KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Ingat di Saat Terakhir


__ADS_3

Saat itu sudah lewat isya', ketika Zulfa dan keluarga Hasan tiba di rumah sakit tempat Halimah dirawat, setelah 6 jam dalam perjalanan.


"Bunda, siapa yang sakit?"


Itu yang pertama terlontar dari bibir Tia.


"Nenek sayang."


Setelah itu tak ada lagi kata yang keluar dari mereka hingga sampai di kamar perawatan Halimah.


Terlihat Halimah tidur tenang dengan infus dan juga selang yang lainnya. Herman sekali-kali mengusap kepala Halimah lembut, kadang memijin pelan kaki dan tangannya.


Kecemasan memang terlihat di wajahnya, tapi dia tetap tenang.


"Assalamualaikum ...."


"Wa alaikum salam ...., Hasan, Ridho ... tak sangka kalian datang."


Alangkah bahagia hatinya, di saat seperti ini masih ada orang, bukan saudara bukan apa-apa, sudi datang menjenguk mama Halimah.


Herman berdiri dan menyambutnya dengan pelukan hangat. Dan lebih berbahagia lagi saat melihat Zulfa dan anak-anak datang bersama mereka.


"Tia Aldo, papa kangen." sambut Herman segera berjongkok meraih keduanya dalam pelukan.


"Ayah, nenek kenapa?"


"Sakit sayang. Doakan ya, agar cepat sembuh."


Lalu dia melirik wanita yang kini berdiri di samping Hasan. Zulfa ....


Ada rasa sakit ketika melihat Zulfa dalam posisi itu. Hingga dirinya sulit untuk bicara.


"Bagaimana keadaan mama?" Zulfa membuyarkan lamunannya.


"Luka dalam di kepalanya semakin parah. Selama ini mama tak pernah mengeluhkan apa-apa, kecuali pusing saja. Tapi tak tahu hari ini ada kejadian apa. Pak Lik hanya mendapati mama pingsan di depan rumah, saat ada 2 orang yang mengobrak-abrik rumahnya."


"Mengobrak-abrik rumah mama?" Zulfa seketika agak pucat. Dia benar-benar tak menyangka kalau ada kejadian serius yang menimpa mama Halimah.


Astaghfirullah Al adzim ... kelepasan bicara, gumam Herman pelan dalam dada.


"Semua sudah ditangani sama pak Lik. Akhirnya mereka pergi tanpa hasil apa-apa."


"Tapi sudah bikin Mama seperti ini?"


"Itu kesalahan mas, nggak bisa jaga mama. Sudah jangan pikir macam-macam. Mama cari anak-anak. Lika juga sudah berangkat ke sini. Oh ya, terima kasih sudah mau datang."


"Tak apa-apa Mas, justru aku senang mas dikabari soal mama."


Halimah yang sejak mereka datang masih tenang tertidur. Kini berlahan-lahan matanya terbuka. Zulfa segera menghampiri.


"Ma, ini Zulfa. Apa yang mama rasakan?"


"Tak apa-apa, Zulfa. Hanya sakit kepala saja." jawabnya pelan dan lemah.

__ADS_1


"Mama pingin apa?"


"Aku haus."


Segera Zulfa mengambilkan air di gelas dan membantunya minum. Tapi sepertinya kesulitan dalam keadaan seperti itu. Mau mengangkatnya, itu akan menambah gerakan. Dan dia tak tahu apakah itu membahayakan atau tidak.


Lalu Zulfa mengambil sedotan, meletakkan di mulut Halimah..


"Sudah, makasih. Anak-anak mana?"


"Ada, Ma. Aldo Tia, nenek cari kalian."


Tia dan Aldo mendekat. Dan mencium tangan neneknya dengan ta'dzim. Tak lupa mencium pipinya juga. Mereka berdiri di samping Halimah dengan bingung.


"Nenek, cepat sembuh ya ...."


Mata Halimah seperti masih mencari-cari seseorang. Irwan mencoba mengartikan bahwa Halimah mencari Lika.


"Sebentar lagi Lika datang, Nek."


"Herman mana Maria?"


Mengapa mama menanyakan Maria ...


Selama ini tak pernah sekalipun mama menyebut nama Maria. Hanya saja kalau aku berpamitan untuk menjenguk Maria, dia selalu mengingatkanku untuk membuat masakan untuknya.


Hasan yang mendengar permintaan aneh Halimah, segera mengerti. Diapun mengangkat telponnya. Menghubungi seseorang ....


Tak lama kemudian Maria datang bersama 2 orang wanita yang mengawalnya.


"Wa alaikum salam .... Maria!" Herman terkejut. Tak sangka kalau Maria bisa datang menemui mereka.


"Mama ...."


Dengan mata berkaca-kaca, dia menghampiri Halimah. Zulfa yang sedang duduk di samping Halimah, segera berpindah tempat. Memberikan tempat duduknya pada Maria.


Anak-anak meraih ujung bajunya, mengikuti langkahnya pergi ke samping Hasan, dan mereka keluar.


"Mama, maafkan Maria." lalu tak dapat dicegah lagi diapun menangis sesegukkan sambil meletakkan tangan Halimah di pipinya. Halimah pun terlihat meneteskan air mata.


"Sudah, mama ikhlas. Jaga cucu-cucu ku ya ..."


"Ya, Ma."


Sedangkan di luar ....


"Mas, yang mengizinkan Maria keluar."


"Itu yang terbaik. Ibu Halimah seperti ...."


Hasan ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Membuat Zulfa semakin merasa cemas.


"Ada apa, Mas?"

__ADS_1


"Kita doakan saja yang terbaik."


"Maksud Mas?"


"Kita kembali ke dalam yuk!"


Belum sampai mereka melangkah, Zulfa melihat Lika dan kedua temannya berlari-lari menghampirinya.


"Assalamualaikum .... Bunda, ada apa dengan nenek?" meski panik, Lika tak lupa bersalaman dan memeluk Zulfa erat.


"Wa alaikum salam ..., nenek ada di dalam."


Lika segera ke dalam, meninggalkan 2 orang temannya.


"Assalamualaikum, Tante."


"Wa alaikum salam ... kalian teman Lika."


"Ya, maafkan kami Tante."


Kerena di dalam telah penuh orang, keluarga Ridho memilih di luar ruangan. Bersama Zulfa, Hasan dan dua orang teman Lika.


Meski demikian, Zulfa tak bisa menyembunyikan kegelisahannya, karena kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Hasan. Sebenarnya ada apa dengan Halimah ....


Dia berkeinginan untuk melihat keadaan Halimah. Baru kaki akan melangkah, Irwan sudah menemuinya dengan wajah panik.


"Bunda, nenek ...."


"Ada apa dengan nenek, Wan?"


Irwan tak juga menjawab. Hanya matanya yang berkaca-kaca. Zulfa melangkah cepat kembali ke ruangan Halimah.


Terlihat nafas Halimah tersengal-sengal, sedangkan Herman wajahnya tampak tegang untuk membisikkan sesuatu di telinga Halimah. Zulfa segera mendekati Halimah berada di sisi yang berlawanan dari Herman. Hendak membisikkan kata-kata yang sama.


Maria menggeser tempat duduknya, memberikan keleluasaan pada Zulfa untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Herman tak sanggup lagi melakukannya. Wajah menegang dan meneteskan air mata. Zulfa segera menggantikannya.


"La Ilaha Illaah." bisiknya lembut di telinga Halimah.


Bibir Halimah mengikutinya dengan berlahan-lahan kata-kata itu sampai sempurna. Lalu secara berlahan diapun mengatupkan matanya, tertidur tenang di hadapan Zulfa dan semua keluarganya.


Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji'un ....


Dua orang perawat menghampiri mereka. Memeriksa sejenak keadaan Halimah. Setelah memastikan bahwa ia telah Tia, mereka melepas infus dan peralatan medis lainnya dari tubuhnya. Mensedekapkan tangannya dan menyelimuti tubuhnya dengan sempurna dari ujung kaki hingga kepala.


Maria yang melihat keadaan Halimah, menangis tersedu-sedu di pundak Zulfa.


"Mbak maafkan aku. Karena aku mama seperti ini."


"Sudahlah ... aku juga salah meninggalkan mama begitu saja. Meski mama mengijinkannya. Kita semua salah. Tapi mama masih sayang sama kita."


"Iya, Mbak. Aku sangat berdosa, menyebabkan mama seperti ini."

__ADS_1


" Sudah .... jangan menangis seperti ini. Mama pasti nggak suka kamu seperti ini. Kalaulah mama benci ke kamu, dia tak akan mengingatmu di detik-detik terakhirnya. Sekarang doakan dengan doa terbaik untuk mengantarnya menghadap Allah."


Meski bibir bisa menghibur, tapi dirinyapun tak bisa menahan saat air matanya jatuh membasahi pipinya.


__ADS_2