KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Rencana


__ADS_3

Tiba di rumah, Zulfa maupun Lika beristirahat di kamar masing-masing. Meninggalkan Irwan yang sedang suntuk, mikirin ayahnya dan Maria. Kenapa juga harus menemuinya. Kalau bukan karena masalah itu akan mengenai bundanya, tak mau dia bersusah payah menemui Herman. Tuhan, bantu aku untuk menghapus rasa benci di hatiku ....


Setelah minum segelas air zam-zam, Irwan segera menuju angkringan ayahnya, dia ingin segera mamberitahukan tentang Maria. Tapi di mana itu? ...


Tanya mbah google ah .... Tul, tul, tul, beres.


Kini dirinya telah siap. Tak buang-buang waktu, segera saja melajukan mobilnya, menyusuri jalanan yang cukup tenang, tapi tak sepi dari kendaraan. Maklum, lokasi anghkringan berada di tengah sawah, di pinggir sungai yang sudah disulap menjadi taman yang rindang.


Meski begitu, ternyata ramai juga. Bahkan yang datang kalangan berkelas. Terlihat dari mobil-mobil yang terparkir. Ini ayah gimana promosinya, kok bisa begini. Belum satu minggu buka, sudah banyak pelanggan yanga datang. Kata bunda, ayah sich jagonya bisnis. Kurasa memang iya.


"Assalamu'alaikum, Ayah."


Alangkah bahagia hati Herman, ketika tahu siapa yang datang. Segera saja dia meninggalkan pekerjaaannya. Hanya saja timbul pertanyaan dalam dirinya. Tak ada angin, tak ada hujan, Irwan datang.Tak mungkin, Irwan menemuinya hanya karena kangen. Meski dirinya mengharapkan itu.


"Joko, kamu gantikan dulu, ada anakku."


"Beres, Gan." sahutnya


Segera dia menghampiri Irwan, yang masih berdiri membelakangi angkringan ayahnya. Menikmati semilir angin persawahan yang berhembus sejuk, meski matahari sedang panas-panasnya.


"Wa alaikum salam ....,Wan. Ayok ke sana."


Bukannya mengikuti ajakan ayahnya, Irwan bahkan memberondongnya dengan pernyataan yang membuat wajah Herman berkerut.


"Ayah. Sebenarnya Maria itu siapa .... Bisa-bisanya dia dia merencanakan itu." Irwan benar-benar sangat gusar. Herman yang melihat keadaan Irwan seperti itu, menjadi ikut gusar pula.


"Sebentar-sebentar, ada apa Irwan. Ayah nggak ngerti maksudmu."


Lalu, Irwan menceritakan tentang pertemuannya dengan Maria, secara tidak sengaja. Mengikuti nya, dan mendengar rencana-rencana Maria. Itu sangat membahayakan keluarganya.


Herman manggut-manggut, mendengar dengan seksama. Kadang raut wajahnya tampak sedih.


"Maafkan ayah, Wan. Ternyata sebegitu marahnya Maria sama ayah. Sampai-sampai kalian harus menanggungnya. ayah yang akan selesaikan."


"Tidak, Ayah. Irwan nggak bisa tinggal diam."


Beberapa kali Herman mengambil nafas panjang. Ada sesuatu yang terjadi pada masa lalu yang ingin dia kubur. Tapi rupanya itu yang menjadi akar permasalahannya.


Dengan terpaksa, akhirnya Herman menceritakan tentang Maria dan kehidupan dirinya , saat Irwan dan Lika masih kecil. Dan kini, dia hanya mampu menunduk di hadapan Irwan. Apalagi saat terdengar gemeletak gigi Irwan. Terlihat kalau Irwan sedang menahan amarah.


"Maafkan ayah, Nak."


Untuk beberapa saat, Irwan hanya diam sambil membuang muka. Tapi untunglah Irwan bisa menguasai diri.


"Akibat perbuatan ayah, kita semua kena getahnya. Terus terang kalau yang terancam hanya ayah seorang, mungkin Irwan nggak peduli. Maaf kalau Irwan jahat."


"Nggak apa-apa, Nak. Memang sudah seharusnya. Ayah nggak akan marah. Ayah cukup mengerti."


"Lalu bagaimana, Yah." tanya Irwan bingung. Herman juga diam, tampak berpikir panjang.

__ADS_1


"Untuk masalah surat-surat, sudah ayah serahkan ke pamanmu, Ayyas. Agar bisa dibuatkan surat baru. Dengan berbekal laporan ke kepolisian waktu itu. Alhamdulillah, sudah hampir jadi."


"Berarti masalah itu bisa dianggap selesai. Kalau-kalau mereka datang, itu malah jadi bumerang bagi mereka sendiri."


"Kemungkinan seperti itu. Hanya ayah harap, kamu jangan lengah menjaga adik dan bundamu."


"Itu sudah jadi tanggung jawab Irwan, Yah. Tapi bagaimana kalau mereka nekad."


"Itu jadi urusan ayah."


"Tapi bagaimana?"


"Memang ayah nggak begitu tahu, dunia seperti itu. Tapi .... Moga-moga paman Steve bisa bantu."


"Paman Steve, suaminya tante Ratna?"


"Ya. Ayah sudah membicaraannya kemarin. Mereka memang berbahaya. Yang penting sekarang kita cari Mutia dulu."


"Ya, sudah Yah. Meski Irwan agak lega, tapi tetap saja kahawatir."


"Ayah mengerti."


"Aku balik sekarang."


"Lho Wan, nggak cicipi massakan ayah dulu."


"Oke."


"Makasih, Wan. Kamu tunggu sebentar, ayah akan buatkan sesuatu untuk kamu."


"Baik, Yah." jawab Irwan santai. Lalu di mengeluarkan laptopnya. Memeriksa laporan dari sekretaris perusahaannya. Dia sangat serius, hingga tak menyadari kalau Herman kembali dengan membawa sebuah napan, berisikan beberapa jenis masakan dan nasi.


"Serius amat, Wan."


"Iya, Yah. Satu minggu umroh, nggak sempat memeriksa."


"Sudah, yuk. Kamu makan dulu. Sudah ayah masakkan."


"Bentar, Yah. Nanggung. Tinggal satu lagi."


Dengan sabar, Herman menunggu Irwan menyelesaikan pekerjaan nya. Baru setelah Irwan menutup laptopnya, Herman mengajak kembali menikmati menu yang dia bawa.


"Ayo, Wan. Keburu dingin."


"Wah .... Kelihatannya enak sekali ini." kata Irwan dengan penuh selera. Hilang sudah masalah yang dia bawa saat datang.


"Enak sekali, Yah. Kaya masakan bunda."


"Ya ... Emang resepnya bundamu. Dirubah sedikit sama ayah."

__ADS_1


"Hemmm .... Makanya sedap banget. Banyak orang suka. Aku habiskan, Yah."


Herman tampak senang dengan sambutan dari putranya itu.


"Gimana Wan, menurutmu angkringan ayah ini."


Gimana muji dengan orang yang dibenci, berat bukan. Tapi, jujur saja. Kalau dia kagum dengan usaha yang dirintis ayahnya ini.


"Bagus sekali. Ayah memang hebat." jawab Irwan sejujur-jujurnya. Herman tersenyum menanggapi pujian dari Irwan. Sebenarnya yang dia inginkan bukan pujiannya, tapi kata-kata Irwan yang mampu mengobati rasa bersalah dan kangennya.


Lalu dirinya berdiri, meninggalkan Irwan menikmati makanannya. Kembali ke dapur, entah apa yang dilakukan. Sesaat kemudian dia sudah membawa kotak dalam tas plastik. Diletakkan di depan Irwan.


"Untuk Lika."


"Ya. Nanti aku sampikan." Lalu Irwan berdiri, meninggalkan Herman kembali berkutat pada pekerjaannya.


Semoga ini awal yang baik untuk memulai hubungan derngan anak-anak. Meski itu tak bisa menghapus luka yang pernah ditorehkan pada Zulfa, bunda mereka. Tapi kenapa diriku masih ingin berharap ....


💎


Di rumah Alfa ....


"Bi, itu siapa yang datang. Coba kamu lihat. Kalau orang kemarin yang datang, jangan kasih masuk."


"Baik, Tuan."


Perempuan paruh baya itupun berlalu dari hadapan Alfa, menuju gerbang rumah tuannya.


"Bi, aku bi ... Maria." teriak Maria.


"Maaf non, aku nanya tuan dulu. Apa non boleh masuk atau tidak." ujar wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Membuat dirinya amat kecewa.


"Tuch kan, Bob. Mereka nggak menerimaku."


"Tenang." jawab Boby. Tangannya segera masuk lewat deruji besi, meraih kunci pagar rumah Alfa. Rupanya bibi lupa menguncinya. Diapun membuka pintu itu lebar-lebar.


"Silahkan msuk tuan putri ...." ajak Boby.


"Ah, ternyata nggak dikunci. Tahu gitu, aku masuk dari tadi." kata Maria dengan bersungut.


"Ayo Beb, kita temui papamu."


Maria mengangguk senang, meski sampai saat ini dirinya masih diselimuti keraguan.


....


....


....

__ADS_1


__ADS_2