
Maria segera mengembalikan kursi di tempatnya. Menghindari kepergok papa Alfa kalau dirinya menguping. Dan duduk tenang di meja makan.
"Maria."
"Ya, Pa."
"Sudah kamu putuskan?"
"Menurut papa?"
"Nak, sejak dulu papa nggak pernah menghalangi kamu bersama siapa. Papa hanya berharap pilihanmu itu akan membuatmu bahagia."
"Papa, aku dulu memilih mas Herman, karena nafsuku. Dan akhirnya hancur berantakan. Bahkan Maria menjadi manusia yang terkejam, membuang putri sendiri. Maria masih perlu bimbingan untuk menjadi lebih baik. Maria takut bila kembali pada mas Herman, Maria akan menjadi lebih kejam lagi, karena tak bisa menahan cemburu pada mbak Zulfa. Biarkan mas Herman kembali pada mbak Zulfa. Tak ingin Maria mengusiknya lagi. Hanya mbak Zulfa saja yang cocok dengan mas Herman. Dia sangat sabar."
"Kalau itu jadi pertimbanganmu, papa sangat setuju. Tapi ingat! pernikahan kalau bisa sekali seumur hidup janganlah dibuat main-main."
"Maria mengerti. Aku berlindung pada yang Berkehendak dari keputusan yang salah."
"Semoga ini yang terbaik, anakku."
"Doakan, Papa."
"Ya sudah. Ayo keluar! mereka menunggu kepastian darimu."
Dengan langkah mantap, Maria mengikuti Alfa, menemui Herman dan Faqih.
"Ini Maria, silahkan tanyakan sendiri maksud kalian."
Meski sudah punya keputusan yang jelas, tapi masih ada keraguan manakala harus berhadapan langsung dengan Herman maupun Faqih. Maria terdiam untuk beberapa saat.
Terlihat sekali kalau Faqih menunggu jawaban darinya. Sedangkan Herman, pandangannya entah kemana. Mungkinkah di saat seperti ini mbak Zulfa masih menghiasi angannya. Ataukah dia tak peduli lagi dengannya. Maria menatapnya dengan sedih.
"Kami menunggu keputusanmu."
Maria menatap Alfa, meminta persetujuan. Alfa menganggukkan kepalanya.
"Dik Maria, Katakanlah apa yang jadi putusanmu. Insyaallah kami siap menerima." Faqih mencoba mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
Sedangkan Herman hanya bisa menatap Maria sambil berharap, Maria akan menjatuhkan pilihannya padanya, tanpa berucap sepatah kata pun.
Maria meliriknya saja, tak menatapnya secara langsung. Maria mencoba mengisyaratkan bahwa dirinya sedang berusaha untuk berbuat seadil mungkin, baik baginya maupun bagi keduanya. Bahkan untuk mengatakannya, Maria memilih menundukkan kepala.
__ADS_1
"Maafkan Maria, bila pilihan ini menyakiti mas Herman atau mas Faqih. Aku tak bermaksud demikian."
Maria berhenti sejenak. Lalu menatap Herman
Maafkan diriku mas, sepertinya diriku tak bisa lagi kembali padamu. Aku bukan orang sempurna untukmu, hingga dirimu masih memikirkan mbak Zulfa, meski kita bersama dan sangat dekat sekalipun. Jadi aku memilih pergi, agar dirimu bisa bahagia.
Tatapan Maria cukup membuat Herman bangga dan mempunyai harapan besar. Bahwa dirinya yang akan dipilih oleh Maria. Mengingat mereka pernah bersama, tentu banyak kisah manis yang masih tersisa. Dan dirinya berharap kisah itu bisa berlanjut bila mereka kembali bersama.
"Maafkan aku, Mas Herman. Kisah kita sudah berakhir saat mas melepaskanku. Aku minta keikhlasan mas untuk menerimaku sebagai saudara seiman saja. Maafkan aku sekali lagi, Mas ..."
"Apakah itu berarti kamu ...."
"Mas Faqih menyatakan lebih dulu ke Maria, sebelum mas Herman mengatakan malam ini."
Sebuah jawaban yang tak terduga sebelumnya oleh Herman. Mengingat
selama Maria di penjara, Herman selalu menjenguknya.Dan sebelum itu juga, untuk melepaskan Maria dari jeratan hukum berat. Ternyata itu semua tak memberikan keyakinan pada Maria untuk memilihnya dan hidup bersamanya lagi.
Maria juga merasa demikian, Herman memberikan padanya harapan, kalau mereka akan bersama lagi. Tapi setelah dirinya keluar tak ada kelanjutannya, membuat dirinya ragu. Di saat seperti ini Faqih, ustadz papa dan juga dirinya datang. Salahkah bila saat ini memilih Faqih menjadi calon imamnya ....
Tapi malam ini, semua itu sia-sia. Maria telah memilih Faqih sebagai calon imamnya.
Rasanya sudah tak ada lagi artinya, dirinya berada dia antara mereka. Herman bangkit, dengan perasaan amat terpukul.
"Kurasa itu masa lalunya. Dan aku juga bukan orang yang sempurna buatnya. Setidaknya dengan itu kami akan mencoba untuk belajar, agar ketidaksempurnaan yang kami memiliki, menjadikan kebaikan bersama."
Herman terkesima dengan jawaban yang terucap dari bibir Faqih. Sungguh dia tak mengira kalau Faqih mempunyai ketetapan hati yang kuat. Pantas bila Maria memilihnya.
"Papa, aku pamit dulu. Besok pagi-pagi aku sudah ke pasar."
"Ya, Herman. Papa doakan usahamu semakin sukses. Maafkan Maria ya Her."
Meski sedang terluka, Herman mencoba tersenyum, berpamitan pada Alfa.
"Maafkan Herman, Pa. Selama ini tak bisa bahagiakan Maria."
"Sudah itu masa lalu. Kalau kamu pingin mampir ke papa. Mampirlah, Papa pasti akan senang."
"Insyallah, Pa. Assalamualaikum ..."
"Wa alaikum salam ..."
__ADS_1
Malam ini, Herman telah pergi tempat yang salah. Ke tempat dimana dirinya semakin merasa tersisihkan, terabaikan dan terbuang. Ingin marah, tapi pada siapa, dan kurasa tak ada gunanya.
Herman menaiki motor matic-nya, dengan hati yang makin terhimpit. Beban yang menimpanya hari ini memang berat hingga membuatnya sesak. Tapi perjalanan harus tetap berlanjut.
Herman pun membawa motornya menuju jalanan yang semakin gelap, segelap hatinya yang kini tak bercahaya. Dikuatkan langkahnya dalam menembus dinginnya malam yang mulai berkabut. Kalah dan lelah membuat dirinya berhenti di taman dengan lampu remang-remang. Merebahkan diri sejenak sambil menatap bulan yang tersenyum dari balik awan, mentertawakan keterpurukan jiwanya yang lelah. Dan mungkin akan semakin lelah dengan tak ada lagi seseorang yang mau mendengar keluh kesahnya, atau sekedar berbagi cerita.
Ah ....
Bukankah nanti mati juga akan sendiri. Dalam kubur sendiri. Mengapa kesendirian ini harus aku tangisi.
Herman segera bangkit, mengibas-ibaskan tangan pada baju. Agar rerumputan yang menempel lepas.
Namun dirinya juga tak bisa mencegah, manakala air matanya keluar. bercampur embun malam yang mulai turun. Hingga tak terasa sampai di rumah dengan mata sembab.
Derit suara daun pintu mampu menyadarkan dirinya, bahwa kini dirinya telah sampai ditempat tujuan.
Rumah ... rumah yang menyimpan banyak kenangan.
💔💔💔
Tak terasa angannya melayang ke masa lalu ....
Taarrr, gelas mungil milik Irwan itupun pecah.
"Nggak usah, air putih saja!"
"Mas!"
"Apa. Mau membantah."
Mengapa diriku sangat jahat pada Irwan, putra kecilku. Dalam pelukanmu tangis Irwan pun reda.
"Mas. Janganlah pergi dengan membawa amarah mama."
Tak ada amarah dalam kata-katamu.
Itu bentuk cintamu padaku. Tapi aku mengabaikan itu.
Zulfa, kamu berhak bahagia bersama Hasan yang bisa mencintaimu. Aku rela ...
Maria, diriku bukan imam yang baik bagimu. Kini telah kau temukan imam itu. Selamat ya ....
__ADS_1
Herman segera mengambil air wudhu dan sholat. Kemudian mencoba memejamkan mata, merebahkan tubuhnya yang benar-benar lelah di atas ranjang seorang diri.
Biarlah mimpi ini berakhir di esok hari. Saat diri ini terjaga.