KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Masuk Sungai


__ADS_3

Siapa yang tidak senang kalau niatan yang dipendamnya selama ini terwujud dengan mudah. Ya, anugrah yang luar biasa ....


Oh ya, ada satu yang terlupa, Ayah Herwan. Masak tak diberi tahu! Irwan segera membelokkan mobilnya ke


angkringan Herman. Tak apalah menemuinya di sana, kalau menemui di rumah Kakek Alfa, nggak enak juga. Hitung-hitung makan siang, maklum di rumah Shaffa belum makan. Sepertinya pak Ishak juga. Sekaligus memperkenalkan mereka semua sebagai calon keluarga.


Irwan segera membelokkan mobilnya menuju ke jalanan yang agak sepi, di tengah sawah lagi


"Mas, ini kemana?"Shaffa merasa heran ketika mobil berbelok ke arah yang berlainan arah saat mereka datang.


"Kita makan dulu. Dan ketemu camer," ucap Irwan, membuat dahi Shaffa berkerut.


Oh , mungkin Bu Zulfa dan pak Hasan minta ketemu di luar, pikirnya.


Shaffa masih sibuk dengan dugaannya, sampai tiba di tempat angkringan. Baru Shaffa paham maksud Irwan.


Iya ... ya. Aku lupa kalau mas Herman masih punya Ayah kandung.


"Ayo!"Irwan mengajak keduanya ke dalam. Menuju ke tempat yang menjadi favoritnya , joglo tepi sungai.


"Tunggu sebentar, aku temui Ayah dulu."


Shaffa mengangguk. Dari jauh ia sudah melihat orang yang dimaksud. Ya, Pak Herwan. Setidaknya dia sudah mengenalnya sejak diminta tolong Bu Zulfa saat mengurus pernikahan beliau.


Irwan menemui Herman yang sedang sibuk di belakang bersama karyawannya.


"Ayah!"


"Tumben mampir, ada angin apa ini?"


Irwan tersenyum dan menarik tangan Herman, menunjuk pada dua orang yang sedang menikmati minuman segar.


"Bagaimana menurut Ayah?"


"Maksudmu?"


"Itu. Gadis yang di depan sana?"


Herman segera mengarahkan pandangannya. Herman senyum-senyum, melirik penuh arti pada anak lelakinya.


"Oh dia, sepertinya Ayah kenal. Kelihatannya baik dan cantik . Siapa dia?"

__ADS_1


"Calon mantu Ayah."


"Pintar kali kamu cari pasangan. Ayah setuju saja. Kapan mau melamarnya. Kalau tak segera kamu lamar, Ayah khawatir diambil orang." Dia jadi teringat pengalamannya saat kedahuluan Faqih untuk melamar Maria.


Hehehe ....


"Sudah, Ayah."


"Maksudmu apa, Irwan? Apa kamu sudah melupakan ayahmu?" Terlihat wajah Herman kesal, merasa ditinggalkan oleh Irwan karena tidak dilibatkan dalam melamar calon mantunya.


"Ayah jangan salah paham dulu. Ini juga mendadak kok. Bahkan Bunda sama Papa Hasan pun tidak ikut melamar."


Ada rasa yang menggelitik jiwanya saat Irwan menyebut Hasan dengan panggilan papa. Ya, sebuah rasa cemburu. Yang mungkin akan dia simpan rapat-rapat. Kenyataan bahwa Zulfa telah menikah lagi belum sepenuhnya dapat diterima. Tapi mau bagaimana lagi.


"Ayah nggak ngerti. Kamu lamar sendiri?" Herman sedikit kaget. Dia memandang heran pada putranya. Bagaimana mungkin dia tidak melibatkan orang tuanya dalam hal urusan sepenting ini.


"Ya langsung gitu tanpa apapun."


"Kok bisa? Bundamu tak marah?"


"Ah ceritanya rumit. Yang jelas Papa Hasan dan bunda yang mendorongku untuk melamarnya.


"Lalu kapan rencananya."


"Kamu nggak melakukan apa-apa kan , Wan?"


"Maksud Ayah apa?"


"Jangan-jangan ...." Kali ini Herman menatap putranya itu dengan penuh selidik. Bagaimana mungkin dirinya tak menduga yang tidak-tidak, melamar sendiri, pernikahannya pun mendadak.


" Ayah!! Nauzubillahi min dzalik," Tentu Irwan menjadi kaget. Untung saja hanya candaan.


"Ayah hanya khawatir saja, kalau kamu salah Jalan." Ada senyum yang tersungging di bibir Herman karena berhasil menggoda putranya.


"Oke, Ayah temui mereka."


Herman pun menghampiri mereka. Dia juga menyuruh Joko untuk menghidangkan menu spesial pada calon besan dan mantunya itu.


Sekilas Herman melihat sebuah mobil hitam berjalan melambat ketika melintas di depan angkringannya. Timbul kecurigaan dalam dirinya. Karena berita terakhir yang didengar dari penyelidikan orang yang menabrak Maria adalah mobil berwarna hitam. Namun karena sedang ada tamu penting, dia pun mengabaikannya.


Setelah beramah-tamah sejenak. Irwan berpamitan. Kini dia sudah memberi tahu pernikahannya pada orang yang dianggap penting dalam hidupnya. Meski dulu pernah sangat membencinya.

__ADS_1


Irwan melangkah menuju mobil bersama Ishak dan Shaffa diiringi tatapan penuh doa dari ayahanda tercinta, yang merestui hubungan keduanya dan rasa syukur yang tak terhingga pada yang Kuasa karena putranya telah menemukan jodohnya.


💎


Manusia hanya berencana, tetapi Tuhanlah yang menentukan.


*****


Setelah mereka keluar dari angkringan, di jalanan yang tak begitu ramai, ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka.


Pada mulanya Irwan tidak curiga tetapi pada saat mereka sampai pada jalan yang sangat sepi, mobil hitam itu melaju dengan sangat cepat ke arah mereka.


"Sepertinya mobil itu menginginkan kita," kata Irwan dengan menambah kecepatan pada mobilnya. Tapi sayang, dengan cepat mobil itu telah sampai di belakangnya dan,


Brruuuaaakkk ....


Benturan itu pun tidak dapat dihindarkan. Membuat Irwan hilang keseimbangan. Sehingga tidak dapat mengendalikan mobil dengan benar.


Mereka pun terperosok ke dalam sungai yang ada di sisi jalan. Sungai yang cukup dalam dengan pohon dan juga rumput yang tinggi, namun minim airnya.


"Innalillahi .... Aanngghhhrr." Setelah itu tak ada yang terdengar lagi. Hanya suara benturan mobil dengan pohon dan batu.


Adapun mobil itu tetap melaju tanpa mengurangi kecepatan, meninggalkan mereka begitu saja.


Untung pada saat kejadian, ada seorang melihat kejadian itu. Seorang petani yang sedang menggarap sawah.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," serunya. Tanpa pikir panjang dia pun berlari ke tempat kejadian. Lalu turun ke dalam sungai dengan berlahan-lahan. Dia pun memeriksanya. Semua penumpang yang ada di dalam mobil itu terlihat terluka dan pingsan.


Dia mencoba untuk membangunkannya dengan mengetuk-ngetuk jendela mobil. Tapi tak juga berhasil. Dengan sangat terpaksa dia menghancurkan kaca jendela mobil itu dengan sebuah kayu. Kaca jendela itu pun pecah. Kini dia bisa leluasa membuka pintu mobil. Mengeluarkan satu persatu orang yang berada di dalamnya. Untuk sesaat dia terpaku. Karena merasa mengenali salah seorang dari mereka yang terluka. Dia mencoba mentelisik wajah orang yang berbaring di hadapannya.


"Bukankah ini Irwan?" Ia mencoba mencari identitas yang mungkin terbawa. Dan alhamdulillah dia pun menemukan itu di dompet orang yang diduganya Irwan.


"Ya Allah, Mas Irwan,"ujarnya sedih. Segera dia menghubungi rumah sakit terdekat dan pihak kepolisian. Agar segera cara mendapatkan pertolongan yang terbaik.


Tak lama kemudian datanglah ambulans dan juga 2 orang polisi. Setelah memeriksa identitas seluruhnya dia pun melapor pada atasannya yang tak lain adalah Hasan.


Sementara itu di rumah Irwan, Hasan baru saja tiba di rumah setelah seharian berada di kantornya. Dia tengah beristirahat bersama dengan Zulfa. Saat tiba-tiba mendengar telepon hp-nya berdering.


Dengan wajah kesal dia pun mengangkatnya,"Nich anak kok nggak senang melihat orang bahagia ," gumamnya lirih.


"Assalamualaikum, Pak. Saya lapor. Baru saja terjadi kecelakaan yang menyebabkan mereka jatuh ke sungai. Keadanya terluka parah dan pingsan. Mereka kini telah dibawa ke rumah sakit. Di sini tertera nama Irwan."

__ADS_1


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." Alangkah terkejutnya dengan apa yang didengar.


"Ada apa Mas?"


__ADS_2