KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Tia Masih Takut


__ADS_3

"Ada apa, kok sedih?"


"Adik Tia mau pergi ya, Ma."


"Iya, tapi mungkin sebulan sekali Tia akan berkunjung ke kita. Kangen sama kak Rahman dan kakak-kakak di panti asuhan. Sudah, jangan bersedih. Anak mama yang baik, sholeh dan tampan."


"Ya dech. Rochman ikhlasin."


Lalu Redha mempersilahkan semuanya untuk menikmati jamuan yang dia sediakan. Yang ditemani keluarganya juga. Sesekali saling melempar canda di antara mereka. Yang menambah keakraban sebagai keluarga. Apalagi itu Rohman kelihatan mau mewek. Bikin ....


Sampai-sampai, Redha keceplosan.


"Bunda. Sepertinya ... kita jodohkan mereka sekarang gimana?"


"Mereka masih kecil, Jeng. Takutnya mereka keberatan kalau sudah besar."


"Hanya bercanda kok Bunda."


Untunglah, dua anak kecil itu tak tahu arah pembicaraan para orang tua.


Jamuan yang menyenangkan. Mereka menikmati dengan suka cita dan gembirta. Hingga tak terasa apa yang terhidang hampir habis semua. Hanya menyisakan tulang dan durinya saja. Mungkin karena ingin menyenangkan keluarga Ridho Redha. Atau karena memang ingin melaksanakan sunnah.


"Jangan suka membuang makanan. Itu temennya setan."


Atau masakan bunda Redha memang benar-benar enak. Hanya mereka yang tahu. Ketiganya memang koki handal.


Setelah selesai menghabiskan jamuan yang disediakan. Mereka semua undur diri, dengan membawa Mutiara kembali. Ridho, Redha dan Rahman, mengantarkan sampai semua menghilang dari pandangan. Dengan tersenyum setengah terpaksa Rahman melambaikan tangan pada Tia dan Aldo yang sekarang bisa bersama.


Memandang mereka, timbul iri dalam hatinya.


"Ma, kapan aku punya adik kayak Tia." ucapnya sambil merajuk manja.


Redha hanya bisa jawab senyum-senyum dengan bola mata yang berputar-putar ke kanan dan ke kiri. Lha kok, papa Ridho dengar ....


"Tuch kan, Ma." sahut Ridho yang ingin menggoda si istri. Bikin Redha melotot, dengan bibir ditarik ke kanan. Ups ....


"Yok, Rohman. Kita ke dalam. Entar adanya kamu kena marah sama mamamu."


"Tapi, bener kan, Ma. Nanti buatin adik ya ...." kata Rohman tanpa beban. Bikin Redha keki saja.


"Ya, doain saja, supaya papa mama segera dapat adik untuk mu." jawab Ridho pada Rahman. Bikin gemas ....


"Sudah kita ke dalam." kata Ridho. Lalu menggandeng putranya untuk masuk bersamanya. Meninggalkan Redha yang masih terbengong-bengong.


"Ma, Ayok!" ajak Ridho.


Papa dan anak ini ada saja, guman Redha dalam hati.

__ADS_1


💎


Pada mulanya, Mutiara ingin semobil dengan bunda Zulfa. Tapi karena keinginan Herman, maka Mutiara mengikuti ayahnya. Satu mobil dengan Herman, Halimah dan Aldo. Di persimpangan jalan, mereka berpisah, menuju ke rumah masing-masing.


Kini Zulfa menjadi tenang. Mutiara sudah ditemukan. Sudah tidak ada lagi beban dan yang membuatnya khawatir. Dia tidaklah mempersalahkan apabila Tia berkeinginann ke rumahnya, sebagaimana dia memperlakukan Aldo, kakak Mutiara. Toh sama saja, mau anak siapapun, yang namanya anak-anak, pasti menginginkan kasih sayang h seorang ibu juga, agar dia merasa dan dapat tumbuh berkembang dengan baik.


Kini Zulfa sudah sampai di rumahnya, ketika malam sudah terlihat sempurna. Baru saja di ingin memejamkan mata, menikmati istirahanya, tiba-tiba telponnya berbunyi. Rupanya dari Halimah.


"Assalamu'alaikum .... Ada apa, Ma."


"Maafkan Mama, Nak. Ganggu kamu."


"Ya, ada apa Ma ..."


"Mutiara pingsan. Aku harus bagaimana, Nak."


Zulfa agak kaget juga. Mengapa baru sekarang mama mengabarinya. Jangan-jangan karena Tia masih trauma.


"Sekarang di mana?"


"Kami di rumah sakit, "


"Baik Ma. Zulfa ke sana."


Entahlah, kalau itu bersinggungan dengan anak-anak, pasti hati Zulfa terenyuh, tak peduli itu anak siapa. Begitu mendapat kabar dari Halimah, tak menunggu lama, dia sudah berangkat bersama Irwan.


"Sejak kapan Tia pinsan, Ma."


"Begitu masuk pekarangan rumah."


Benar dugaanku, kalau Tia pingsan karena dia masih trauma dengan kejadian itu. Kasihan dia, sampai kapan dia akan sembuh dari traumanya. Hanya waktu yang akan menyembuhkannya. Dia membelai lembut Tia, hingga dia menggeliat, lalu berlahan membuka mata.


"Bunda Zulfa, jangan suruh Tia kembali ke rumah itu. Tia takut. Nanti bunda Maria datang."


"Sayang, nggak usah takut. Kan ada ayah, ada nenek, ada kaka Aldo. Yang akan jaga kamu."


"Nggak, Tia masih takut."


"Tidurlah, nanti bunda yang jaga kamu. Atau kamu mau ikut bunda."


Mutiara menengok ke arah neneknya. Meminta persetujuan. Halimahpun mengangguk. Sepertinya tak ada jalan lain yang lebih baik dari itu. Dari pada harus mengembalikan Mutiara ke Panti Asuhan atau ke tempat mama Redhanya, yang jauh dari tempat tinggalnya.


Karena Mutiara sudah tak apa-apa lagi, Zulfa membawa ke rumahnya.


"Zulfa. Maaf selalu merepotkanmu." ucap Herman yang hanya bisa memandang dirinya dari samping pintu.


Zulfa tak begitu menanggapi perkataan Herman. Dia berlalu begitu saja dari hadapan Herman, begitu selesai berpamitan pada Halimah.

__ADS_1


Setelah Zulfa dan Irwan menghilang di lorong rumah sakit itu, Herman segera menyelesaian admistrasi dan lainnya, meninggalkan rumah sakit itu juga. Ada sesal yang mungkin tak bisa dia ungkap, tapi itu sudah sangat-sangat terlambat.


Mungkin inilah hukuman yang teringan yang diberikan Yang maha Pengasih padanya. Ada anak-anak di sekelilingnya, tapi tak bisa memeluknya erat. Ada seseorang yang sangat dia rindukan, tapi tak bisa meraih dalam dekapan.


Biarlah malam ini dirinya menikmati dalam kesunyian, entah sejenak atau selamanya. Hanya berpasrah pada yang Kuasa, disandarkan keinginannya. Entah akan terwujud dalam nyata, atau itu hanya khayal belaka. Semua masih rahasia.


Dia membawa Halimah dn juga Aldo pulang, menyurusi jalan yang semakin sepi, seperti sepi yang kini mulai dirasakannya.


Sampai di rumah, dicobanya untuk memejamkan mata, namun tak bisa. Akhirnya dicobanya untuk menyejukkkan pikiran dengan mengambil air wudhu, dan bersimpuh pada yang maha pengampun ....


Robbana ....


💎


Esok harinya di rumah Alfa ....


"Benarkah nyonya Maria tinggal di sini." kata sorang pria yang cukup rapi.


"Iya, ada apa mencari non Maria?"


"Maaf. Saya hanya mu menyerahkan ini." kata pria itu sambilmenyerah sebuah amplop coklat yang cukup lebar.


"Ya, nanti saya sampaikan." katabibi yang sudah mengabdi di rumah Alfa cukup lama.


"Terima kasih." ucapnya sebelum berlalu, pergi dari rumah itu.


Tak perlu menunggu pria itu pergi, bibi itu sudah kembali ke dalam rumah. Menjumpai tuan Alfa, yang pagi ini terlihat santai duduk di kursi goyangnya.


"Ada apa, Bi?"


"Ini, ada surat buat non Maria."


"Bawa sini. Aku ingin melihatnya."


Diapun menyerahkan surat itu pada tuan Alfa. Dari sampulnya sudah terlihat siapa pengirimnya. Kantor Pengadilan Agama.


"Tolong panggilkn Maria."


"Baik Tuan."


Bibi itupun berlalu dari hadapan Alfa, menemui Maria yang sedang menyibukkan diri di dapur. Sedang membuat sesuatu yang bisa membuat papanya kembali tersenyum padanya, semoga. Tapi pasti berakhir dengn harus merepotkan bibi juga. Harus memperbaiki dan menyempurnakan pekerjaannya.


Diapun meninggalkan pekerjaaannya, menemui ayahnya yang sedang membaca lembaran yang baru saja dia terima ....


....


....

__ADS_1


....


__ADS_2