkan lamunan Hasan


"Iya benar. Kemarin om dapat kabar gitu. Sedang libur."


"Aku rindu sama kak Jamilah, umi, Abi Ridwan juga."kata Tia dengan wajah sedihnya.


"Bunda juga pingin ke sana. Mau berkenalan sama umi Abi Ridwan. Yang jagain Tia dulu ...."


"Kita ke sana dulu. Gimana Om?"


"Bisa." jawab Hasan ringan.


Ah, semoga ini bertanda baik. Belum mengungkapkan keinginan ku. Tia sudah mengajak kami ke sana.


Tapi terlihat Zulfa agak gelisah mendengar jawaban Hasan. Mungkin khawatir ketinggalan acara di Bu Redha.


"Tenang saja, nanti aku bilang ke kak Redha kalau kita telat. Yang penting datang. Meski datang saat makan-makan doang lalu wassalam dech .... Kan enak." kata Hasan sambil tertawa.

__ADS_1


"Kamu itu ...."


Sepertinya yang deg-degan untuk bertemu Jamilah justru Hasan sendiri ....


__ADS_2