KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Amarah Alfa


__ADS_3

Sebelum bibi keluar, mereka sudah masuk duluan. Namun tak menemui orang yang mereka cari. Dia pun melanjutkan langkahnya ke ruang keluarga. Maria mendapati papanya sedang duduk santai, sambil membaca koran.


"Papa." panggil Maria pelan bersamaan dengan bibi yang selesai meminta ijin pada majikannya. Apakah memperbolehkan Maria masuk atau tidak.


Bibi dan Alfa menengok ke sumber suara. Namun tak mengekspresikan apa-apa. Apakah itu kerinduan ataukah kebenciaan. Untuk sejenak Maria terpaku, tak tahu akan berbuat apa. Tapi sesaat kemudian dia memberanikan diri untuk mendekati papanya.


"Papa, maafkan Maria. Janganlah papa mendiamkan Maria seperti ini. Maria kangen papa."


Tapi Alfa membisu tak mau bersuara. Sesaat dia menatap putrinya yang bersimpuh di hadapannya. Bibi yang ada di hadapannya pun tak berani mengganggunya. Dia memilih untuk pergi meninggalkan tuan dan putrinya. Tak mau mencampuri urusan mereka.


"Papa, kini Maria datang tanpa mas Herman. Kenapa papa masih marah sama Maria. Maria merasa kehilangan sekali saat sudah nggak bisa menghubungi papa. Tolonglah papa, maafkan Maria, yang nggak pernah mengerti keinginan Papa."


Alfa yang mendapati air mata Maria menetes di pangkuannya, akhirnya tak tega juga.


"Apakah Hermanmu itu meninggalkanmu. Lalu kamu kembali lagi ke papa. Hah ..."


Maria agak terkejut mendengar kata-kata ayahnya. Dia memberanikan diri untuk menatap wajah ayahnya, dengan air mata semakin deras mengalir. Dia tak berani berkata-kata lagi.


"Tidak, Pa. Maria yang meninggalkan mas Herman."


"Mengapa bisa seperti itu Maria. Bukankah kamu mencintainya."


"Maria nggak sanggup melihat mas Herman berduaan dengan istrinya."


"Sejak awal kamu sudah tahu itu. Kenapa tak kamu pikirkan?"


"Ku kira dia bisa melupakan Zulfa. Tapi ternyata tidak."


"Lalu, Kamu lari dari suamimu Maria?" tanya Alfa dengan suara tinggi.


"Maria tak bahagia, Pa."


"Oh my God. Maafkan aku istriku yang tak bisa mendidik putrimu." ucap Alfa sedih, "Maria, mama itu tak pernah menduakan papa selama hidupnya. Dia selalu setia, tak pernah meninggalkan papa. Bahkan saat papa terpuruk sekalipun, dia tak pernah mengeluh, apalagi pergi. Makanya sampai sekarang papa nggak pingin beristri lagi. Papa selalu terkenang mamamu."


"Apa papa senang kalau aku berpisah dengan mas Herman?"


"Papa tak bisa merasakan itu. Karena papa sudah melupakanmu."


Dada Maria semakin terasa terhimpit, mendengar perkataan Alfa yang baru saja diucapkan. Dia hanya terisak. Tapi sudah tak bisa berkata-kata lagi.


"Maria, sadar atau tidak sadar kamu telah meninggalkan ayah. Mengganggap papamu telah mati," sesaat Alfa menarik nafas panjang. Dan mengeluarkannya berlahan. Ingin rasan dia menumpahkan amarah ini pada putrinya.

__ADS_1


"Maafkan Maria, Pa."


"Sudahlah. Seperti kata Papa yang kemarin-kemarin. Sekarang kamu sudah dewasa, berhak menentukan pilihanmu. Pergilah dari papa."


"Maria nggak pernah meninggalkan papa, dan nggak pernah menganggap papa mati. Maria selalu berusah menghubungi papa. Tapi tak pernah bisa."


Mendengar kata-kata putrinya, Alfa tersenyum hambar.Ternyata putrinya tidak mengerti dengan maksudnya. Dengan berpindah kenyakinan, apalagi hanya karena mengikuti laki-laki yang belum jelas keimanannya, telah melukai harga dirinya sebagai orang tua. Dia sangat menyayangi putrinya.


"Maria merindukan Papa."


"Papa juga merindukanmu, Nak. Tapi papa membenci Herman. Yang telah merebut kamu dari papa. Tapi itu yang kamu mau, Papa mencoba menerimanya. Tapi kenapa sekarang kembali."


Sedangkan Alfa kini pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang kini berdiri di tengah-tengah sekat yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Siapa dia?"


Boby segera mendekati Alfa, hendak bersalaman dengannya. Tapi segera Alfa menarik tangannya, tak mau disentuh. Maria segera menjawab ....


"Dia Boby, yang nolongi Maria." jawab Maria setelah dapat menghentikan tangisnya sendiri.


Mata Alfa menjadi sendu seketika. Lalu dia mengusap wajahnya.


Alfa menjadi naik pitan, darahnya mendidih mendengar jawaban Maria. Tak sangka kalau putrinya akan dengan mudah melupakan ikatan pernikahannya. Dia ambil korannya lagi dan menggulungnya menjadi satu genggam, lalu dipukulkan pada Maria.


"Keluar kamu!!" kata Alfa dengan suara keras memenuhi ruangan. Menyuruh Boby pergi.


"Tuan Alfa, kenapa kamu perlakukan putrimu seperti itu. Bukankah dia darah dagingmu." rayunya. Menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Kalau dia bisa mendekati Maria , karena ingin memiliki kekayaan Alfa n menguasainya.


"Apa urusanmu. Memang aku tak tahu kamu sebenarnya."


"Kita sama tuan Alfa. Dan bukan aku yang menghendakinya. Putrimu yang datang padaku. Apakah salah bila aku memilikinya."


"Lalu setelah puas, akan kau jual. Begitu kan?"


"Aku tak seburuk yang tuan kira."Boby berusaha berkelit.


"Oh, masih berpura-pura baik. Bagaimana dengan Jessica yang ada di rumah sakit gila." ucap Alfa persis di telinga Boby. Membuat mukanya merah menahan amarah. Dia mengepalkan tangannya.


"Sekarang keluar!"


Tanpa menunggu lama lagi, Boby segera meninggalkan tempat itu. Tanpa memperdulikan Maria yang mengejarnya.

__ADS_1


"Bob, tunggu aku." bobby segera menepis tangan Maria yang akan memegangnya.


"Maria," panggil Alfa yang membuat Maria berhenti mengejar Bobby. Apakah papanya telah mengijinkan dirinya kembali ke rumah. Maria bingung ....


"Bob, kenapa kamu seperti itu."


"Lupakan hubungan kita. Kita putus sampai di sini."


"Ini semua gara-gara papamu. Dia tak menyetujui hubungan kita." kata Bobby sambil terus berjalan meninggalkan Maria seorang diri.


"Lalu aku harus kemana?" kata Maria memelas


"Terserah kamu, aku tak peduli." jawabnya kasar. Membuat Maria bingung antara mengikuti Bobby atau memenuhi panggilan papanya.


Sedangkan Bobby sudah melangkah dengan cepat menuju mobilnya, membanting pintu mobilnya dengan kasar. Meninggalkan tempat itu segera.


Pupus sudah harapan untuk menguasai kekayaan Alfa. Dan sedikit bermain-main dengan putrinya yang bodoh itu. Setidaknya surat rumah Herman ada di tangannya. Hasil dari berpura-pura baik pada Maria.


Sementara itu di dalam, Alfa merasakan dadanya penuh sesak dengan beban. Keputusannya untuk tak mengakui putrinya karena putrinya berpindah keyakinan. Yang mengakibatkan dirinya tak bisa menjadi wali atas pernikahan pada putrinya, akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang beruntun.


Seminggu yang lalu Herman datang mencari Maria. Sekarang Maria datang dengan membawa pria lain. Benar-benar membuatnya terpukul. Gerangan apa yang telah dilakukan putrinya, dia benar-benar tak tahu.


"Martiyas, maafkan aku yang tak bisa mendidik anak-anakmu. Edzel pergi tanpa kabar, Maria tak bahagia dengan pernikahannya. Aku tak tahu harus berbuat apa ...." bisik Alfa dengan mata sembab. Di masa tuanya, kenapa semua seolah-olah berantakan.


Sedangkan Maria yang kini sendiri di beranda hanya mampu menangis. Mau ke dalam, papanya masih sulit menerima. Mau ke tempat Bobby tak ada uang. Belum lagi, kalau yang dikatakan papanya benar. Bobby akan membuangnya begitu saja, bila keinginannya sudah tercapai.


"Mama, mengapa Maria kau tinggalkan seperti ini. Papa jahat, nggak mau terima Maria. Kukira papa nggak mau terima Maria karena hutang mas herman. Tapi ternyata bukan .... Oh ya, surat itu. Bukannya masih di tasku yang ada di dalam mobil. Aku harus mengambilnya. Tapi bagaimana ...." Dia duduk sedih di kursi berandanya, hingga bibi mendekatinya.


"Nona, masuklah. Papa nona sudah membolehkan masuk. Tapi jangan temui dulu beliau. Tunggulah sampai reda amarahnya."


"Terima kasih, Bi."


💎


Sore itu di rumah Halimah ....


"Herman, kenapa kamu senyum-senyum."


"Berkat doa mama, hari ini Irwan datang ke tempatku."


"Halah .... Kolokan banget kamu jadi cowok, Her ... Her." kata Halimah sambil menepuk punggung Herman. Sambil berbisik dalam hati, " Aku rela atasmu, anakku. Dan memaafkan kesalahanmu."

__ADS_1


Lalu Hermanpun menghilang ke dalam kamarnya. Sedangkan Halimah masih meneruskan minum kopi susunya sambil membaca kertas yang baru diterimanya, dari seseorang , ....


__ADS_2