
''Mama mengusir saya?" kata Maria dengan marah.
"Bukan begitu, Maria."
"Baik Ma. Aku pergi."Dia segera berdiri,menatap tajam pada Halimah. Membuat Aldo dan Mutia ketakutan. Sedangkan Halimah balik menatapnya tenang.
"Maria, duduklah." Herman mencoba meredakan amarah Maria. Tapi bukannya reda, bahkan semakin memuncak. Dia membanting piring yang ada di depannya, sebelum kembali ke kamar.
Mutia dan Aldo tampak tegang dibuatnya . Hingga mereka meluapkannya dengan tangis. Mutia menangis keras, sedangkan Aldo hanya sesugukan.
"Kita keluar Sayang. Bunda dan ayah masih ada masalah yang harus diselesaikan." Halimah meraih keduanya. Mengajak keluar, meninggalkan Herman di ruang makan.
Setelah membereskan bekas-bekas kerusuhan yang telah diperbuat Maria, Herman menyusul Maria ke dalam kamar.
"Rasanya keberadaan ku di sini hanya menjadi beban." kata Maria begitu melihat Herman memasuki kamarnya.
"Tak ada yang menganggap kamu itu beban. Karena kamu bagian dari keluarga ini."
"Tapi mengapa mama menyuruh kita pergi."
"Ini rumah mama, mama berbuat apa saja, apa hak kita untuk melarang. Kita ke sini, datang hanya sebagai tamu."
"Kita di sini sudah terlalu lama, tak baik menjadi beban orang. Mas malu. Mama hanya mengingatkan mas akan tanggung jawab terhadap keluarga."
"Tapi tak harus pergi, kan ..."
Herman hanya tertawa. Ini adalah seringan-ringan hukuman yang pernah mama berikan padanya. Masa dia akan menolak.
"Sudahlah, ambil hikmahnya saja."
"Tapi Mas."
"Sikapmu pada mama, mempercepat kita harus segera pindah."
"Mas nyalahin aku?"
"Jangan berdebat lagi. Lihat Mutia dan Aldo sampai menangis melihat tingkah kamu."
"Ini semua gara-gara mas dan mama mas juga, beda-bedain aku sama Zulfa."
Lama-lama Herman tak tahan juga mendengar ocehan Maria.Hingga dia terbakar amarah. Apalagi mendengar protes akan sikapnya pada Zulfa. Bukankah selama bertahun-tahun, dia selalu bersamanya. Segala kebutuhan lahir batin dia beriakan. Sedangkan, Zulfa sama sekali tak mendapatkan bagian. Meskipun Herman ingin.
"Baik sekarang apa maumu. Dulu kamu yang datang ke aku. Aku terima, meski kamu sudah tahu kalau aku sudah beristri. Bahkan semua hak Zulfa kamu ambil, aku biarkan. Baru juga kamu di sini, kamu sudah berubah. Atau ini,memang sifat aslimu ...hah. Kasar sekali sama mama, memberontak sama suami."
"Mas sekarang berani marahi aku. Nggak pernah perhatiin aku. Bahkan aku diletakkan di kamar kecil, mas diam aja. Semua ini gara-gara Zulfa ... Zulfa ... Zulfa. Menyebalkan!"
__ADS_1
"Apa ?! ... Kamu nyalahin Zulfa. Orang yang sudah nolongin kita tanpa meminta balasan apapun pada kita. Kamu salahi .... Sungguh kamu wanita yang tak tahu balas budi."
"Mas bilang tanpa pamrih. Lalu tiap malam minta tidur dengan mas. Sampai mas melupakan aku."
"Perlu kamu tahu, Maria. Zulfa tak pernah mau aku sentuh. Dia selalu tidur bersama Lika."
"Aku tak peduli. Aku benci kalian. Kalian membuatku sengsara. Kamu laki-laki tak berguna. Aku mau pergi ...."
"Silahkan. Siap juga yang mau sama wanita sepertimu."
Maksud Herman hanya menggertaknya saja. Tapi Maria benar-benar tersulut dengan perkataan itu.
"Oh ... ternyata mas mengusirku juga. Baik!" jawab Maria.
Dia segera mengambil koper dan semua bajunya dari dalam lemari. Memasukkan semua kedalamnya.
Herman tercengang dengan keputusan Maria. Tapi dia hanya diam membiarkan, tak juga ingin menghalangi.
Setelah semua selesai, diapun keluar.
"Aku pergi."
"Pergilah!" jawabnya.
Maria terus berjalan hingga tiba di beranda. Halimah yang ada di sana terkejut sewaktu melihat Maria keluar dengan menarik koper besar. Mutia dan Aldo yang sudah berhenti dari tangisnya, juga bingung dengan apa yang dilakukan bundanya.
Maria diam saja sewaktu Mutia memeluk kakinya. Sebenarnya dia kesal dengan putrinya yang hendak menghalangi niatnya, untuk meninggalkan rumah ini. Sedangkan Aldo hanya menatapnya saja, tanpa berkta apa-apa.
"Bunda jangan pergi." tangis Maria.
"Kamu mau kemana Maria?" tanya Halimah.
"Apa urusanmu. Bukankah ini yang kau inginkan. Sekarang aku turuti permintaan mu. Kamu senang, kan?"
"Tapi bukan seperti ini, Maria. Ingat anak-anakmu."
"Apa pedulimu, Wanita tua. Perlu kamu ketahui, aku menyesal sudah menikah dengan anakmu. Laki-laki tak berguna itu."
"Menyesal?!" kata Halimah tak kalah keras, "Tapi dikejar-kejar hingga punya anak dua."
"Perlu kamu tahu wanita tua, aku menyesal melahirkan mereka."
Kata-kata Maria sangat-sangat menyakitkan Halimah. Hingga spontan tangan Halimah melayang ke wajah Maria. Tapi belum sampai menyentuh, Maria sudah menepisnya dan mendorong tubuh Halimah hingga jatuh.
"Kau?!" ucap Halimah dengan jari telunjuk mengarak pada Maria.
__ADS_1
" Apa?!" sahut Maria dengan menatap tajam pada Halimah yang jatuh tersungkur.
Berlahan Halimah duduk, sejenak merasakan sakit pada pinggangnya dan tubuh yang gemetar. Seumur-umur, baru kali ini dia mendapat perlakuan seperti ini. Dan itu dilakukan oleh anak mantunya.
"Nenek ..." teriak Aldo.
Dia berlari mendekati Halimah yang belum bangkit dari duduknya.
"Nggak apa-apa." jawab Halimah sambil mencoba untuk berdiri. Meskipun sudah berusaha tapi Halimah belum juga bisa berdiri. Tangannya masih memegang pinggangnya yang sakit.
"Kata-katamu menyakiti mereka. Tak layak kamu disebut ibu, Maria."
"Lalu kamu mau apa. Hah!" Maria mendekati Halimah dan menatap tajam padanya. Tanpa peduli Mutia dan Aldo yang ketakutan melihat sikapnya yang penuh amarah.
"Sebagai seorang ibu, aku nyesal anakku telah menikahimu."
"Berarti kita impas. Aku pergi. Dan terima kasih untuk surat rumahnya. Aku pastikan kalian akan melarat."
"Maria!!"
Meskipun Halimah berteriak, tapi Maria tak peduli.
Herman yang sedari tadi terpaku di dalam kamarnya, tersadar ketika mendengar suara Halimah. Dia segera berlari ke depan. Alangkah marahnya dia, ketika melihat Halimah yang terduduk dengan memegang pinggangnya. Aldo yang ketakutan duduk di sisi Halimah. Sedangkan Mutia yang menangis, berdiri dekat bundanya.
"Maria apa yang kau lakukan?"
Tampak senyum Maria yang mengejek.
"Aku pergi, Mas. Terima kasih untuk kalung dan perhiasan lainnya. Oh ya ... Surat tanah dan rumah aku bawa ya ...." kata Maria sebelum berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Kembalikan!"
"Maaf."
Herman hendak mengejarnya. Tapi Maria dengan cepat meraih Mutia yang berdiri di samping. Dan mengarahkan pisau lipat pada leher putrinya . Membuat Mutia ketakutan dan ingin menangis.
"Diam kau." bentak Maria. Membuat Mutia diam seketika.
"Maria, apa yang kamu lakukan."
"Diam ditempatmu Herman, atau kamu tak ingin melihat putrimu lagi."
"Maria, jangan kamu sakiti dia." teriak Halimah. Dengan sekuat tenaga Halimah berdiri dan mendekati Maria. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya, dia hendak merebut Mutia dari tangan Maria.
Dengan spontan, Maria menendang perutnya dengan keras. Untuk kedua kalinya, Halimah terjatuh.
__ADS_1
Karena kerasnya tendangan itu, membuat kepalanya terantuk meja yang ada di tempat itu. Dan tak sadarkan diri ...